WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"

WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"
suara hati


__ADS_3

Suara Hati


Enam tahun berlalu, aku mulai masuk kuliah, dan aku tak pernah lagi bertemu dengan


Geral setelah acara kelulusan SMA, ia mulai menghilang bagai air terserap aspal, berbekas hanya


sebentar saja. Malam semakin menua. Kelopak mataku tak jua bisa diajak kompromi dan masih


tetap terjaga. Sel sel kantuk sebenarnya telah menggelayuti manja dio tiap helai bulu mataku,


tapi entahlah aku tetap terjaga sepemuhnya. Inikah yang dinamakan gelisah? Mungkin.


Betapa sedih, sunyi ini sangat menjadi-jadi. Kesendirian melumatku dalam kubangan


keterasingan. Ruangan empat persegi ini telah resmi menjadi kamarku, tapi mengapa tak jua ada


rasa memiliki?. Meski berkali-kali akan membuka jendela dan menghirup udara hingga paru-


paruku terisi semua. Tetap saja kamar mungil ini tidak bisa menghilangkan ingatanku pada


rumah nan kecil milik kakek-nenek yang jauh disana. Kamar kecil ini memang penyakit yang


amat mengerikan. Ternyata seperti ini rasanya. Baru kusadari begitu mahalnya ternyata yang


harus kubayar untuk menggantungkan cita-cita meladeni asa masa depan. Terpisah jauh dari


orang tua, semua teman, dan semua orang yang kucintai. Jika tak malu pada diri sendiri dan pada


harapan ayah bunda terhadapku, aku ingin rasanya meninggalkan mataram dan kembali ke


rumah yang tercinta. Semua yang ada dirumah mungilku telah menahan salah satu ruh-ku dan


laki-laki tercinta yang terpajang di dinding kamar. Hari-hari dimataram terasa begitu panjang dan


membosankan tanpa kebersamaan yang kami miliki. Setelah jauh terpisah seperti ini baru aku


sadari betapa ia sangat berarti, duh malam, kau titipkankah jejak rindu di tidur mala mini.


Aku selalu percaya pada gemetarnya jiwa, senaif apapun manusia, toh rohnya tidak


pernah dapar berdusta. Usangnya waktu yang telah menahun, dan ruang jarak yang tidak hanya


terbilang kilometr, ternyata tak sanggup mengusir bingkai wajah yang tanpa sadar telah ku pilih


sebagai ruang terdalam di jiwa. Aku rindu kamar dengan segala kotoran-debu yang menempel


dibuku-bukuAku mulai ingat dia, ya Geral.. lelaki yang telah aku pilih sebagai sandaran kasihku,


muara air mataku. Lelaki yang mengenalku jauh lebih baik dari aku mengenal diriku sendiri.


Wahai bulan, izinkan kegelisahanku ini didominasikan oleh semua tentangnya. Mengingat begitu


banyak hal yang berhasil kami lewati, membuat ku ingin menangis sekalighus tertawa.


Perjalanan kasih kami yang semula dibanjiri restu, mendadak belakangan menjadi penuh rintang


dan sulit untuk kami lalui. Keluarga besarku tiba-tiba mempertanyakan kehadirannya dihati dan

__ADS_1


hidupku. Aku kebingungan dan apakah dia pun merasa sama, tak nyamannya seperti diriku. Apa


salahnya kami mencintai ini tiba-tiba dipertanyakan!. Padahal sebelumnya para dewa seolah-olah


menumbuhkan music syurga untuk merestui kami. Dan saat ini disinilah aku berada terpisah


ratusan kilometer darinya, demi sebuah masa depan. Terpisah disaat restu menjadi teramat mahal


bagi kami. Berpisah disaat Tuhan tengah mencandai kami dengan rintangan yang bertubi.


Tahukah bahwa ia amat aku cintai?.


Laki-laki itu yang telah aku pilih untuk menyulam hatiku dan penganyam jiwa. Ternyata


aku tak terbiasa tanpa kasih tulus dan perhatiannya. Bertahun tahun membangun pondasi kasih


bersamanya membuat jiwa ku menjadi tertempa. Segala sesuatu segala peristiwa manis dan


setiap tetes kisah pahit pernah kami kecap ersama. Masalah yang datang tak hanya satu atau dua,


dan tak jarang aku menjadi goyah karenanya. Namun setiap menatap kedalam matanya, aku tahu


bahwa aku tak salah mencintainya. Dia selalu mengautkanku, dan dia juga selalu mampu


merubah kerikil tajam yang kami lalui menjadi jalan rimbun yang baru.


Sayap satu dan sayap yang lainnya yang merupakan pasangan jiwanya, maka dia dan


sayapkulah yang mampu menerbangkanku. Aku mencintainya, Tuhan, kau pasti tahu. Meski


semua masalah yang ada telah membuat perasaanku mengkristal sempurna, namun tetap saja


untuk membawanya dalam tiap langkahku. Jarak antara Mataram dan Jiwanya yang tak tahu


rimbanya membuatku sadar betapa aku sulit bernafas tanpa kehadirannya, betapa sekelilingku


pekat tanpa legam dimata, tuhan, pertemukanlah aku dengannya karena bukankah ia saudaraku?.


Bukankah ia cahaya mataku?


Aku menyayanginya, sungguh aku menyayanginya, bahkan restu menjadi teramat sulit bagi


kami, ia tetap terpelihara dalam jiwa.Aku resah, sebab raguku selalu meraja. Tidakkah ia merasa, walau sejauh ini, ruang dan


sekat memisahkan kami, ia tetap bertahta dalam jiwa. Catatan kecil yang diberikannya dahulu


sebagai pengantar langkah kecilku saat peluk hangatnya enggan kulepas ditengah langis pohon di


Peraya yang berkabut-kabut sampai saat ini masih aku simpan sebagai pembangkit semangat


yang tak pernah padam.


Setiap aku gundah, tak pernah bosan aku membacanya. Deretan kalimatnya selalu


mengembangkan sel-sel rinduku dari waktu kewaktu, membuatku yakin semua ini., sebab cinta


tak pernah bersinergi dengan waktu dan jarak.

__ADS_1


Jadilah matahari


Yang mempunyai sumber cahaya sendiri,


Jadilah hujan


Yang takkan pernah berhenti membagi airnya


Jika tiba saatnya nanti, pulanglah padaku, sebab akulah jagat rayamu.


Malam makin menua, wajah-wajah tercinta itu hadir kembali di setiap sudut cahaya yang


ditangkap oleh kornea mataku.


Dilangit-langit kamar, ditiap sela-sela pintilasi kamarku, sudut cahaya yang bermandi cahaya


bulan, di bola mataku dia tetap ada. Terpisah jauh seperti ini, membuat batinku dan jiwa seolah


tak lagi bersekat. Adakah ia tahu?.Aku tidak tahu bersandar pada siapa lagi, kemudian aku langsung masuk kamar kost dan


langsung terbaring.


Suara Hp berdering, aku melihat nomor baru, aku coba mengangkatnya dan ternyata itu


Riko, memang aku belum simpan nomornya Riko pada waktu itu.


‘Ada apa Rik?”,


“Kamu kenapa Sri, kok sedih sekali suaramu?.


“Gak ad rik, udah dulu ya aku mau tidur dulu”.


Riko memberikan ucapan selamat tidur dan aku langsung matikan telponnya aku kembali tidur


dan menangis. Entah Riko benci padaku karena menutup telponnya, terserah, aku tak peduli pada


siapapun untuk saat ini.


Tidak lama kemudian HP kembali berdering, aku rasa itu Riko, maka aku tidak angkat. Namun


kedua kalinya aku mendengar suara Hp dan kudapati nomor baru. penasaran dan ku angkat.


Setelah aku angkat, ternyata Geral menelponku.


“Halo Sri,?” ini Geral, apa kabar?”


Aku langsung duduk, tak kusangka, Geral ternyata masih menyimpan nomorku.


“Ya Ger, gimana?, apa kabar juga?’ ya, aku baik-baik saja”


Dan pembicaraan itu berlangsung lama.


Dari hari itu aku mulai dekat dengannya, sampai telpon-telponan malam-malam.


Setiap hari berlangsung seperti itu. Sampai pada tiga tahun lamanya kami menjalin kisah cinta


jarak jauh.

__ADS_1


Aku mulai nyaman dengan Geral, aku menaruh harapan terbesar lagi padanya.


__ADS_2