
Dari dalam rumah, kami duduk bersama ibu bapak, sedangkan Sani sedang menonton
TV, tiba tiba suara motor berhenti didepan rumah, kami menengok diluar entah siapa gerangan
yang datang. Ternyata Geral, laki-laki penjahat yang pernah ku cintai datang dengan segala
kenangan yang kembali hadir membawa petir secepat kilat menyambar seisi ruang dada yang
sudah mulai runtuh lantak tiga tahun yang lalu kini kembali diguncangkan dengan guncangan
yang dahsyat.Ibuku mencoba menenangkanku,
“Kau masih memikirkannya, kan?” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, dan diucapkan dengan
nada sedikit menuduh. Sani terbangun karena melihat aku berdiri tiba-tiba.
“Adikku ini memang selalu membuatku jengkel”. “Yah, bagaimanapun juga, dia berhak untuk
menuduh. Bahkan, dia berhak untuk marah. Hanya saja, dia tidak marah.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.
“Huuuuuuuff”. aku menghela napas, lalu tersenyum sedih.
“Sepertinya apapun yang kau lakukan tidak akan mampu menghapus dirinya dari dalam hatimu,
bukan begitu?”. Tanya Sani dengan penuh Tanya.
“Bahkan setelah beberapa bulan terakhir ini,
“Aku tidak pernah lihat kakak telponan dengan cowok”. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, dan
aku terdiam, mereka berdua terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa, sebab memang aku
tengah mencari-cari jawaban yang tersembunyi jauh di dasar hatiku. Laki-laki itu masuk dengan
mengucapkan salam, dan kami mempersilahkan ia masuk sebagaimana layaknya tamu.
“Ada apa nak kesini?” Tanya ibu lembut.
“Tidak ada buk, mau main saja, mau lihat keadaan keluarga ibu”.
Sani nyaut dengan cepat.”Mau main atau mau jenguk kak Sri?”
Laki-laki itu tersenyum.
Aku langsung masuk kamar dan tidak mau tahu lagi tentang laki-laki itu. Aku sudah terlanjut
sakit hati dibuatnya.
Namun karena aku merasa penasaran, aku mengintip lewat korden fintilasi rumah, aku rela naik
di kursi hanya untuk mendengar pembicaraanya.
“Aku mau balikan sama Sri buk”. Ucap Geral ke ibuku waktu itu. Aku sedikit mendengar
ucapannya Geral itu, Aku jawab dalam hati, dari balik korden”Enak aja kamu balikan”, setelah kau rampas kebahagiaan dan meninggalkan kenangan.,Jujur
memang, aku masih cinta dengannya, sampai saat ini aku belum bisa mencari penggantinnya.“.
Benar, itu baru tiga tahun yang lalu, Saat pertama aku dan dia bertemu, saat dia mengatakan
bahwa dia menyukaiku, dan aku mengaku bahwa aku masih belum membuka hatiku bagi
siapapun. Dan waktu itu, dia mengerti. Diapun mengerti semua masa laluku, ketakutanku yang
paling dalam, dan lukaku yang belum sembuh.
“Dan sementara itu, aku akan menemanimu.” ucapnya waktu itu.
Dan itu tiga tahun yang lalu, tiga tahun masa yang panjang, setelah waktu itu dia menyatakan
lewat telpon dan mengatakan dia mencintaiku, setelah aku menerimanya malah dia
meninggalkanku dengan orang lain di Jogja sana. Siapa yang tak sakit hati.
Aku dipanggil oleh ibu untuk keluar kamar sebentar.
”Sri, ayo sini keluar sebentar, ini nak
“Geral mau ketemu sebentar, dia mau pamit mau pulang katanya”. Mendengar itu, aku langsung
keluar kamar. Setelah aku keluar kamar, ternyata Riko, temanku satu kelas di kampus datang
kerumah, aku tak tahu kalau hari itu Riko, datang kerumah, dia tidak menelponku sebelumnya,
aku sering berkomunikasi dengan Riko, hanya saja aku tidak terlalu menanggapi.
Waktu itu Riko datang sendiri dengan membawa bunga didalam tas kecil yang selalu dibawanya.
Kebetulan, Riko dan Geral berteman akrab waktu SMA, mereka satu Tim di Futsal Pesantren.
Riko, aku tak tahu apa maksudnya datang kerumah. Akhirnya Geral dan Riko kembali duduk.
“Apa kabar Geral, sehat”. Tanya Riko sambil senyum.
Ya ni Rik, aku baru pulang dari Jogja, jadi beberapa hari ini aku dirumah, nanti main-main
kerumah ya?.”
“Siap, tandas Riko.
Riko adalah alumni tempatnya Geral kuliah di Jogja, Cuma karena orang tuanya Riko pindah
tugas maka Riko lebih mimilih untuk pindah kampus juga di STIKES tempatku kuliah sekarang.Geral, dengan nada sedih mau mengatakan sesuatu yang serius,
“Sri, aku mau ngomong serius”, didepan Riko dia mengatakan itu, dan aku merasa risih karena
ada Riko disana.
“Aku mau balikan sama kamu Sri,”. Aku terdiam dan Rikopun tak banyak komentar. Aku sadar
sejak pertama kali memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya hanya akan penuh dengan
luka. Tak ada yang baik dari hubungan ini. Walau demikian, cinta terlalu membutakan, dan ini
kisah yang berlangsung sangat lama.
Pertemuanku dengan Geral terjadi sekitar enam tahun yang lalu. Aku adalah siswa baru lucu-
lucunya. Mengaguminya karena bisa bermain bola, bisa dibilang dia membenciku (ini pengakuan
dari Geral sendiri). Aku sendiri tidak yakin sejak kapan hubungan kami berubah menjadi
berbahaya, mungkin dari saat itulah kedekatan dengan Geral dimulai.
Segabai gadis single yang sudah lama tidak menjalin kedekatan dengan pria manapun, rayuan
dan gombalan Geral terasa memabukkan. Bahkan dengan kesadaran akan status Geral yang
notabene seorang pemain futsal tidak membuatku gentar untuk mundur. Aku seperti terhipnotis
olehnya. Aku bertanya kepada Geral, kenapa dia mau bermain api denganku. Dia menjawab
tidak tahu. Mungkin karena sifat jutekku sehingga dia merasa tertantang. Aku membalas dengan
bercanda, mungkin karma karena kamu begitu membenciku pada awalnya. Geral hanya tertawa
dan membalik pertanyaan itu kepadaku.
“Apa yang membuatmu mau menerimaku?”. Aku diam sejenak, dan hanya menjawab
“Aku tidak tahu bagaimana cara cinta bekerja, tapi aku sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya
kepadamu”. Menjalin hubungan dengan Geral tidak mudah. Kami harus pandai bersembunyi,
kencan diam-diam, bahkan pura-pura bersikap biasa saja ketika berada di pondok. Pada awal-
awal kedekatanku dengan Geral, aku menyimpan rasa bersalah pada Riko Bagaimanapun juga
aku adalah seorang wanita. Yang tau laki-laki yang menyukaiku. Dapat kubayangkan betapa
sakit hati Riko bila mengetahui hubungan kami. Itulah yang ada dipikiranku pada awalnya.
Semakin lama mengenal Geral, dia semakin sering menampilkan sikap ketidakharmonisan
hubungan . Geral sering kali bertengkar denganku. Perkara klasik, masalah ketidakpuasan
finansial. Kadang aku bingung harus menanggapi seperti apa atas cerita itu. Kalau mau jujur, hatikecilku girang mendengar cerita tersebut. Bagaimanapun juga aku memimpikan dapat menjadi
seseorang yang menjadi dibanggakan. Namun bibirku selalu berucap lain di depan Geral. Aku
__ADS_1
selalu sok bijak menasehati Geral. Namun selama tiga tahun terakhir kami lost kontak tidak
pernah berhubungan lagi, dan sekarang tiba tiba datang mengatakan ingin balikan, rasa itu masih
sangat sakit. Begitulah hubunganku dengan Geral selalu berulang setiap harinya. Hingga berita
itu datang seperti badai dalam hatiku.
Geral diYogyakarta,.Sedih sudah pasti, tapi aku juga tidak dapat berbuat apa-apa. Aku
bertanya pada Geral akan dibawa ke arah mana hubungan ini. Pada akhirnya kami sepakat
mengakhirinya. Sesungguhnya aku tak rela, bagaimapun juga aku benar-benar menyayangi
Geral. Aku melepasnya pergi.
Apakah kalian berpikir bahwa kisah ini berakhir sampai di sini, tentu saja tidak. Aku
merasa takdir mempermainkanku. Dia kembali meneleponku, dan memberiku kabar, Aku
merasa bisa gila lama-lama dengan situasi ini. Dia tiga tahun terakhir dia tidak pernah
menelponku, Hingga dia tiba-tiba mencariku. Aku tanya kenapa, Geral hanya bilang dia
merindukanku. Aku bisa apa ketika dia berkata demikian. Aku sadar jauh di dalam hatiku,
akupun merindukan Geral.
Ketika jarak tidak lagi jadi penghalang, pertemuanku dengan Geral tak terlalu sering, Tetap saja
aku harus berhati-hati. Geral sering beralasan lembur kepada ku.
Tiba-tiba hari ini datang. Aku heran karena secara tiba-tiba. Setiba di rumah dia hanya
diam dan memeluk ibu erat. Aku tahu dia menangis karena bahu ibu terlihat basah. Aku
menunggu Geral tenang untuk bercerita kepadaku, aku bingung sekali harus bagaimana. Dan
kami mendengar ceritanya Geral. Dia menyesal telah menyianyiakanku, Namun apapun yang dia
katakana sekarang, Aku sudah tida percaya sama Geral, dia menghianati dengan begitu kejam,
Apakah setelah mendengar cerita itu aku lantas menangis? Tentu saja tidak. Aku lebih dikuasai
emosi. Aku marah pada Geral dengan semua kata-kata munafiknya. Terlebih aku marah pada
diriku sendiri yang dengan bodohnya telah tenggelam dalam rasa cinta tak berujung selama
hampir tujuh tahun. Aku menyampaikan pesanku melalui Riko, jangan sekalipun Geral berani
untuk mencariku, sampai kapanpun. Dan benar adanya, antara benci dan cinta itu begitu tipis.
Teruntuk Geral, dulu kamu memulainya hingga akhirnya mencintaiku. Sekarang aku akanmengakhirnya dari mencintaimu hingga akhirnya membencinya. Karena Riko merasa tidak enak
dengan Geral, maka Riko mengurungkan niatnya untuk memberitahukan maksud hatinya itu.
Namun tak lama kemudian, Riko minta pamit untuk pulang lebih awal dan mengatakan,
“Aku akan pulang,” sambil salaman dengan ibu, dan aku melihat ada kertas kecil jatuh dibawah
kursi duduknya, kertas itu jatuh sewaktu Riko berdiri. Dan riko tidak tahu kalau kertas itu jatuh.
Aku berniat akan mengambilnya setelah Riko dan Geral pulang.
“Maaf ibu, aku harus pergi dulu. Mudahan besok kalau ada waktu aku bisa main main kesini,”
Gumamnya pelan seraya mengangsurkan selembar kertas ke atas meja di hadapanku. Aku
melirik sedikit. Sebuah printout tiket pulangnya, dengan waktu keberangkatan tiga jam lagi. Aku
terkesiap, namun tidak bereaksi. Aku tau memang Karena bapaknya Riko adalah tentara, maka
Riko mengikuti kemanapun bapaknya bertugas dan pindah. Kuliah kami memang akan selesai,
tinggal menunggu Wisuda. Jadi tidak dihawatirkan, tidk akan mengganggu kuliah karena
memang kulaih sudah habis, tinggal nunggu Wisuda.
“Ya, nak Riko, hati-hati dijalan.” Ucap ibu sambil menepuk punggung Riko pelan dan ibu
langsung masuk rumah.
Tak jauh dari halaman rumah, Riko berbalik kearah kami karena mendengar Geral bertanya
Kemudian Geral bertanya padaku, “Maukah ka balikan denganku?”. Rasa itu terlalu sakit hanya
untuk memaafkan kesalahan yang dia lakukan, aku terjerumus ke lembah cintanya sebanyak dua
kali, dan aku tak mau menjadi orang bodoh yang masuk ke tiga kalinya. Apapun yang dia
katakana, mau sujud sekalipun aku tak peduli. Aku suruh Geral untuk pulang saja
“Pulang saja Ger, percuma.”
“Aku mau tidur, silahkan pulang saja”
“Kata-katamu sudah basi, aku sudah bosan mendengarnya dari bibirmu. “
“Lebih baik kau pulang saja” ucapku keras. Dan akhirnya Geral pulang.Mendengar Geral memintaku balikan, Riko masih berdiri di sana, menatapku, mungkin setengah
berharap aku akan mencegahnya pergi. Dan menolak permintaan Geral. tapi Aku tidak
mencegahnya. Dan aku juga tidak menerima Permintaan Geral. Mungkin dia sudah tahu, karena
seperti halnya aku, dia pun mengetahui bahwa aku ini orang yang angkuh, yang kadangkala
bertindak bukan berdasarkan logika maupun hati, melainkan ego.
Sekian menit ia hanya diam, terdiam seperti itu, kemudian akhirnya ia memungut kembali
helaian kertas itu print out Tiket pesawatnya, kemudian melangkah menuju pintu dan keluar. dan
Geral juga ikut pamit saat itu juga bersaamaan dengan perginya Riko. Kamipun bersalaman dan
saling mendoakan untuk kebahagian masing-masing. Geral juga seminggu dirumahnya, mungkin
selama seminggu itu Geral akan sering mampir kerumah. Mereka berdua bubar pergi
ketempatnya masing-masing. Tanpa pernah berbalik sekalipun.
Dan selama itu, selama dua jam aku hanya diam dikursi, tak jelas apa yang aku pikirkan. Aku
mulai ingat, mengangkat kertas yang sempat aku lihat jatuh. Aku membaca kertas itu,
Lagi-lagi, egoku menang. Padahal, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak ingin dia pergi,
aku ingin sekali mengambil lembaran printout itu dan membuangnya ke keranjang sampah, aku
ingin sekali dia tetap di sini dan menemaniku. Ada sesuatu yang terasa salah dengan
kepergiannya Riko. Bukannya dengan kepergiannya berarti aku tidak akan pernah bertemu lagi
dengannya. Kami kan masih bisa saling mengirim e-mail, telepon, bahkan aku bisa saja
menyusulnya kalau aku mau. Hanya saja, apakah egoku akan mengizinkanku melakukannya?
Apakah aku akan mampu memberanikan diri untuk meneleponnya duluan, mengiriminya e-
mail duluan, menanyakan kabarnya duluan? Karena sepanjang pengetahuanku tentang diriku
sendiri, jawabannya adalah tidak. Dan sepanjang pengetahuanku tentang dirinya, ia mungkin
sudah merelakan aku yang tidak mampu untuk menerimanya hanya gara-gara sebuah luka di
masa lalu yang belum mampu kusembuhkan.Jadi, mengapa aku merasa seakan ada sebuah batu besar yang menyumbat
kerongkonganku? Mengapa aku merasa seperti ingin menangis, yang sudah bertahun-tahun tidak
kulakukan, sejak aku mengerti bahwa cinta juga bisa menghancurkan? Mengapa aku ingin
berlari menyusulnya, mengatakan aku tidak ingin dia pergi, memohon padanya untuk tinggal..
Soalnya, tidak mungkin, kan, aku jatuh cinta bukan pada orang yang baru kukenal enam bulan
yang lalu. Aku memang mengenal Riko sejak SMA, Cuma dia baru baru berkomunikasi secara
intens denganku sejak enam bulan lalu. Tidak mungkin kan,
Tidak mungkin juga aku kembali ke Geral, dia selalu tak punya waktu untukku, lagipula aku
terlalu sering disakiti olehnya, dia menghilang selama tiga tahun terakhir.
__ADS_1
Setelah aku pikir-pikir Aku lebih baik akan jatuh cinta pada orang yang setiap hari
menanyakan kabarku, setiap hari menemaniku ngobrol, curhat, ataupun hanya sekadar
mengirimkan SMS selamat pagi dan selamat malam. Orang yang mengenalku lebih dari diriku
sendiri, tahu apa makanan kegemaranku, warna kesukaanku, dan film favoritku. Orang yang
selalu menjawab teleponku bahkan pada jam tiga subuh, yang selalu berhasil membuatku
tersenyum dengan lelucon-leluconnya bahkan ketika aku sedang sedih dan ingin menangis, lalu
dengan bangga berkata, ”You see, I can always make you smile, right?”
Maksudku, apa sih, yang spesial dari semua itu? Tidak ada, kan? Jadi, mengapa aku merasa tidak
nyaman seperti ini?. Dua jam kemudian, aku mulai sadar bahwa ada secarik kertas yang aku
pungut dari bawah meja, dan aku masuk kamar dan membaca kertas yang ada disakuku.
Dengan kaget, aku membaca itu dengan mata terbelalak, alis mengangkat keatas, jantung
berdebar kencang, tangan kaki gemetar, darah mengalir deras “will you merry me” tulisan itu
membuat hidupku terasa berubah bahagia seketika.
Aku mengumpat dalam hati, menyambar kunci motorku, lalu berlari keluar. Semoga saja
pesawatnya terlambat. Semoga saja antrian check in-nya panjang. Mungkin tampangnya agak
mencurigakan, mungkin namanya agak berbau *******, mungkin bagasinya tertahan oleh petugas
keamanan. Aku setengah berharap pisau cukur termasuk salah satu benda tajam yang dilarang
untuk dibawa. Namun akhirnya ia pergi juga,Sudah dua jam berarti pesawatnya Riko masih belum berangkat, tanpa pikir panjang aku
mengambil motor yang terpakir dibelakang rumah, baju tidak diganti, jaket terpasang terbalik,
“nak, ada apa, kenapa terburu buru?”. Pertanyaan ibu juga tidak ku hiraukan. Aku tancap gas
motor dan berangkat menuju bandara. Selama tiga puluh menit dari rumah menuju bandara,
sesampai di bandara aku berlari sudah tak peduli banyak orang, berlari menembus kerumunan
orang, menjulurkan kepala ke layar monitor yang menunjukkan keberangkatan, memanjangkan
leher untuk mencari-cari seseorang yang memakai kemeja hitam dan celana panjang berwarna
khaki. Tidak ada.
Dengan putus asa, aku memandang ke arah monitor, melihat bahwa jadwal
keberangkatan pesawat yang ditumpanginya sudah berkedip-kedip, bertuliskan “boarding”. Aku
mengumpat lagi dalam hati. Selama sepuluh menit berikutnya aku tetap berkeliaran tak tentu
arah, hingga akhirnya kudengar bunyi bising, menandakan pesawat yang ditumpanginya sudah
lepas landas.
Aku mengerjapkan mata, berusaha menahan air mata yang hendak jatuh. Soalnya, orang
dengan ego sepertiku dilarang menangis di depan umum, kan? Meskipun sepertinya hatiku ingin
menjerit, dan langkah-langkahku semakin berat. Perlahan, pandanganku dikaburkan oleh air
mata yang mulai mengambang. Aku merogoh ke dalam tas dan menyadari bahwa aku lupa
membawa kacamata hitamku. Mengapa hari ini sepertinya sial sekali bagiku? Aku mencoba
mengingat-ingat tanggal dan hari; apakah hari ini tanggal tujuh bulan Maret ?
Lalu tiba-tiba, seseorang di belakangku memanggil, “Hei,”
Sebuah suara yang sudah sangat kukenal, suara milik seseorang yang selalu menjawab
teleponku bahkan pada jam tiga subuh, yang selalu berhasil membuatku tersenyum dengan
lelucon-leluconnya bahkan ketika aku sedang sedih dan ingin menangis, lalu dengan bangga
berkata, ”You see, I can always make you smile, right?”
Dengan rasa takut dan tidak percaya, aku berbalik.
Dan di sanalah dia berdiri, tersenyum padaku, pria dengan kemeja hitam dan celana panjang
berwarna abu.Aku tidak sadar melangkah ke arahnya hingga jarak yang memisahkan kami tinggal
beberapa meter. Aku menatapnya tidak percaya, dan sialnya, air mata yang sejak tadi susah
payah kutahan akhirnya jatuh juga. Namun anehnya, aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak
peduli. Saat itu, semua orang di sekitar kami, dan kenyataan bahwa kami sedang berada di
bandara, dan aku sedang menangis di depan umum, sama sekali terlupakan olehku.
Yang ada hanya dia dan aku. Yang ada hanya kami.
Dia tersenyum lagi, dan mengangkat bahu serta mengangkat bunga yang dibawanya lalu
mengatakan ”Maukah kau menjadi bahagia terakhirku?.
Aku ikut tersenyum, dan tertawa serak.
Lalu dia membuka kedua lengannya. Dan aku berlari ke arahnya.
Tak sadar, aku memeluknya, Riko yang selalu aku acuhkan kini menjadi bahagia terkahirku.
Riko tak jadi mengikuti bapaknya, namun Riko melamarku didepan ibuku juga ayahku disaat itu
juga.
Hari itu berubah menjadi sangat bahagia, aku tanpa pikir panjang langsung menerima
lamarannya, karena aku tahu, sudah lama Riko mengejarku namun aku tak menghiraukannya,
sikap dan perbuatannya sudah aku tau, Riko adalah anak yang baik, tidak pernah aku mendengar
ia berpacaran dengan orang lain, ter Tibalah sekarang cinta kasih tumbuh untuknya. Kita tidak
terburu-buru dalam mencari pasangan hidup, tetapi juga tidak bersikap hanya duduk diam untuk
menunggu. Kita tidak menggantungkan kepada usaha sendiri, tetapi juga melibatkan Allah dalam
setiap prosesnya. Cara paling pertama yang harus kita lakukan adalah dengan berdoa. Berdoa
berarti kita percaya dan meletakkan segala keinginan kita di bawah kaki Allah. Ketika kita
berdoa dan meluapkan apa yang diinginkan, pasti akan ada suka cita yang datang. Berdoa enggak
berarti kita yang berharap punya jodoh ini hanya berdoa dan diam di dalam rumah. Doa dan
mintalah Allah untuk mengantarkan kita pada orang yang tepat. Cara Allah itu sangat tidak bisa
ditebak. Ada orang yang dapat jodoh saat berada di angkot. Ada pula yang ketemu dengan
jodohnya di bandara.
Mintalah kepada Allah untuk menuntun setiap langkah kita dalam mencari pasnagan hidup ini.
Pastilah, Allah akan menyediakan banyak kesempatan buat kita, hingga akhirnya kitamenemukan seseorang yang tepat buat kita. Kalau kita membiarkan Allah untuk menuntun
perjalanan hidup kita, Ia akan membawa kita kepada orang-orang yang tepat, diwaktu yang tepat
dan disaat yang tepat. Pernikahan merupakan sebuah hubungan yang sacral. Ketika kita
menyukai lawan jenis tanpa kedewasaan di dalam hati, maka hubungan ini bisa berubah menjadi
hubungan yang tidak sehat. Menunggu itu diperlukan kalau kita memang belum siap melangkah
ke arah pernikahan. Untuk mendapatkan pasangan, kita perlu kesabaran, juga hikmat untuk bisa
mengenal orang ini. Sekali lagi, selalu tempatkan Allah pada posisi pertama dalam kehidupan
kita. Memperbaiki hubungan dengan Allah terlebih dahulu merupakan langkah yang harus kita
lakukan sebelum akhirnya kita mengenal jodoh. Sebab, kita tahu betul kalau manusia bisa bikin
kita kecewa. Jodoh kita pun bisa bikin kecewa.
Namun, kalau kita menempatkan Allah di atas segalanya, meskipun pasangan kita
__ADS_1
tersebut mengecewakan, percayalah kalau Allah akan memberikan sukacita dan damai sejahtera
dalam setiap hal yang kita lakukan. . ع