WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"

WASIAT CINTA "BAHAGIA TERAKHIR"
dia meninggalkanku


__ADS_3

Dia Meninggalkanku


Tidak..!


Bukan keseluruhan darinya yang pergi, hanya jasad kasar saja. Cinta dan janji setianya


tetap kusematkan dalam jiwa. Berkali kali aku menghibur diri dan mengatakan pada hati nurani “


ini tak akan lama, cinta akan membawanya pulang segera”.


Tapi sekali lagi, sulit bagiku untuk menjalani hari tanpa kehadirannya. Aku tak bisa


mengelak saat rasa sepi menghempasku pada kesuyian yang panjang. Kerinduan datang dalam


hitungan detik dan tak memberiku ruang untuk bernafas lega. Ia ada dalam setiap sudut


pandanganku, saat akupun mulai terpejam. Wajahnya melekat menghadirkan senyum yang tak


pernah layu.


Anehnya, aku begitu menikmati semua ini. Ternyata benar, rindu adalah sebuah siksa


yang amat nikmat. Kukira hanya kaum adam yan gampang oleh hati dan rasa nikmat. Ternyata


semua wanita disergap oleh sepi yang tak berujung manis. Sudah menjadi menu rutinku kini


mengingat semua tentang dirinya.


Saat aku terjaga dari tidur aku tak bisa mencegah diri untuk mengingat hal hal kecil


tentang dirinya. Tentang bagaimana ia mencandaiku, tentang betapa jujurnya ia dalam bertutur


kata dan bertingkah laku, tentang mata yang mempesona bagi siapa saja yang memandangnya.Juga tentang kedewasaannya yang kadang muncul tanpa kuduga. Dia permata hatiku.


Melepasnya pergi jauh adalah suatu pilihan yang teramat berat bagiku. Melepasnya pergi jauh


adalah pilihan yang teramat berat bagiku.


Bukannya aku tak percaya pada kemampuannya untuk menjaga taman kasih kami. Aku percaya


padanya, lebih dari aku mempercayai siapa saja dimuka bumi ini, bahkan aku lebih percaya ia


dari pada diriku sendiri. Tak sekalipun ia megecewakanku. Ada satu pelajaran berharga yang aku


dapatkan darinya, ketika suatu saat ia mengatakan padaku, “jujur itu sulit, behkan terkadang


pahit, tapi jika tidak diajarkan untuk jujur, maka lambat laun nurani akan sakit.”


Sekali lagi aku amat mempercayainya. Hanya saja rasa cinta yang mengalir dalam darahku


sebanyak aliran mata air yang tak pernah mongering membuatku mencemaskan keadaannya.


Dunia luar begitu keras dan jahat, aku tak mau laki-lakiku itu tersentuh jahatnya kehidupan. Aku


ingin memberikan yang terbaik utuknya. Apapun yang menjadi kehendaknya itulah keinginan


terbesarku selamanya. Sekali lagi, dia permata hatiku. Menjalani hari-hari tanpa senyum dan


tawa renyahnya membuatku merasa dunia tak lagi memiliki musim semi dan musim gugur.


Aku bukan seorang yang mampu mengungkapkan hati dan rasa lewat bahasa kata, tapi semoga


angin dan tarian alam mala mini mengingatkan ia etapa aku tak pernah mundur walau selangkah


dan akan selalu berada dalam perahu kasih kami, sampai waktu akan membawanya kembali.


Aku bukan peramal, tapi aku punya keyakinan yang sama seperti seorang peramal ulung “Bahwa


rintangan tak akan menggoyahkanku, karena setiap rintangan akan tuduk pada ketepatan hati


yang kukuh”.


Aku masih enggak mengerti, “aku memandangi catatanku“ pria semacam kesatria


sepertinya bisa mendapatkan siapa saja yang dia mau. Berarti kalau dia sampai jatuh cina,


perempuannya harus luar biasa. Sementara, yang yang di diskripsikan adalah wanita sepertiku


yang tidak biasa. Okelah, jika dia menghianatiku, dia harus mencari wanita yang lebih baik


dariku, dia harus wanita karier, alumnus PTN terbaik. Tapi, itu nggak menjamin dia menjadi


sosok yang special dihatinya kan?”. aku mulai terdiam sejenak menarik nafas lega, namun tak


lama lagi, fikiran mulai berperang dengan berbagai acam pertanyaan, dalam fikiranku mulai


terbangun kata kata yang membuatu menjadi wanita yang rapuh, “andai saja benar itu terjadi, “


justru itu misteri cinta, ketika hati bisa menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.Bisa saja pria itu melihat yang lain”. Aku kan nggak tau pemikiran manusia, aku biasa


bayangkan betapa kompleksnya system pemikiranku sendiri,” mata batinku menerawang, “dalam


system kompleks itu, bisa saja cermin siap berbalik kapan saja, semudah membalikkan telapak


tangan. Otak manusia hamper setiap saat menuju ke arah rasa nyaman. Aku takut dia menjadi


nyaman dengan orang lain. Ini menjadi awal keresahanku yang membuatku tidak bisa tidur lebih


awal.


Dengan kepala bersandar di tembok pojok kamar, aku mengamati motor – motor yang


lalu lalang dijalanan. Membaca hampir semua plat nomor kendarannya. Tidak juga melewatkan


berapa jenis dan warna helm yang terlihat berbeda beda, kebiasaan yang tidak pernah berubah.


Sayangnya, kini semua itu tidak lagi bermakna, berbeda dengan mata anak kecil dulu, aku tidak


tahu yang akan hilang sebentar lagi. Aku melihat ada motor berhenti sekitar pukul delapan pagi,


“Sri, ayo keluar, kita jalan-jalan”, teriak Yana.


“Maaf Yan, lagi nggak enak badan.”, Yana masih tidak beranjak. Ia berdiri tegak di depan


rumah, kaki menginjak tanah, aku iri padanya, Yana tidak sadar aku iri akan dirinya, Yana yang


tidak terganggu dengan hidup monotonnya, Yana tidak keberatan memiliki hati tanpa tambatan


yang dingin tanpa api. Yana yang tak pernah bertanya terlalu dalam kenapa aku mulai pendiam


di dalam kamar. Aku iri padanya, ia bertemu danang. Pria santun dari keluarga ningrat berusia


lima tahun lebih tua darinya. Bibit, bebet,bobot yang baik sehingga bisa meluluh lantakkan hati


orang tuanya. Entah apakah luluh atau justru mengencang. Orang tua mana yang tidak ingin


punya menantu dan besan seperti itu. Punya ini-itu, saudaranya ini dan anu, temannya si pejabat


A dan pejabat C. memang menyenangkan. Bagaimana mungkin tidak, kalau seluruh umat


disekitarnya memuji-muji setiap saat, berulang-ulang mengatakan betapa beruntungnya Yana


dapat pria seperti danang.


Yana masuk ke dalam rumah, dan menengok keadaanku.

__ADS_1


“Yan sini masuk”,


“Ada apa pagi-pagi tumben ngajak sepagi ini“Temenin aku beli sesuatu di pasar, nanti siang ada bapaknya Danang beserta keluarga


besarnya datang kerumah, jadi mau beli sayur-sayur untuk dimasak nanti”. Akupun mulai


mengangguk angguk.


“Yan, kau beruntung ya mendapatkan calon suami seperti Danang?”.


“Ya, aku amat beruntung”.


“ Apa yang kurang lagi dari Danang”?


“Dan, senangnya didukung semua orang”.


“Senangnya melihat kedua keluarga sering datang silaturahmi”.


“Tunggu apalagi?. Tanyaku cepat.


“Ya, Sri, Do’akan yang terbaik”.


Aku masih iri padanya, aku tak mau mendengar kabar bahagianya sedangkan aku masih dalam


ambang kehancuran ditinggal, aku pun bergegas motong pembicaraannya dan mengantarnya


langsung ke pasar.


Dan, terucaplah ijab Kabul, agenda pertamanya Yana setelah lulus kuliah. Padahal Wisuda


tinggal sebentar lagi.


Sejenak pikiranku berhenti dihari itu. Dipernikahan mewah dalam ballroom hotel, resepsi


impian hampir semua orang; fasilitas kelas satu dari mulai makanan sampai penghulu, total


biayanya mencapai ratusan juta tapi balik modal, dan yang menjadi lebuh penting lagi, sederet


orang-orang penting mulai bermunculan. Entah berapa rol film yang dihabiskan untuk potret


bersama, sementara foto-foto itu jadi, ia tidak mengerti arti kebanggaannya. mungkin dia harus


mundur lebih jauh lagi, gadis belasan yang aktif dan ceria. Jarang membuat keributan, jarang


buat mmasalah. Ia teman menyenangkan dan murid terbaik. Tapi, kemudian pikirannya


mensinyalir sesuatu. Mengapa ia harus ikut begitu banyak les tambahan? Mengapa ibunya harus


ekstra ramah kepada guru-guru dan tak lupa menitipkan amplop-amplop setiap pengambilan


raport? Mengapa ia harus bisa bernyanyi, mengapa ia harus ikut klub klub silat dengan ditemani


ayahnya yang sering ikut duduk dipinggir lapangan, mengapa nilai pelajaran matematikanyaharus diatas tujuh, sementara ia tidak dapat pujian apa-apa kalau Bahasa Indonesia dapat nilai


Sembilan? Mengapa ia harus hidup begitu lama dakan pembanding-bandingan, ia dengan


neneknya, ia dengan anaknya si ini si anu? Dan , mengapa ia tidak boleh pacaran dengan laku-


laku yang ia suka, semata-mata kerena tipenya bukan tipe orang tuanya? Gilanya lagi, belasan


tahun lewat sudah, Yana tetap tidak punya jawaban atas semua itu. Sekalipun sulit, pikirannya


berusaha keras untuk kembali berrmain bebas di halaman belakang rumahku yang luas dengan


mainan tertabur dirumput. Terdengar suara bapaknya memanggil, “Yan, sudah sore. Ayo, mandi,


nanti ikut belajar mengaji sama abangu semua. Yana kecil bocah ingusan menurut. Berhiaskan


mukena putih imut, ia berjalan riang disamping kakak-kakaknya. Sesampainya dirumah ustad


mengerti pelajaran tajwid. Dan Yana memang tidak mengerti. Baginya, semua itu alunan bahasa


asing. Selebihnya ia Cuma diam dan sesekali mendengarkan. Yang ia tunggu adalah nyanyi-


nyanyian saat mau plang pertanda berakhirnya ngaji waktu itu. Namun sore itu ada satu


keresahan hinggap, dan dirinya yang polos masih mengindahkan hal semacam itu. Tanpa ragu ia


bertanya kepada ustad Herman, ustad, kalau yana mau namatan besok bagaimana caranya? “


Yana kan gak bisa mengaji.” Ustad Herman pun menjawab dengan bijak, “ kalau buat anak


sekecil Yana yang belum bisa mengaji, ya belajar dulu sampai besar, nanti kalau sudah besar dan


sudah bisa mengaji pasti nanti ustad izinkan ikut namatan alquran bersama yang lain. Yana pun


terpesona. Sepanjang perjalanan pulang ia mulai memikirkan proses namatan pakai jajan arak


arakan dari rumah menuju mushola. Sampai belasan tahun, Yana tidak pernah kesepian, ada


kakak-kakaknya yang mengajarinya membaca Alquran setiap malam. Dan akhirnya Yana sudah


pintar mengaji, Alquran sudah dibolak balik dilahapnya sampai khatam. Sehingga suaminya


Danang tertarik karena melihat Yana ini pintar mengaji.


Berbeda denganku, aku selalu membuat keributan, ibu sudah kering air mata menangis


menghadapiku. Aku memang nakal, selalu membuat ibu selalu marah marah. Mungkin aku


mendapat karma dari ibu sehingga orang yang aku sayang, kekasih ku pergi meninggalkanku.


Teleponku itu terasa sepi, entah karena tidak ada yang ingat kepadaku atau memang


orang orang tidak butuh aku. Aku memandangi ponsel yang ku taruh diatas bantal tempat


tidurku, menunggu saat saat yang tepat untuk kapan aku akan menelepon duluan. Setelah satu


jam aku duduk termenung dipojok kamar sambil menghitung kendaraan yang lewat dijalan,suara ponselku bordering. Dengan kaget aku langsung angkat telpon itu, ternyata benar, dia yang


kutunggu selama ini datang juga, walau lewat telepon aku cukup bergetar mendengar bahwa itu


darinya, orang yang selalu special dihati. Namun tak semapat ku angkat telponnya sudah ditutup,


maka dengan cepat aku telpon kembali. Halo Mas? “panggilku lembut”.


“Ya, Sri?.”


“kamu kok jadi pendiam akhir-akhir ini?, Ada masalah yang bisa kubantu?”


Dia terdiam lagi, “Ya Sri, aku jatuh cinta dengan wanita lain. Bisakah kita kembali kemasa lalu


dan tidak perlu untuk melanjutkan hubungan ini lagi?.


Kalau aku punya salah sama Geral, bilang saja, jangan dipendam sendiri, bilang saja.


Komunikasi diantara kita harus dijaga tetap lancar.dengan nada lembut aku mengucapkan kata


demi kata dengan tangan bergetar. Dengan lebih lembut juga ia berkata.


” Sri nggak ada salah apa-apa kok”.


“Terus ada apa?”. Kau sehat kan?,


“Aku sehat, paling capek karena sibuk sedikit.”

__ADS_1


“Kamu memang terlalu sibuk, sampai-sampai jarang menghubungiku”


“Justru itu, aku ingin memberitahumu beberapa hal, karena aku merasa sibuk akhir-akhir ini kita


sudahi saja hubungan ini, aku juga sudah bertemu dengan wanita sejak pertama aku mulai


bekerja disini, satu kantor denganku, aku mulai tertarik dengannya”. Geral pacarku dulu waktu


SMA, namun setelah lulus, dia menjadi salah satu mahasiswa luar daerah di salah satu Perguruan


Tinggi swasta di Jogja, ia belum lulus kuliah namun sudah mulai bekerja sebagai penulis redaksi


berita disalah satu televise swasta. Lebih tepatnya dia kuliah sambil bekerja.


“Mendengar ucapannya Geral yang menginginkan putus dari hubungan pacaran iini, membuatku


menjadi lemas, seakan-akan tumpuan kaki ini seakan lepas dari pegangannya”. Akupun duduk,


dan Telepon itu masih ditelinga, masih duduk dikursi yang sama dipojok kamar.


“Ger, jangan bikin aku kecewa untuk kedua kalinya, pacaran yang ku tahu tidak serumit ini, ““Apa pola yang muncul dengan dia merebutmu dariku?”,


“Balas dendam?”.


“Aku justru terlalu sering kau sakiti, namun aku tetap bertahan dengan harapan menjadi bahagia


terakhir bersamamu”. Mendengar kata kunci yang ku lontarkan, iapun terdiam.


“Mari kita hidangkan sebuah revolusi emosional. Ingat emosi yang bergulir mengalir kearah


kedewasaan sejati”. Jangan sampai kau menjadi pecundang, aku tidak ingin membiarkan diriku


dibodohi si hidung belang sepertimu”.


Aku mulai inget yang dikatakan Abraham maslow.


“Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun


dimungkinkan untu mengejar pencaharian lebih tinggi. Aktualisasi diri. pengetahuan tentang


dirinya dilevel yang paling dalam, dan dialah orang di level ini.” Yang berarti dia sudah kaya,


tidak pusing soal materi. Dia juga sudah mapan, tidak pusing soal fisik. Dia berpengetahuan


tinggi dan menjadi punggung para pencari ilmu, kalau tidak, ia terjebak di level materi dan fisik


tadi.


Satu perbedaan yang sungguh tidak sederhana, perbedaan aku dengan wanita yang dia


sukai, pandangan matanya tidak hanya tajam, tapi juga seketika memancar. Yang lain ibarat


pajangan sederet gergaji yang berkilau, tapi tanpa aksi.


Kasur pegas dari karet yang empuk itu akhirnya beristirahat setelah mendadak telpon darinya


mati. Entah kenapa dia mematikan ponselnya tanpa pamit, akupun mulai malu untuk kembali


menelponnya. Jadi boleh dibilang, dia lebih tidak memiliki norma walau pendidikan tinggi jika


tidak minta izin untuk sekedar menutup telpon.


Aku mulai membencinya, aku menangis sejadi-jadinya didalam kamar, bantal-guling tak


kuasa membendung air mataku, banta- guling semua hanyut dan basah.Aku bayangkan wanita bersamanya itu, wanita yang dia pilih. Aku bayangkan wanita itu


tersenyum mencemoohku, aku bayangkan dia berkata di telingaku lalu mengatakan,


” Justru karena aku lebih darimu,


“Aku lebih sexi darimu, “


Aku lebiih cantik darimu,


“Lebih segalanya darimu”.


Aku semakin menangis terharu isak sampai aku tertidur karena lelah menangis seharian.


Tak lama terasa sudah waktu menunjukkan adzan magrib tiba, semua begitu cepat berlalu


bersama kenangan yang baru saja menimpaku. Seolah-olah aku memiliki dimensi waktu sendiri,


dan mengisap semua orang untuk masuk ke dalamnya.


Kini, aku terdampar dalam padang waktu yanag bergerak lamban. Untungnya masih bisa


dirasakan udara-udara kehidupan dalam diriku. Untung saja aku tidak gelap mata dan menutup


kehidupan ini. Bunuh diri, atau gantung diri, jatuh dari lantai limma belas. Aku rasa tidak


mungkin sampai seperti itu, membayangkan jatuh dari lantai saja tidak berani.


Tiap kali aku merasa sedih, aku selalu coret-coret garis di kertas, terus menghitung mulai dari


jam ke jam. Tiba pada minggu pagi yang saat itu cerah, namun kenangan bersamanya masih ku


ingat jelas, namun ini adalah puncak segala siksa. Di pojok kamar ditemani kursi dan yang selalu


aku lakukan menghitung kendaraan dan melihat pelat motor dan tak lupa menghitung jenis helm


yang lewat, namun aku enggan keluar dengan mata bengkak.


Benar-benar satu yang menggugah minatku, Telepon. Deringnya atau kesempatan menelpon.


Namun aku malu, dan tujuanku benar-benar tidak spesifik, jelas-jelas dia ingin putus dariku


bagaimana mungkin aku mengemis cinta darinya, sudah aku lupakan saja tentangnya. Aku


melirik ke luar jendela lagi. Hamparan rumah yang barang-barang kecil tertata rapi duluar.


Namun kamarku masih berserakan, hunian yang tidak ideal bagi para lajang sepertiku yang ingin


sukses. Dalam geliat nasip, mendadak rumah ini menjadi terasa begitu sepi.Sepuluh menit kemudian, aku mulai tersadar betapa konyolnya ini semua. Aku yang


dikenal sebagai penggunna waktu yang sangat efektif dan efisien telah membuang setengah hari


untuk melakukan hal hal sesuatu yang tidak berguna dan bermakna. Berlari ditempat dalam


hitungan bulan, bahkan beberapa minggu yang lalu perbuatan tolol dan konyol karena aku tak


mampu menutupi apapun dari kesedihanku. Mendadak aku kaget, mungkin memang begini ini


adanya. Cinta tidak membebaskan. Cinta itu tirani, ia membelenggu. Menggiringku ke jurang


dalam pengorbanan luka perih.


Kini aku mengerti, bahkan, reputasi emasku, karierku, tidak ada yang punya arti pada


saat seperti ini. Dengan tak berdayanya kesemuanya itu berlutut dihadapan para agung sebuah


candu cinta, membuat diriku terasa sangat aneh. Tak berarti, tak berguna, tak bermanfaat.


“Cinta sejati itu harus bersatu, kalaupun mereka terpisah namun mereka tetap tak pernah


berubah”

__ADS_1


__ADS_2