
Dia Meninggalkanku
Tidak..!
Bukan keseluruhan darinya yang pergi, hanya jasad kasar saja. Cinta dan janji setianya
tetap kusematkan dalam jiwa. Berkali kali aku menghibur diri dan mengatakan pada hati nurani “
ini tak akan lama, cinta akan membawanya pulang segera”.
Tapi sekali lagi, sulit bagiku untuk menjalani hari tanpa kehadirannya. Aku tak bisa
mengelak saat rasa sepi menghempasku pada kesuyian yang panjang. Kerinduan datang dalam
hitungan detik dan tak memberiku ruang untuk bernafas lega. Ia ada dalam setiap sudut
pandanganku, saat akupun mulai terpejam. Wajahnya melekat menghadirkan senyum yang tak
pernah layu.
Anehnya, aku begitu menikmati semua ini. Ternyata benar, rindu adalah sebuah siksa
yang amat nikmat. Kukira hanya kaum adam yan gampang oleh hati dan rasa nikmat. Ternyata
semua wanita disergap oleh sepi yang tak berujung manis. Sudah menjadi menu rutinku kini
mengingat semua tentang dirinya.
Saat aku terjaga dari tidur aku tak bisa mencegah diri untuk mengingat hal hal kecil
tentang dirinya. Tentang bagaimana ia mencandaiku, tentang betapa jujurnya ia dalam bertutur
kata dan bertingkah laku, tentang mata yang mempesona bagi siapa saja yang memandangnya.Juga tentang kedewasaannya yang kadang muncul tanpa kuduga. Dia permata hatiku.
Melepasnya pergi jauh adalah suatu pilihan yang teramat berat bagiku. Melepasnya pergi jauh
adalah pilihan yang teramat berat bagiku.
Bukannya aku tak percaya pada kemampuannya untuk menjaga taman kasih kami. Aku percaya
padanya, lebih dari aku mempercayai siapa saja dimuka bumi ini, bahkan aku lebih percaya ia
dari pada diriku sendiri. Tak sekalipun ia megecewakanku. Ada satu pelajaran berharga yang aku
dapatkan darinya, ketika suatu saat ia mengatakan padaku, “jujur itu sulit, behkan terkadang
pahit, tapi jika tidak diajarkan untuk jujur, maka lambat laun nurani akan sakit.”
Sekali lagi aku amat mempercayainya. Hanya saja rasa cinta yang mengalir dalam darahku
sebanyak aliran mata air yang tak pernah mongering membuatku mencemaskan keadaannya.
Dunia luar begitu keras dan jahat, aku tak mau laki-lakiku itu tersentuh jahatnya kehidupan. Aku
ingin memberikan yang terbaik utuknya. Apapun yang menjadi kehendaknya itulah keinginan
terbesarku selamanya. Sekali lagi, dia permata hatiku. Menjalani hari-hari tanpa senyum dan
tawa renyahnya membuatku merasa dunia tak lagi memiliki musim semi dan musim gugur.
Aku bukan seorang yang mampu mengungkapkan hati dan rasa lewat bahasa kata, tapi semoga
angin dan tarian alam mala mini mengingatkan ia etapa aku tak pernah mundur walau selangkah
dan akan selalu berada dalam perahu kasih kami, sampai waktu akan membawanya kembali.
Aku bukan peramal, tapi aku punya keyakinan yang sama seperti seorang peramal ulung “Bahwa
rintangan tak akan menggoyahkanku, karena setiap rintangan akan tuduk pada ketepatan hati
yang kukuh”.
Aku masih enggak mengerti, “aku memandangi catatanku“ pria semacam kesatria
sepertinya bisa mendapatkan siapa saja yang dia mau. Berarti kalau dia sampai jatuh cina,
perempuannya harus luar biasa. Sementara, yang yang di diskripsikan adalah wanita sepertiku
yang tidak biasa. Okelah, jika dia menghianatiku, dia harus mencari wanita yang lebih baik
dariku, dia harus wanita karier, alumnus PTN terbaik. Tapi, itu nggak menjamin dia menjadi
sosok yang special dihatinya kan?”. aku mulai terdiam sejenak menarik nafas lega, namun tak
lama lagi, fikiran mulai berperang dengan berbagai acam pertanyaan, dalam fikiranku mulai
terbangun kata kata yang membuatu menjadi wanita yang rapuh, “andai saja benar itu terjadi, “
justru itu misteri cinta, ketika hati bisa menjangkau kualitas-kualitas yang tidak tertangkap mata.Bisa saja pria itu melihat yang lain”. Aku kan nggak tau pemikiran manusia, aku biasa
bayangkan betapa kompleksnya system pemikiranku sendiri,” mata batinku menerawang, “dalam
system kompleks itu, bisa saja cermin siap berbalik kapan saja, semudah membalikkan telapak
tangan. Otak manusia hamper setiap saat menuju ke arah rasa nyaman. Aku takut dia menjadi
nyaman dengan orang lain. Ini menjadi awal keresahanku yang membuatku tidak bisa tidur lebih
awal.
Dengan kepala bersandar di tembok pojok kamar, aku mengamati motor – motor yang
lalu lalang dijalanan. Membaca hampir semua plat nomor kendarannya. Tidak juga melewatkan
berapa jenis dan warna helm yang terlihat berbeda beda, kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Sayangnya, kini semua itu tidak lagi bermakna, berbeda dengan mata anak kecil dulu, aku tidak
tahu yang akan hilang sebentar lagi. Aku melihat ada motor berhenti sekitar pukul delapan pagi,
“Sri, ayo keluar, kita jalan-jalan”, teriak Yana.
“Maaf Yan, lagi nggak enak badan.”, Yana masih tidak beranjak. Ia berdiri tegak di depan
rumah, kaki menginjak tanah, aku iri padanya, Yana tidak sadar aku iri akan dirinya, Yana yang
tidak terganggu dengan hidup monotonnya, Yana tidak keberatan memiliki hati tanpa tambatan
yang dingin tanpa api. Yana yang tak pernah bertanya terlalu dalam kenapa aku mulai pendiam
di dalam kamar. Aku iri padanya, ia bertemu danang. Pria santun dari keluarga ningrat berusia
lima tahun lebih tua darinya. Bibit, bebet,bobot yang baik sehingga bisa meluluh lantakkan hati
orang tuanya. Entah apakah luluh atau justru mengencang. Orang tua mana yang tidak ingin
punya menantu dan besan seperti itu. Punya ini-itu, saudaranya ini dan anu, temannya si pejabat
A dan pejabat C. memang menyenangkan. Bagaimana mungkin tidak, kalau seluruh umat
disekitarnya memuji-muji setiap saat, berulang-ulang mengatakan betapa beruntungnya Yana
dapat pria seperti danang.
Yana masuk ke dalam rumah, dan menengok keadaanku.
__ADS_1
“Yan sini masuk”,
“Ada apa pagi-pagi tumben ngajak sepagi ini“Temenin aku beli sesuatu di pasar, nanti siang ada bapaknya Danang beserta keluarga
besarnya datang kerumah, jadi mau beli sayur-sayur untuk dimasak nanti”. Akupun mulai
mengangguk angguk.
“Yan, kau beruntung ya mendapatkan calon suami seperti Danang?”.
“Ya, aku amat beruntung”.
“ Apa yang kurang lagi dari Danang”?
“Dan, senangnya didukung semua orang”.
“Senangnya melihat kedua keluarga sering datang silaturahmi”.
“Tunggu apalagi?. Tanyaku cepat.
“Ya, Sri, Do’akan yang terbaik”.
Aku masih iri padanya, aku tak mau mendengar kabar bahagianya sedangkan aku masih dalam
ambang kehancuran ditinggal, aku pun bergegas motong pembicaraannya dan mengantarnya
langsung ke pasar.
Dan, terucaplah ijab Kabul, agenda pertamanya Yana setelah lulus kuliah. Padahal Wisuda
tinggal sebentar lagi.
Sejenak pikiranku berhenti dihari itu. Dipernikahan mewah dalam ballroom hotel, resepsi
impian hampir semua orang; fasilitas kelas satu dari mulai makanan sampai penghulu, total
biayanya mencapai ratusan juta tapi balik modal, dan yang menjadi lebuh penting lagi, sederet
orang-orang penting mulai bermunculan. Entah berapa rol film yang dihabiskan untuk potret
bersama, sementara foto-foto itu jadi, ia tidak mengerti arti kebanggaannya. mungkin dia harus
mundur lebih jauh lagi, gadis belasan yang aktif dan ceria. Jarang membuat keributan, jarang
buat mmasalah. Ia teman menyenangkan dan murid terbaik. Tapi, kemudian pikirannya
mensinyalir sesuatu. Mengapa ia harus ikut begitu banyak les tambahan? Mengapa ibunya harus
ekstra ramah kepada guru-guru dan tak lupa menitipkan amplop-amplop setiap pengambilan
raport? Mengapa ia harus bisa bernyanyi, mengapa ia harus ikut klub klub silat dengan ditemani
ayahnya yang sering ikut duduk dipinggir lapangan, mengapa nilai pelajaran matematikanyaharus diatas tujuh, sementara ia tidak dapat pujian apa-apa kalau Bahasa Indonesia dapat nilai
Sembilan? Mengapa ia harus hidup begitu lama dakan pembanding-bandingan, ia dengan
neneknya, ia dengan anaknya si ini si anu? Dan , mengapa ia tidak boleh pacaran dengan laku-
laku yang ia suka, semata-mata kerena tipenya bukan tipe orang tuanya? Gilanya lagi, belasan
tahun lewat sudah, Yana tetap tidak punya jawaban atas semua itu. Sekalipun sulit, pikirannya
berusaha keras untuk kembali berrmain bebas di halaman belakang rumahku yang luas dengan
mainan tertabur dirumput. Terdengar suara bapaknya memanggil, “Yan, sudah sore. Ayo, mandi,
nanti ikut belajar mengaji sama abangu semua. Yana kecil bocah ingusan menurut. Berhiaskan
mukena putih imut, ia berjalan riang disamping kakak-kakaknya. Sesampainya dirumah ustad
mengerti pelajaran tajwid. Dan Yana memang tidak mengerti. Baginya, semua itu alunan bahasa
asing. Selebihnya ia Cuma diam dan sesekali mendengarkan. Yang ia tunggu adalah nyanyi-
nyanyian saat mau plang pertanda berakhirnya ngaji waktu itu. Namun sore itu ada satu
keresahan hinggap, dan dirinya yang polos masih mengindahkan hal semacam itu. Tanpa ragu ia
bertanya kepada ustad Herman, ustad, kalau yana mau namatan besok bagaimana caranya? “
Yana kan gak bisa mengaji.” Ustad Herman pun menjawab dengan bijak, “ kalau buat anak
sekecil Yana yang belum bisa mengaji, ya belajar dulu sampai besar, nanti kalau sudah besar dan
sudah bisa mengaji pasti nanti ustad izinkan ikut namatan alquran bersama yang lain. Yana pun
terpesona. Sepanjang perjalanan pulang ia mulai memikirkan proses namatan pakai jajan arak
arakan dari rumah menuju mushola. Sampai belasan tahun, Yana tidak pernah kesepian, ada
kakak-kakaknya yang mengajarinya membaca Alquran setiap malam. Dan akhirnya Yana sudah
pintar mengaji, Alquran sudah dibolak balik dilahapnya sampai khatam. Sehingga suaminya
Danang tertarik karena melihat Yana ini pintar mengaji.
Berbeda denganku, aku selalu membuat keributan, ibu sudah kering air mata menangis
menghadapiku. Aku memang nakal, selalu membuat ibu selalu marah marah. Mungkin aku
mendapat karma dari ibu sehingga orang yang aku sayang, kekasih ku pergi meninggalkanku.
Teleponku itu terasa sepi, entah karena tidak ada yang ingat kepadaku atau memang
orang orang tidak butuh aku. Aku memandangi ponsel yang ku taruh diatas bantal tempat
tidurku, menunggu saat saat yang tepat untuk kapan aku akan menelepon duluan. Setelah satu
jam aku duduk termenung dipojok kamar sambil menghitung kendaraan yang lewat dijalan,suara ponselku bordering. Dengan kaget aku langsung angkat telpon itu, ternyata benar, dia yang
kutunggu selama ini datang juga, walau lewat telepon aku cukup bergetar mendengar bahwa itu
darinya, orang yang selalu special dihati. Namun tak semapat ku angkat telponnya sudah ditutup,
maka dengan cepat aku telpon kembali. Halo Mas? “panggilku lembut”.
“Ya, Sri?.”
“kamu kok jadi pendiam akhir-akhir ini?, Ada masalah yang bisa kubantu?”
Dia terdiam lagi, “Ya Sri, aku jatuh cinta dengan wanita lain. Bisakah kita kembali kemasa lalu
dan tidak perlu untuk melanjutkan hubungan ini lagi?.
Kalau aku punya salah sama Geral, bilang saja, jangan dipendam sendiri, bilang saja.
Komunikasi diantara kita harus dijaga tetap lancar.dengan nada lembut aku mengucapkan kata
demi kata dengan tangan bergetar. Dengan lebih lembut juga ia berkata.
” Sri nggak ada salah apa-apa kok”.
“Terus ada apa?”. Kau sehat kan?,
“Aku sehat, paling capek karena sibuk sedikit.”
__ADS_1
“Kamu memang terlalu sibuk, sampai-sampai jarang menghubungiku”
“Justru itu, aku ingin memberitahumu beberapa hal, karena aku merasa sibuk akhir-akhir ini kita
sudahi saja hubungan ini, aku juga sudah bertemu dengan wanita sejak pertama aku mulai
bekerja disini, satu kantor denganku, aku mulai tertarik dengannya”. Geral pacarku dulu waktu
SMA, namun setelah lulus, dia menjadi salah satu mahasiswa luar daerah di salah satu Perguruan
Tinggi swasta di Jogja, ia belum lulus kuliah namun sudah mulai bekerja sebagai penulis redaksi
berita disalah satu televise swasta. Lebih tepatnya dia kuliah sambil bekerja.
“Mendengar ucapannya Geral yang menginginkan putus dari hubungan pacaran iini, membuatku
menjadi lemas, seakan-akan tumpuan kaki ini seakan lepas dari pegangannya”. Akupun duduk,
dan Telepon itu masih ditelinga, masih duduk dikursi yang sama dipojok kamar.
“Ger, jangan bikin aku kecewa untuk kedua kalinya, pacaran yang ku tahu tidak serumit ini, ““Apa pola yang muncul dengan dia merebutmu dariku?”,
“Balas dendam?”.
“Aku justru terlalu sering kau sakiti, namun aku tetap bertahan dengan harapan menjadi bahagia
terakhir bersamamu”. Mendengar kata kunci yang ku lontarkan, iapun terdiam.
“Mari kita hidangkan sebuah revolusi emosional. Ingat emosi yang bergulir mengalir kearah
kedewasaan sejati”. Jangan sampai kau menjadi pecundang, aku tidak ingin membiarkan diriku
dibodohi si hidung belang sepertimu”.
Aku mulai inget yang dikatakan Abraham maslow.
“Ketika manusia sudah mengatasi semua kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, ia pun
dimungkinkan untu mengejar pencaharian lebih tinggi. Aktualisasi diri. pengetahuan tentang
dirinya dilevel yang paling dalam, dan dialah orang di level ini.” Yang berarti dia sudah kaya,
tidak pusing soal materi. Dia juga sudah mapan, tidak pusing soal fisik. Dia berpengetahuan
tinggi dan menjadi punggung para pencari ilmu, kalau tidak, ia terjebak di level materi dan fisik
tadi.
Satu perbedaan yang sungguh tidak sederhana, perbedaan aku dengan wanita yang dia
sukai, pandangan matanya tidak hanya tajam, tapi juga seketika memancar. Yang lain ibarat
pajangan sederet gergaji yang berkilau, tapi tanpa aksi.
Kasur pegas dari karet yang empuk itu akhirnya beristirahat setelah mendadak telpon darinya
mati. Entah kenapa dia mematikan ponselnya tanpa pamit, akupun mulai malu untuk kembali
menelponnya. Jadi boleh dibilang, dia lebih tidak memiliki norma walau pendidikan tinggi jika
tidak minta izin untuk sekedar menutup telpon.
Aku mulai membencinya, aku menangis sejadi-jadinya didalam kamar, bantal-guling tak
kuasa membendung air mataku, banta- guling semua hanyut dan basah.Aku bayangkan wanita bersamanya itu, wanita yang dia pilih. Aku bayangkan wanita itu
tersenyum mencemoohku, aku bayangkan dia berkata di telingaku lalu mengatakan,
” Justru karena aku lebih darimu,
“Aku lebih sexi darimu, “
Aku lebiih cantik darimu,
“Lebih segalanya darimu”.
Aku semakin menangis terharu isak sampai aku tertidur karena lelah menangis seharian.
Tak lama terasa sudah waktu menunjukkan adzan magrib tiba, semua begitu cepat berlalu
bersama kenangan yang baru saja menimpaku. Seolah-olah aku memiliki dimensi waktu sendiri,
dan mengisap semua orang untuk masuk ke dalamnya.
Kini, aku terdampar dalam padang waktu yanag bergerak lamban. Untungnya masih bisa
dirasakan udara-udara kehidupan dalam diriku. Untung saja aku tidak gelap mata dan menutup
kehidupan ini. Bunuh diri, atau gantung diri, jatuh dari lantai limma belas. Aku rasa tidak
mungkin sampai seperti itu, membayangkan jatuh dari lantai saja tidak berani.
Tiap kali aku merasa sedih, aku selalu coret-coret garis di kertas, terus menghitung mulai dari
jam ke jam. Tiba pada minggu pagi yang saat itu cerah, namun kenangan bersamanya masih ku
ingat jelas, namun ini adalah puncak segala siksa. Di pojok kamar ditemani kursi dan yang selalu
aku lakukan menghitung kendaraan dan melihat pelat motor dan tak lupa menghitung jenis helm
yang lewat, namun aku enggan keluar dengan mata bengkak.
Benar-benar satu yang menggugah minatku, Telepon. Deringnya atau kesempatan menelpon.
Namun aku malu, dan tujuanku benar-benar tidak spesifik, jelas-jelas dia ingin putus dariku
bagaimana mungkin aku mengemis cinta darinya, sudah aku lupakan saja tentangnya. Aku
melirik ke luar jendela lagi. Hamparan rumah yang barang-barang kecil tertata rapi duluar.
Namun kamarku masih berserakan, hunian yang tidak ideal bagi para lajang sepertiku yang ingin
sukses. Dalam geliat nasip, mendadak rumah ini menjadi terasa begitu sepi.Sepuluh menit kemudian, aku mulai tersadar betapa konyolnya ini semua. Aku yang
dikenal sebagai penggunna waktu yang sangat efektif dan efisien telah membuang setengah hari
untuk melakukan hal hal sesuatu yang tidak berguna dan bermakna. Berlari ditempat dalam
hitungan bulan, bahkan beberapa minggu yang lalu perbuatan tolol dan konyol karena aku tak
mampu menutupi apapun dari kesedihanku. Mendadak aku kaget, mungkin memang begini ini
adanya. Cinta tidak membebaskan. Cinta itu tirani, ia membelenggu. Menggiringku ke jurang
dalam pengorbanan luka perih.
Kini aku mengerti, bahkan, reputasi emasku, karierku, tidak ada yang punya arti pada
saat seperti ini. Dengan tak berdayanya kesemuanya itu berlutut dihadapan para agung sebuah
candu cinta, membuat diriku terasa sangat aneh. Tak berarti, tak berguna, tak bermanfaat.
“Cinta sejati itu harus bersatu, kalaupun mereka terpisah namun mereka tetap tak pernah
berubah”
__ADS_1