
Karena Dia Laki Laki Terbaik Menurutku
Aku iri pada Yana, aku iri pada angin, iri pada apa saja yang mudah lelap dalam
buaianya. Ia begitu lihai menciptakan dunia-dunia mimpi. Aku ingin bahagia, terkadang aku
mengobrak-abrik isi lemariku lalu menatanya kembali. Menyapu lantai kamar yang sudah bersih.
Duduk memangku dagu didepan computer yang menyala sampai dini hari tanpa berhasil menulis
satu kalimat pun, sebab isi otakku menguap tak tentu arah. Menggeser letak meja, tempat tidur
dan barang lainnya dengan alasan palsu, rindu suasana baru, padahal aku hanya tak tahu harus
berbuat apa.
Dan ketika semua rutinitas diatas sudah menyergapku dalam bosan-sebosan-bosannya,
pilhanku terakhir tak lain bertandang ke halaman belakang. Melihat deretan semak semak
rumput rumut seolah menertawakan kesendirianku ini. Ketika aku letih berkutik dengan ekorku
sendiri dan tak menemukan satupun jawaban yang meredakan hati, muncul letupan pertanyaan
lebih besar yang ujungnya juga buntu.
“Mengapa aku terpilih sebagai terlupakan?”
Baru dua tahun kuliah, ya sudah dua tahun ibarat anak kost miskin yang malas karena meliat
kardus-kardus mie instat murahan sebagai menu rutin pagi-siang-sore-malam dan aku telah
mencapai titik klimaks rasa jenuh mencari cari pintu rahasia malam yang menyimpan serbuk
efek samping lainnya. Dan aku takut nantinya mie itu mengantarkanku pada pintu penyakit.
Ini tak seharusnya menimpaku. Dulu aku penidur berat, pemakan yang tangguh, semua
itu ulah nakalku sendiri. Semua aku makan, semua aku lawan. Ini bisa saja menjadi karma atas
perbuatan diriku sendiri. Karma akan tingkahku terhadap orang tua.
Seandainya rahasia ini tetap tersimpan rapi dalam kotak kedap suara dan aku tak
mengusiknya, tapi aku tak mampu menahan kesedihan itu, seandainya aku juga tak terlalu nakal,
membuat wajah ibu selalu menangis, dan akhirnya aku tertimpa kesedihan yang teramat sangat
kehilangan kekasih yang tak tahu arah, mungkin aku bisa curhat dengan ibu saat ini.
Aku terluka hari ini, nyerinya perih sampai ke hulu hati. Sensasi lukanya beda tipis dengan luka
ketika pertama kutahu aku bukan yang ia pilihkan. Kemana harus kumuarakan amarahku, jelas
tak mungkin pada orang lain. Ia hanya pelakon, sama sepertiku, aku tak punya hak sedikitpunatas skenarionya yang disini. aku tak punya kekuatan apapun, tak ada ruang bagi sebuah ide
disini, apalagi yang namanya nurani, kebenaran sekarang sudah menjadi nyata. Kadang aku
berkhayal punya milyaran nyawa yang bisa kugunakan untuk menjadi pengganti nyawaku. Jika
aku marah aku bisa bunuh diri dan melupakan semuanya dan tumbuh kembali dengan nyawa dan
fikiran yang baru.
“Hidup hanya sebuah jalan misteri yang hanya tuhan yang tahu, hanya ia saja yang tahu kode
rahasianya. Ketika detik selanjutnya wangi bahagia masih tersisa. Bahagia dan duka hanya dua
buah rasa yang terpisah oleh satu urat bulu saja, keduanya bisa saling bertukar tempat dalam
hitungan kejapan mata”.“Aku tak tahu harus bagaimana dan harus berbuat apa”.
“Apakah aku harus memaki atau mensyukuri hari ini”.
Canda nasip memang kadang agak sedikit keterlaluan. Aku juga tidak tahu mengapa lara selalu
saja membututiku setiap helai keceriaan yang ada. Sepertinya, derita tak pernah ikhlas
membiarkan bahagia melenggang sendiri dalam sehari-hariku, selalu aja ikut ambil bagian.
Dalam hidupku, lara dan cita tak ubah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Ada banyak
warna jiwa yang tak dapat kuklasiikasikan termasuk dalam kategori yang apik untuk mencinta.
Atau mungkin jangan-jangan bagian dalam setiap babak drama kehidupanku.
“Aku memaksanya turut dalam bentuk keyakinan,”
“Selalu ada ranum hikmah yang bisa dipetik dari setiap kejadian”.
Hadirnya orang orang yang berhati putih, tentu saja luka-luka masih menganga dan tetap
ada. Tuhan menciptakan semua orang yang pernah hadir membuatku faham bahwa tak pernah
ada hidup yang begitu bahagia sempurna. Bahwa memar, luka, dan caci maki adalah salah satu
bagian dari hidup itu sendiri yang tak bisa dihindari.
“Aku dibiasakan dalam keadaan untuk menerima luka tanpa harus menyambutnya dengan tangis
dan air mata”.
“Aku tak ada waktu untuk merasakan sakit, apalagi untuk terisak”.
Rasanya seperti makanan mie yang ku lahap sehari-hari.
Bahkan aneh rasanya jika tak ada tamparan, tendangan dan caci maki.
Seperti hari ini paket suka cita dan nestapa telah dikirim tuhan hampir bersamaan lewat deru
angin”.
Sempurna !!.
“Jarak jauh adalah ujian cinta, jarak dekat adalah ujian iman, dan menanti adalah bukti kesetiaan.Aku enggak berani berharap banyak, biarkan waktu yang menjawab semuanya. cari
pasangan itu harus bisa diajak susah, karna hidup ini enggak segampang yang kita kira. aku,
kamu, kita semua pasti ingin mendapatkan yang namanya rasa ingin cinta dan mencintai karna
itu adalah fitrah manusia, fitrah yang tidak bisa kita pungkiri. Namun dapat diatasi agar nafsu
birahi tidak menguasai diri kita ini untuk terjerumus kelembah perzinaan. Dalam diam mari
sama-sama berdoa,
” ya Allah ya Tuhanku”, “
“Kalau dia jodohku biarkanlah disisiku”,
“Dan kalau dia bukan jodohku terimalah dia disisimu”.
Namun dalam diam pula terdapat tanda tanya
“Bisakah kita dipertemukan dengan seseorang yang memang untuk kita?,”
“Bukan hanya yang hadir terus pergi lagi”?,
“Aku lagi –lagi tak menemukan jawabannya”.
Ketika kita mulai dan sudah lelah untuk menyampaikan maksud kita, kita lebih memilih diam
bukan karna takut tidak ia dengar, tapi kita menahan keegoisan. Tidak ada yang tahu bagaimana
misteri cinta bisa hadir di hidup seseorang. Tiada yang tahu juga seseorang bakal berjodoh
dengan siapa. Ada beberapa orang yang telah pacaran lama, bertahun-tahun dan nyaris menikah
ternyata belum jodoh hingga akhirnya batal menikah. Ada pula yang baru kenalan tetapi sudah
memantapkan hati untuk menikah dan membangun rumah tangga bersama. Sama seperti kisah
sepupunya temanku Wina, dikampung Lombok timur sepupunya Wina bernama Mira, yang
menikah dengan seorang laki-laki Lombok Tengah bernama Aweng. Awalnya dimulai dengan
pertemuan disalah satu media social dan setelah tidak lama kemudian, mereka bertemu entah
dimana tempatnya.
Tak terlalu sering mereka bertemu tatap muka secara langsung, karena jarak mereka terlalu jauh,
mereka komunikasi hanya dengan lewat telepon, sms, chat Whats Ap. Pada akhirnya mereka
memutuskan untuk bertunangan. Perkenalan mereka cukup singkat. Sempat Wina menanyakan
kepada sepupunya itu,“Mir?”,
“Ya, kak?
“Apa Mira tidak takut salah pilih? “ Tanya Wina dengan pasti.
“Gak. Aku yakin sekali kak”. Tegas Mira.
“Mungkin,-mungkin karena aku juga masih ragu sedikit, Akan tetapi tak usah kita perundingkan
perkara yang sulit, berbelit-belit, dan muter muter itu. Makin direntang panjang nanti makin
kusut dan mengacaukan pikiran.
Sekarang aku mau Tanya kepadamu kak,
“Bagaimana pikiranmu tentang Aweng itu?”.
Setelah mendengar pertanyaan yang seperti itu, warna mukanya Wina pun berubah menjadi
sedikit bingung. Sebagaimana pertimbangan ibu tadi,
__ADS_1
“Apa yang di katakana ibu tadi itu sudah”,,
“Begitu pula pikiranku”,
“Tetapi bagaimanapun juga, Aku harus berfikir positif tentang dia”.
“Mir, coba fikirkan dulu dengan matang-matang”, Tegas ibu sambil matanya tertuju kepada Mira
yanag duduk di kursi dekat TV. Mira mengangkat kepalanya serta berfikir-fikir, kemudian Wina
melanjutkan,
”Tentu saja Mir,
“Kau harus fikirkan, sebab kau akan tinggal serumah dengan dia,
“Tapi aku yakin, jika menurutmu pilihan itu yang terbaik, aku yakin kau akan sebisa mungkin
berdamai didalam rumah kalian nantinya”.
“Benar bu, dari hatku tentu tak ada kekeliruan dalam mengambil sikap”.“Aku maklum anakku, akan tetapi kau harus tahu bebet-bobotnya dulu, kau suruhlah orang
tuanya atau keluarganya kerumah, kalau memang dia benar mau menikah”. Ucap ibunya Mira.
“Ia bu, akan datang waktunya nanti”.
Seminggu kemudian, Aweng dan keluarga datang dengan undangan Mira sesuai dengan perintah
ibunya waktu diskusi seminggu yang lalu.
Kedua belah pihak dua keluarga membicarakan mengenai bagaimana hubungan selanjutnya.
Setelah terjadi perbincangan yang cukup alot dan lama, terjadi kesepakatan bahwa mereka tidak
perlu menikah terlalu cepat, mengingat umur mereka masih muda, mereka juga masih kuliah,
dan kesepakatan terakhir adalah akan diadakan pertunangan sebagai pengikat tali silaturahmi
keduanya.
Semenjak saat itu, Aweng dan keluarganya kerap datang dan dijamu oleh keluarga Mira,
perjamuan itu baik sekali niat dan maksudnya, yakni akan member kesempatan kepada Aweng
dan Mira untuk berkenalan lebih jauh dan lebih akrab dengan keluarga karib, baik itu
sahabatnya Mira dan keluarga besarnya. Aweng bahkan mulai sering datang ke Lombok Timur
sendiri tanpa ditemani orang-orang rumahnya atau keluarga di Lombok Tengah. Dalam
pertemuan-pertemuan Aweng dengan beberapa orang disana, mereka itu bisa mengamati tingkah
lakunya Aweng dan perbuatan Aweng.
Dan menjadi penelitian beberapa ibu-ibu perkumpulan menggerutu,
“Apakah Aweng itu disukai oleh orang-orang disekitar rumahnya Mira?”.
“Dan ada anggapan-anggapan dari tetangga lain, bahwa karena Aweng datang sendiri
kerumahnya Mira,
“Apakah calonnya Mira itu tidak memiliki sahabat?” Bisik-bisik tetangga mulai terdengar selalu
ditelinga.
Sebab sesungguhnya datang ke kesana sendirian, datang sendirian semacam itu memang tidak
dilazimkan, melainkan harus datang berempat, atau sekurang-kurangnya tiga orang. Jadi, jikalau
datang sendiri, apakah dia kurang teman, atau bahkan tidak disukai oleh orang.?.” anggapantetangga itu membuat orang menjadi serba salah, banyak yang putus hubungan pertunangannya
gara-gara kesalahan dalam hal sepeti itu. Gara-gara omongan tetangga yang seperti ini.
Pada suatu hari, ketika Mira pulang dari mataram, dikabarkan oleh ibunya bahwa hari
minggu, ia diundang oleh orang tuanya Aweng untuk bersilaturahmi kerumahnya yaitu – dua
hari lagi. Dan segeralah mereka membicarakan siapa yang ikut. Sampailah tiba saatnya untuk
berangkat. Perjalanan dari Lombok Timur ke Lombok Tengah memakan waktu sekitar satu jam
lamanya.Wina tidak ketinggalan untuk ikut bersama, dan Wina mengajakku untuk ikut bersama
rombongan untuk ikut hadir di jamuan kedua keluarga itu. Karena ini permintaan wina aku tidak
bisa menolak dan akupun hadir bertemu dipraya. Lokasi di share lock. Sesampai didepan rumah
mereka disambut masuk, lalu dipersilahkan duduk di atas tikar yang terbuat dari pandan putih,
dihadan mereka tersedia asbak rokok dan penginang berisi sirih selengkapnya.
Rumah berukir itu sudah terhias elok dan indah, sekelilingnya dipinggir dinding, udah terbentang
permadani yang permai. Kursi dan meja telah diatur rapi, tapi tidak diduduki oleh tamu jauh
dilantai bersama sama.
Tentang tiap tiap ruangan yang dilihat, didepan kamar terdapat cermin yang jelas terlihat dari
halaman. Gambar dan lukisan yang indah tidak kurang dan tergantung didinding dengan teratur.
Barang siapa yang baru pertama masuk dirumah itu, niscaya ia akan heran dan
tercengang cengang melihat keindahan rumah serta perkakas disana. Tentu saja ia akan
berkata,”memang kaya orang dirumah ini”. Sementara berkata-kata, Aweng pun keluar tidak
lupa melayangkan pandangan kesemua orang yang hadir, kemudia ketika ia memandang di balik
kain korden pintu depan ada seorang gadis yang ia sukai, Mira tepatnya, lalu duduklah. “Sssst!
Jangan sebut namanya, bisik pamannya Mira. Setelah selesai berbincang-bincang rimang, maka
makanan disilahkan untuk dimakan. Mereka itu mulai makan. “ah jangan malu-malu, makan,
ambil sambalnya ini,”.”Ya ya, terimakasih”, ajakan itu disambut baik oleh keluarga Mira,
“Kesempatan baik, “ Bisik bisik pamannya Mira. Semua pada tertawa riang. Sambil menahan
tertawanya masing-masing, setelah selesai semua makan dan terasa sudah kenyang, kemudian
seseorang datang dengan malu malu mengangkat piring piring untuk dibersihkan.Ternyata perjamuan kali itu adalah membahas tentang pernikahan. Tibalah saatnya mereka untuk
menikah. Walau memang mereka belum selesai kuliah. Cita-cita itu pikirnya akan cepat dicapai
apabila dia telah didampingi oleh istri pilihannya, Mira tentu akan membantunya”. Ucap ayah
Aweng. Bulan mauled, hari pernikahannya Aweng dengan Mira tiba saatnya. Anak muda itupun
minta izin 14 hari untuk tidak masuk kuliah. Dalam waktu itu dilangsungkanlah pernikahan
perkawinannya. Tentu saja resepsi itu mewah dan dihadiri oleh banyak orang, tidak luput saya
juga endapat undangan dari Wina. Dua ekor sapi disembelih. Orang orang kampung sana
biasanya dijamu belakangan, karena ada disisihkan untuk warga kampung itu sendiri. Mira
dihiasi dengan sangat cantik, ia memakai pakaian hitam, yaitu pakaian adat sasak yang biasa
digunakan untuk pernikahan di Lombok. Ketika mempelai itu keluar dari kamarnya, diiringi oleh
beberapa orang yang juga lengkap dengan kostum yang indah pula. Ketika itu terlihat air mata
Mira lembab seperti diseliputi awan yang menampung air hujan. Matanya luyu dan bengkak
sedikit seperti orang yang baru selesai menangis. Disitu terbayanglah perasaan hatinya yang
tidak tetap sebentar sedih;sebentar lagi melayang kemana-mana. Kadang ia berasa takut akan
menempuh rumah tangga. Dia mulai memikirkan bahaya-bahaya, serta maslah-masalah yang
mungkin akan dihadapi nantinya setelah menikah. Kadang-kadang terfikirkan olehnya,
“Sudah jelas, aku tidak akan bisa bercanda ria lagi dengan keluargaku seperti biasa sehari-hari”,
“Sudah pasti, tidak dengan bebas lagi di Lombok Timur jika aku sudah terikat oleh suatu
perkawinan dengan laki-laki”.
“Akan tetapi aku mesti kawin”, katanya dalam hati, dan akhirnya, hatinya mulai sedikit lega.
Sementara mempelai dan pengiring laki-laki serta rombongan pengantar perempuan yang muda-
muda sudah jauh dari iring-iringan. Mereka diarak dengan gendang belek yang amat riuh besar
suranya. Dihadapan mempelai itu berjalan tiga atau empat orang perempuan. Yakni orang
menjemput. Setelah lama diarak mereka itupun sampai ketempat yang dituju yaitu rumah Mira,
lalu disambut orang dengan Gendang Beleq juga. Diantara orang yang menyambut kedatangan
mempelai itu adalah hadir banyak sekali tokoh masyarakat sampai jalan–jalan ditutup karena
orang yang ikut nyongkolan dalam arak-arakan itu sangat banyak. Sesampai dirumah maka para
pengantin dipersilahkan duduk diatas pelaminan, yang dihiasi indah seperti tempat dudukseorang raja. Amat takjub orang melihat kedua pengantin yang elok itu bersanding, laksana
bulan dan matahari diapit oleh bintang-bintang berkilauan.
Bintang yang mengapit itu adalah dua orang permpuan yang berpakaian indah, serta dua
laki laki tampan yang gagah perkasa yang tak lain tak bukan adalah kedua orang tua mempelai
laki-laki dan permpuan.
Akhirnya perhelatan itu selesai juga. Semua orang sudah pada bubar pulang kerumah masing-
__ADS_1
masing, Sesudah berjuang dengan ujung lidah keluar karena lamanya dan kemudian
persandingan selesai barulah mempelai boleh pulang kerumah mempelai laki-laki beserta para
pengiringnya.
Pada hari itu, rupanya masih ada rangkaian acara yang penting dan harus diselenggarkan
pada malam harinya yaitu “Bejango” mempelai laki-laki beserta keluarganya datang kerumahnya
keluarga si perempuan itu untuk menjenguk keadaan orang tua lagi. Entah apa filosofi “Bejango”
itu, yang jelas setelah mereka selesai nyongkolan, mereka harus kerumah keluarga wanita lagi.
Menurut adat sih mengembalikan barang barang hasil dari surung serah aji krame.
Adapun aku, aku ikut dalam rombongan arak-arakan itu, aku dianter oleh beberapa
teman-temanku, Yana, Desak. Kira-kira lepas waktu magrib-mulai pulang kerumah. Aku diantar
oleh beberapa orang lagi sekitar ada dua motor, aku bersama yana, dan Desak sama pacarnya.
Adapun Wina, kami berpisah sesaat setelah acara itu selesai, karena memang Wina asli Lombok
Timur, jadi tidak ikut dengan kami ke Lombok Tengah.
Sudah halal, Mira dan Aweng menjadi suami istri yang sah. Mereka itu tinggal dirumah berukir,
mereka dihormati seperti seorang raja dirumah itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama, hanya
sebulan lamanya. Mereka selalu dihadirkan oleh keributan-keributan rumah tangga, rumah
tangganya mulai goyah.
Memang selalu salah jika masih serumah dengan orang tua, ini-itu semua salah dimata mertua.
Mira memang tidak sepandai orang-orang yang bisa masak enak, bisa mengerjakan pekerjaan
rumah seperti orang kebanyakan. Karena memang Mira hidup dikeluarga yang dimanjakan, tidak
pernah masak nasi, tidak pernah mencuci pakaian, tidak pernah cuci piring dan tidak pernah
melakukan pekerjaan rumah lainnya. Itu yang membuat mertua jengkel atas Mira.”Mira, kau harus mandiri sekarang!”,
“Semua pekerjaan harus kau selesaikan sendiri,”
“Harus membiasakan diri dalam keadaan seperti ini”. Ucap mertuanya.
“Ratu dirumah, bukanlah ratu yang duduk santai, tapi ia harus mengerjakan pekerjaan rumah
dengan tangannya sendiri, bukankah itu wanita sempurna?”. Pertanyan itu membuat Mira merasa
malu semalu-malunya.
Mira hanya tertunduk diam didalam kamarnya.
“Memang, di rumah kita ini, kita harus kerjakan sendiri-sendiri hingga teratur tertata rapi, besih
dan wangi, tapi ini tidak, sayangnya tidak kau kerjakan dengan tanganmu sendiri.,
“Jangan seperti tinggal dihotel seenaknya saja”.
Mira tegak berdiri berontak berang. Bibirnya sudah bergerak gerak akan membalas sindiran yang
tajam itu dengan jerit dan tempelek kasar. Akan tetapi Mira segera menutup mulutnya.
“ Diam, kalau tidak….”. dalam hati Mira ingin mengucapkan kata-kata itu.
Rupanya Mira menganggap itu adalah sebuah ancaman yang tak disangka-sangka itu dapat
menundukkannya. Ia kemudian terperanjak duduk kembali, seraya bergumam-gumam kecil
menahan hati. Bukan menangis.
Sementara itu Mira memandangi mertuanya dengan heran dari balik korden kamarnya.
“Ajaib,”. Katanya Mira dengan perlahan-lahan,
”Selama ini belum nyata sedikit dikepalaku,”
“Mertua yang ku hormati selama ini, bahwa hari ini ia berfikir sekasar dan seburuk itu padaku!”.
Dalam hati bertanya-tanya,”Dimanakah perginya sosok tingkah laku yang lemah lembut yang kerap kali kau perlihatkan
kepadaku selama ini”.
“Ternyata aku salah sangka”.
Setelah berkata dalam hati seperti itu, iapun hendak keluar dari rumah itu.
Ingin rasanya ia kembali kerumah ibunya di Lombok Timur. Namun ia mencoba tetap bertahan,
tidak boleh terlalu cepat gegabah. Ia harus menaruh sabar dalam dadanya dan harus ingat, bahwa
Mira dididik dari kalangan keluarga yang penuh akan diskusi dan menaruh hati yang tegar. Tentu
darah sabar seperti ibunya mengalir menjalar keseluruh tubuhnya Mira, dan sifat itu tak bisa
dibuang begitu saja. Mira tak berani menceritakan kepada suaminya Aweng karena takut akan
menjadi gaduh, dan rebut nantinya.
Aweng pulang dari kerjanya sekitar pukul 18.00, sebelum magrib sudah dirumah. Dibukanya
baju dan celana kerjanya dan menggantinya dengan pakaian sehari-hari dirumah.
“Mir, katanya dengan lembut.
Mira tidak menyahut panggilan suaminya.
“Mir, sayang,”ucap Suaminya lembut sekali lagi.
“Ada apa?”. Ucap Mira akhirnya dengan nada acuh tak acuh.
“Kamu kenapa?”, sambil tangan suaminya memegang bahu istrinya itu.
“Tidak ada apa apa”. Sambil melepaskan tangan suaminya yang sempat bersandar dipundaknya.
Air mata Mira yang dulunya keluar karena bahagia, kini tumpah menjadi air mata kesedihan.
Suaminyapun keluar kamar dan tidak menenangkan Mira, Aweng mungkin sudah terpengaruh
oleh ibunya yang menganggap Mira adalah anak manja tidak bisa menjadi menantu yang
diidamkan. Sudah beberapa bulan Mira juga belum ada tanda-tanda kehamilan, apa mungkin
karena hal itu Mira menjadi tidak disukai oleh mertuanya. Sikap Aweng juga sudah mulai
berubah, dia tidak seperti biasanya. Kecurigaan Mira timbul dengan seratus ribu kecurigaan
menyelimuti fikirannya. Akhir-akhir ini suaminya mulai sering marah-marah tidak karuan.
Kadang baik; kadang juga kasar. Mira merasa ketakutan berada dirumah itu.“Ataukah aku merasa salah pilih?”, Mira mulai menyesali dengan beberapa pertanyaan yang
datang di fikirannya.
“Laki-laki yang tidak begitu lama kukenal kini menjelma menjadi orang yang sebenarnya”.
“Srigala berbulu domba’.
Mira menelpon Wina minta dijemput pulang, sontak Wina mendengar kabar itu, Wina sudah
mengetahui pasti ada hal yang terjadi terhadap sepupunya itu, kemudian Wina langsung
meneleponku.
“Halo Sri, lagi dimana?”.
“Iya, halo win, aku di rumah ini”. “kenapa?”
“Maaf ganggu Sri, “Boleh minta bantuan gak sedikit”. Ucap Wina dengan nada gugup.
“Boleh, emang ada apa?, “
”Tumben bicaramu segugup ini, “
“Ya Sri,
“Minta tolong kerumahnya Mira, coba tanyakan keadaannya, coba bujuk agar selesaikan
maslahnya sendiri dulu.”. Dengan panjang lebar, Wina cerita kepadaku, padahal aku juga sedang
bermasalah dengan cintaku sendiri, ditambah Wina lagi membebaniku dengan masalah orang
lain. Maka akupun pergi kerumahnya Mira, ternyata benar mira sedang bersedih, muka seperti
habis selesai menangis.
Aku dan Mira juga berteman cukup baik berkat Wina. Dan akupun berbincang bincang dan
mencari solusi akan permasalahan yang sedang Mira hadapi.
“Dalam fikirku berkata, ternyata memang benar, kita tidak akan pernah mengenal seseorang itu
sampai orang itu meninggal dunia”.
Jangan pernah kita merasa mengenal seseorang bahkan jika bersuami istripun, kita tidak akan
pernah mengenal oang itu. Kita akan mengenal orang itu ketika kita sudah meninggal dan orangorang yang melayat mengatakan “almarhum adalah orang baik”. Maka dari situ kita tahu bahwa
orang yang kenal itu adalah oang baik.
Setelah aku bujuk Mira agar tidak pulang ke Lombok Timur, aku akhirnya mendapatkan ilmu
dari kisah Mira ini, bahwa, “cinta itu adalah bagaimana cara kita mencintai seseorang itu”, bukan
malah mengatakan cinta itu adalah datang dari mata turun ke hati tidak tahu apa sebabnya. Itu
__ADS_1
hanya akan menjadi cinta yang dari hati turun menjadi sebuah air mata.