
Wanita tua itu pahlawanku
Jika seluruh jiwa wanita dimuka bumi ini serupa dengan jiwa yang dimiliki oleh wanita
tua ini, maka betapa agung dan berharganya wanita. Pilihan hidupnya yang teduh, ikhlas dan
sikap menerima selalu ditunjukkan dalam keseharian yang dimilikiya. Ketangguhan dalam
menghadapi badai hidup dan welas asih yang tak terbatas, membuatku tak henti hentinya
bertanya dalam hati, “terbuat dari emaskah hatinya. Wanita tua yang merelakan satu kamar
kosongnya didalam rumahnya untuk aku tempati. Wanita yang selayaknya menikmati bahagia
dihari tuanya, yang bagiku itu adalah hidup yang enak tanpa harus bersusah susah bekerja sambil
dikelilingi anak cucu tercinta. Nenekku masih mampu mencari makan sendiri. Dalam tubuh
ringkih yang senantiasa berbalut pakaian yang lusuh itu, ada kekuatan yang maha dahsyat yang
mampu menampung berton-ton duka. Kagumku padanya tak pernah surut. Walaupun demikian,
sikap khusnudzon selalu ia pegang.
Hidup satu atap dengannya mungkin adalah sebuah jawaban dari do’aku selama ini. Jujur
__ADS_1
saja, aku adalah seorang yang sangat susah untuk melupakan seseorang. Rumah nenek adalah
satu-satunya rumah yang membuatku menjadi pribadi yang sejuk, dan sedikit banyak berimbas
padaku, setidakya aku bisa berfikir jernih jika menghadapi sebuah persoalan, tidak lagi meledak-
ledak seperti dulu.
Terkadang aku sendiri heran. Wanita tua yang tak pernah mengenyam pendidikan formal
dan tidak pernah belajar tentang psikologi ini mampu mengubahku. Hadirnya si nenek dalam
hidupku, bukan hanya sebagai induk inang semata. Tapi lebih dari itu, nenek adalah teman
berbagi dan pelukan yang hangat saat aku rindu wangi tubuh ibu.
dalam pelukannya, menyusup kepala manja dilipatan ketiaknya, dan mengusut hidup yang berair
di bajunya yang lusuh saat aku tak mampu lagi bawa beban sendiri. Tanpa berusaha untuk
mengetahui apa yang menjadi permasalahanku, si nenek selalu meneduhkan hatiku yang rusuh.
Aku tahu dan aku yakin, tuhan betul-betul merancang dengan apik kehadirannya sebagai guru
dalam kelas kehidupanku. Namun justru pertautan batin kami membuatku takut sendiri,
__ADS_1
bagaimanapun, didunia ini aku dan nenek hanya sementara hanya singgah saja, dan ketika tiba
saatnya untuk pulang, aku takut akan tertambat dan susah untuk melepaskan diri. Seperti saat ini,sangat berat bagiku untuk mengumpulkan mozaik perasaanku dan membangun bukit kekuatan,
mencari kata yang tepat untuk menjelaskan pada diriku sendiri pada saatnya akan berlanjut pada
episode yang paling menyesakkan. Perpisahan.
Rumah yang nyaman ini. Setiap sudutnya teramat lekat dihatiku. Betapa sebelah ruhku
tertanam subur dibelakang halaman. Rumah yang tiap jendelanya selalu menjadi penghantar
udara segar yang tiap benda didalamnya sangat aku kenal. Jumlah cicak yang menetap dan
berkeliaran kesana kemari ke kamar satu kekamar lain pun aku hafal. Betapa aku cinta, cemas
selalu mengepungku tiap kali membayangkan lenganku dan ruang hatiku jika ia pergi nanti. Duh
perpisahan. Mengapa selalu membawa lara?.
Wahai jiwa. Kumohon ikhlaslah. Malam ini aku ingin tidur dalam dekapannya,
mendengarkan tembang lagu yang selalu ia nyanyikan sebelum aku tidur, sambil mematri janji
dalam hati lagu “aku akan pulang padaNYA” entah lagu apa yang ia senandungkan yang jelas
__ADS_1
liriknya membuatku terharu. Dan tibalah waktu yang aku takutkan, yaitu meninggalnya wanita
tua renta itu, pergi dan tak akan kembali, nenekku kaulah pahlawanku