
"Ibu! Ayo cepat!!" panggil seorang anak laki-laki dengan penuh semangat.
"Baiklah, tunggu sebentar. Kamu terlalu bersemangat, Kyle!" sahut sang ibu pada anaknya.
"Tentu saja! Itu karena aku ingin memainkan World Impact Online segera bersama dengan ibu!" jelas Kyle.
Sang ibu hanya bisa tersenyum pada anaknya, dia benar-benar merasa menjadi ibu yang paling bahagia di dunia saat melihat senyuman Kyle. Namun semua itu tidak bertahan lama, karena sebuah mobil tak terkendali sedang menuju kearah Kyle yang masih melambai-lambaikan tangannya. Melihat itu, ibu Kyle segera berlari dan mendorong anaknya agar tidak terkena tabrakan tersebut.
***
"Ibu!!" teriak seseorang yang langsung terbangun dari tidurnya.
"Ugh.. mimpi itu lagi kah?" gumamnya.
Jam weker miliknya terus berbunyi karena alarm, pria tersebut segera mematikannya dan mulai membersihkan dirinya. Setelah itu, dia mengenakan sebuah seragam, menyiapkan sarapan sekaligus makan siangnya. Dia juga menyempatkan diri untuk membaca beberapa buku dan memasukkan semua yang dia butuhkan di sekolah setelahnya.
Dia berjalan santai menuju ke sebuah alat bernama Spacium Authority yang berdebu dan disebelahnya ada sebuah bingkai foto keluarganya. Foto itu berisikan sepasang suami-istri beserta kedua anak mereka, tapi tidak lama setelahnya, pria tersebut merasa kesal dan melempar Spacium Authority miliknya hingga rusak dengan tangan kanannya.
"Aku berangkat, ibu," pamitnya setelah menenangkan dirinya.
***
Didalam kelas, saat ini tengah sangat riuh oleh para murid yang berada disana. Ada yang mengobrol, sarapan, memainkan handphone, serta ada yang berfoto ria (Selfie), bahkan beberapa dari mereka ada yang terlihat mengerjakan tugas sekolahnya. Lalu tidak lama kemudian, sebuah bel dibunyikan dan seorang guru perempuan masuk kedalam kelas, lalu menarik semua perhatian mereka.
"Baik! Semuanya segera duduk ketempat kalian masing-masing! Billy! Berapa kali ibu bilang padamu! Kerjakan tugasmu di rumah! Sekarang duduk!!" perintah guru tersebut.
Murid bernama Billy tersebut terkejut dan langsung kembali ketempat duduknya, dia meminta maaf pada guru tersebut sebelum duduk. Setelahnya situasi menjadi hening dan sudah kondusif.
"Ehem, ini mungkin terdengar mendadak. Tapi hari ini kalian akan mendapatkan teman baru," jelasnya.
Para murid yang mendengarnya saling berbisik dan bertanya-tanya siapa murid baru tersebut. Apakah laki-laki? Atau mungkin perempuan?
"Kyle! Silahkan masuk kedalam dan perkenalkan dirimu!" panggil guru tersebut.
Murid yang dipanggil tersebut segera masuk kedalam, seorang pria berambut biru safir dan iris mata dengan warna yang sama muncul. Membuat beberapa gadis yang melihatnya langsung terpesona dengan tampilan pria tersebut.
"Namaku Kyle Vireza, panggil saja Kyle. Bidang keahlian yang aku miliki adalah Bahasa Inggris, Matematika dan Olahraga. Yang aku benci adalah Sejarah, tapi karena ini adalah jurusan IPA, jadi kita tidak akan mempelajarinya. Semuanya, mohon bantuannya!" ucap Kyle.
Saat Kyle mengatakan dia membenci Sejarah, guru yang berada disana seperti ditusuk oleh kata-katanya. Bagaimanapun juga dia adalah guru Sejarah, walaupun ia memiliki peran untuk menjadi Wali Kelas salah satu kelas di jurusan IPA.
"Haha, terimakasih atas perkenalannya, Kyle!" ujar guru tersebut.
"Aku adalah Zahra Melissa, guru Sejarah sekaligus Wali Kelasmu! Maaf karena aku tidak bisa mengajarimu tentang Sejarah yah!" lanjutnya memperkenalkan diri.
Merasa bersalah, Kyle meminta maaf karena merasa tidak sopan padanya. Tapi Zahra memaafkannya karena ketidak tahuannya. Zahra lalu menyuruh Kyle duduk di salah satu bangku yang tersedia.
Kemudian disaat yang sama, saat ini seorang gadis tengah berlari di lorong sekolah. Beberapakali dia sempat meminta maaf akibat menabrak orang lain. Bahkan salah satu guru ada yang memperingatkannya, tapi dia masih tetap berlari menuju kelasnya.
"Hup! Save~" gumamnya saat masuk kedalam kelas.
"Save apaan! Kau terlambat mengikuti bimbingan Wali Kelas untuk yang kelima kalinya!" balas Zahra memukul pelan kepala gadis tersebut dengan buku yang dia pegang.
"Ouch! Sakit sekali~ Bu Zahra jahat sekali~" ujar gadis tersebut.
__ADS_1
"Datanglah ke ruang guru setelah makan siang!" perintah Zahra.
"Eh!? Lagi?" sahut gadis tersebut.
"Jika kamu tidak mau melakukannya, maka jangan terlambat, Riana Friska!" balas Zahra berjalan keluar kelas setelah pamit.
"Duh, padahal aku hanya terlambat jam Wali Kelas saja," gumam Riana menggembungkan pipinya.
Beberapa siswa yang melihat hal tersebut langsung terjatuh karena menyaksikan kejadian tersebut. Kemudian seorang gadis lainnya dengan rambut hitam panjang berkilau, datang menghampiri Riana.
"Itu wajar jika Bu Zahra memarahi kamu! Salahmu sendiri kenapa bisa telat!" ujar gadis tersebut.
"Ugh.. Clara jahat sekali!" balas Riana.
"Ah! Apa kamu tidak bisa membantuku dengan jabatan Ketua Kelasmu itu?" tanya Riana.
"Maaf, itu mustahil," jawab Clara.
"Eh~ Kenapa?" tanya Riana memelas.
"Karena aku sudah memakainya untuk membantu seorang gadis bermata biru, berkulit salju, berambut pirang yang selalu membuat masalah," jelas Clara.
"Duh, siapa sih gadis itu! Beraninya dia merepotkan Ketua Kelas!" ujar Riana.
Satu kelas langsung hening dan menatap kearah gadis yang memiliki ciri-ciri tersebut.
"Memangnya siapa lagi," pikir semua murid disana.
"Ah, benar! Ria, kamu belum tahu kita kedatangan teman baru yah?" tanya Clara.
"Oh, maksudnya dia!" jawab Riana menunjuk kearah seorang pria berambut biru safir yang tengah menatap langit lewat jendela.
Kyle yang ditunjuk langsung menoleh kearah gadis pirang tersebut. Pandangan mereka saling bertemu, memunculkan sebuah perasaan nostalgia bagi mereka berdua. Kyle langsung memalingkan pandangannya, seolah tidak terjadi apapun. Dia bersikap seperti itu karena belasan tatapan tajam tengah ditujukan padanya. Sementara Riana, dia hanya tersenyum dan langsung duduk disebelah Kyle. Dia juga menyempatkan diri untuk mengenalkan dirinya.
"Namaku Riana Friska, salam kenal yah, Kyle!" panggil Riana.
"Yah, senang bisa bertemu denganmu lagi, Ria," sahut Kyle.
Semua orang yang ada didalam kelas langsung terkejut mendengar perkenalan Kyle yang mirip seperti menyapa seseorang teman lama. Wajah Riana sempat memerah sesaat karena senang kalau Kyle masih mengingatnya.
"Tunggu, apa kalian sudah saling mengenal?" tanya salah satu murid.
"Ah, yah.. begitulah, haha," jawab Riana.
"Kami dulu adalah teman masa kecil, bukankah itu wajar?" sahut Kyle.
"Hmm, ini menarik!" gumam seorang siswa.
Disaat kelas sedang ramai-ramainya, seorang guru pria masuk dan langsung meneriaki mereka agar segera duduk, karena pelajaran akan segera dimulai.
***
__ADS_1
Jam Makan Siang pun tiba, banyak para murid yang langsung melesat kearah kantin, tapi tidak sedikit juga ada yang tetap dikelas karena telah membawa bekal dari rumah, salah satunya adalah Kyle.
"Yo, Kyle! Apa kau ingin ikut ke kantin?" tanya Billy.
"Ah, maaf. Tapi aku sudah membawa bekal," jawab Kyle.
"Begitu yah, sayang sekali. Kalau begitu kami pergi lebih dulu!" pamit Billy dengan beberapa anak laki-laki lainnya.
"Mereka cukup ramah," gumamnya mengeluarkan kotak bekalnya.
"Tentu saja! Tidak ada kelas yang lebih ramah dari kelas ini kau tahu?" sahut seorang pria yang menenteng kotak bekalnya.
"Kyle Vireza, itu namamu bukan?" lanjutnya bertanya.
"Kyle saja tidak masalah," balas Kyle.
"Begitu yah, Kyle. Ngomong-ngomong aku adalah Ronald Lucas. Panggil saja sesukamu," jelas Ronald.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Kyle.
"Tidak ada sih, memangnya aku tidak boleh makan siang dan mengobrol denganmu?" balas Ronald.
Kyle mengabaikan balasan tersebut dan mulai memakan makanannya. Begitupun dengan Ronald. Tapi baru saja Kyle ingin menelan makanan yang ada di mulutnya, Kyle tersedak akibat pertanyaan yang diberikan oleh Ronald.
"Kyle, apakah kau menyukai Ria?"
"Uhuk.. uhuk.. Apa uhuk.. yang kau maksud?" balas Kyle setelah meminum airnya.
"Yah, dari ekspresi yang kau tunjukan sebelumnya, aku sudah tahu jawabannya sih," ujar Ronald.
"Meskipun itu benar, sayangnya aku tidak ingin berpacaran saat ini," sahut Kyle.
"Yah, terserah padamu sih. Lagipula aku yakin Ria juga hanya ingin berpacaran denganmu saja," balas Ronald.
Ronald lalu menjelaskan beberapa hal pada Kyle tentang Riana. Dia mengatakan kalau Riana selalu menolak pria yang menembaknya selama ini. Namun sifat ceria miliknya itulah yang membuat para pria masih tetap senang walau hanya menjadi temannya.
"Atau bahkan fans fanatiknya, contohnya mereka," ungkap Ronald menunjuk beberapa siswa yang tengah berkumpul.
"Huft.. sepertinya Ria selalu direpotkan," gumam Kyle.
"Ya, begitulah. Bukan hanya di dunia nyata saja, tapi bahkan di dalam World Impact Online pun dia cukup terkenal lho!" jelas Ronald.
"Oh, yah! Kau juga memainkan game tersebut bukan?" lanjutnya bertanya.
"Maaf, aku tidak terlalu tertarik dengan game saat ini," jawab Kyle.
"Begitu yah. Tidak masalah! Jika kau tertarik, hubungi saja aku oke? Akan aku berikan beberapa tips padamu nantinya!" terang Ronald.
"Terimakasih, akan aku pikirkan. Ngomong-ngomong, bisa kau berikan nomor telepon milikmu?" balas Kyle.
"Yah, tentu saja! Apa kau juga perlu nomor teman sekelas yang lain?" sahut Ronald.
"Tidak masalah, aku akan memintanya sendiri pada mereka nanti!" jelas Kyle.
__ADS_1
"Baiklah, selamat berjuang!" ucap Ronald memberikan nomor teleponnya.