
tepat pada tanggal lima belas September lahir putri cantik ku, ku beri dia nama hajizi Adzliya kuputuskan untuk memanggilnya dengan sebutan zia karena aku sangat menyukai nama tersebut. kehadiran zia di dalam hidup ku merubah segala pandangan ku terhadap dunia ini, tubuh yang begitu mungil kecil tak berdosa kulit yang putih bersih, zia ku memiliki mata yang sangat indah, rambutnya ikal bergelombang persis tidak berbeda dengan ayah kandung zia yang sampai saat ini tidak mau mengakui kehadiran zia, bahkan meninggalkan aku di saat tersulit dalam hidup ku. aku berpikir dia adalah penyelamat hidupku, orang yang akan membebaskan aku dari segala masalah pelik yang aku alami selama ini. aku sampai rela meninggalkan anak kandungku bersama suamiku di keluarga suamiku demi bersama dia yang selalu menjanjikan aku kebahagiaan, yang akan melepaskan aku dari belenggu toxcic nya pernikahan pertama ku yang hampir saja membuat aku gila. tapi dia yang bernama Adit tidak lain adalah sepupu dari mantan suamiku yang selalu memberikan waktu dan tempat mendengarkan segala keluh kesah rumah tangga ku dan menghibur ku agar selalu kuat dan meyakinkan aku pasti ada jalan untuk semua masalah ini dimana bahkan suamiku sendiri seperti tidak pernah paham dengan penderitaan yang aku alami justru suami ku sendiri lah yang menjadi penabur garam di atas lukaku selama menjadi isterinya. membiarkan aku menanggung dan menyelesaikan kan semua permasalahan dalam rumah tangga ini sendiri, aku dibiarkan menjadi nahkoda dirumah tangga ku sementara suami ku sibuk dengan urusan sendiri tidak tau bahkan tidak mau tau apapun kesusahan ku. apakah aku diam saja? tentu saja tidak aku selalu berusaha menegur suamiku dari cara yang halus sampai kasar sekalipun pernah aku lakukan tapi tidak pernah ada perubahan malah sikap suamiku semakin menjadi bahkan setiap ada permasalahan dalam rumah tangga kami keluarga suamiku bukanya menegur sikap dan tabiat suamiku justru mereka selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi. aku dianggap tidak bisa menjadi isterinya yang baik, aku tidak bisa mengurus rumah tangga kami. padahal jelas suamiku melakukan kesalahan tapi tetap aku yang di salahkan, jelas suamiku malas-malasan dalam bekerja padahal dia sudah dapat pekerjaan yang bagus di sebuah bank swasta tapi bukanya semangat dalam bekerja malah suamiku malas-malasan sampai akhirnya dipecat oleh pihak bank kerena sering tidak masuk bekerja. sementara gaya hidup suamiku sangat mewah seperti kalangan atas. dan di satu sisi kami punya seorang anak laki-laki yang butuh biaya yang sangat besar karena dari kecil selalu selalu diberi kemewahan dari keluarga suamiku. dan suami ku punya ke kebiasaan main perempuan lain diluar, suamiku tidak pernah mengakui kalau dia punya keluarga dia selalu mengaku masih bujangan kepada gadis-gadia diluar sana. hal ini membuat aku muak dengan pernikahan kami, sampai akhirnya Adit sang sepupu suamiku datang sebagai pahlawan dalam hidup ku selalu memberikan perhatian yang tidak pernah aku dapatkan dari suamiku sendiri, memahami segala keadaan ku bahkan mau membantu ku dalam menyelesaikan permasalahan ku. awalnya hanya teman biasa lama kelamaan hubungan bersama Adit semakin dekat bahkan aku mulai ketergantungan kepada Adit, sehari saja tidak bertemu Adit aku bisa merasakan kehilangan dan membuat ku uring-uringan. aku pikir ini adalah awal yang indah dalam hidupku tapi ternyata berbeda ini ini adalah awal kehancuran dalam hidup ku...