
Ehhh ranti hati-hati megang anak yang jelas asal-usulnya kayak gitu, kamu kan belum punya anak. nanti kena kutukan kamu" seseibu menarik tangan ranti hampir saja zia terlepas dari gendongan ranti..
"wita kamu kenapa, kalau anak ini terlepas dari tangan ku tadi gimana!" ranti setengah berteriak wajahnya memerah menahan amarah
sigap mela mengambil alih zia dari gendongan ranti
"udah ran gak apa-apa, zia juga gak apa-apa kok aman" mela berusaha meredam amarah ranti
"aku gak suka mel ada seorang ibu menghina ibu lainnya seolah dia yang paling suci disini"
"wita kamu kenapa? ada masalah apa sama mela? dia teman kita wit jahat banget kamu"
"ciihhhh itu dulu ran, sekarang mana sudi aku temanan sama mahluk model kayak gitu!
kelakuan minus, pergi merantau pulang-pulang bawa anak haram.
semua warga disini tau dan gimana kelakuan Mela sampai menghasilkan anak haram itu"
Mela hanya menunduk kan wajah sambil sesekali menarik napas berat lalu menghembuskannya , ia sadar diri dengan segala salahnya dimasa lalu. benar kata wita dia memang punya kelakuan minus
__ADS_1
"itu masa lalu wit jangan di ungkit-ungkit lagi, semua orang pernah punya kesalahan" Ranti tetap bersikukuh membela sahabatnya
"iya semua orang punya salah tapi tidak separah dan sehina kelakuan dia, bikin malu warga kampung sini aja pulang-pulang bawa anak haram" lagi wita mengulang kalimat anak haram yang membuat Mela harus membela anaknya bagaimanapun anaknya tidak salah
"wita kamu jang" belum selesai Mela bicara kalimatnya sudah di potong lebih dulu oleh ranti
"oh anak haram ya"
"kalau Mela pulang-pulang bawa anak haram terus apa kabarnya kamu" Ranti berdecak pinggang tepat di depan wita
"mak... maksud kamu apa" wita gelagapan menjawab pertanyaan Ranti..
"oke gini ya, sebelumnya aku minta maaf dulu kalau menurut kamu anak di luar nikah itu anak haram lalu apa kabarnya anak kamu?
wita tidak menjawab lagi, ia hanya berlalu membawa anaknya pulang. wajahnya merah menahan malu karena Ranti bicara di tengah-tengah ibu berkumpul
"wahhh keren kamu Ranti, sejak kapan jadi berwibawa begini" sindi mendekati Ranti sambil bertepuk tangan kagum
"habis mulutnya pedas banget sama teman sendiri" Ranti mendekati Mela
__ADS_1
"kamu gak apa-apa ka mel? "khawatir Ranti
" aku gak apa-apa kok Ranti, sebelum datang kesini aku udah mempersiapkan diri untuk semua ini jadi tenang aja" Mela berusaha tersenyum walau terlihat di paksakan
"terimakasih banyak ya ran udah perduli sama aku. tapi jangan gitu sama wita, kasihan juga sama dia. apalagi anaknya yang gak salah apa-apa di bawa juga tadi" ada rasa iba dihati mela melihat ekspresi wita tadi ketika dipermalukan Ranti
"tuhkan masih saja kasihan tadi dia udah menghina kamu loh mel, bawa zia juga kan" sewot Ranti
"iya nih, udah di gitukan masih saja kasihan" sambung sindi
"iya tapikan kasihan juga wita lalu ngambek pulang, kan kasihan anaknya gak jadi imunisasi" ujar Mela
"gak apa-apa Mela, anaknya wita gak di suntik lagi kok hanya timbang berat badan sama ukur tinggi badan saja lagi tiap bulan palingan bulan depan juga balik lagi kesini" yakin Ranti
"ayo mau mulai ini, nanti kita lanjutkan ngobrol lagi kita atur waktunya . kalian jangan lupa serahkan buku pink ke petugas lalu tunggu namanya di panggil ya" Ranti mengingat kan dia sahabatnya tersebut
"siap bu bosss" jawab sindi bersemangat
akhirnya imunisasi berjalan lancar zia sudah di vaksin dan efeknya nanti akan demam
__ADS_1
walaupun di antara ibu-ibu di tempat imunisasi tersebut masih banyak yang menatap rendah kapada mela, dan menampilkan ekspresi yang susah Mela terjemahkan tapi Mela bersikap masa bod*h karena tujuannya datang ke tempat itu semata-mata demi zia si buah hati tersayang
"Mela anak mu kasih aku saja ya, aku janji aku akan membesarkan zia dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri"