
Mela merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri, apa yang sudah dia lewatkan malam ini sangat memalukan semua terjadi di luar kemauannya dan tidak bisa ia kendalikan sekalipun ia berusaha sekuat tenaga..
haruskah Mela mengakhiri hidupnya setelah ini
* * *
Mela mengerjabkan mata karena sinar mentari yang masuk melalui celah jendela seperti menusuk matanya...
samar siluet wajah Adit nampak, Mela kembali mengucek matanya ternyata benar itu Adit...
"Mel maafkan aku ya, aku harus sampai melakukan ini aku benar-benar butuh duit mel aku tidak bisa hidup tanpa obat itu" Adit tergugu
"meskipun dengan menjual tubuhku kepada lelaki jahan*m itu hah, tega kamu bang" Mela meringis menahan nyeri di selangkangannya
"kamu memperlakukan aku seperti bin*t*ng bang, aku ini sedang hamil anak kamu apa kamu tidak sadar apa yang kamu lakukan ini bisa berbahaya terhadap janin yang aku kandung" tangis Mela pecah
.
"Mel sekali lagi maafkan aku ya, Mel sekarang kita udah gak punya apa-apa lagi kita harus ada penghasilan Mel"
"dengan menjual tubuhku maksud mu" Mela meninggikan suaranya
__ADS_1
"kita masih bisa berusaha dengan cara lain, aku bisa cari kerja apapun tapi bukan begini caranya tegaaaa kamu bang" lirih Mela
Adit mendekati Mela dan langsung memeluk tubuh Mela erat
entah dengan ajian apakah atau Mela yang terlalu mencintai Adit dengan satu pelukan Adit saja Mela bisa luluh dah memaafkan semua kesalahan Adit yang sudah di luar batas itu.
Mela berpikir itu adalah kejadian pertama dan terakhir tapi ternyata salah Adit masih melakukan kesalahan yang sama malah semakin menjadi menjajakan tubuh Mela kepada setiap lelaki hidung belang, bedakan sekarang bukan di jebak tapi Adit memohon langsung kepada Mela agar bersedia melakukannya, dalilnya demi cinta mereka berdua
"Mel mau ya, demi kita,demi masa depan kita aku janji kalau uang kita sudah cukup kita akan segera menikah" rayu Adit
"tapi aku gak mau bang, aku jijik harus tidur dengan laki-laki hidung belang seperti itu. apa kamu gak jijik bang liat aku? "
."sebelum Wanda sama orang tuamu menemukan kita, kita harus cari uang sebanyak-banyaknya agar kita bisa menikah. kamu mau kab nikah sama aku Mel? "
Mela mengangguk pasti
"tapi aku sedang hamil anak kamu ini bang"
Adit kembali mengusap kepala Mela lalu mengecup kening Mela
meraih tangan Mela lalu berkata" Mel kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat kita punya anak, aku belum siap Mel"
__ADS_1
"maksud abang apa" tanya Mela
"apa tidak sebaiknya kamu gugurin saja anak itu Mel"
"maksud mu bang" pekik Mela
"sssttttt kamu tenang dulu Mel, maksud aku kita bisa punya anak kapan pun dan berapapun yang kamu mau aku siap tapi tidak sekarang waktunya belum tepat Mel keadaan kita masih begini apalagi kita belum menikah Mel kasihan anak kita nanti"
Mela mencoba mencerna ucapan adit memang ada benarnya yang Adit katakan barusan tapi semua itu bertentangan dengan hati nuraninya, apalagi ia sudah menjadi seorang ibu meskipun bukan ibu yang baik tapi tetap saja ia sangat menyayangi anak nya bersama Wanda
"dosanya besar bang mengugurkan kandungan, resikonya juga besar" Mela mengingatkan Adit
"jangan pikirkan dosa dulu Mel, pikiran hidup kita dulu sekarang. kamu harus rasional berpikirnya kalau anak ini lahir sebelum kita menikah apa kamu gak mikir beban yang akan anak kita tanggung nanti"
mela terdiam entah mengapa setiap kata-kata yang Adit ucapkan seperti mantra-mantra kebenaran pikirannya mengiyakan setiap perkataan Adit meskipun nuraninya menentang
sungguh mencintai manusia secara berlebihan akan mendatangkan kerugian luar biasa juga
mengangtungkan kehidupanmu kepada manusia membuat hati nurani dan pikiran mu tidak bisa mencerna mana baik dan mana buruk
seperti yang Mela rasakan saat ini, ketika melihat wajah tidak berdosa zia Mela hanya mampu menangis dan menangis menyesalkan setiap perbuatan di masa lalu...
__ADS_1