
Mela tergugu di sepertiga malamnya, mengadu segalanya kepada Sang Khalik sungguh dosa yang telah ia lakukan tidak akan pernah terhapus. Mela hanya meminta Allah menuntun dirinya dari kesesatan menuju jalan kebenaran, meminta setiap nafas hidupnya agar bisa menebus segala salah kepada putrinya zia.
entah kesakitan apa yang telah zia rasa dalam kandungan dulu saat Mela dengan gelap mata dan buta nurani menelan setiap pil dan ramuan apa saja yang Adit berikan dengan tujuan menggugurkan kandungannya.
disela tangis yang tumpah di atas sajadah mela melirik ke arah tempat tidur, terlihat zia tidur dengan pulas dengan wajahnya yang polos tak berdosa.
"maafkan bunda zia, bunda ibu yang paling hina dan berdosa di dunia ini" seperti ada bongkahan baru yang besar menghantam dada Mela ketika berucap
"dihadapan Allah bunda janji bunda akan membesarkan zia dengan baik, akan bunda lakukan yang terbaik buat zia. zia akan berhasil di dunia dan akhirat. zia akan tumbuh menjadi anak yang sholeha jangan seperti bunda"
"ya Allah hanya kepada Engkau hamba memohon ampun atas khilaf dan dosa hamba, tuntun hamba ya Allah agar selalu tegak dan lurus berasa di jalan-Mu" untaian doa yang selalu Mela panjatkan di setiap sujud-sujudnya.
* * *
"Mel... Mel... bangun"bu hani membangun kan Mela yang tertidur di atas sajadahnya
"nanti telat sholat shubuhnya"
"sudah waktunya sholat shubuh yaa bu, zia mana?" Mela menoleh karena tidak melihat keberadaan zia
"tadi ibu masuk zia nangis sepertinya haus, ibu buatkan susu tadi. itu diluar sama ayah lagi minum susunya"
"oh ya udah Mela wudhu dulu bu mau sholat shubuh"
__ADS_1
* * *
"bu Mela mau bawa zia vaksin ya hari jadwal posyandu disini tadi sindi telpon ngajak pergi Sama-sama, bentar lagi sundi jemput"
"kamu gak apa-apa Mel bawa zia ke sana, disana banyak ibu-ibu"
"InsyaAllah gak apa-apa bu, Mela lebih khawatir kalau zia imunisasinya gak lengkap kasihan zia kedepannya nanti. Mela maunya zia sehat dan mendapatkan semua haknya" ucapa Mela
walaupun sebenarnya mela juga khawatir bagaimana reaksi ibu-ibu yang ikut membawa anak-anaknya imunisasi nanti ketika melihat dia datang membawa zia. tapi Mela membulatkan tekadnya, semua demi zia" bismillah"lirih Mela
"assalamu'alaikum, mel udah siap ayooo berangkat" Tiba-tiba sindi sudah muncul di depan pintu dengan menggedong devano anaknya yang seumuran zia hanya beda sepuluh hari lebih tua devano daripada zia
"sudah siap ayooo berangkat"
* * *
benar saja begitu Mela dan sindi sampai terlihat ekspresi berbeda dari ibu-ibu yang berkumpul di halaman kantor kelurahan tersebut
ada yang biasa saja
ada yang berbisik
ada yang mencebik
__ADS_1
ada yang tersenyum sinis
Mela menarik nafas panjang lalu menghembuskan kembali, bismillah batin Mela
ia mencoba bersikap setenang mungkin
"mela... sindi... " Ranti setengah berlari menghampiri mela dan sindi. Sindi tadi sudah cerita kalau ranti sekarang jadi kader posyandu di kelurahan kampung mereka.
Ranti langsung menjawel pipi zia
"ihhhhh gemas anak mu Mel, canntiikkk, boleh gak aku gendong ya" minta ranti
"boleh kok" Mela menyerah kan zia
zia pun langsung beralih ke gendongan ranti
ranti menciumi pipi zia berkali-kali, zia terlihat nyaman dan tenang dalam gendongan ranti
"maaf ya Mel dari kamu pulang kampung aku belum sempat main ke rumah, aku baru sampai juga kemaren"
"iya paham kok ranti, kemaren sindi udah cerita semua"
ranti memang setahun belakangan ini ikut menemani suaminya jadi pelaksana tugas camat di kecamatan sebelah, dan sekarang kembali lagi ke kantor camat lama.
__ADS_1
"ehhh ranti hati-hati megang anak yang jelas asal-usulnya kayak gitu, kamu kan belum punya anak. nanti kena kutukan kamu"