
*Zidan POV*
Sfx:tep...tep...tap...
"Grrrrghh....?!! Aarrgghh!!"
"Tep... Tap... Tap..."
"SYAATT....!! CRAAAATTT...!! RGGH......."
"Aku sudah membuka jalan! Sekarang kalian masuklah! Cepat!" ucap kelvin setelah menebas kedua kepala zombie di depan nya untuk membuka jalan masuk ke bus TK.
Aku mengfokuskan diri dan menghindari terkaman dari zombie yang ada di depan ku, lalu dengan sekali tebas menumbangkan zombie yang ada di depan.
"Katana ini sangat keren dan tajam sekali" kata ku yang merasa kagum setelah membunuh satu zombie dengan katana pemberian keluarga andhika.
Marsha, vika, annisa dan okta dengan cepat masuk ke dalam bus TK.
"ZIDAN! AWAS DIBELAKANG MU!!" teriak marsha.
Tiba-tiba kelvin dengan lincah menghampiri ku dan menghujamkan katana nya tepat di samping kepala ku.
"Menunduk!" ucap kelvin.
Aku langsung menunduk dan kelvin menebas kepala zombie itu ke samping setelah menghujam nya dan secara bersamaan aku menendang perut zombie itu hingga terpental.
"Fiuh... Syukurlah aku selamat.."
"Lain kali berhati-hati lah..." ujar kelvin dengan mencipratkan darah yang mengalir di katana ke samping.
Marsha dan yang lain terlihat lega melihat ku baik-baik saja.
"Ayo masuk, teman-teman!" teriak yang lain yang ada di dalam bus.
Rupa nya semua sudah berada dalam bus dan menyisakan kami berdua yang berada di luar.
Kami berdua masuk ke dalam bus dan kak kamiya menancapkan gas pergi dari sana.
"Haaaah.. Akhir nya kita mulai lagi, setelah sejenak mendapat ketenangan" ucap andhika yang sedikit mengeluh.
"Mau bagaimana lagi, kita harus memeriksa keadaan orang tua kita dan menyelamat kan teman-teman kita yang ada di sekolah.." kata haqqul dengan datar lalu duduk disamping andhika, setelah mengambil 2 kaleng soda.
"Setelah ini kita akan sampai di rumah haqqul, lalu menuju ke rumah ku" ujar kelvin.
"Lalu rencana selanjut nya adalah melewati kebun..." ucap vika.
"Dan pasar" timpal sari dengan polos nya, kemudian okta ikut tersenyum dan mencubit pelan pipi sari.
"Pintar sekali sari, bisa ingat" puji okta ke sari.
Sari hanya terkekeh kecil dan annisa ikut bermain bersama sari dan okta.
"Seperti yang sudah kita rencanakan sebelum nya"
Sfx:Bruuuummmmm...!!! Ciiiiittt!!!
Bus yang berjalan tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang cukup luas dan berpagar, tiba-tiba seorang penjaga gerbang membukakan gerbang.
"Kak kamiya, masukkan saja ke dalam, kita akan mengambil sesuatu terlebih dahulu" ucap haqqul dengan datar.
"Mengambil sesuatu? Baiklah" sahut kak kamiya yang kemudian mengemudikan bus TK masuk ke dalam dan penjaga gerbang dengan cepat menutup, serta mengunci gerbang agar zombie tidak bisa masuk.
Bus TK berhenti dan kami semua turun dari bus, lalu kami semua masuk dengan disambut beberapa pelayan yang sudah berbaris rapi di ruang depan.
"Selamat datang tuan" ucap para pelayan dengan serentak dan sopan.
"Ikuti aku teman-teman, aku tidak ingin kalian tersesat.." kata haqqul dengan nada datar nya.
Kami hanya mengangguk dan mengikuti haqqul sambil agak tercengang dan kagum melihat dalam rumah nya yang begitu mewah dan luas.
Seorang kepala pelayan pun mendatangi haqqul dan berjalan di samping nya, kami semua terus berjalan mengikuti dibelakang haqqul.
"Selamat datang tuan" ucap kepala pelayan dengan sopan.
"Dimana ayah dan ibu ku?" tanya haqqul dengan singkat.
"Ayah anda, tuan eric dan ibu anda, nyonya elisa sedang pergi ke luar negeri untuk suatu kepentingan bersama dengan professor zainal" jawab kepala pelayan dengan jelas nya.
"Jadi begitu ya" kata haqqul dengan berpikir sambil berjalan.
"Kemudian ayah anda, tuan eric menyuruh mempersiapkan mengosongkan rumah dan berangkat menuju pulau pribadi, tapi sebelum itu kami disuruh menunggu kepulangan anda" sahut kepala pelayan dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu, perintah kan kepada yang lain untuk bersiap untuk jalur pindah. Berapa kendaraan yang ada dalam parkiran kita? Apa muat untuk semua nya pindah dalam satu kali berangkat?" ujar haqqul dengan serius dan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan!, kita memiliki 2 kontainer yang cukup untuk membawa seluruh perabotan rumah yang di perlukan, lalu 5 mobil dan 10 jeep dan 4 jeep yang dilengkapi senjata mesin berat, serta 1 helikopter yang dilengkapi senjata mesin berat. Saya sudah pastikan semua muat untuk berangkat dalam satu kali keberangkatan" jelas kepala pelayan dengan detail.
"Baiklah, jangan lupa untuk memerintahkan mereka membawa senjata untuk berjaga-jaga, aku tidak ingin bawahan ku menjadi mayat-mayat yang ada di luar sana..." ujar haqqul yang menutup mata sekilas dan membuka mata nya kembali.
"Baiklah tuan"
"Kau boleh pergi..."
"Baik tuan, saya permisi" ucap kepala pelayan itu yang kemudian pergi mempersiapkan rencana keberangkatan.
"Teman-teman, maaf keadaan rumah ku agak kacau, karena peristiwa hari ini banyak yang panik" ucap haqqul wajah yang tersenyum kecil.
"Tidak apa-apa haqqul"
"Kami bisa mengerti keadaan nya kok" kata ku mengangguk sambil melipat tangan di dada, seperti orang yang mengerti, tetapi aku tidak mengerti sama sekali.
"I-itu benar..." ucap annisa yang agak gugup mengatakan nya.
Haqqul hanya tersenyum kecil dan kemudian kami berhenti di depan sebuah pintu, haqqul membukakan pintu dan menyuruh semua untuk masuk.
Kami semua pun masuk dan hanya melihat di setiap dinding nya terdapat rak buku, entah kenapa aku merasa tempat ini biasa saja, tetapi aku heran apa yang di maksud haqqul menunjukkan sesuatu pada kami.
"Buku...?"
"Perpustakaan kecil...?"
"Tempat apa ini...?"
Semua bertanya-tanya dan bingung kecuali andhika.
"Kalian tidak perlu bingung, memang ini tampak seperti ruangan dengan penuh buku dan pengetahuan, tetapi...."
Haqqul menuju meja yang ada di depan nya kemudian mengambil sebuah buku yang berjudul Cahaya Harapan dan Kegelapan Keputusasaan.
*Annisa POV*
Aku bingung dengan yang dikatakan haqqul, begitu pun dengan yang lain.
"Buku apa itu?" tanya ku.
"Ini... Dimana cahaya dari harapan tidak bisa menggapai kegelapan dari keputusasaan...." ucap haqqul sambil menatap ku dengan tersenyum kecil.
Tiba-tiba....!!
Kami semua terkejut melihat rak-rak buku dan dinding berbalik mengeluarkan berbagai macam senjata api.
"Teman-teman, silahkan kalian pilih senjata yang menurut kalian bisa digunakan dengan senyaman mungkin..." ucap haqqul dengan nada datar.
"H-hebat... Sekali...!!" kata zidan dengan mata berbinar-binar kagum melihat semua senjata dari berbagai negara tersimpan di rak senjata ini.
"Tapi kami perempuan, tidak bisa memakai senjata ini haqqul" keluh vika.
"Iya, itu berat sekali" timpal marsha.
"Aku juga merasa begitu.." sahut ku dengan menatap haqqul.
"Benarkah? Kalau begitu annisa, marsha, okta, dan vika, kalian tidak perlu membawa senjata. Biar kami laki-laki yang memakai senjata ini.." ujar kak kamiya sambil tersenyum ramah.
"Itu benar kak" timpal haqqul sambil mengelus kepala ku dengan lembut.
Pipi ku sedikit memerah ketika haqqul mengelus kepala ku dengan lembut.
"Aku pakai ini saja, boleh kan" ucap andhika dengan mengambil senjata yang kelihatan menyeramkan.
"AK-47 ya.. Pakai saja... Bawa peluru yang banyak, karena kita akan berperang" timpal haqqul.
"Aku pakai SCAR FN ini saja" kata kak kamiya yang melihat nama senjata di rak dan melihat bentuk nya yang keren.
"Kalau begitu, untuk jaga-jaga aku pakai REMINGTON 870" sahut kelvin sambil mengambil remington dan memasukkan peluru nya di saku.
"Aku mau bawa FN P90! Senjata ini mirip dengan senjata yang ada di game point black yang aku mainkan dulu" ucap zidan dengan kagum dan mata yang berbinar-binar.
"Iya pakai saja.." sahut haqqul singkat.
"Aku akan pakai Dual KRISS V" sambung haqqul yang mengambil Dua buah senjata kriss dan mengambil dua sabuk yang penuh cadangan peluru, lalu memakai nya di pinggang seperti tanda X.
"Lalu setelah ini, apa yang akan kita lakukan?" tanya ku.
"Kita akan makan bersama-sama dulu, sayang ku" jawab haqqul dengan senyuman mata memandangi ku.
Aku hanya bisa menutupi pipi ku yang merona karena malu.
"I-iya.."
"Oh iya, kalian jangan bawa peluru yang itu, bawa saja sabuk peluru. Agar bisa membawa banyak peluru" ucap andhika ke kelvin, kak kamiya, dan zidan.
"Baiklah.."
"Memang seharus nya kita bawa banyak.."
"Ini lebih seperti berperang melawan penjajah..."
Setelah itu kami menyarungkan senjata kami di punggung dan haqqul pun bergegas membawa kami ke ruang makan.
__ADS_1
*Marsha POV*
10 menit kemudian....
"Nyum... Nyum.. Haup...!"
Suara mulut kekasih ku yang sedang makan dengan lahap di samping ku, melihat nya hati ku terasa lega dan tenang, lalu tidak sadar senyuman kecil menghiasi bibir kecil ku.
Semua makan dengan suasana yang ramai dan penuh kehangatan, seperti keluarga dan seperti saudara. Itu menurut kata hati ku.
"Marsha, kamu tidak makan?" ucap zidan yang menatap diri ku yang tadi melamun menatap nya.
"A-aku makan kok?!" sahut ku dengan agak canggung.
"Mau kusuapin? Buka mulut.. Aaa.."
Zidan menyodorkan satu sendok nasi dengan lauk pauk ke mulut ku, aku membuka mulut dan melahap suapan yang diberikan oleh kekasih ku zidan.
Zidan kemudian tersenyum dan melanjutkan makan sambil menyuapi ku lagi.
Tanpa kusadari ternyata banyak yang memperhatikan ku, haqqul kemudian menirukan gaya zidan, lalu menyuapi annisa. Begitu pun dengan andhika yang menyuapi okta, hingga membuat vika dan kak kamiya bermuka datar.
Karena mereka berdua adalah jomblo, maka nya sedikit risih dan cenat-cenut melihat nya.
Kami semua akhir nya selesai menyantap makanan dan beristirahat sejenak di ruang tamu. Para pelayan membereskan piring setelah kami selesai makan tadi.
Aku bermain bersama sari dengan senang nya, dan sekilas memikirkan sesuatu.
Apa esok bisa seperti ini...
Apa harapan masih ada...
Jika ada secercah harapan akan kugapai sepenuh hati...
Melindungi dan dilindungi...
Demi kehidupan yang akan datang...
To Be Continued.....
Hay para readers setia, selamat menikmati membaca
chapter yang telah di up.
Jangan lupa vote, comment, kritik dan saran nya ya, sebagai dukungan kalian
semua para readers~!
Karena readers yang baik adalah readers yang meninggalkan jejak dikolom
komentar maupun vote, wkwkwk~
__ADS_1
Selamat membaca
Salam Author