Zombie City : Dead Or Life

Zombie City : Dead Or Life
30. Stasiun yang Hening


__ADS_3

*Andhika POV*


Sfx: Bruuuuuuummmmm.....!!! Bruuuuuuummmmm......!!! Bruummmm....!!


Kota yang ramai ini sekarang hanya dipenuhi tragedi dan trauma mendalam. Melihat nya saja sudah membuat diriku terasa sesak tapi menyukai nya, karena setiap pertarungan ada untuk kulakukan.


Aku menyetir Jeep dengan santai karena jalanan sedang sepi dari mayat-mayat yang berkeliaran.


"Hey Zidan, bagaimana rasa nya bertarung ? Apa menyenangkan?" Menanyakan seseru apa bagi nya pertempuran yang penuh aksi dan memacu adrenalin ini.


"Kurasa inilah yang membuat ku terasa hidup, andhika. Menyenangkan sekali hahaha" jawab Zidan dengan tawa nya diakhir kata nya.


Kami berdua tersenyum puas karena membunuh banyak zombie.


"Bzzzzttt.... Bbbzzzttt....krrsskk!! Zidan... Bbbzt..!!"


Walkie talkie yang di bawa oleh Zidan berbunyi, spontan Zidan menjawab panggilan walkie talkie tersebut.


"Hei kelvin, ada apa?"


"Setelah jarak 500 meter, kita akan langsung masuk jalan utama.... Bbbbzztt.... Krrsk....! Setelah itu belok lah ke kanan... Bzztt... Kita akan sampai setelah itu di dekat area stasiun... Bbzzztt...!!"


"Baiklah Kelvin, aku mengerti" kemudian Zidan menutup panggilan nya.


"Kau dengar itu, Andhika?"


"Iya aku dengar, baiklah. Dan juga seperti nya kita di hadang lagi..." Senyum penuh semangat tersungging di bibir ku.


Seolah mengatakan, kita akan mulai beraksi lagi. Zidan yang menatap ku paham kemudian bersiap di posisi nya untuk menembak.


Di depan sana muncul beberapa zombie yang berjalan terseok-seok ke tengah jalan. Wajah nya yang hancur, bola mata nya yang keluar, kulit nya yang terkelupas, daging nya yang terkoyak hingga isi dalam perut nya keluar bergelantungan di bawah perut nya. Menambah esensi dari betapa menjijikkan nya makhluk yang tak bernyawa ini.


Aku tidak merasakan mual atau apa jika melihat nya, hanya saja insting ku untuk membunuh semakin kuat dan tajam.


Terasa sangat menyenangkan membunuh, membunuh, dan membunuh mereka. Tanpa kusadari senyum ku berubah menjadi senyum mengerikan yang pernah kutunjukkan beberapa tahun lalu.


Zidan mengganti amunisi yang kosong dari senjata mesin berat nya, dengan amunisi yang baru.


Sfx: klakk... Ctingg.. tekk... Cklaakk!!


"Sudah siap menembak, kapten" ucap Zidan yang baru selesai mengisi amunisi nya.


"Sekarang buat lubang di kepala dan perut mereka menjadi lebih besar lagi... Hahaha" kata ku dengan tawa jahat.


"Hahahahaha..! Sesuai permintaan!"


Zidan membidik ke arah beberapa zombie yang terlihat di depan sana, lalu menembak dengan brutal.


Sfx: dor dor dor dor dor dor dor dor!!! Aaarrgghhh!!! Grrooaaggh!!!


Setiap peluru yang melesat melubangi tubuh mereka yang tak bernyawa lagi, darah muncrat dimana mana, peluru bersarang di tubuh para zombie itu. Tulang yang masih utuh dalam tubuh para zombie itu langsung patah karena peluru yang melesat dari senjata mesin berat Zidan.


Seketika para zombie itu ambruk dan mati untuk kedua kali nya.


"Tch..! Overheat!" Tegas Zidan.


Zidan mengambil FN P90 nya dan menembak zombie yang masih bisa berdiri.


Sfx: dor dor dor dor dor!!! Ggrrooaagghh arrrrggghh!!! Ggrrhh!!!


"Pegangan, Zidan!!"


Jeep yang kulajukan menginjak tumpukan mayat sehingga membuat guncangan, Zidan sudah berpegangan dan menahan tembakan nya.


Bus TK yang melaju dan menginjak beberapa tumpukan mayat juga sedikit terguncang, namun bisa melewatinya dengan mudah.


Sfx: 100 meter lagi...bbbbzztt!! Kkrzzkk!!


Zidan mengangkat walkie talkie dan mengiyakan komando dari Kelvin.


"100 meter lagi, Andhika!"


"Baiklah aku mengerti!"


Jeep dan bus TK melaju dengan kencang menyusuri jalan menuju jalan utama.


*Zidan POV*


"Bbzztt...!! Sekarang belok kanan!! Kkrzzkk..!! Dengarkan dan fokus pada depan mu!! Bbbztt!"


Suara walkie talkie yang berbunyi dari Kelvin. Aku dan Andhika hanya fokus sambil mendengarkan nya.


Andhika membanting setir ke kanan untuk membelokkan Jeep nya. Bus TK yang dikemudikan kak kamiya juga mengikuti dari belakang.


Di sepanjang jalan yang sepi, hanya ada tumpukan mayat dan mobil yang berserakan di jalan utama yang luas dan sepi ini.


Mayat yang membusuk, bau yang menyengat membuat orang yang melihat nya bahkan akan kehilangan nafsu makan nya seketika.


Banyak kekacauan terjadi dimana-mana, namun sangat sepi dan jauh dari kata ramai sekalipun. Seperti hal nya melihat kota mati.


Di setiap mata yang memandang, aku tertuju pada satu tempat, yang membuat ku harus mengangkat walkie talkie untuk bicara dengan Kelvin.


"Kelvin? Kau lihat? Stasiun nya terlihat sepi.. aku tidak melihat ada nya kereta terakhir di sana..."


"Bbbzzztt....!!! Ya aku melihat nya... Bbbzzztt!! Krrzzk!!"


"Bbzzt...!! Kita cek alun alun kota terlebih dahulu.. krzssk!!"


"Baiklah, Kelvin"


"Kita akan periksa alun-alun kota terlebih dulu, kemudian ke stasiun" sambung ku ke Andhika.


"Baiklah sesuai rencana kelvin, bukan kah pengumuman di tv kemarin pos darurat akan menaikkan pengungsi ke kereta menuju pelabuhan besok?"

__ADS_1


"Yah begitu lah, kita lihat saja nanti"


Jeep dan bus TK menyusuri jalan utama dengan santai sambil menghindari mayat dan kendaraan yang berserakan di mana-mana.


Tidak butuh waktu yang lama, akhir nya Jeep dan bus TK berhenti di depan alun-alun kota. Sepi, sunyi, dan kacau balau mungkin bisa menggambarkan alun-alun ini, bahwa sudah ditinggal beberapa hari yang lalu. Beberapa pos tenda masih berdiri dengan kokoh namun terlihat kosong dan berantakan.


Kelvin keluar dari bus lalu bergabung bersama ku dan andhika, heran dan pertanyaan muncul dari mulut Andhika.


"Apa ada masalah, Kelvin?"


"Lajukan Jeep ini menyusuri semua sudut dan wilayah alun alun ini, kak kamiya dan yang lain nya tidak akan ikut, mereka akan menunggu disana" kata Kelvin.


Kelvin memang cerdas dan tanggap, serta dapat dengan cepat memberi perintah dan pilihan yang tepat walau di saat genting sekalipun.


Andhika tersenyum sinis lalu menginjak gas mengelilingi alun-alun dan setiap sudut nya.


Disetiap mata memandang hanya ada mayat-mayat yang berserakan, pos tenda yang masih berdiri kokoh, beberapa alat medis yang sudah dipakai kemudian di buang begitu saja.


Seolah tempat ini telah disergap oleh pasukan musuh.


Jeep maju dengan pelan agar kami bertiga bisa mengamati keadaan dengan baik, hanya ada beberapa zombie yang sedang meraung tak jelas. Mayat tentara berserakan, perawat, pengungsi, semua menjadi satu dan sudah tidak memiliki tubuh yang utuh lagi. Aku kemudian terpaku melihat mayat tentara yang membawa senjata dan perlengkapan lalu berpikir, kenapa tidak ambil amunisi nya saja, bukan kah kita sedang kehabisan peluru.


"Hei ada beberapa mayat tentara dan beberapa senjata, bagaimana kalau kita ambil amunisi nya?"


"Kurasa tidak perlu, Zidan"


"Kita tidak tahu kondisi yang akan kita alami, jika membawa keributan ke tempat ini"


"Kau benar, Kelvin. Keheningan terkadang memberi mu sebuah kejutan"


Jawab Andhika sambil tersenyum melihat mayat-mayat yang berserakan.


Kami bertiga terus menyusuri dan mengamati keadaan alun alun hingga ke setiap sudut nya, berharap menemukan sesuatu.


*Kamiya POV*


"Bzztt...bbzztt..!!"


"Bagaimana haqqul, apa mereka sudah bisa di hubungi?"


"Belum, mereka tidak menjawab" jawab haqqul dengan datar.


Aku menghela nafas panjang kemudian bersandar di kepala kursi yang empuk, memandang langit-langit atap bus TK, sambil sesekali membayangkan sebentar lagi akan bisa tenang dan nyaman untuk tidur karena mendapat perlindungan dari pemerintah.


Namun seperti nya itu hanyalah khayalan ku saja, yang mungkin akan terwujud jika saja haqqul tidak mengangkat walkie talkie yang berbunyi itu.


"Bbzzzt!! Kkrssk!! Cepat pergilah duluan ke stasiun...!! Bbbztt...!! Cek apakah masih ada salah satu kereta yang menunggu...!!!? Kkrrrskk..!!"


"Dimengerti, Kelvin!"


"Kak kamiya, kita harus ke stasiun sekarang. Kelvin menyuruh kita untuk mengecek kereta yang masih ada"


"Lalu, mereka bagaimana?" Timpal ku menanyakan mereka.


"Seperti nya mereka akan menyusul..." Jawab haqqul dengan mengisi amunisi Kriss vector nya.


Sfx: bruuummm...!!! Bruuummm!!


Tanpa menunggu aba-aba lagi kulajukan bus menuju stasiun yang dekat dengan alun-alun ini.


Tidak lama kemudian, kami sampai di tempat parkir stasiun.


Mesin kumatikan, pintu bus terbuka lalu keluar lah haqqul dengan dua katana yang dipegang oleh nya.


Aku ikut keluar dengan membawa SCAR FN dan menyanggul sniper di punggung.


"Hassan, jaga mereka semua. Kami akan memeriksa tempat ini, apakah aman atau tidak" jelas ku.


"Baik kak kamiya" jawab Hassan dengan memberi hormat seperti tentara namun sambil tersenyum.


Kulontar kan senyum sinis kemudian masuk bersama haqqul dengan waspada, tanpa menimbulkan suara.


Lahan parkir yang dipenuhi mobil, beberapa mayat tergeletak di dekat pintu masuk, lubang di kepala mayat itu menandakan bahwa, telah terjadi perlawanan yang besar disini untuk mempertahan kan kemanusiaan mereka.


Tempat loket dan ruang tunggu yang kacau balau, membuat tempat ini seperti di kosong kan hingga tidak terawat.


Hanya karena kekacauan dalam beberapa hari, tempat ini seperti dilanda suatu musibah besar. Namun memang itulah kenyataan nya, sekarang umat manusia di hadapkan dengan musibah yang cukup ekstrim.


Pandangan ku tertuju ke segala arah untuk memastikan tidak ada yang janggal, begitupun dengan haqqul yang tetap mengawasi sambil berjalan tanpa mengeluarkan suara menuju rel kereta.


Aku menengok ke kanan dan ke kiri, berharap masih ada kereta yang menetap di rel nya.... Dan tepat sekali.. aku beruntung...


Mata ku tertuju pada salah satu kereta yang masih menempel di ujung rel, kami mendekati kereta itu. Apakah masih berfungsi dengan baik, sekaligus memeriksa dalam gerbang.


Dengan langkah yang penuh kewaspadaan kami berdua masuk ke dalam gerbong, haqqul memeriksa gerbong belakang dan aku memeriksa gerbong depan, pemeriksaan yang kulakukan dnegan haqqul sangat cepat dan teliti, sekaligus memeriksa fungsi kereta nya.


Beruntung nya kami, ternyata kereta ini masih berfungsi dengan baik.


Haqqul menghampiri ku sambil memanggil Annisa lewat walkie talkie nya, kemudian memberikan walkie talkie nya kepada ku.


"Gerbong belakang aman, kak"


"Baiklah, terima kasih, akan kusuruh mereka kesini"


"Annisa, disini aman, kalian semua segera masuk kesini. Lewati pintu masuk kemudian menuju ruang loket dan ruang tunggu, setelah itu kalian maju terus dan buka pintu yang tertuju langsung ke rel kereta, setelah sampai di zona garis kuning, lihatlah ke kiri dan kalian akan menemukan satu kereta di pojok rel, kami disini menunggu" jelas ku panjang lebar.


"Bbzzzttt...!! Baik kak..!! Kami segera menuju kesana bbzztt..!!"


Tidak lama kemudian mereka datang dengan semua barang bawaan yang ada di bus, kami berdua menghampiri mereka untuk membantu menaruh nya ke dalam gerbong belakang.


"Letakkan saja semua barang bawaan kita di gerbong belakang"


Yang lain mengiyakan perkataan ku dan mulai menata bawaan nya ke gerbong belakang.

__ADS_1


"Hassan, apa kau bisa melajukan kereta ini?"


"Tentu saja bisa, haqqul"


"Baiklah, kuserahkan pada mu kereta nya"


"Baiklah, dengan senang hati" ujar Hassan yang kemudian mata nya tertuju pada mesin minuman kaleng dan Snack.


Tanpa basa basi, Hassan menghampiri mesin minuman kaleng dan Snack itu, lalu mengangkat kedua nya dan membawa nya ke gerbong belakang.


"Apa yang kau bawa itu? Tanya ku yang keheranan melihat Hassan menenteng mesin minuman dan Snack.


"Ini untuk mengganjal lapar kalian" canda Hassan yang membuat para wanita tertawa, kecuali bila yang melihat nya dengan tatapan datar.


Hassan memasukkan mesin itu ke gerbong belakang kemudian menuju ruang kendali dan menyalakan seluruh mesin nya.


Kami semua duduk di gerbong depan sambil mengistirahatkan diri menunggu Kelvin, Andhika, dan Zidan.


*Kelvin POV*


Sfx: tep tep tep tep! Srakk! Srukk! Srakk! Srakk!


Suara barang yang ditata dalam Jeep, semua ini adalah konsumsi dan juga kebutuhan kami semua untuk seminggu ke depan.


Aku khawatir jika pertolongan tidak datang beberapa hari, maka dari itu stok ini cukup untuk kami semua dalam seminggu.


Air minum, snack, roti, daging, dan beberapa bumbu instan, buah buahan, permen, susu, dan juga kebutuhan yang lain nya.


"Hey, bukan kah kita ini seperti perampok, menjarah seluruh barang yang ada di supermarket ini?" Ucap Zidan sambil menata semua nya dalam Jeep.


"Hahahaha ini nama nya bertahan hidup disituasi yang genting, zidan" kata Andhika sambil menertawakan Zidan.


"Iya benar, lagipula pemilik toko ini sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman" ujar ku menimpali perkataan Andhika.


"Benar juga.., tapi tetap saja kita terlihat seperti perampok, hahaha" canda Zidan yang kemudian naik ke Jeep sambil siap di posisi nya.


Tidak heran akan muat banyak, ternyata Jeep ini multifungsi, sehingga barang sebanyak apapun akan muat. Namun dengan catatan tidak ada penumpang di belakang.


Tempat Zidan berada di tengah dengan posisi berdiri, jadi dia tidak menyentuh barang barang yang dibelakang nya.


Aku dan Andhika masuk ke Jeep, lalu Andhika menyalakan mesin dan menancap gas ke arah stasiun.


Aku memandang ke samping, melihat pemandangan yang tidak bisa disebut pemandangan lagi, namun... Mata ku tertuju pada suatu zombie yang berdiri di dekat tiang listrik, dia menatap ku sesaat setelah itu dia berteriak.


Sfx: aaaaaaaaaarrrrrrrrkkkhhhh!!!!


Suara tersebut sangat nyaring, sehingga membuat telinga ku, andhika, dan zidan sakit.


Namun yang lebih parah lagi adalah segerombol zombie berlari mengejar kami bertiga.


Andhika yang melihat nya langsung menancap gas lebih cepat menuju stasiun.


Sampai di parkir stasiun bukan nya Andhika berhenti, tetapi...


"HOLD ON!!!!" Teriak Andhika.


Zidan berpegangan di atap, begitupun dengan diri ku yang berpegangan, di dalam Jeep terasa berguncang namun Jeep tidak sampai terbalik.


Sfx:bruuuuummmmm...!!!!! Prangggg!!!! Prangg!!! Bruuummm!!!


Andhika melajukan Jeep nya menabrak pintu masuk yang berbahan kaca, namun bisa masuk dengan aman, sementara segerombolan zombie masih berlari mengejar kami di belakang.


"CEPAT BUKA GERBONG NYA!!" teriak Andhika sambil membelokkan Jeep nya ke kiri mendekat ke kereta.


Dengan sigap yang lain membuka gerbong, sementara haqqul dan kak kamiya keluar dari gerbong menembaki para zombie yang berlari dibelakang kami.


Jeep berhenti tepat di samping gerbong, aku dan Andhika turun dari Jeep dan langsung memindahkan barang-barang yang ada di Jeep ke gerbong belakang. Para wanita membantu untuk menerima barang yang aku dan Andhika pindahkan.


Zidan menembaki para zombie yang mendekat dengan senjata mesin berat nya.


Sfx: dor dor dor dor dor dor!! Aaarrrggghhh!!! Ggrroooagaggh!!! Ggrrrgghh...!!!!


Semua barang sudah selesai di pindahkan, Zidan menahan tembakan lalu lompat turun dari Jeep, semua mundur dan masuk ke dalam gerbong dengan aman.


"TUTUP PINTU GERBONG NYA HASSAN!!" teriak ku.


Hassan mendengar nya kemudian langsung menutup pintu gerbong dan melajukan kereta yang kami tumpangi.


Sfx: Jes Jes Jes Jes Jes Jes Jes tuuuuutttttt!!! Tuuuutttttttt!!!!


Bunyi kereta yang nyaring dan keras membuat para zombie mendekat ke kereta.


Namun makhluk tidak bernyawa itu tidak akan bisa menerkam kami, karena kami semua sudah aman di dalam sini.


"Akhir yang menyenang kan" senyum Zidan.


"Begitukah?" Kata ku dengan senyum kecil.


"Kita hanya bisa berharap di tempat selanjut nya, akan jadi tempat yang aman"


"Ya... Kuharap begitu..."


Aku duduk dan menatap langit yang berawan dengan tatapan sayu, apakah penderitaan ini akan selesai disini...? Atau masih berlanjut selama nya..?


Namun yang kutahu, perjuangan kami semua tidak sia-sia....


 


 


Menuju cahaya harapan yang tak akan pernah di capai oleh sunyi nya kegelapan yang pekat......


 

__ADS_1


 


To Be Continued.....


__ADS_2