
*Okta POV*
Sfx: BRUUUUMMM....!!! Bbruumm..!!
Suara bus TK dan Jeep yang melaju kencang menyusuri jalan raya yang sepi dan tidak ada satupun kendaraan maupun zombie.
Suasana begitu sunyi dan hanya ada angin berhembus... Serta mesin kendaraan yang menyala..
"Hei haqqul, bagaimana keadaan di sekolah tadi...?"
Semua mendengar pertanyaan Kelvin yang ditujukan kepada haqqul, haqqul dan Hassan agak menunduk sambil terdiam.
"Kuharap kalian bisa menerima dan rela... Karena semua sudah terinfeksi dan tidak ada yang selamat kecuali kepala sekolah..." timpal kak kamiya yang memecah keheningan sesaat.
"Yang dikatakan Andhika sebelum nya memang benar.... Tidak ada yang selamat..." Kata haqqul dengan nada datar.
"Tidak mungkin..." ucap pelan Annisa dengan nada sedih.
Aku memeluk Annisa dan menenangkan diri nya, sementara Marsha memeluk sari sambil menatap kosong ke depan.
"Kita sudah berusaha.... Jadi jangan bersedih, semua ini ujian dan rintangan dalam hidup..., Kita hanya perlu bersabar dan terus berusaha" ujar kak kamiya memberi semangat kecil di hati kami semua sambil fokus menyetir.
Sfx: Krssssskkk...!!! Kalian bisa melanjutkan itu nanti....!! Bzzztt!! Sekarang bersiap-siap menyerang!! Krssssskkk...!!
Suara Andhika yang terdengar dari walkie talkie Kelvin yang memperingatkan kami untuk bersiap menyerang.
Kami semua melihat dari arah jendela kaca bus TK dan melihat banyak sekali zombie yang berlari mengejar bus TK dan Jeep kami.
Kelvin, hassan, haqqul dan kak kamiya sedikit terkejut melihat para zombie yang berlari mengejar bus TK kami.
"Hassan, haqqul!! Kalian atasi dari atas bus, biar aku dan yang lain menembaki para zombie itu lewat jendela samping!" Tegas Kelvin memberi perintah.
Hassan dan haqqul membuka pintu lalu naik ke atap bus TK, sementara kelvin, Annisa, Vika, dan Marsha bersiap dengan senjata mereka.
"Ingat baik-baik!! Kalian para perempuan! Tembak kepala agar cepat mati, kita tidak bisa membuang-buang terlalu banyak peluru!!" Kata Kelvin dengan tegas.
"Baik, Kelvin!!" Ucap Marsha, Vika, dan Annisa dengan serentak.
"Dan kau Okta, cukup jaga kepala sekolah dan sari"
"I-iya... Kelvin!"
Andhika melaju dengan kencang menabrak beberapa zombie yang menghalangi jalan, kemudian Zidan menembaki zombie yang ada disamping maupun yang menghalangi jalan.
Sfx: Bruuummm....!!! Brakk!! Bukik!!! Arrgghhh!!! Dor dor dor dor dor!!! Rrooaaggrrrhh...!!!
Kelvin, marsha, Annisa, dan Vika mulai menembak kepala zombie yang berlari mengejar kendaraan kami semua.
Sfx: Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Aaarrggghhhh!!! Gggrrgghhh!!!!
"Hassan..., Analisa kemampuan dan fisik mereka!" Ucap haqqul dengan datar sambil menembaki para zombie yang berlari dengan dual Kriss vector nya.
"Baiklah, analisis actived....!" Kata Hassan yang menganalisa menggunakan kemampuan mata analisis nya.
Hassan melihat perubahan-perubahan yang ada pada diri para zombie itu, dan berhasil menganalisa semua nya.
"Mereka memiliki penglihatan, dan juga dalam jarak 2 meter mereka bisa mendeteksi manusia lewat suhu tubuh. Tidak ada yang berubah dalam tubuh mereka, dari yang kuanalisa fisik mereka, tidak ada perubahan sama sekali" ujar Hassan yang masih terus menganalisa.
"Jadi begitu.... Apa kau menemukan kelemahan nya?" Timpal haqqul sambil terus menembak para zombie yang berlari.
Sfx: Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Aaaarrrrrggghhh...!!!!
"Ketemu..., Jika ingin melumpuhkan pergerakan mereka, patahkan tulang punggung nya, dan jika ingin membunuh mereka yaitu dengan melukai otak mereka, dari yang kulihat otak dan punggung mereka memiliki kelainan..." Jelas Hassan dengan panjang lebar.
"Baiklah kalau begitu..." Sahut haqqul yang kemudian merubah bidikan nya ke kepala dan terus menembak lagi, hingga zombie yang mengejar banyak yang ambruk seketika.
"Kalian semua, bidik kepala mereka dan tembak, itu kelemahan mereka!" Kata Hassan yang sedikit berteriak.
Semua mendengar dan mengiyakan kata-kata Hassan.
__ADS_1
"Jadi begitu rupa nya..."
"Ini akan jadi menyenangkan loh..?!" kata Zidan penuh semangat dan menembak kepala zombie yang berlari.
"Baik..!!" Ucap kelvin, marsha, Vika dan Annisa serentak, kemudian mengarahkan tembakan ke kepala zombie.
Semua tampak sibuk membantai zombie, sari hanya diam dan sambil mengemut permen yang kuberi agar dia tenang.
"Ugh..ummhh... Kepala ku..nnggh.."
Suara kepala sekolah yang siuman dari pingsan nya, mungkin terbangun karena suara tembakan dan Auman zombie yang lapar.
"Bu Felicia, anda sudah siuman?" Ucap ku yang terkejut.
Dia adalah Bu Felicia, yaitu kepala sekolah muda yang menggantikan kedudukan ayah nya yang telah meninggal setahun yang lalu.
Nama lengkap nya Felicia Rentz Falmoure, berambut hitam pekat lurus dengan memakai kacamata, tubuh nya ideal seperti model, dan memiliki sifat ramah serta sabar sekali dalam menghadapi situasi. Bu Felicia anak dari seorang pengusaha yang membangun sekolah elit dengan murid yang memiliki kemampuan dan kecerdasan diatas rata-rata, oleh karena itu sekolah ini menjadi sekolah terbaik se-Indonesia.
"Ini dimana..? Ugh..?" Ucap Bu Felicia dengan lirih sambil memegangi kepala nya yang sakit.
"Ini di bus TK, Bu Felicia. Minum air nya dulu Bu" kata ku sambil menyodorkan sebotol air minum.
Bu Felicia menerima botol air dan meminum nya perlahan.
"Bu Felicia, sudah tidak apa-apa?" Tanya ku yang agak khawatir.
"Tenang saja, ibu sudah tidak apa-apa. Kalian ternyata masih hidup, syukurlah..." Jawab Bu Felicia lalu memeluk diri ku dengan nada lega.
"Bu..., Apakah yang lain selamat?" Tanya ku dengan polos sambil dipeluk Bu Felicia.
Bu Felicia sempat terkejut dengan pertanyaan ku kemudian menunduk dengan wajah sedih, lalu memegang kedua pundak ku.
"Maaf Okta...."
"Kenapa Bu felicia?"
"Mereka semua... Tidak selamat...."
"Ini semua terjadi sehari setelah kepergian kalian... Waktu itu...." Sambung Bu Felicia sambil memeluk diri ku dan menceritakan kejadian yang cukup mengenaskan hingga membuat ku meneteskan air mata.......
*Felicia POV*
....... 2 hari yang lalu .......
"Bagaimana ini Bu? Apa bantuan masih lama? Persediaan makanan dan minuman sudah mulai menipis" ucap Bu Firly yang agak khawatir.
"Seperti nya sebentar lagi, tadi saya dapat telefon dari polisi, bahwa sebentar lagi kita semua akan dijemput. Kemungkinan sepuluh menit mengingat jarak kantor polisi dengan sekolah kita" jawab ku dengan tenang.
"Tapi bagaimana membawa anak-anak sebanyak ini?" Timpal pak Toni yang berpikir sambil memegang dagu.
Semua berpikir agak lama, para murid-murid juga sedang menunggu bantuan, semua berada di aula dengan harapan bisa selamat dan keluar dari sana.
Tiba-tiba....
Sfx: BRUUUUMMM...!!!! Ckiiitttt!!!! Dor dor dor dor dor!!
Di luar terdengar suara tembakan dan mesin mobil yang berhenti di depan aula.
"Tembak!!" Teriak polisi yang memberi perintah ke rekan nya.
Para polisi sibuk menembak dengan panik karena melihat sekumpulan zombie yang lapar dan buas.
Beberapa saat kemudian para polisi kehabisan peluru dan mulai terpojok di depan aula, para polisi yang panik segera mendobrak dan menggedor pintu aula.
Sfx: dok dok dok dok!!!! Tolooooongg!! Buka pintu nya!! Brakk!! Buakk!!
Seperti nya para polisi itu membuat para zombie tertarik dan mengejar mereka. Para murid mulai sedikit panik dan khawatir karena barikade sudah tidak kuat menahan dobrakan dari para polisi diluar sana hingga....
Sfx:Bruaakkkk?! Kraaaakkkk!!! Gedubrak!!! Arrgghhh!!!! Ggrrooagg!!!
__ADS_1
Barikade hancur dan pintua aula terdobrak serta terbuka lebar, para polisi yang mendobrak pintu karena panik tadi mulai diterkam para zombie dengan buas.
"T-tooloooooongg....!!! Aa-aaakkkkkhhh.....!!!!"
Sfx: Aaarrggghhhh...!!! Graauukk...!! Kraus!!! Krek!! Grooooaagghh....!!!
"AAAAAAAAAAAAAAAA......!!!!!!!!" Sontak para murid perempuan berteriak histeris melihat pemandangan yang menyeramkan dan menjijikkan.
Tapi karena teriakan mereka, para zombie menghampiri para murid yang tengah panik dan syok.
"Kalian semua, cepat keluar lewat pintu belakang!!" Teriak pak Toni.
Para murid lari terbirit-birit dan saling berdesakan melewati pintu belakang, sehingga beberapa murid sudah menjadi santapan para zombie. Beberapa guru laki-laki mencoba menyelamatkan murid yang akan dimangsa.
"Aakhh!!! Pak g-guru... Tolooooongg!!" Teriak seorang murid yang tubuh nya diterkam oleh 3 zombie dan tidak bisa melakukan apapun selain berteriak dan menangis menunggu kematian nya yang tragis.
Pak guru Toni mencoba menyelamatkan nya dengan menghajar para zombie dengan tangan kosong, namun yang terjadi pak guru Toni menjadi santapan bagi para zombie yang lapar.
Pak Ridwan dan Bu Firly menolong para murid yang jatuh karena berdesakan, namun semua terlambat....
Sfx:siiiingggg..... Tep tep tep!!
Suara langkah kaki sambil menyeret sebuah katana, wujud nya lebih baik daripada zombie. Mirip zombie tapi seperti seorang samurai.
Zombie itu membantai habis seluruh murid dan guru, kecuali aku dan pak anto yang kabur ketika para zombie sibuk dengan mangsa para murid yang lapar.
"Pak anto! T-tunggu, murid-murid!!" Ucap ku dengan berlari dan tangan ditarik pak anto ke gudang sekolah.
"Jika kita menolong mereka, maka tidak akan ada yang selamat, kita tidak ada senjata untuk melawan, kepala sekolah!?" Ujar pak anto.
Aku tertunduk dan sampai didepan gudang, rasa penyesalan terukir dihati ku, karena diri ku yang lemah ini tidak bisa menolong orang lain.
"Kita tidak bisa melawan sebanyak itu..."
Aku dan pak anto masuk ke dalam gudang kemudian mengunci nya rapat-rapat.
Kami berdua bersembunyi dari para zombie di gudang cukup lama sampai kelaparan, pak anto sudah tidak kuat lagi akhir nya keluar untuk mencarikan makanan dan minuman yang ada.
Aku tidak tahu kalau kepergian pak anto setelah itu akan membuat diri nya pergi untuk selama-lama nya dan pertemuan ku dengan kelompok pak Shin yang ternyata masih selamat.
"Maaf, Bu Felicia tidak bisa menyelamatkan teman-teman kalian dan para guru yang lain" kata ku dengan nada sedih dan meneteskan air mata.
Semua mendengarkan cerita ku dari awal sampai akhir dan membuat ku agak terkejut.
"K-kalian semua?! Bukan nya tadi sibuk menyerang musuh?" Tanya ku yang terkejut melihat semua mendengarkan yang kuceritakan semua.
"Iya Bu Felicia, mereka sudah kami habisi" ucap Kelvin dengan tersenyum.
"Bu Felicia, syukurlah selamat" kata vika dengan lega.
Annisa dan Vika memeluk ku bersamaan, aku membalas pelukan hangat ke kedua nya.
"Mungkin ini takdir mereka semua, Bu Felicia. Jangan salahkan diri sendiri" ujar haqqul dengan datar.
"Benar kata murid-murid, Bu" ucap pak shin dengan senyum ramah.
Aku menatap pak Shin dengan tersenyum lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi.
"Iya, pak Shin. Terima kasih juga murid-murid, kalian semua telah menyelamatkan ibu" kata ku berterima kasih kepada semua nya.
Aku merasa senang sekaligus agak sedih karena bisa selamat dari peristiwa menyeramkan, serta bertemu dengan murid-murid dan pak Shin membuat ku berpikir bahwa, diri ku masih diberikan kesempatan untuk melihat secercah harapan.
__ADS_1
To Be Continued.....