Zombie City : Dead Or Life

Zombie City : Dead Or Life
29. Seretan Katana Tua


__ADS_3

*Kelvin POV*


 


 


 


 


Terik matahari menyengat di siang hari, suasana yang mencekam dan penuh ketegangan memicu adrenalin dalam diri.


 


 


Melihat banyak nya tumpukan mayat dan beberapa zombie yang terlewat begitu saja, seakan nafsu makan hilang sesaat.


 


 


 


 


Tidak terasa kami semua akan menuju stasiun, aku berharap itu akan menjadi tempat yang aman bagi kami untuk berlindung, yah... Kuharap begitu...


 


 


 


 


"Hei...?! Haqqul, dan Hassan, bersiaplah! Andhika memberi informasi bahwa di depan ada sekumpulan zombie!"


 


 


Kak kamiya memberi aba-aba, karena seperti nya dia melihat sekumpulan zombie yang bergerombol di tengah jalan.


 


 


"Baik, kak kamiya!" Jawab Haqqul dan Hassan.


 


 


"Yossshaaaaaaa!!! Akhir nya kesenangan ku datang juga!! Heii Zidan!! Mari buat suasana nya makin menyenangkan!!"


 


 


"Baiklah, mari kita mulai pertarungan nya!!"


 


 


Dengan penuh semangat Andhika dan Zidan menyetir Jeep dengan kencang hendak menabrak sekumpulan zombie yang ada di depan mereka.


 


 


"Hei kalian berdua, jangan berlebihan!" kata ku yang menasehati mereka berdua, dengan walkie talkie yang kugenggam di tangan.


 


 


Entah kenapa firasat ku mengatakan bahwa akan terjadi hal buruk yang akan menanti....


 


 


 


 


 


 


Sfx:Sriiiiiiing.......... Traaannkk...... Siiiinnnngg....


 


 


 


 


Aura ini terasa mencekam dan tekanan yang kuat ini sama seperti aura pembunuh....


 


 


 


 


Seketika terlintas bayangan di pikiran ku, bahwa sosok ini adalah zombie jenis baru atau pembunuh..


 


 


"Hei, Zidan berhati-hatilah, aku merasakan akan terjadi hal buruk jika kalian menabrak para zombie itu!"


 


 


 


 


"Ya Kelvin....bbzzztt.... Kkkrrsskk... Kami juga merasakan nya.... Tenang saja, katakan ke kak kamiya untuk memperlambat laju bus nya..bbbzzztt..." Ujar Zidan menjawab panggilan walkie talkie ku.


 


 


 


 


Tanpa kukatakan sepatah kata pun ke kak kamiya, dia mengerti dan dengan sigap memperlambat laju bus nya.


 


 


 


 


Sfx:bruuuuuummmm......!!! Bruuuummm!!!  Goaaargghh...!! Gggrrrrrhh...!!


 


 


 


 


"Kelvin, tolong pegang kemudi nya sebentar.."


 


 


Aku mengangguk dan memegang kemudi nya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri menggenggam walkie talkie.


 


 


"Zidan ikuti aba-aba ku!" Dengan tegas.


 


 


Kak kamiya tetap menginjak gas nya, kemudian mengambil sniper yang ia taruh di belakang kemudi nya.


"Lepas kemudi nya dan berikan aba-aba!"


"Baik!"


Aku melepas kemudi nya, seketika kak kamiya menginjakkan kaki kanan nya untuk mengemudikan bus TK, kak kamiya siap membidik dengan kaki nya yang tetap mengemudikan bus nya.


 


 


"Perfect driving.." senyum sinis kulontarkan kepada kak kamiya sambil mendekatkan walkie talkie ke mulut dan memakai teropong untuk mengamati pergerakan para zombie yang ada di depan.


 


 


"Zidan, tembak dengan senjata mesin berat mu!"


Aba-aba sudah kumulai, Zidan mengerti dan langsung menembaki para zombie dengan senjata mesin berat nya itu.


 


 


 


 


Sfx:bruuuuuummm!!!! Dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor dor!!! Ggrrrgghh..!!! Aaaarrrgghhh!!! Ggaaarggh...!!!


 


 


 


 


Beberapa zombie ambruk setelah menerima banyak peluru dari Zidan.


 


 


Tidak sampai disitu ...


 


 


"Kak kamiya!! Bidik tiga zombie yang berada di samping gerombolan itu sambil sesekali menembak zombie yang ada di tengah nya! Zidan tetap pada posisi menembak mu! Haqqul nyalakan dinamit dan meluncurlah ke sana bersama Hassan"


 


 


Dengan tegas kuberi perintah, ketepatan, kecepatan, pembacaan situasi dan taktik diperlukan disini..


 


 


"Baik!!" Serentak haqqul, hassan, kak kamiya, dan Zidan menjawab.


 


 


Haqqul membawa dinamit dan pergi keluar lewat pintu bus tk, kemudian menuju atap dan berdiri bersama Hassan disana.


 


 


Tanpa basa-basi haqqul menyalakan dinamit kemudian Hassan memberi pijakan lengan nya, haqqul melompat memijak lengan Hassan lalu dengan cepat serta kuat, Hassan mengayunkan lengan nya dan meluncurkan haqqul ke tempat para zombie yang ada disana.


 


 


Aku mengetahui haqqul meluncur ke arah para zombie yang ditembaki lalu memberikan aba-aba untuk menahan tembakan, kak kamiya berhenti menembak dan dia kembali menyetir dengan tangan nya, Zidan ikut berhenti.


 


 


Haqqul dengan cepat meluncur menuju ke kumpulan para zombie itu, sekelebat dia melihat mata bercahaya merah bersinar di tengah-tengah kerumunan zombie itu, haqqul langsung mendarat tepat di pundak zombie yang ada didepan nya, kemudian memasukkan dinamit yang dibawa nya ke mulut zombie itu, haqqul langsung salto ke belakang dan melompat ke Jeep Andhika.


 


 


Haqqul menfokuskan diri dan membuat penjara es seperti setengah lingkaran dan didalam nya terdapat sekumpulan zombie, termasuk zombie yang menggigit dinamit yang diberikan nya tadi.


 


 


Disaat bersamaan Andhika dan kak kamiya, menginjak rem dan berhenti di depan penjara es itu dengan jarak 5 meter, tanpa menunggu lagi...


 


 


 


 


Sfx:BOOOOOMMMM!!!!!!!!!! KRAAAKKK!!!! KREKKK!!!


 


 


 


 


Seketika dinding es hancur bersama dengan hancur nya para zombie tersebut..


 


 


Darah dan serpihan es terciprat serta bercampur memenuhi jalan, seperti melukiskan tempat pembantaian...


 


 


Namun tidak sampai disitu saja....


 


 

__ADS_1


 


 


Sfx: aarrrggghhh!!! Grooooagghh...!! Rooooaarggh!!!! Srakk...!!!


 


 


 


 


Karena suara ledakan dinamit yang cukup keras, para zombie yang mendengar tidak jauh dari tempat kami mulai berdatangan ingin mengerumuni  dan memangsa kami.


 


 


"Tch..! Sial..!"


 


 


Andhika berdecak sambil keluar dari Jeep bersiap bersama senjata yang dibawa nya.


 


 


"Hei Andhika, kau tangani zombie yang berdatangan bersama dengan yang lain, aku akan melawan zombie yang ada di depan ku ini" ucap haqqul tanpa melepas pandangan dari kabut asap bekas ledakan di depan nya.


 


 


Di balik kabut asap itu terlihat mata merah menyala sebelah, aura tekanan yang luar biasa mengalir dalam diri zombie itu, seperti pembunuh..


 


 


"Baiklah, kuserahkan dia pada mu!"


 


 


Andhika berlari ke arah bus sambil menembak zombie yang masih agak jauh dari tempat nya, tembakan kepala dan leher membuat mereka ambruk seketika.


 


 


Jalan mereka yang sempoyongan membuat kita mendapatkan kemudahan.


Mata ku tertuju pada haqqul dan asap itu tanpa berkedip, serasa akan ada pertarungan sengit.


 


 


"Kak kamiya, menurut mu apa itu?"


 


 


Aku bertanya tanpa menoleh ke kak kamiya, pandangan ku hanya tertuju pada asap tebal yang sedikit demi sedikit mulai pudar itu.


 


 


"Entahlah, yang pasti itu adalah sesuatu yang berbahaya bagi kita..."


 


 


Jawaban kak kamiya sungguh santai sambil menggenggam sniper di tangan nya.


 


 


"Bukan kah kita juga harus membantu..?" Sambung kak kamiya dengan senyum kecil nya.


 


 


Aku mengangguk dan segera pergi ke belakang membantu para perempuan.


Dan pertempuran kami di mulai saat itu juga.


 


 


"Hei bisa kalian lakukan seperti biasa nya?" Tanya ku dengan senyum.


 


 


"Tentu saja Kelvin" jawab marsha sambil mengokang pistol ditangan nya.


 


 


"Kami sudah mulai terbiasa, mungkin nanti kau bisa mengajari Bu Felicia juga agar terbiasa" kata Vika dengan tawa jahil nya.


 


 


"Eeeehhh!!! Ibu tidak bisa melakukan nya, ibu takut!" Ujar Bu Felicia karena belum pernah menembak ataupun membunuh seseorang sebelum nya.


 


 


"Untuk saat ini Bu Felicia istirahat saja, mungkin Bu Felicia juga bisa melihat para murid perempuan ini melakukan hal hebat yang tidak bisa dilakukan sebelum nya" jelas ku menenangkan Bu Felicia.


 


 


"Baiklah kita mulai"


 


 


Annisa menggenggam dua pistol ditangan nya kemudian menembaki zombie yang berjalan terseok-seok mendekat dari balik jendela bus TK. Marsha juga melakukan hal yang sama, tembakan demi tembakan terus dilancarkan.


 


 


 


 


Sfx:dor dor dor dor dor!! Aaarrrkhh..!! Arrrghh...!!!


 


 


 


 


 


 


 


 


Hassan maju dengan memberi pukulan hingga beberapa zombie ambruk dengan kepala terlepas karena tinju baja nya, sementara kak kamiya di atas bus sambil menembaki beberapa zombie dengan pistol nya.


 


 


Semakin lama para zombie semakin banyak, sementara peluru kami memiliki batas.


 


 


"Gawat, kalau begini terus kita akan dalam bahaya" gumam ku dalam hati.


 


 


"Kelvin! Bagaimana ini peluru kita hampir habis!" Kata Annisa sambil tetap menembaki zombie yang mendekat.


 


 


Okta menembaki zombie dengan senyum polos namun kemudian peluru dalam pistol nya habis.


 


 


"Eehh? Habis lagi? padahal lagi seru-seru nya, aku jadi ingat pernah main ini di gamezone bersama teman-teman" Keluh dan kenang Okta seperti anak kecil yang polos.


 


 


"Kak Okta ini peluru nya!" Ucap sari memberikan amunisi peluru kepada Okta dengan senyum ceria.


 


 


"Waaahh terima kasih sari, anak baik" ujar Okta sambil mengelus kepala nya.


 


 


Aku dan Bu Felicia yang melihat itu hanya bisa tersenyum paksa sambil memaklumi sifat mereka yang tetap begitu walaupun dalam keadaan genting.


 


 


 


 


Sfx: bbzzztt...bbbzzztt...krssskk...Kelvin...!


 


 


 


 


Walkie talkie berbunyi lalu kuangkat.


 


 


"Ada apa?"


 


 


 


 


Sfx: krrrrsssskk!!! ke atap dan lihatlah..!ssrrrrssskk....!! Bzzztt!!


 


 


 


 


Aku bergegas keluar dan memanjat ke atap bus dengan berpijak pada jendela nya lalu melihat dari berbagai arah. Terkejut dengan keringat dingin mungkin bisa menggambarkan ekspresi ku saat ini..


 


 


Para zombie yang terlihat agak jauh berlari ke arah kami, jumlah mereka tidak lah sedikit, bahkan jumlah nya melebihi perkiraan ku.


 


 


"Ini cukup berbahaya.. aku harus berpikir.. apa langkah yang harus kubuat..!!?" Gumam ku dalam hati dengan gelisah dan sedikit kesal.


 


 


"Aku harus tenang, berpikir dengan jernih... Harus harus..!"


 


 


Dalam hati sudah kuyakinkan lagi diri ku kemudian mengambil teropong dan melihat seluruh zombie yang ada dengan teliti, jarak kami yang agak jauh membuat diri ku memiliki waktu untuk lebih teliti lagi.


 


 


Zombie yang belum pernah kulihat berbaur di kerumunan zombie yang berlari. Tangan nya dililit semacam kelabang berukuran besar, kelabang itu melilit tangan zombie sampai dada dan leher nya tersebut. Lari nya lebih lambat dari zombie yang lain, dan kelabang nya menggeliat hidup.


Jumlah zombie kelabang itu ada dua.


 


 


Kemudian zombie berukuran besar dan berotot, seperti nya zombie ini dulu nya manusia yang suka nge-gym, sehingga dia termasuk zombie yang susah untuk di lawan, dilihat dari tubuh nya sedikit mengkilap, berarti menandakan bahwa beberapa bagian tubuh nya keras.


 


 


Tepukan Hassan membuatku terkejut kemudian menoleh ke arah nya.


 


 


"H-hassan kau membuat ku terkejut"


 

__ADS_1


 


"Begitukah, maaf kalau begitu. Kau sedang menganalisa ya? Aku sudah menganalisa semua nya dari perjalan ku untuk bertemu dengan kalian, banyak zombie sudah kuhadapi dan ini data yang bisa kuberikan pada mu" jelas Hassan sambil memberikan sebuah buku yang cukup tebal.


 


 


"Terima kasih, Hassan" ucap ku sambil menerima pemberian Hassan.


 


 


"Sekarang cukup berikan perintah mu, kelvin. Kita sedang berperang demi menyelamatkan hidup kita, tidak ada waktu untuk ragu bukan?"


 


 


"Yaaah.. kau benar, Hassan. Baiklah mari lakukan yang terbaik"


 


 


"Oke!!"


 


 


Kata-kata itu membuat ku bersemangat dan percaya diri lagi.


 


 


"Andhika!! Habisi para zombie di dekat kita dengan tinju api mu!! Hassan bantu Andhika agar lebih cepat!!! Zidan arahkan senjata mesin berat mu ke arah para zombie yang berlari!! Kak kamiya, aku ingin kau membidik ke arah zombie jenis baru dan membuat mereka ambruk terlebih dulu!! Para perempuan bersiap lah menembak jika ada zombie yang lolos dari tembakan mesin berat Zidan!!" tegas ku memberi perintah dengan suara yang keras sambil bersemangat.


 


 


"SIAP KAPTEN!!" jawab semua dengan serentak dan percaya diri.


 


 


"Memang harus begitu, nama nya pemimpin"


 


 


"Mari selesaikan ini semua!"


 


 


Setelah memberikan perintah, aku menoleh ke pertarungan haqqul dengan zombie baru yang sejak tadi belum selesai.


 


 


Aku melihat wujud zombie tersebut dan melihat di buku yang diberi oleh Hassan, ketemu..! Sedikit membaca nya lalu kupahami.


 


 


"Jadi begitu... zombie samurai... Baiklah..!"


 


 


Setelah menutup buku, aku lompat turun dari atap bus kemudian berlari menuju pertempuran haqqul untuk membantu nya, haqqul sedang menahan serangan dari zombie samurai namun kubantu dengan tiga tembakan ke arah kepala pundak zombie samurai itu.


 


 


"Aku alihkan perhatian nya dan kau incar tulang punggung nya!" Ucap ku sambil menembaki zombie samurai yang mundur setelah menangkis beberapa peluru yang melesat dari pistol ku"


 


 


Berlari ke kanan memutari zombie samurai, perhatian nya akhir nya tertuju kepada ku, sementara haqqul langsung berlari ke arah kiri dengan lincah dan cepat nya, hingga membelakangi zombie samurai.


 


 


Aku mengeluarkan katana dari sarung nya dengan tangan kanan, kemudian menggenggam pistol di tangan kiri sementara buku yang kubawa tadi sudah kulempar mendarat di kap Jeep.


 


 


 


 


 


 


Sfx: dor dor dor dor dor..! Tep tep tep tep..!


 


 


 


 


 


 


Dengan cepat aku berlari menuju zombie samurai yang juga ikut berlari ke arah ku dengan menyeret katana tua milik nya.


 


 


 


 


 


 


Sfx: Sringgg...siiing... Tep tep tep! Trang! trenk..! Krek!!


 


 


 


 


 


 


Zombie samurai mengayunkan katana nya yang diseret ke atas hingga membentuk tebasan vertikal, dengan sigap aku menghindar ke kanan sedikit lalu membalas serangan nya dengan tebasan miring ke kanan, namun berhasil di tangkis dengan cepat oleh zombie samurai tersebut.


 


 


Mata nya menyala, dan menebas dua kali ke arah ku dengan ayunan vertikal dan horizontal, kemudian menahan serangan nya dengan kuda-kuda posisi bertahan.


 


 


Balasan terus kuluncurkan begitupun serangan zombie samurai tersebut yang kuat dan brutal.


 


 


Aku beberapa kali terkena luka sayat dengan katana nya, begitu pun dengan zombie samurai itu, namun Ku yakin dia tidak merasakan sakit sama sekali, yah itu wajar karena dia sudah mati.


 


 


Zombie samurai mengayunkan katana nya dari atas kebawah dengan tenaga yang luar biasa.


 


 


 


 


 


 


Sfx:grroooaagghh!!!!! Siiiingggg!!! Kreeekkkk!!!!!! Krakk!!


 


 


 


 


 


 


Ayunan tersebut membuat jalan nya retak dan terbelah sedikit namun sigap kumenghindar ke kiri lalu menginjak katana nya yang menancap di retakan jalan, zombie tersebut melepas genggaman katana nya kemudian hendak menerkam ku dengan kedua tangan nya.


 


 


"Tch..! Yang benar saja...!?"


 


 


Aku menendang dada nya lalu dengan  cepat memotong kedua lengan zombie samurai tersebut hingga putus, zombie samurai terdorong karena tendangan ku dan telapak tangan kanan haqqul memberi hentakan di punggung nya.


 


 


"Ice Stone....."


 


 


Dengan cepat darah membeku dalam tubuh nya, membuat kinerja tubuh dalam zombie tersebut berhenti total.


 


 


 


 


Zombie samurai beku seketika dan haqqul mencekram punggung nya hingga tangan kanan nya berhasil masuk dan menarik tulang punggung nya keluar dengan satu tarikan kuat.


 


 


"Ini harus dihancurkan..." Dengan wajah datar nya haqqul berniat membanting tulang punggung zombie samurai tersebut ke jalan agar hancur berkeping-keping namun terhenti karena aku meminta untuk dibuat penelitian jadi tidak jadi dihancurkan.


 


 


"Jangan dihancurkan, haqqul. Aku ingin meneliti nya lebih dalam lagi, mungkin aku akan meminta bantuan Hassan untuk membawakan nya"


 


 


Haqqul hanya mengangguk kemudian tetap membawa tulang punggung itu, aku hanya melihat sekilas namun tampak seperti tulang punggung itu memiliki kaki-kaki seperti kelabang.


 


 


Semakin penasaran namun aku harus menahan rasa ini terlebih dulu, untuk saat ini yang harus kami lakukan adalah memenangkan pertempuran ini...


 


 


 


 


Aku dan haqqul kembali ke bus, tidak lupa buku yang diberi Hassan sudah kubawa.


 


 


 


 


 


 


Dengan semangat yang masih membara kami tetap akan bertahan hidup... Untuk secercah harapan yang akan kami capai....


 


 


 


To Be Continued.....


 


Hay para readers setia, selamat menikmati membaca


chapter yang telah di up.


Jangan lupa vote, comment, kritik dan saran nya ya, sebagai dukungan kalian


semua para readers~!


Karena readers yang baik adalah readers yang meninggalkan jejak dikolom


komentar maupun vote, wkwkwk~


Selamat membaca

__ADS_1


Salam Author


__ADS_2