" Jodoh Yang Tak Diinginkan "

" Jodoh Yang Tak Diinginkan "
" Chapter tiga belas " □■□■ ○○


__ADS_3

Sore itu di komplek prumahan elite, disebuah rumah megah bermomor 83. terlihat seorang perempuan cantik sedang duduk di atas kasur, wajahnya terlihat Kusut. Tatapan matanya kosong, rambut panjangnyab terlihat awut awutan. Ia terlihat Memegangi kedua dengkulnya.


Tak jauh darinya, tepatnya diruang tamu Berrnuansa klasik. Terlihat beberapa orang Sedang berkumpul membicarakan sesuatu.


" Ini sudah seminggu, abel seperti itu. Dia lebih Parah dari kemarin." Kata seorang lelaki paruh Baya.


" Tapi pa abel nggak membahayakan nyawa Orang pa. Abel cuma duduk diam, itu aja." Nggak lebih.


" Mungkin sekarang belum tapi siapa yang Menjamin seminggu lagi abel tidak akan Meresahkan kita. Apa mama, bisa menjamin, Hah? " tanya lelaki itu .


" Mama bisa menjamin pa, abel nggak akan Pernah ganggu kita. " Kata nyonya ratih.


" okey, fine. Tapi kalau sampai abel buat ulah Papa pastikan abel akan ke psikiater. " kata Lelaki itu.


" Hooh ya, tuan jose purnomo kenapa anda jahat sekali sama anak anda sendiri. Abel itu Anak anda, anak perempuan anda satu satunya . Ingat itu, " kata nyonya ratih.


" Hah, itu dia. Justru karena itu, abel itu anak Perempuan satu satunya. Jadi papa nggak mau Sampai dia gila. Apa mama mau, masa depan Abel berantakan. Mama harusnya ngerti dong, Banyak orang yang punya masalah dari abel. Tapi mereka waras dan nggak depresi kaya Abel. Please ma, open your eyes. Nyonya ratih." Kata tuan jose purnomo kali ini.


" Pokonya nggak. Sampai kapanpun mama Nggak akan rela papa bawa abel ke psikiater Titik, nggak ada koma. " Kata nyonya ratih.

__ADS_1


" Hah, terserah mama. Tapi disini kepala rumah Tangganya papa. Jadi, you, you, dan mama Wajib manut sama papa. " Kata tuan jose purnomo, sembari meninggalkan ruang tamu Tersebut.


" Dasar diktator, " umpat nyonya ratih kesal.


" Udah dong Mam, please jangan ribut terus Sama papa. " Kata anggri, si anak sulung Mencoba menengahi.


" Papa kamu itu, terlalu egois. Abel itu cuma Diam, nggak ngapain kita. Masa iya orang diam Aja dikamar mau dibawa ke psikiater." Kata Nyonya ratih kesal.


" Iya anggri ngerti. Nanti anggri, coba ngomong Sama papa. " Kata anggri.


" Baguslah. Oya rensi, kamu tolong antarkan Nasi dong buat adik kamu abel. " Kata nyonya Ratih.


" Iya mum. Rensi akan suruh bibik nyiapkan Makanan buat abel, nanti lepas itu rensi yang Antarkan ke kamar abel." kata rensi.


" Sama --- Sama ma," kata rensi. Rensi kemudian Bangkit dari duduknya, dan kemudian berjalan Menuju dapur rumah.


" Bi, tolong siapkan nasi dong.Kata rensi, Begitu Nyampe di dapur.


" Loh, emang buk rensay nggak Puasa ya? " tanya si bibik, asisten rumah tangga Mereka.

__ADS_1


" Ih sembarangan. Saya puasa dong. Ini buat Abel tau, " kata rensi sambil membulatkan Matanya.


" Hooh, maaf. Ya udah saya bikinin. Kata si Bibik sambil mempersiapkan makanan buat Abel. Tak berapa lama, asisten rumah tangga Berusia paruh baya tersebut selesai menyiapkan makanan buat abel. Dia kemudian Memberikan piring batu bewarna biru yang telah berisi nasi dan lauk tersebut. Ke tangan Rensi. Rensi tersenyum. Setelah mengucapkan Terimakasih, menantu konglomerat tuan jose Purnomo tersebut berjalan meninggalkan Dapur lalu menuju kamar abel.


Didapan kamar abel, rensi sejenak mematung. Dia tampak menarik napas. Kemudian ia mulai Membuka pintu kamar dengan tangan kirinya. Lalu selanjutnya masuk kedalam kamar abel.


Didalam kamar abel tampak masih duduk di atas kasur, tanpa ekspresi. Wjahnya trrlihat Datar tanpa senyuman dan dingin.


Rensi memandang abel. Kemudian dia berjalan Menghampiri abel.


" Kamu makan ya, mbak udah bawakan makan Buat kamu. " Kata rensi.


Abel trrlihat diam, datar tanpa menggubris.


Rensi menarik napas sembari memandang abel. Walau aku mbenci kamu, karena kamu Adalah tuan putri dirumah ini, tapi biar bagaimanapun kamu adalah adik dari suamiku. Dan aku tetap bertanggung jawab atas kamu. Gumam rensi dalam hatinya.


Rensi trrlihatt menarik napas panjang. Kemudian ia meletakan piring tersebut di atas Meja.


" Makananya mbak letak disini, nanti kamu Makan ya. Kata rensi dengan helaan napas. Sambil memandang abel. Selanjutnya ia Kemudian berjalan meninggalkan kamar abel. Namun ketika langlahnya hampir mendekati pintu kamar abel. Abel terlihat berdiri, kemudian Ia memecahakn piring di atas meja.

__ADS_1


" Prañkkkkkk. " Bunyi piring tersebut.


Remsi terkejut dan menoleh ke arah abel. Abel Terlihat sudah berdiri sambil memengang Sebuah beling kaca dan mengarahkannya ke Arah rensi ( Bersambung) ■■□■ ♧♧


__ADS_2