" Jodoh Yang Tak Diinginkan "

" Jodoh Yang Tak Diinginkan "
" Jodoh yang tak diinginkan " ( Chapter enam ) □■□■


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, semenjak kepergian Rey issabella mengurung diri. Ia hanya Bertemankan kamar yang luas dan kasur yang Empuk. Diatas bantalnya trrdapat foto Rey yang brrukuran kecil.


Air mata tak henti hentinya mengalir dari pipi Cantiknya. Ia merutuki takdirnya sendiri yang Kehilangan suami di hari pernikahanya.


Orangtua dan anggota keluarganya, mulai Cemas memikirkan keadaanya. Papa dan Mamanya sudah memutuskan untuk mendatangkan psikiater untuk kesembuhan Luka hatinya.


" Anggry, apa kamu sudah telfon psikiater?" Tanya sang papa, saat mereka berkumpul di Ruang tamu sore itu.


" Pa, apa nggak sebaiknya kita saja yang Mencoba berbicara dari hati kehati dengan Abel. Kalau manggil psikiater krsanya abel gila Pa, " kata anggry kakak satu satunya abel.


" Iya tapi mau sampai kapan, sudah seminggu Semenjak kepergian rey. Setiap hari kalau kita Ajak ngomong, abel tetap diam. Dia tidak Menggubris satupun diantara kita. Nggak papa, Nggak mama, bahkan kamu dan istri kamu. Abel, putri papa satu satunya. Papa nggak mau Dia gila.Lagian psikiater itu hanya mengajaknya Berbicara, bukan membawanya kerumah sakit Jiwa. Minggu depan papa dan mama, berangkat ke hongkong untuk sebuah proyek Swiming pool. Dan papa nggak mau, urusan Abel belum kelar ketika papa pergi nanti.


" Tapi pa anggry benar benar nggak tega sama Abel pa, rasanya anggry itu jadi kakak yang jahat banget gitu pa. "Anggry, masih keke tidak Mau memanggilkan psikiater untuk sang adik.


" Kamu nggak jahat ini semua atas perintah papa. Sekarang kamu yang nelpon atau papa Yang telpon sendiri psikiaternya,heum?" tanya Sang papa menghardik anggry.

__ADS_1


Anggry yang dihardik sang papa hanya bisa Menundukan pandangan. Naluri kekakakanya Masih nggak rela mendatangkan psikiater untuk sang adik.


Rensi yang melihat suaminya serba salah Akhirnya angkat bicara.


" Pa, pa. Begini saja, rensi akan coba berbicara Dulu dengan abel. Siapa tau aja abel mau Ngomong sama rensi." Kata rensi kepada ayah Mertuanya.


" Apa, kamu. ?" tanya ayah mertuanya.


" Iya, rensi pa. Emang salah? " tanya rensi.


" Iya namanya usaha pa, kali aja berhasil. Gimana papa setuju nggak? tanya rensi kali Ini.


Papanya abel ( Mertua rensi) memandang ke Anggota keluarga yang lain.


" Gimana menurut kalian, ? " tanyanya ke mamanya abel dan anggry.

__ADS_1


" Kalau mama sih setuju setuju aja. Biar bagaimana pun rensi ini menantu kita pa, itu Artinya dia kakak ipar abel. Siapa tau aja abel Lebih nyaman ngobrol sama dia ketimbang Sama kita. Kata mamanya abel ( Mertua perempuan rensi )


" Anggry jugga setuju pa, setuju banget malahan. Daripada ngobrol sama psikiater Nggak jelas, mending abel ngobrol sama rensi Mereka saling mengenal, satu rumah. Dan Sama sama perempuan. Siapa tau aja abel Udah mulai mau ngobrol sama rensi. Kata Anggry.


Ketiga orang itu pun saling menggangguk, dan Mempersilahkan rensi ngobrol sama abel.


" Okey, kalau semua sudah sepakat. Mama, Papa dan kamu mas. Aku akan coba ngobrol Sama abel." Kata rensi sambil menyibakan Rambut lurus dan panjang miliknya.


" Ya udah kalau gitu lakukan, tunggu apalagi Kata kedua mertuanya serempak.


Rensi menggungguk. Dan dalam hitungan detik Ia sudah bangkit dari duduknya. Lalu brrjalan Meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar Abel.


Napas panjang ia sengaja tarik, ketika ada didepan kamar abel. meski hubungan mereka Kurang dekat, tapi abel tetaplah adik dari suaminya. Rensi kemudian mencoba Mengetuk Pintu kamar, namun tak ada jawaban.Hingga ketukan yang kelima tetap hening tak ada jawaban. Rensi pun memutuskan untuk masuk Dan memastikan keadaan abel baik baik saja.


Rensi menarik gagang pintu lalu membukanya. Dan pintu terbuka sama sekali tidak trrkunci. Rensi melangkah memberanikan diri. Disapunya pandangan keseluruh ruamgan kamar yang cukup lebar tersebur.Dan, matanya Menatap sosok abel yang ceria menjadi pemurung.

__ADS_1


" Abel, mbak boleh masui? " tanya rensi menatap Ke arah abel. Namun jangankan menjawab, Perduli pun abel tidak. rensi trrus Melangkahkan kakinya masuk ķedalam kamar Untuk bisa ngobrol dengan abel. ( Bersambung ) ●●●□□□□


__ADS_2