"PENDEKAR ELANG"

"PENDEKAR ELANG"
EPISODE 10


__ADS_3

    Pagi ini Elang terlihat sendu..Duduk bersila di pondok kecil di tengah sawah,,seraya meniup serulingnya dengan irama yang seolah2 menambah kesedihan hatinya,,matanya kadang terpejam namun sejurus kemudian nampak menatap sayu ke tengah pematang sawah..kegundahan hatinya tergambar jelas saat ini..


"Ibu..Elang kangen Ibu.."matanya terlihat sembab.


Bahkan si Jalu dan Ciku yang sedang menikmati padi milik Pak Dulah nampak tak terlihat olehnya,,biasanya jika melihat hal itu dia segera mengusir kambing2nya dari sana namun hari ini dia tak bergeming sedikit pun dari duduknya,,seolah2 sedang tak berada di sana.


Sekar yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan juga ikut sedih,,lalu perlahan mendekatinya untuk memberitahu jika kambing2nya telah memakan padi pak Dulah.


"Permisi..maaf Mas Elang.."


tetap diam seolah tak mendengar karena asik dengan pikirannya sendiri..memikirkan ibunya.


"Mas Elang.." Sekar mengulangi panggilannya..


"Ehh i - iyaa  dik Sekar?! Ada apa ya??"


"Anu...mas Elang..kambing2nya makan padi pak Dulah.."


Elang lalu melihat ke arah kambingnya,,lalu berteriak pada keduanya seraya mengambil ranting kering itu untuk memukul mereka..


Jalu dan Ciku yang melihat Elang menuju ke arah mereka.. seolah tau akan di pukul lalu segera kabur dari sana dengan berlarian mengitari areal persawahan itu,,dengan susah payah Elang mengejarnya,,mereka berlari ke tengah sawah,,setelah lama mengejar akhirnya kedua kambing2 itu berhasil ditaklukannya.


Lalu mengikatnya di dekat pondok kecil itu,,kembali dia duduk disana memainkan sulingnya.


"Mas Elang..maaf Sekar mau tanya,,apa bik Wulan sudah ditemukan?? Sekar dengar diculik saat penyerangan malam itu."


"Belum dik Sekar",, tapi saya pasti akan membawa ibu kembali dengan selamat"


"Jadi itu yang buat mas Elang sedih??"


Elang menggangguk pelan..


"Maaf mas jika Sekar lancang,, mas Elang jangan larut dalam kesedihan,,lebih baik mas Elang lakukan pencarian bibi secepatnya sebelum terlambat."


"Iya dik Sekar..secepatnya saya akan mencari beliau.."


"Terimakasih sarannya ya"


"Sami2 mas.."


"Oh iya Sekar permisi dulu,,kasihan ibu kerja sendirian"


"Silahkan dik.."


"Assalamualaikum.." pamitnya


"Waalaikum salam.."


Sekar lalu berlalu dari hadapan Elang yang menyisakan perasaan terpendam dihati keduanya.


     Kerlip bintang yang tadinya memenuhi langit,,kini harus terusik dengan hadirnya mendung sehingga hanya menyisakan beberapa saja di langit malam.


Angin yang turun dari perbukitan menambah dingin suasana malam ini,,sedingin perasaan Elang yang duduk membeku teringat Nyimas sang ibu.


Namun berbeda halnya dengan yang terjadi di kerajaan Pinasti saat ini.


Raja Tengger merasa sangat senang karena telah berhasil mendapatkan Nyimas sesuai dengan keinginannya untuk menjadikan Nyimas tumbal raja Iblis untuk menyempurnakan ilmu hitamnya.


Malam ini Raja Tengger mengadakan pesta kemenangan atas ambisi dan nafsu angkara yang dimilikinya.


Disana terlihat pangeran Setyaji puteranya dari Ratu Cempaka dan juga Jaya Seba orang kepercayaannya,,juga beberapa petinggi kerjaan lainnya,,yang tergabung dalam sekte hitam yang dipimpinnya.


Raja Tengger juga mengundang para penari,,untuk memanjakan mata mereka yang haus akan siluet2 indah nan menggoda.


Bunyi tabuhan gendang yang mengiringi gerak penari2 itu membuat penikmatnya terlena dalam setiap irama dan gerak tari yang ditawarkannya.


Penari - penari itu nampak lincah dan gemulai menggoyangkan pinggulnya ditingkahi dengan gerakan selendang mereka,,senyum manis tak henti mereka tunjukan.


Tentu saja Setyaji dan Jaya Seba tak diam begitu saja melihatnya,,hasrat kelaki- lakiannya membuncah seolah ingin segera menuntaskannya pada penari2 itu yang sedari tadi seperti sengaja memancing dan membakar hasrat kedua laki2 muda itu.


Setyaji meski bergelar pangeran tapi tingkah yang ditunjukannya seperti bukan seorang pangeran yang pantas di hormati,, sedikit pun dia tak menghargai wanita,,dia dengan terang2n menarik salah satu penari yang memang terlihat paling cantik di antara penari lainnya dalam pelukannya,,tentu saja tak ada yang berani menegur sikap jeleknya itu,,karena dia pengeran,,dia memanfaatkan gelar pangeran sebagai senjatanya untuk menguasai semua orang.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Jaya Seba,,meski dia hanya sebagai orang kepercayaannya Raja Tengger tapi dia memiliki pengaruh besar bagi Raja Tengger,,sejauh ini dia tak pernah gagal menjalankan misi sang Raja,,karena itulah Raja Tengger sangat bergantung padanya.


Tuak2 nampak menemani rasa haus mereka malam ini,,sehingga cuaca dingin di luar tak mereka rasakan lagi, cairan tuak2 itu telah menghangatkan tubuh mereka di tambah lagi gerakan penari2 itu yang semakin lama semakin liar,,karena dicekoki keduanya dengan tuak2 tadi.


Penari-penari itu terus bergerak kesana kemari,,mereka menari setengah sadar sampai kehabisan tenaga..Bau tuak tercium dari aroma nafas mereka.


Semakin malam semakin meriah pesta itu,,, dan semakin kehilangan akal sehat juga para penikmatnya terutama pangeran  Setyaji dan Jaya Seba.


Mereka nampak menggandeng kedua  penari itu masing2 satu di sebelah mereka yang sama2 berjalan sempoyongan menuju sebuah ruangan dan menyalurkan hasrat mereka disna bersama penari2 itu.


Pesta terus berlangsung,,Raja Tengger tetap duduk di singgasananya bersama Ratu Cempaka,, namun seolah pikirannya tak sejalan dengan raganya,, dia teringat Nyimas..dia mengkhawatirkan keadaannya yang makin melemah karena menolak makan.


"Apa Nyimas sudah makan makanan yang dibawakan pelayan tadi atau belum..pikirnya.


Kamu benar2 keras kepala Nyimas!!!"


Ratu Cempaka yang melihat itu tak bisa menguasai diri untuk tak bertanya.


"Kenapa Kanda??? Apa kanda kepikiran smaa Nyimas????"


Sedikit Dinda..


Jawaban yang menghadirkan senyum sinis di wajah Ratu Cempaka.

__ADS_1


"Dia tidak mau menyentuh makanannya sedikit pun dinda..Kanda khawatir dia tak bisa bertahan melihat kondisinya yang lemah"


"Kalo begitu Kanda lepaskan saja dia,,untuk apa di tawan??" Atau Kanda terus mengurungnya agar bisa selalu bersamanya??"


Benar begitu Kanda??"


"Tidak Dinda !!! Bukan itu alasannya..Kanda akan menjadikannya tumbal raja iblis di malam bulan purnama yang tinggal 5 hari lagi"


"Benarkah kanda??"


"Benar Dinda"


Seketika hilang senyum sinis dan rasa marah pada dirinya (Ratu Cempaka) setelah mendengar jawaban Raja Tengger barusan.


Hatinya berteriak kegirangan.


Karena dia yang akan menjadi satu2nya yang memenangkan hati Raja Tengger.


Sebelumnya dia merasa Nyimas saingannya,,karena Raja Tengger terlihat lebih dan sangat menyayanginya.


Di salah satu ruangan Istana nampak Nyimas terbaring lemah,,sedari malam penculikan itu hingga kini tak ada nasi yang masuk ke perutnya,,hanya minum yang membuatnya bertahan.


Pikirannya hanya tertuju pada Elang.


Elang..Elang..gumamnya lirih..


Di pondoknya Elang seolah merasakan penderitaan ibunya saat ini,,dan dia nekad menembus kegelapan malam untuk menyelamatkan sang ibu,,sesuai dengan petunjuk yang di dapatnya dari Pemuda yang di tolongnya tadi siang di hutan saat mencari kayu bakar,, Pemuda itu Elang temukan pingsan,,karena digigit kalajengking,kaki kirinya terlihat membiru di bekas sengatan binatang itu..Elang lalu membawa pemuda yang bernama Rindu Aji itu ke pondoknya,,lalu mengobati bekas  sengatan kalajengking itu dengan memborehkan ramuan herbal di kaki Rindu Aji lalu meminumkannya sebagian dari ramuan itu padanya.


Mungkin jika terlambat sedikit saja Rindu Aji tidak akan tertolong.


Dari sanalah awal perkenalan keduanya.


Melihat kebaikan dan ketulusan Elang padanya Rindu Aji menjadi tidak tega untuk membohonginya,,dengan jujur dia mengatakan pada Elang jika dirinya adalah orang suruhan Raja Tengger yang di bebani tugas memata2inya.


Semula Elang nampak terkejut atas penuturan Rindu Aji,, tapi dia mencoba memahami posisi Rindu Aji yang hanya orang suruhan,,yang berharap imbalan demi bertahan hidup.


Sejak saat itu Rindu Aji menawarkan persahabatan pada Elang yang telah  menyelamatkan nyawanya.


Rindu Aji menceritakan pada Elang,,jika ibunya sedang di tawan oleh Raja Tengger dan akan dijadikan tumbal persembahan di malam purnama yang tinggal 5 hari lagi.


Elang yang mendengarnya terlihat sangat marah,,kemarahannya telah benar2 memuncak saat ini pada Raja Tengger, ayahnya.


Sementara menunggu kesembuhan kakinya Rindu Aji disuruh Elang untuk bermalam saja di pondoknya.


Sampai benar2 sembuh.


"Rindu Aji..kamu bermalam di sini saja dulu sampai kakimu benar2 sembuh,,bagaiamana kamu bisa berjalan jika kakimu masih sakit."


"Apakah saya tidak merepotkanmu Elang??"


"Lang menurutku sebaiknya segera selamatkan ibu mu sebelum semuanya terlambat".


"Iya Aji..aku juga punya pikiran yang sama..sepertinya malam ini aku akan bergerak."


"Saat yang tepat Elang,,mereka malam ini sedang berpesta,,tadi pagi sebelum kesini aku sempat melihat beberpa orang mengantarkan tuak kesana."


Tapi mohon maaf aku tak bisa menemanimu kesana berhubung kakiku yang lagi seperti ini".


"Tak apa Aji,,kamu disini saja..istirhat,,aku akan pergi sendiri kesana".


"Makasih Elang sudah berbaik hati padaku."


"Sudahlah tak perlu kamu pikirkan itu Aji..anggap saja aku sodaramu"


"Kamu lebih baik tinggal di desa ini daripada bersama Ayahnda mu dan mereka yang ada di kerajaan  itu,,sifat kalian sungguh bertolak belakang..kamu yang baik sementara mereka lalim".


Elang tersenyum,lalu kembali teringat pada sang ibu..dia pun pamit untuk menjemputnya.


Dan Aji tetap berada di rumah kecil milik Elang mengobati kakinya.


Elang melesat menembus kegelapan malam di sela pepohonan,,dia kembali teringat pada ilmu halimunnya lalu segera,,menghilang bersmaa asap putih yang mengepul di udara.


Elang sampai di depan gerbang istana..Satu pun tak ada penjagaan disna..seprtinya mereka semua tak sadarkan diri sehabis pesta tadi,,Bau tuak menyeruak dimana2.


Elang nampak berjalan2 di dalam Istana,,memasuki setiap ruangan,,Raja Tengger nampak terlelap disamping Ratu Cempaka di kamarnya..ingin saat itu Elang menghabisinya namun pantang baginya menghadapi musuh yang dalam keadaan tidak sadarkan diri..


Dia lalu mencari dimana ibunya di sembunyikan,,lalu Elang teringat kamar ibunya dulu saat masih tinggal di istana,,segera dia kesana.


Dan benar saja Nyimas ibu Elang nampak terbaring lemah,,karena sudah tidak makan nasi selama berhari2 hanya air putih dan buah2n.


Dia melihat ibunya menangis..rupanya Nyimas belum tidur.


Elang lalu menampakkan dirinya di depan sang ibu..


Bu..panggil Elang.


Nyimas terkejut seperti mendengar suara anaknya memanggilnya,,lalu mempertegas pendengarannya.


"Elang??kau kah itu nakk??"


Menyadari kehadiran Elang,,Nyimas lalu memeluknya erat.


Mereka terisak dalam tangis haru karena bisa bertemu lagi.


Elang akan membawa ibu pergi dari sini.

__ADS_1


Ayo cepat bu..pejamkan mata ibu.


Nyimas menurutinya,,lalu dengan ilmu halimunnya Elang membawa Nyimas pergi dari sana tanpa seorang pun yang tahu jika Nyimas saat ini sudah berada di desa WonoAgeng,, dia selamat dari maut.


Kini Elang dan ibunya tengah berada di depan pintu rumahnya.


Assalamualaikum sapa Elang


Waalaikum salam Rindu Aji menjawab  dari dalam dan berjalan pelan dan tertatih karena bengkak di kakinya masih sedikit sakit.


Lalu membuka kan pintu untuk Elang.


Alhmdulilaah Lang..akhirnya kamu berhasil membawa ibu mu pulang.


Nyimas msh belum menyadari ada orang lain di rumahnya karena kondisinya yang sudah benar2 lemah.


Elang lalu merebahkan ibunya di atas kasur di kamarnya.


Membuatkan teh hangat dan menyiapkan makannya dengan lauk telur ceplok,,lalu membawa pada ibunya.. Rindu Aji yang melihat itu terharu,matanya terlihat sembab..


"Sungguh anak yang berbakti kamu Lang,, bersykur aku bisa mengenalmu" batinnya.


"Bu makan dulu,,biar kondisi ibu segera pulih"


Ibu Elang perlahan membuka matanya yang terpejam,,kepalanya terasa sakit,


"Elang..kita dimana??"


"Kita sudah dirumah bu"


"Alhmdulilaah,, ibu kira akan tiada di sana"


"Tidak akan bu selama Elang masih bernafas,,takkan ada yang bisa menyakiti ibu"


Nyimas tersenyum mendengar penuturan putera kesayangannya itu ,,rasa sakit dikepalanya seolah hilang seketika.


Nyimas duduk di atas kasurnya dengan bersandar pada sebuah bantal,,Elang terlihat sedang menyuapinya makan..Nyimas terlihat sangat lahap makannya,,terang saja 3 hari sudah dia tidak ada nasi yang masuk ke perutnya,,hanya air putih dan buah2n saja yang dimakannya.


Elang dengan telaten menyuapinya sampai suapan terakhir..lalu meminumkannya teh hangat.


Tubuh Nyimas basah oleh keringatnya sendiri efek makanan tadi..


"Makasih anakku,,kamu telah merawat ibu"


"Itu sudah menjadi kewajiban Elang bu"


Elang senang ibu sudah di rumah lagi bersmaa Elang"


Dia lalu memeluk ibunya,, Nyimas balas memeluknya dengan hangat.


Kembali Rindu Aji menitikkan air mata melihat adegan ibu dan anak itu,,dia jadi teringat pada orang tuanya yang telah lama tiada,,meninggal karena sakit.


Di desa Tanah Tinggi di bawah pemerintahan kerajaan Pinasti Rindu Aji tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya.


Itulah sedikit tentang Rindu Aji yang kini tinggal bersama Elang dan ibunya..karena sejak kejadian itu dia tak ingin kembali lagi ke desanya,, karena dia merasa desanya kini tak nyaman di tempati,,maksiat dimana2,judi jadi hal yang biasa,,perkelahian adalah hal yang wajar bagi mereka,,cerita Rindu Aji pada Elang dan Ibunya pagi ini di teras depan rumah,,mereka bercerita banyak di temani seteko teh hangat dan sepiring pisang goreng yang di beli Elang di warung bu Ratna tak jauh dari rumahnya.


Warga desa WonoAgeng ikut senang mendengar Nyimas telah berhasil di temukan oleh Elang dari ceritanya tadi di warung itu saat bu Ratna menanyakan kabar ibunya.


Nyimas sudah pulih,,dia bisa tertawa  bahagia melihat puteranya ada di dekatnya,, Elang menceritakan pertemuan pertamanya dengan Rindu Aji,,juga tentang tujuannya semula sebagai utusan Raja Tengger untuk mencari informasi tentang Elang dan keadaan desa yang mereka serang kemarin.


"Iya bu..maafkan niat Aji yang kurang berkenan kemarin..tapi saya sadar jika yang saya lakukan itu salah ditambah kebaikan Elang pada saya,,dia tulus menolong saya bu padahal kami belum saling mengenal." Rindu Aji berujar.


Ibu tersenyum bangga pada anaknya.


"Nakk Aji tinggal sama siapa di desa Tanah Tinggi??"


"Sendirian bu,,kedua orang tua saya sudah lama meninggal,,karena sakit"


"Owhh begitu..maaf jika selama beberapa hari disini Aji merepotkan ibu dan Elang"


"Smaa sekali tidak Aji,kata Elang


Iya nakk Aji,,justru ibu senang Elang jadi punya teman bercerita..


"Setelah dari sini apa kamu akan kembali ke desa mu Aji,,apa yang akan kamu lakukan nanti jika Raja Tengger mengetahuinya"


"Tenang Elang,,kamu tak perlu cemas aku hanya cukup mengatakan alasan lain saja,,ku karang juga dia takkn tau" seraya tertawa dg kata2nya barusan..Aku tak punya tujuan Lang,,mungkin akan mengembara ke desa lain sampai kaki ku sendiri yang menghentikannya."


"Nakk Aji tinggal disini saja,,di desa ini penduduknya agamais,,jika untuk memperbaiki diri disini tempatnya. Kehidupan di desa ini damai,,orang2nya dekat dengan Allah."


"Iya Aji..nanti kamu akan ku kenalkan dengan Ki Agung,, pemimpin padepokan disini yang juga guruku"


Kalian bisa belajar bersama di padepokan ki Agung..tapi saat ini beliau sedang tidak di tempat." Kata Nyimas


"Iya benar sekali Aji..kamu tinggal disini saja bersmaa kami.."Kata Elang


"Apakah saya tidak merpotkan kalian?? Makan saya banyak loh Lang,bu"


Duh nak Aji ini, soal makan jangan dipikirkan,,ada dimakan tak ada kita cari sama2.


Mkasih bu,,saya merasa seperti punya seorang ibu lagi.


Sama2 nakk Aji..mulai hari ini kamu ibu angkat sebagia anakk ibu,,dan mulai hari ini juga Ibu punya dua orang anak laki2.


Mereka bertiga berpelukan,,mereka merasa sangat bahagia,,terlebih Rindu Aji yang mendpatkan keluarga baru.,Elang dan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2