#RAPUH

#RAPUH
episode 1


__ADS_3

Lagi - lagi dia terpuruk di pojok kamar yang bisu. entah sudah berapa liter air mata yang ia keluarkan untuk meratapi kehidupannya yang sudah dan sedang ia lalui.


" Ya Allohhhh,,, rasanya aku sudah tak kuat menghadapinya,,, aku pasrah,,, panggil aku kehadapanmu daripada aku berbuat dosa karena tak sanggup menghadapi cobaanmu" jerit batin Nadia disertai isak tangisnya.


Brukkkkk!!!! kemudian terdengar suara bantingan pintu yang begitu keras. Nadia tahu itu perbuatan siapa lagi kalau bukan ulah suaminya.


" pasti dia keluar lagi..." bisik batinnya.


Nadia sudah menduga kemana suaminya akan pergi. sudah menjadi kebiasaan suaminya menghadapi berbagai persoalan tanpa menyelesaikannya. pertengkaran pertengkaran yang terjadi tanpa ada solusi hingga semua menumpuk menjadi satu. Amarah,,, cinta yang kadang terselip menjadi benci kadang menggunung . tapi semua selalu sirna karena Nadia memiliki segudang kasih untuk suaminya.


Diwaktu menjelang malam Raditia yang tak lain suami Nadia datang dengan tanpa dosa kerumah. mendapati istri yang sudah mulai menghapus jejak air matanya. ia melabuhkan tubuhnya di kursi tanpa sepatah kata.


" kopi mas,,," kata Nadia seolah tak terjadi apapun sebelumnya.

__ADS_1


" simpan saja" ucap Raditia acuh.


" darimana barusan?" masih saja Nadia bertanya.


" tak penting !! jangan bertanya kemana aku pergi" jawabnya dengan nada yang mulai tak enak didengar.


sebagai istri Nadia hanya menarik napas dan mengusap dada perlahan. menyabarkan hatinya , menahan emosi yang siap berburu keluar. lagi - lagi ia disalahkan untuk sekadar bertanya semacam itu. ia bangkit hendak meninggalkan suaminya . ingin mencoba memejamkan mata ,menenangkan pikirannya.


" mau kemana kau?? begitukah sikapmu saat ada suami?? menghindar saja perlakuanmu, kau anggap apa aku ini??" cerocos suaminya.


" jangan salahkan aku jika aku merasa kesepian!!" teriaknya lantang.


" mas,,, aku sengaja tak ingin berdebat denganmu,,, saat aku bertanya kau darimana justru kau yang bilang jangan bertanya. sekarang giliran aku hendak berlalu kau bilang aku menghindarimu.. sebenarnya apa maumu??" tanya Nadia.

__ADS_1


" aku ingin kau mengubah sikapmu!!!"


" sikap yang mana?? coba jelaskan"


" semuanya!!!!" teriaknya.


Nadia tak lagi menghiraukan teriakan suaminya. ia segera berlalu membawa keperihan hati seperti biasanya. membaringkan tubuh mungilnya ditempat tidur berharap bisa beristirahat untuk selamanya.


" apa dosaku yaa Robbi???"


" ketika tangan ini selalu kuangkat dalam doa- doaku,, aku pintakan kebaikan suamiku atas rumah tanggaku. kenapa doa itu belum saja terkabulkan, kenapa pintaku belum saja kau hiraukan Ya Alloh... sampai kapan aku harus melalui semua ini??" jerit hati Nadia dalam tangisannya. kemudian ia mengusap - usap perut yang hingga kini masih rata seperti ketika ia sedang gadis. air matanya semakin mengalir deras dipipinya.


" semua berawal dari sini,,, bukan salahku tapi itu takdir dari mu Ya Alloh. aku menerima yang tergaris untuk kehidupanku. maafkan segala dosa- dosaku. ampuni segala kesalahanku" ratap Nadia disela kantuk dan lelah yang mulai melandanya. hingga tak terasa matanya mulai terpejam. ia terjatuh dalam tidur yang sedikit bisa mengobati sakit dan perih kehidupannya. meski itu hanya sesaat.

__ADS_1


Perlahan pintu kamar itu terbuka. sosok Raditia seolah mengendap - endap memasuki kamar. tanpa merasa bersalah ia berbaring disamping istrinya. sekilas ia menatap kelopak mata sang istri yang terlihat membengkak. ia tak mengibanya. ia tak menghiraukan. ia segera terlelap dalam tidurnya tanpa merasa bersalah sama sekali.


__ADS_2