
" bersiaplah,, kita pergi sebentar lagi" kata Radit pagi ini.
" kemana?" tanya Nadia.
" kita kerumah orang tuaku, itu juga kalau kau mau ikut" katanya datar.
" baiklah ... aku akan siap- siap" jawab nadia.
" kenapa mendadak ?? aku belum menyiapkan apa pun untuk oleh- oleh. pasti mereka akan mengomel kalau kita kesana tanpa bawa apapun" gerutu hati Nadia.
Ia segera bersiap. mengunggunakan riasan agak tebal apalagi dibagian matanya agar tidak terlihat jejak menangis oleh mereka.
" kamu sihhh ,,, seandainya kamu tak kehilangan bayimu,, atau bisa hamil lagi pasti Radit makin sayang sama kamu" begitulah ocehan keluarga Raditia waktu Nadia mengeluh dengan perubahan sikap anak mereka.
" daripada mereka mengomeliku lebih baik aku menyembunyikan segala tangisanku" ucap lirih Nadia sambil terus merias wajah ayunya.
" sudah belummm,,, lama banget siiih!" teriak Radit membuyarkan semua lamunan Nadia.
" bentar lagi beres"
__ADS_1
" cepetan!!! mereka dirumah sudah pada menungguku"
" memangnya mereka mau ngadain acara apa?"
" mereka mengundangku untuk makan bersama"
" dan mereka tak bilang mengundangku?" tanya Nadia dengan nada bersedih.
" entahlah!!" jawab Raditia tak menghiraukan perasaan istrinya.
" apa aku mending tak ikut saja??"
sejenak Nadia berpikir. antara pergi atau tidak.
" ikut saja ,,lagian aku sudah siap begini" jawabnya menghibur diri sendiri.
selama diperjalanan mereka diselimuti kebisuan . tak ada kata yang mewakili mereka sebagai suami istri. terlihat kekakuan diantara mereka. rasanya perjalanan ini sangat jauh. di lubuk hatinya Nadia menyesali keikutsertaannya .
" harusnya tadi aku tak ikut. ternyata aku tak diharapkan datang diacara ini. jika aku tak boleh ikut kenapa dia tadi mengajakku,, ahhh,,, tak cukupkah dia menyakitiku?? padahal dia juga tahu bagaimana perlakuan keluarganya padaku" rintih batin Nadia.
__ADS_1
" turunlah" perintah Radit saat mobilnya berhenti tepat di halaman rumah kedua orang tuanya. Nadia pun menurutinya. ia menunggu suaminya sebelum ia berjalan menuju pintu rumah itu. disapukannya pandangan mata pada rumah yang berdiri kokoh dihadapannya. dulu...diawal pernikahan rumah beserta penghuninya begitu hangat menyambutnya. bukan seperti sekarang yang seperti sosok angker yang penuh dengan kebencian.
" kau sudah sampai nak" ucap ibu mertua terhadap Raditia sambil memeluk putranya. seandainya kasih sayang itu sama yang dilakukan pada Nadia maaka pemandangan akan terlihat indah namun sayang itu sudah berlalu sejak nadia kehilangan janin dirahimnya.
" duduklah,,, sebentar lagi kita makan siang bersama. tinggal menunggu Luna" ucap ayah mertua Nadia saat nadia menyalaminya.
Degggg!!! ada sebuah rasa yang lebih membuat Nadia tak nyaman disituasi kali ini.
" Luna????" tanya batinnya. ia tahu siapa Luna. gadis dari masa kecil Raditia yang hingga besar selalu bersama dengannya. dari mulai TK hingga SMA mereka selalu bersama sampai mereka tak segan mengatakan dihadapannya bahwa Luna pacar masa kecil Raditia.
" jangan panikkk,,, jangan cemburu,,, tetap menjadi diriku. tetap hargai mereka sebagai orang tuaku. tetap menjadi menantu bahkan anak yang berbakti pada mereka" tutur hati Nadia.
Tak lama pintu ada yang mengetuk dan ibu Raditia pergi menjemput tamu yang datang.
" hai Luna!!" sapa Raditia seolah berseru saking girang melihat sosok yang digandeng ibunya.
" Raditttt!!!" ucap Luna tak kalah riang.
mereka bersalaman kemudian berpelukan . Nadia membuang pandangannya. ada tersirat rasa cemburu yang segera ditutupinya. apalagi ketika melihat sambutan kedua orang tua Radit terhadap kedatangan Luna seolah mereka tak menyadari keberadaan dirinya.
__ADS_1