#RAPUH

#RAPUH
episode 5


__ADS_3

Didapatinya dua sejoli itu sedang duduk santai ditaman yang rindang dan penuh dengan bunga. sesekali cekik suara tawa Luna terdengar menjijikan di telinga Nadia.


" mereka sedang mengenang masa lalu mereka" ucap Nadia yang masih memperhatikan mereka dari jauh.


perlahan Nadia berjalan mendekati mereka.


" ternyata kalian disini" ucap Nadia.


" hai Nad.. ayo sini. kami lagi membahas waktu kecil kami yang sanagt konyol" ucap Luna.


" oya... asik bener tuh... pastinya kau lebih tahu suamiku dari pada aku ya" ucap Nadia yang terdengar seperti menyindir.


" hhhmmmm" Radit berdehem.


" kalian bernostalgia. ditemani angin sepoi- sepoi,,, disaksikan bunga - bunga,,, tak romantis bagaimana coba" sindir Nadia


" apa cemilannya mau ditambah?" tanya Nadia lagi.


" gak usah... ini juga sudah banyak" jawab Luna.

__ADS_1


" mas sepertinya aku harus pulang sekarang. kalau kau masih betah disini aku pulang sendiri"


" yakin bisa pulang sendiri??" Radit malah bertanya seperti itu.


" yakin .. aku tinggal pesen taxi online" jawab Nadia datar.


" aku mau siap- siap dulu" ucap nadia lagi sambil berlalu meninggalkan mereka.


Nadia menuju ke kamarnya. bukan hendak bersiap - siap hanya saja ia ingin menumpahkan air mata yang sejak tadi terus meronta meminta ingin mengalir bebas seperti biasanya.


" kau tega sekali memperlakukan aku seperti itu didepan mantanmu mas...meskipun dia hanya pacar dimasa kecilmu tolong hargai aku sebagai istrimu. jangan bersikap acuh seperti itu. tak apalah dihadapan orang tuamu. tapi aku mohon jangan didepan Luna...hukhukhukhuk" rintih batinnya


" kenapa kau harus pulang sekarang?"


" aku tak bisa disini terus sementara yang lain tak mengharapkan keberadaanku. termasuk kau!" ucap Nadia dengan amarah yang ditahan.


" selalu saja begitu. apa - apa menangis apa- apa curiga"


" apa lagi yang bisa kulakukan kalau bukan menangis?? apalagi tak ada satu pun yang memihak diriku mas"

__ADS_1


" kau yang salah... mau siapa yang membelamu"


" kauu,,, harusnya kauu yang membelaku. bukannya malah membuat aku mati kutu"


" sudahlah... aku tak ingin selalu berdebat denganmu. mau dirumah mau dimana saja kita seperti ini terus. bertengkar berdebat tanpa henti"


" baiklah!!! sana pergi!! kasihan pacar masa kecilmu terlalu lama menunggu"


" bisakah kau tak selalu curiga?? dia temanku.. hanya temanku!!"


" terserah,,, karena yang kutahu dia bukan sekedar temanmu tapi mantan kekasihmu"


" sipat oper mu itu yang membuat aku tak nyaman lagi bersamamu"


" sikap dan sipatku ini hanya usaha seorang istri untuk menjaga suaminya" jawab Nadia sambil membuka pintu dan langsung pamit pada mertuanya.


Tak lama kemudian taxi yang dipesan Nadia datang didepan rumah mertuanya. Ia tak menoleh lagi kebelakang. ia sudah menduga ibu mertuanya pasti bersorak atas kepergiannya. begitupun dengan Raditia . ia akan merasa senang karena aku sudah pulang duluan apalagi kini ada Luna yang bersamanya. mungkin hanya Bi Asih yang meneteskan air mata karena kepergianku.


" aku sangat mencintainya tapi aku justru merelakannya bersama orang lain. apa aku sudah tidak waras??? bukan!! bukan tidak waras tapi aku tak bebas menangis seperti dirumahku sendiri. kalau aku disana terus bisa - bisa aku beneran jadi tidak waras. ya Ampuuuuun.... apa salahku ya Robbiiii,,, takdirmu untukku begitu menyesakkan dada" ucapnya sambil menangis tanpa menghiraukan sang pengemudi.

__ADS_1


__ADS_2