
" kemana saja... Lama banget buka pintunya" sapaan pertama ibu mertua Nadia begitu ketus.
" maaf bu ... Tadi aku sedang ditoilet" jawab Nadia berbohong
" sepertinya kalau suamimu pulang seperti ini, tak langsung membukakan pintu,,,pantesan saja suami mu gak lagi betah dirumah. Mana istri tak peduli,,,, anak tak ada. Ahhhhh kasian sekali nasib anakku" cerocos mertua Nadia seraya menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tv tanpa Nadia menyilakan terlebih dahulu.
" ibu cape??? Apa ayah sehat? Kenapa ia tak datang sama ibu?" Nadia malah bertanya seolah tak menghiraukan ucapan mertuanya tadi
" mau ngapain dia kesini. Kalau kesini juga tak ada yang bisa menghiburnya seperti orang tua yang lainnya" lagi - lagi ia menyinggung hati Nadia.
" maafkan aku bu... " lirih Nadia
" sudah- sudah....!!!! Ibu haus"
Tak menunggu lama Nadia segera kebelakang mengambil minuman dan kudapan yang ada didapurnya.
__ADS_1
" rasanya masih hambar,,, sudah berapa kali dikasih tahu cara bikin kue ini. Masih saja rasanya tak pas" omelnya lagi.
" mungkin karena beda tangan yang membuatnya bu. Walaupun satu resep sama ibu tetap saja hasilnya seperti itu" bela Nadia. Ia sudah mulai geram dengan kritikan ibu mertuanya yang sedari tadi terus mengoceh kelemahannya.
" ah kamu bisanya cuma ngeyel "
Nadia tak lagi membantahnya. Ia diam dikeheningan meskipun dalam hatinya bertanya - tanya apa tujuan kedatangan ibu mertuanya.
" ibu mau makan apa untuk makan siang,,, kebetulan aku belum masak kita pesen online saja " setelah keheningan begitu lama Nadia memberanikan diri bertanya.
" kenapa belum masak, apa kerjamu dari tadi?"
" oh iya... Tadi juga Luna nelpon ibu. Katanya hari ini ia akan ketemu sama Radit" ucap ibu mertua seperti merasa puas mengatakan hal itu.
**deeeg!!!*** ada deburan yang dahsyat direlung hati Nadia. Pikirannya melayang dengan berbagai tanya tanpa jawab. "Mungkinkah.....mungkinkah Radit pulang telat karena akan bertemu Luna cinta dimasa kecilnya? Kenapa Luna begitu lugas menlp mertuanya segala buat ketemu Radit? Apakah mereka sekongkol untuk menyakiti hatiku? Atau bahkan mereka merencanakan untuk menyingkirkanku?" begitu bergemuruh hati Nadia karena cemburu dan berakhir curiga.
__ADS_1
Ibu mertuanya tersenyum seolah bahagia melihat sang menantu diam tak berkutik.
" apa Luna tak meneleponmu?" tanyanya penuh selidik. Dijawab dengan gelengan kepala Nadia.
" Radit juga tak cerita akan ketemu sama Luna?" tanyanya lagi seakan ingin memastikan.
" tidak bu ,,, dia cuma bilang akan pulang telat" jawab Nadia mencoba diolesi senyum tipis. Tapi naas sang mertua sudah terlanjur mengetahui gemuruhnya rasa curiga yang ada dihati menantunya.
" begitu ya.... Radit... Radit... Tak disangka kau berani dekat lagi dengan Luna" ucap mertua Nadia seolah memanas -manasi pikiran menantunya. Nadia melihat aroma kebahagiaan dalam wajah mertuanya.
"mungkinkah ia kesini hanya untuk memanas- manasiku? Agar aku cemburu? Agar aku marah? Agar aku terjebak lagi dengan pertengkaran dengan suamiku? Ya Alloh... Apalagi ini... Jangan biarkan hatiku diliputi dengan amarah" jerit batin Nadia.
" biarin saja bu biar mas Radit menilai siapa yang lebih baik antara aku dan teman masa kecilnya" ucap Nadia dengan datar entah bergurau atau karena saking paniknya.
" gimana kalau lebih baik Luna?" tanya sang mertua seolah belum cukup meremukan hati menantunya.
__ADS_1
" manusia itu gak ada yang sempurna.... Baik Luna maupun aku. Aku tahu aku banyak kekurangan tapi Luna juga belum tentu sesempurna seperti dimatA ibu" sindir Nadia.
" sempurnanya perempuan itu bisa melahirkan anak hingga bisa menjadikan rumah tangganya bahagia" ucap sang mertua begitu ketus hingga terlihat begitu keji.