#RAPUH

#RAPUH
episode 4


__ADS_3

" haiii,,, kau Nadia.. tambah cantik saja" sapa Luna pada Nadia entah ikhlas atau sekadar basa basi saja.


" kau juga Lun makin cantik. apa kabarnya ??"


" bisa saja kau memujiku. emmh kabarku baik,,sangat baik" ucapnya dengan senyum mengembang.


" Ayo kita keruang makan. biii... tolong siapin sekarang" ucap ibunya Radit seraya berteriak pada asisten rumah tangganya.


Mereka pun menuju ruang makan. menikmati hidangan yang sudah disiapkan untuk moment kali ini.


" seandainya Radit tak kehilangan bayinya mungkin kalau ada acara kumpul seperti ini akan ramai" celoteh ibunya radit


" pasti akan ada yang kesana kemari,, akan ada yang cerita ini itu" sambungnya lagi.


" buuu" Nadia hanya mampu berucap seperti itu. tangisnya hampir mengalir tapi ia menahannya . apalagi suami yang harusnya membelanya justru bersikap acuh . ditambah lagi melihat tatapan mata Luna yang seolah menghina kelemahannya.


" aku tahu semua itu kesalahanku" ucapnya penuh haru.


" baguslah kau menyadarinya" ucap ibu mertuanya dengan sinis.


" harusnya saat itu kau tak menghadirinya" Ayah Radit ikut nimrung.


" tapi mas Radit yang menyuruh aku untuk datang ke acara itu " Nadia mencoba membela diri.

__ADS_1


" harusnya kau bisa lebih berhati- hati" kata Raditia seraya bangkit dan berlalu meninggalkan meja makan.


" enak bener makanannya tante" ucap Luna seolah tak mendengar perdebatan barusan.


" ayo dilanjut nak Luna. jangan hiraukan kegaduhan tadi. nikmati saja makananmu" ucap ayahnya Radit.


" selamat menikmati" ucap Nadia dan ia pun pergi meninggalkan mereka.


Nadia menuju arah dapur. didapatinya bi asih yang tak lain asisten rumah tangga di rumah ini sedang membereskan dapur . tanpa disuruh Nadia ikut pula membereskannya.


" non jangan,, ini pekerjaan bibi"


" gak apa - apa bi.. aku sudah biasa melakukannya"


" bersabarlah non" ucap bi Asih.


" aku sedang berusaha bi" jawab Nadia.


" mereka kadang tak menyadari keegoisan mereka. bibi salut pada non yang bisa kuat hingga sampai saat ini"


" aku mencintai dan menyayangi mas Radit dalam keadaan apapun bi. mungkin sekarang ia sedang marah tapi nadia berharap ia segera bertawakal atas takdir yang maha kuasa"


" jangan berhenti berdoa untuk semuanya non..."

__ADS_1


" iya bii" jawab Nadia.


Ketika beres pekerjaan didapur ia menuju kamar mereka hendak mencari suaminya yang sejak berlalu dari ruang makan tak lagi dilihatnya. tapi yang dicari tidak ada.


" kau mencari anakku??" tanya ibu Radit


" iya bu. ibu melihatnya??"


" dia sedang ditaman depan bersama Luna" ucap ibu mertuanya seolah memanas- manasinya atau seolah ingin menunjukan kalau keberadaan Luna lebih penting daripada dirinya.


" ohhh,, baiklahhh" ucap Nadia dengan penuh sabar.


" jangan mengganggu mereka. mereka sudah lama tak bertemu"


" ada yang hendak aku sampaikan sama mas Radit bu"


" cukup sebentar saja ya" perintah ibunya


" baik bu"


maka berjalanlah Nadia menuju taman depan . ia mengelus- elus dadanya. menyabarkan hatinya. menyimpan cemburunya. menyimpan semua kepiluan dihatinya. ada yang remuk direlung hatinya. ada yang rapuh dalam jiwanya. tapi ia harus menghadapi semuanya seolah baik - baik saja.


" ibuuuu,,, ayahhhh... maafkan aku" jerit batin Nadia memanggil orang tuanya yang tak pernah tahu kemelut putri semata wayangnya.

__ADS_1


" sabarlahhh,,, jangan emosi.. biarkan mereka,,,, toh mereka cuma teman lama.." hiburnya sambil mengusap mata yang mulai basah.


__ADS_2