
Pertengkaran semakin sering terjadi diantara Nadia dan Raditia. Tak terelakan lagi kerapuhan rumah tangga mereka. Nadia mencoba bertahan dari semua guncangan yang terjadi di kehidupan rumah tangganya. Namun Radit selalu saja mematahkan semua usaha Nadia.
" mas,,, pekan depan bude mayang akan mengadakan pesta pernikahan anak bungsunya, apa mas bisa hadir menemaniku?" tanya Nadia disela obrolan bersama suaminya.
"kapan dia ngabari sama kamu?"
"kemarin ia telphon. Sekalian ngundang kita,,, katanya sudah lama kita tak bertemu mereka. Bude sangat berharap kita bisa hadir . Jarang - jarang kita bisa kumpul sama keluargaku. Apa mas bisa menemaniku?" tanya Nadia lagi.
" lihat nanti. Aku gak bisa janji" jawab Raditia datar
"diusahakan ya mas,,, aku pingin ketemu keluarga besarku"
"kamu maksa banget sih!!"
"aku juga tak pernah mungkir dari undangan keluargamu mas. Aku selalu hadir, meskipun tak semua keluargamu menyambutku hangat . Beda sekali dengan keluargaku yang selalu memperlakukanmu istimewa bahkan sangat istimewa"
"kamu selalu saja membandingkan keluargaku sama keluargamu"
__ADS_1
"bukan membandingkan sih mas ,,, cuma itu kenyataannya. Apalagi setelah aku tak bisa memberimu keturunan,,, keluargamu seolah mengabaikanku, tak lagi peduli padaku"
"terima saja kenyataannya, toh benarkan kau tak bisa memberikan apa yang paling diharapkan oleh keluargaku?!!" bentak Raditia.
"aku tahu mas!!! Aku sadar !!! Tapi bisakah mereka tak memperlakukanku seperti itu!!!"
"apa yang harus keluargaku lakukan padamu nadia??? Untung saja mereka tak menyuruhku menceraikanmu!!! Kamu harusnya bersyukur aku masih bertahan denganmu sampai saat ini. Padahal tak ada gunanya kau bagiku" ucap radit sambil menunjukan telunjuknya ke wajah Nadia.
"kalau begitu lepaskan saja aku mas , jika sudah tak ada gunanya aku dihidupmu!!!"
Nadia hanya menangis. kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang bersimbah air mata. Menyakitkan sekali kerapuhan jiwanya terlihat jelas dihadapan lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
"menangis dan menangis!!!! Selalu saja nangis. Bukannya mikir. aku menyesal... Menyesal harus hidup bersamamu!!!" teriaknya lebih menyakitkan hati Nadia.
Seminggu kemudian, acara nikahan putrinya bude Mayang pun digelar.
"aku tak bisa mengantarmu ke acara bude mayang, pergilah sendiri!" ucap Raditia tanpa menoleh wajah istrinya.
__ADS_1
"mereka akan menanyakanmu mas, alasan apa yang harus aku katakan"
"begitu saja tak bisa, kaya anak TK saja. Jawab saja aku sibuk kerja. Makin kesini kamu jadi makin bodoh!!" gerutu Raditia.
"ini hari sabtu mas. Mereka tahu kantormu libur"
"ahhhh pokonya aku tak ingiin hadir,, aku malas bertemu sama mereka. Kalau masih saja maksa aku lebih baik kamu juga gak usah datang!!!"
Nadia hanya bisa menarik napas panjang. Hancur hatinya . Perlakuan suaminya semakin kasar dan semakin tak menghargainya.
"baiklah,,, aku tak akan memaksamu. Tapi aku akan tetap datang meski tanpa kau temani"
"baguslahhh,,,, tak pulang juga tak apa. Aku justru bisa menikmati waktuku dirumahku sendiri. Seorang diri!!!" ucapnya semakin menunjukan kebenciannya pada sang istri.
Bersiaplah Nadia untuk menghadiri acara Bude Mayang. Ia berdandan secantik mungkin . Ia berusaha menyamarkan bekas - bekas air mata yang hampir tiap hari berjatuhan. Ditatap kembali wajah didepan cermin. dia rasa bayangan wajahnya dicermin masih cantik meskipun tak dipungkiri kini matanyanya penuh kesenduan. Kantung matanya sedikit menggelembung setelah olesan bedak tetap saja jejak tangisan bergelangung disana.
" ayah,,, ibu dan semua keluargaku tak boleh ada yang tahu tentang perjalanan hidupku sekarang. Semangat Nadiaaa,,, jangan ada air mata saat kau sedang bersama keluarga besarmu" ucap Nadia menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1