
Semakin seringlah Nadia kehilangan suaminya tanpa alasan yang jelas. Memberi alasan juga rasanya percuma toh itu hanya kebohongan semata.
" aku tahu mas kali ini kau sering membohongiku. Percuma saja kau cari alasan keterlambatanmu pulang kerja ,, itu hanya alibi saja. Mungkin kau tak menyadarinya kalau aku sudah lama kehilanganmu. Aku saja yang¹ bodoh karena masih bertahan dalam kerapuhan rumah tangga kita" bisik hati Nadia kala suaminya yang baru pulang diwaktu yang begitu larut.
" kau ngantuk???? Tidurlah!!!!" cuma itu yang diucapkan Radit. Tanpa ada kata maaf apalagi pelukan hangat.
Tanpa menjawab Nadia langsung menyelimuti tubuhnya yang kian kurus. Ia berusaha memejamkan matanya walau kantuknya terkalahkan dengan batinnya yang kian meronta.
" Kau tak ikut sarapan?" tanya Radit dipagi ini
" tidak mas,,, mungkin aku akan puasa sunat" jawab Nadia tanpa menatap suaminya
" tumben tak minta izin dulu sama aku"
" lupa. Mas pulangnya terlalu malam jadi aku lupa minta izin. Tapi kau izinin aku puasakan hari ini?" tanya Nadia masih saja menghormati suaminya.
__ADS_1
" masa gak ngizinin . Tentu dong ... Biar aku dapat pahalanya juga" seulas senyum muncul dari bibir Raditia.
" makasih" ucap Luna sambil tersenyum juga
Tibalah waktunya Radit pergi melangkah keluar rumah.
" aku tahu mas.... Beberapa langkah saja kau keluar rumah,,, tak ada lagi aku dihatimu. Aku sadar diri kok... Aku tak bisa memberi apa yang kau impikan. meskipun akhir - akhir ini kau tak uring- uringan, walaupun akhir - akhir ini kau terlihag bersemangat, bahagia, ceria,,, tapi sayang kebahagiaanmu bukan lagi bersamaku. Apakah aku harus mundur secara teratur darimu mas,, apakah aku harus merelakan kau dengan yang lain demi kebahagiaanmu? Sekejam apapun kau padaku aku tak bisa membencimu,,, aku tak bisa tanpa dirimu. Aku terlalu mencintaimu bahkan dirimu yang telah menyakitiku egoku tetap bertahan untuk mencintaimu" ucap lirih Nadia. Tak terasa aliran hangat dikelopak matanya mengalir begitu saja. Ingin berhenti menangis tapi semakin deras uraian bulir bening dipipinya.
Amarahnya meronta,, ingin berteriak sekencang mungkin tapi kewarasan masih ada. Ingin pergi berlari kepelhkan ke dua orang guanya tapi naluri Nadia segera mencegahnya.
Dering tlp mengejutkan Nadia disela tangisannya.
" halooo" suara manis dari sebrang langsung bisa ditebak Nadia.
" haloo" sapa Nadia berusaha tetap Ramah.
__ADS_1
" apa gak keberatan kalau nanti sore aku mau minta dianterin ke dr oleh mas Radit?" tanyanya tanpa basa basi.
" degggg!!!!" rasanya Nadia ingin melemparkan hp yang ada di genggamannya.
"memangnya kau sakit apa?" tanya Nadia sambil menahan napas menahan semua amarahnya.
" tiba- tiba aku pusing, mual - mual. Kepalaku sakit. Kau tahu sendiri disini aku tak ada siapa - siapa. Hanya Radit dan keluarganya yang ku kenal" ocehnya sangat menjengkelkan
" apa mau ku tlp sekalian sama ibu mertuaku biar sekalian mereka mengantarmu ke dr" ucap nadia menyindir lawan bicaranya.
" gak usah. Biar aku saja sama Radit"
" apa kau hendak ke dr kandungan? Gejalamu seperti yang lagi hamil muda" kata Nadia bertahan agar tidak terkesan ketus
" apa????? Gak mungkiiiin!!!!" jawabnya seakan menggertak Nadia.
__ADS_1