
pagi ini aroma sejuk menusuk penciuman nadia, gerimis masih saja menyelimuti suasana, sisa hujan semalam terlihat jelas dijalanan depan rumah yang masih terlihat begitu basah.
" sarapa sudah siap?" tanya radit sedikit mengejutkan Nadia yang masih asyik menyaksikan gerimis.
" sebentar lagi,,, " jawab dia seraya meninggalkan gerimis yang hampir saja tersipu malu karena dilihat Nadia yang begitu anggun mempesona.
Nadia segera beranjak kebelakang. Melihat hal yang ingin ia siapkan untuk sarapan sang suami.
" mas... Sarapan sudah siap. Mari kita makan"
" baiklah" jawab Radit. Tak lama kemudian Radit sudah duduk dikursi makan berhadapan dengan sang istri .
" hari ini aku akan pulang telat" ucap Radit
__ADS_1
" ada lembur dikantor?" tanya Nadia sedikit cemas
" ada sedikit urusan " jawab Radit singkat seolah menggantungkan makna kalimat
" kalau urusan kantor mana bisa aku melarangnya.. Tapi kalau urusan yang tak begitu penting mending langsung pulang. Lumayan hemat tenaga " ucap Nadia sedikit ragu karena jawaban dia bisa saja jadi benih pertengkaran.
" ya penting makanya aku harus meluangkan waktu. Terlepas apa itu urusan kantor atau bukan" jawabnya mulai sedikit tinggi.
" sudah,,, sudah .. Jangan banyak tanya. Yang pasti aku akan pulang telat"
" kalau itu kemauanmu aku hanya berharap kau selalu hati_ hati. Jaga kesehatan, terpenting jaga hati" tutur Nadia seraya berlalu meninggalkan sang suami yang mulai memasang wajah kusut.
Sepeninggal suami Nadia kembali muram. Seperti biasanya segala sesuatu tak ada kejelasan antara ia dan suaminya. Sekarang suaminya akan pulang telat tanpa tahu hendak kemana dulu. Kemarin - kemarin ia membiarkan Nadia pulang dari rumah mertuanya tanpa tahu apa saja yang dilakukannya beserta Luna.
__ADS_1
" hhhhh rasanya aku cape dengan perasaan ini. Seperti ada yang mendongkol dihatiku. Mas Radit selalu menggantungkan tiap persoalan. Apa susahnya ia jujur mau kemana dulu setelah pulang kerja. Alasannya apa hingga harus pulang telat. Tahukah mas... Dirumah ini aku tersiksa seorang diri. Menghadapi sikapmu... Mengahadapi kenyataan pahit kehidupanku... Seandainya....seandainya ...hukhukhukhuk...." jerit hati Nadia seraya ia menangis sesenggukan.
" seandainya aku telah memiliki buah hati... Mungkin aku tak merasa kesepian seperti ini... Seandainya ada anak disampingku mungkin aku bisa mengalihkan rasa kecewa karena sikap mas radit... Ya Alloh... Dosa apa yang sudah ku perbuat hingga ini begitu menyiksaku". Ia menangis sejadi - jadinya. Meratapi kemalangan yang dihadapinya. Semua luka ini mengikis tiap kesabaran yang sudah ia bangun selama ini.
tit...tit....tiiiit...... Suara bel rumah berbunyi beberapa kali. Seakan sang tamu tak bersabar untuk segera bertemu dengan sang tuan rumah. Nadia seakan terperanjat mendengarnya. Ia segera bangkit.... Melirik jam dinding yang sudah menjadi saksi jerit tangisnya siang ini.
" ternyata sudah jam 11" bisiknya pada diri sendiri. Kemudian ia langsung kekamar mandi membasuh muka menghilangkan goresan air mata yang masih membekas di wajah anggunnya. Ia melirik cermin, sebelum menghadapi sang tamu ia harus yakin dulu apakah wajahnya siap bertemu seseorang atau ia pura - pura tak ada.
" mataku masih memerah" lirihnya hampir menangis lagi.
Tit..tiiiiiiit...tiiiiiiit.... Lagi - lagi bel itu berbunyi diikitu ketukan keras dipintu depan. Nadia segera kedepan munuju ruang tamu saat dirinya sudah siap menerima siap yang menjadi tamunya.
" IBUUU..." sapanya saat sudah membuka pintu ruang tamu. Didapatinya sosok ibu mertuanya yang sudah memasang wajah menggerutu karena Nadia telat membuka pintu.
__ADS_1