
"Bagaimana, pak Udin. Besok bisa ya datang ke rumah saya." Pinta bu Mira sambil memasang wajah sendu. Sudah banyak tukang yang menolak bekerja di rumahnya yang sedang direhab.
"Insyaa Allah, bu. Saya nggak bisa janji. Soalnya saya masih terikat proyek." Jawabnya jujur.
"Terus bisanya kapan, pak ? Saya ingin segera mengganti genting dan plafon yang sudah hampir roboh. Saya mohon, pak." Melihat wajah bu Mira yang hampir putus asa akhirnya pak Udin menerima pekerjaan itu. Namun hanya saat dirinya libur bekerja. Yaitu saat hari minggu.
Desas desus rumah bu Mira yang angker memang sudah terdengar sampai ke telinga pak Udin yang kebetulan mempunyai kekuatan batin. Tidak heran banyak tukang yang tidak betah bekerja di sana.
Rumah bu Mira yang mewah memang membutuhkan perawatan ekstra. Apalagi rumah itu adalah rumah peninggalan dari Pak Samsul, bapak kandung bu Mira yang sudah lama meninggal.
Bu Mira sendiri adalah seorang janda kaya yang mempunyai usaha home industri pangan. Salah satunya pabrik tempe yang sudah sangat besar. Dia memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Semua anaknya sudah dewasa.
Anak pertama bernama Bimo, berusia 25 tahun sudah bekerja di Jakarta dan sebentar lagi akan menikah. Anak kedua bernama Budi, berusia 22 tahun, masih kuliah di Yogyakarta.
Sedangkan anak terakhir, Fitri masih duduk di bangku SMA. Hanya dia yang menemani bu Mira sehari-hari.
Hari minggu pun tiba. Dengan membaca bismillah, pak Udin mengayuh sepedanya menuju rumah bu Mira. Karena memang rumah bu Mira tidak jauh dari rumah pak Udin, bahkan masih satu RW.
__ADS_1
Sesampainya di rumah bu Mira, pak Udin langsung disambut oleh sosok hitam tinggi besar dan bermata merah, di depan pagar rumah bu Mira. "Assalamualaikum..." Ucap pak Udin sambil menghela napas panjang.
Sosok lain pun muncul tak lama setelah pak Udin masuk memarkirkan sepedanya. Namun, pak Udin tak menghiraukan dua makhluk itu karena bu Mira datang dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam, ya Allah... ahirnya pak Udin bisa datang, terimakasih ya pak." Ucap bu Mira
"Iya, sama-sama bu. Ngomong-ngomong yang mau direnovasi yang mana, bu ?"
Bu Mira pun mengajak pak Udin masuk ke dalam rumah dan memperlihatkan ruangan yang akan direnovasi.
Entah sudah berapa banyak makhluk yang muncul menyambut pak Udin. Namun, mereka hanya muncul sesaat dan tiba-tiba menghilang begitu saja.
Pak Udin pun mulai bekerja dengan tenang tanpa gangguan dari para makhluk, sampai terdengar suara adzan dhuhur.
PRANK !!!
PRAAKK !!!
__ADS_1
BRUG !!!
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba terdengar suara gaduh di ruang dapur. "Astaghfirullah..." Ucap pak Udin yang kaget mendengarnya. "Ada apa, bu ?" Tanya pak Udin.
"Maaf ya pak Udin, itu biasa kok." Jawab bu Mira sambil meringis memegangi perutnya seperti orang kesakitan.
"Fitri... Fit... Cepat ke sini, nak." Panggil Bu Mira pada anak gadisnya.
"Iya, bu." Fitri pun keluar setengah berlari dari kamarnya dan segera membawakan sesuatu. Entah apa itu, pak Udin tidak bisa melihatnya karena bu Mira berdiri membelakanginya.
Bu Mira yang terlihat sehat ternyata punya penyakit yang entah apa. Dia sudah sering cek up ke dokter bahkan spesialis. Namun jawaban mereka sama bu Mira sehat. Tidak ada penyakitnya.
"Sepertinya bu Mira terkena santet ?" Ucap pak Udin yang membuat dua wanita beda generasi itu sontak menatapnya kaget.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG