(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 2~


__ADS_3

"Sepertinya bu Mira terkena santet." Gumam pak Udin yang masih jelas terdengar ditelinga Fitri dan bu Mira.


"Pak Udin, jangan ngaco kalau ngomong. Ibu cuma sakit perut biasa." Jawab Fitri tidak terima.


"Iya, kelihatannya memang sakit perut biasa. Tapi, kenapa hanya kambuh saat mendengar adzan berkumandang ? Itu aneh." Jawab pak Udin. Sambil beberes hendak meninggalkan rumah bu Mira, tiba-tiba terlihat sekelebat bayangan hitam melintas di belakang bu Mira. "Astaghfirullah..." Ucap pak Udin.


Dengan masih mengelus dadanya Pak Udin melangkah keluar dari rumah bu Mira. Setiap jam makan siang pak Udin akan memilih makan di rumah sendiri. Sehingga nanti jatah uang makannya utuh.


Bu Mira hanya diam mencerna perkataan pak Udin. "Ada benarnya juga yang dibilang pak Udin, Fit."


"Aku nggak percaya hal-hal begituan, bu. Ibu pasti akan sembuh, kok." Jawab Fitri yang memang tidak suka hal-hal berbau mistis.


"Kalau nggak percaya, ya sudah. Saya mau permisi pulang dulu, bu Mira." Ucap pak Udin yang sudah sampai di depan pintu.


"Iya, pak. Nanti jam 1 balik lagi sekalian belikan material yang habis di toko ya, pa." Sambil menyerahkan uang bu Mira mengijinkan Pak Udin pulang.


"Iya, bu. Permisi." Jawab pak Udin.

__ADS_1


Bu Mira merasa kalau pak Udin memiliki indera keenam. Dan sejak itu, bu Mira selalu mengajaknya ngobrol di sela-sela mengerjakan pekerjaannya.


Sudah hampir 3 minggu, pak Udin rutin merenovasi rumah bu Mira. Walau hanya di hari minggu.


Dan selama itu pula pak Udin sudah melihat berbagai penampakan. Selain makhluk hitam tinggi besar bermata merah di depan rumah dan sosok kuntilanak yang mendiami anak tangga.


Ada juga pocong di tiap sudut ruang dapur dan yang paling mengerikan ada siluman ular besar yang mendiami kamar utama. Ular itu melingkari tempat tidur bu Mira dengan kepala ular yang seolah siap mematuk mangsanya.


Pak Udin tidak sengaja melihat ular itu, saat hendak mengambil minum. Kebetulan pintu kamar bu Mira terbuka lebar. Sehingga dengan jelas pak Udin melihat sosok itu.


"Pak Udin, apa bapak bisa mengobati sakit perut saya ?" Tiba-tiba bu Mira bertanya.


"Sebenarnya saya bisa saja menyembuhkan anda, bu. Tapi, sepertinya tidak akan bisa dihilangkan."


"Maksudnya gimana, pa ?"


"Sakit ibu itu adalah sakit non medis. Atau bisa juga sakit kiriman turun temurun."

__ADS_1


"Kalau dibilang sakit keturunan memang sepertinya iya, pak. Dulu sebelum meninggal, almarhum bapak saya juga sakit seperti ini. Sudah berobat kemana-mana tapi tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya meninggal." Dengan memasang wajah sendu bu Mira mengingat almarhum bapaknya.


"Saya hanya bisa bantu bu Mira dengan air ini, bu. Semoga dengan meminumnya bisa meringankan rasa sakit bu Mira." Pak Udin pun menyodorkan botol air mineral yang selalu dibawanya.


"Air apa ini, pak Udin ?"


"Itu air do'a, bu. Insyallah bisa membantu meringankan rasa sakit yang bu Mira rasakan." Bu Mira pun meminum air itu sesuai dengan anjuran pak Udin. Bukannya sakit mereda malah semakin membuat bu Mira kesakitan. Bahkan sampai memuntahkan darah kental.


"Astaghfirullahaladzim..." Teriak pak Udin yang melihat banyak darah dan belatung yang keluar dari mulut bu Mira.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2