(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 11~


__ADS_3

POV Fitri


Aku adalah putri bu Mira satu-satunya, dan aku sebenarnya tau kalau rumahku ini banyak lelembut dari segala jenis. Ya, aku tau dari kakakku dan kesaksian tetangga. Walau, aku tidak pernah diganggu sama mereka selama ini.


Dari dulu ibu selalu mengeluh sakit di perutnya, ku kira itu hanyalah sakit lambung atau pencernaan lainnya. Makan apapun beliau tidak pernah selera. Bisa makan banyak saja rasanya Alhamdulillah. Namun, selama ini ibu hanya makan secukupnya bahkan kurang dari kategori kenyang untukku.


Dan setelah mengenal pak Udin, sakit ibu semakin parah, walau setelah diberi air yang katanya sudah diberi doa, ibu merasa baikan dan enteng.


Sudah beberapa kali ibu selalu ke rumah pak Udin untuk meminta air doa. Setelah kejadian diluar nalar yang pernah aku saksikan.


Waktu itu, selesai menunaikan ibadah sholat magrib, aku ingat akan mengantar ibu ke rumaj pak Udin. Aku pun keluar dan menuruni anak tangga. Aku terkejut melihat ibu kesakitan yang amat sangat. Bahkan dadanya merasakan sesak.


"IBU !!" Aku teriak kencang sambil menghampiri ibu yang tergeletak lemah.


"Da-da ibu sesak banget, Fit." Keluhnya. Hal itu membuatku semakin bingung dan gelisah. "Cepat... telfon pak Udin, suruh dia kesini !"


Tanpa pikir panjang aku cari ponsel ibu dan mulai mencari nama pak Udin. Ku dengar ibu mulai batuk-batuk dan melenggang ke dapur dengan sedikit tertatih.


"Lama banget sih pak Udin, nggak angkat telfonnya." Gumamku sambil memperhatikan ibu yang tengah berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Haloo..."


"Hallo, pak Udin. Ini Fitri. Tolong ke rumah ya, pak. Ibu sakit. Segera ya pak. Tolong !"


"I-iya, insyaallah saya ke sana." Jawab pak Udin yang kelihatan panik juga di seberang telepon.


Aku pun memutuskan sambungan telefon dan menyusul ibu ke dapur.


Deg !!


"Astaghfirullah... ibu !!" Aku terkejut melihat wastafel yang penuh darah dan ada beberapa paku yang sudah berkarat di sana. Aku tak kuasa melihat semua itu dan langsung aku siram dengan air mengalir.


Hah ?!


Aku tidak bisa bicara banyak lagi. Aku hanya tidak habis pikir pada orang yang berbuat jahat pada ibuku. Sebenarnya ada apa ? Kenapa ibuku yang jadi korban ?


Selang 10 menit, pak Udin datang. Dan aku persilahkan masuk ke dalam. Pak Udin melihat sekeliling rumah dengan tatapan menelisik. Hampir setiap sudut rumah dan ruangan dia lihat sambil menggerakkan mulutnya. Entah apa yang dibacanya.


Ku lihat keadaan ibu sudah lebih baik walau masih sedikit sesak di dada. Lalu aku melangkah ke dapur untuk membuat minuman.

__ADS_1


"Gimana bu Mira ? Masih sakit ?" Tanya pak Udin.


"Masih pak, walau tidak sesakit tadi." Jawab ibu sambil memegang perutnya. "Apa ada cara mengobati saya, pak Udin ? Tadi ..." Ucapan ibu terputus saat aku kembali membawa air teh untuk mereka.


"Tadi kenapa, bu ?" Tanya pak Udin yang penasaran. Aku pun duduk disebelah ibu setelah menyajikan teh di meja.


"Tadi ibu batuk terus keluar darah, bahkan ada beberapa paku yang keluar dari mulut ibu, pak Udin." Jawabku sambil menunduk.


"Astaghfirullahal adzim..." Gumam pak Udin yang masih jelas ku dengar. "Saya sebenarnya punya teman yang bisa membantu, tapi kalau bu Mira mau, nanti saya antar ke sana untuk berobat."


Terlihat ibu sangat sumringah mendengar kabar itu. Ada harapan sembuh untuk ibu jika bisa berobat ke sana.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2