
Malam menjelang, terdengar sayup suara adzan magrib. Dan lagi, perut bu Mira merasa nyeri, seperti ada benda bergerak dari kiri ke kanan. Saat diraba, bu Mira semakin merasakan kesakitan Hingga adzan selesai berkumandang, benda itu kembali lagi bergerak ke perut bagian kiri.
"Ibu ... ini diminum obatnya." Ucap Fitri sambil memberi obat dan air minum.
"Makasih, ya Fit." Bu Mira lantas meminumnya. "Oia, coba kamu telfon mas Bimo. Udah lama dia nggak kasih kabar."
"Mas Bimo tadi cuma kirim pesan, bu. Katanya dia mau pulang minggu depan sama calonnya."
"Calon ? Calon apa maksudnya ?"
"Nggak tau, calon pacar atau calon istri. Ya mungkin calon istrinya kali, bu."
"Coba, kamu telfon lagi mas Bimo. Ibu mau ngomong."
"Lah, kenapa nggak ibu aja sih. Aku mau pakai HP ku buat ngerjain tugas."
"HP ibu lagi nggak ada pulsa. Lupa beli."
"Makanya bu, ganti HP nya. HP udah jelek begitu masih dipakai aja." Kata Fitri yang memang HP bu Mira adalah ponsel jadul yang hanya bisa untuk telfon dan sms.
__ADS_1
"Buat apa beli yang baru, kan punya kamu ada." Walau orang kaya, bu Mira tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi. Bu Mira adalah orang yang sederhana. Baginya selama masih bisa dipakai dia tidak akan membeli yang baru. Contohnya ya HP jadulnya itu.
Ternyata benar, Bimo akan pulang dan mengenalkan calon istrinya yang berasal dari Jakarta.
***
Seminggu kemudian...
Bimo dan calon istrinya sampai di rumah bu Mira. Baru juga menginjakkan kakinya ke dalam rumah, tiba-tiba calon istri Bimo pingsan tak sadarkan diri.
"Astaghfirullah... Winda." Seru Bimo yang terkejut dan langsung melepaskan barang bawaannya.
"Loh, kenapa Winda, Bim ? Kok bisa pingsan ?" Tanya bu Mira.
"Ya sudah, cepat bawa ke kamar tamu dulu." Bimo pun membopong badan Winda ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Tak lama Winda pun sadar setelah diberi minyak kayu putih oleh bu Mira. "Kamu nggak apa-apa ? Apa kamu lelah atau ada yang sakit ?" Tanya Bimo khawatir.
"Aku nggak apa-apa, mas. Tadi aku sempat melihat hantu, mas." Terang Winda, dan seketika membuat Bimo dan bu Mira saling bertatapan.
__ADS_1
"Hantu ? Jangan ngaco kamu, ini masih siang loh. Mana ada hantu ?" Jawab Bimo mencoba mengalihkan. Sebenarnya Bimo juga tau kalau rumahnya memang angker. Dia juga dulu sering melihat sosok pocong di dapur rumahnya.
Setelah lulus SMA dia memilih langsung bekerja dan merantau ke Jakarta sambil kuliah. Dia sebenarnya memilih merantau karena tidak betah tinggal di rumahnya sendiri.
Bukan karena rumahnya angker. Tapi memang ada perasaan aneh yang membuatnya tidak betah dan tidak nyaman tinggal di rumah mewahnya.
"Beneran, mas. Aku nggak bohong. Tada ada sekelebat hitam jalan ke kamar itu. Setelah ku lihat lagi sosok itu muncul dengan mata merahnya. Makanya aku pingsan tadi. Aku takut banget mas." Jelas Winda sambil memasang wajah ketakutan.
"Sudah, kamu istirahat saja disini. Kamu pasti kecapekan. Makanya sampai melihat yang aneh-aneh." Jawab Bimo menenangkan.
"Benar kata Bimo, mendingan nak Winda istirahat dulu, pasti capek habis perjalanan dari Jakarta." Tutur bu Mira.
"Maaf ya, bu. Saya jadi ngerepotin ibu." Jawab Winda tidak enak hati. Bimo dan bu Mira pun meninggalkan Winda sendiri di dalam kamar. Namun, bukannya istirahat Winda masih terbayang bayang akan sosok hitam itu. Dia pun tidak bisa tidur.
Ketika hendak memejamkan mata, tiba-tiba jam dinding di kamar terjatuh sendiri hingga pecah. "AAAAAHHHKKK ... !!! MAS BIMO !!"
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.