
Lagi, bu Mira merasakan kesakitan yang luar biasa di perutnya yang rata. Ya, bu Mira memang seorang wanita berbadan kurus layu. Walau dia termasuk orang kaya yang terjamin akan makanan dan minuman, namun bu Mira memiliki badan yang kurus.
Mau makan banyak ataupun sedikit, makan enak dan mahal sekalipun tidak ada gunanya. Tubuh bu Mira tidak bisa menyerap makanan dengan baik. Tidak heran tubuhnya sangat kurus.
Semua orang kaget dan bingung melihat bu Mira yang kesakitan. Pak Udin pun meminta pak Karyo untuk memanggil bantuan ke tetangga. Sementara itu, pak Udin mengambil air putih dan membacakan doa-doa.
"Ini bu, diminum dulu airnya." Ucap pak Udin seraya memberikan segelas air. "Baca bismillah, bu." Sambungnya."
Tak lama pak Karyo datang dengan bu Romlah dan bu Indah. "Bagaimana bu Mira... apa perlu kami bawa periksa ke dokter ?" Tanya bu Romlah.
"Nggak usah, bu. Terima kasih. Alhamdulillah... Saya sudah baikan." Jawab bu Mira. "Terimakasih ya pak Udin." Lanjutnya.
"Lebih baik bu Mira istirahat saja bu. Mari saya papah ke kamar." Saran bu Indah sambil memapah bu Mira ke dalam kamar.
Seminggu berlalu...
Taman dibelakang sudah hampir selesai. Walau setiap hari ada saja gangguan aneh. Namun, karena demi kebutuhan, Pak Udin, Pak Karyo dan Pak Iwan pun, mau tak mau tetap bekerja profesional. Selagi mereka tidak menampakkan dirinya.
"Ibu mau kemana ?" Tanya Fitri yang melihat ibunya sudah rapi sambil membawa tas kecil.
__ADS_1
"Ibu mau ke rumah pak Udin. Yuk, kamu juga ikut. Anterin ibu." Ajak bu Mira.
"Mau apa, bu ? Tumben ke rumah pak Udin."
"Ibu mau minta air doa. Ibu merasa enakan kalau minum air doa dari pak Udin."
"Ibu ini aneh. Jaman gini masih percaya begituan. Kalau sakit ya minum obat bu. Periksa ke dokter. Bukan ke dukun."
"Hush, kalau ngomong itu yang bener. Pak Udin bukan dukun. Dia cuma bacain doa buat ibu."
"Ya sama aja, lagian ibu tau nggak doa apa yang dibaca pak Udin ? Jangan-jangan itu mantra jampi-jampi lagi. Nggak ah."
"Kebetulan aja kali itu, bu."
"Tapi ibu udah 2 kali loh, dikasih air putih itu sama pak Udin."
"Tau ah... Fitri mau mandi dulu udah sore."
"Ya sudah, habis mandi kamu anterin ibu, ya Fit." Fitri hanya menjawab dengan anggukan. Mau tak mau dia harus menuruti kemauan ibunya. Di dalam hati, Fitri juga penasaran dengan air putih yang dibacakan doa itu.
__ADS_1
Selepas sholat magrib, bu Mira kembali merasakan sakit di perutnya. Namun, kali ini dadanya juga terasa sesak dan sulit untuk bernafas.
"Ya Allah... kenapa sesak sekali dadaku ?" Gumam bu Mira sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. "Fitri... Fit... Fitri... Hah... hah..." Sambil tersengal-sengal bu Mira memanggil anakknya yang sedang berada di lantai 2.
Namun, karena suara bu Mira sangat lirih, Fitri tidak mendengar panggilan ibunya. "Ya Allah... tolong hamba..." Sambil meraih air minum di atas nakas bu Mira beristighfar sebisanya.
Rasa sesak di dada semakin sakit seperti ditusuk-tusuk jarum ditambah lagi sakit di perutnya. Karena tidak tahan, bu Mira akhirnya jatuh tersungkur hingga.
PRANKK !!!
Fitri yang kebetulan sedang menuruni tangga kaget mendengar ada suara benda yang pecah.
"IBU !!!"
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG