(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 3~


__ADS_3

Pov Bu Mira


Mataku terbelalak melihat banyak darah dan belatung yang keluar dari dalam perutku setelah meminum air dari pak Udin. Baru kali ini aku muntah darah hingga mengeluarkan hewan kecil menjijikan itu. "Apa benar aku terkena santet ?" Batinku berkata.


"Astaghfirullah... bu Mira nggak apa-apa ?" Tanya pak Udin yang terlihat sangat cemas.


"Fitri... Fitri..." Ku panggil anak perempuanku itu dengan suara bergetar.


"Iya, ada apa bu." Jawabnya sambil berlari kecil menghampiriku. Dia pun terperangah melihat yang terjadi. "Ya Allah ... kenapa bisa begini ? Pak Udin, ibu kenapa ?"


"Tadi ibu minum air dari pak Udin, terus ibu muntah." Jawabku sambil memegangi perut dan mengelap sudut bibirku. Tiba-tiba aku kembali mual dan memuntahkan darah sampai beberapa kali.


"Pak Udin... pak Udin harus tanggung jawab !!" Teriak Fitri. Namun, pak Udin hanya menghela napas panjang dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Tenang dulu, mbak Fitri ... itu efek dari air doa tadi. Mbak sama ibu nggak usah khawatir. Nanti kalau sudah keluar semua, bu Mira akan baikan." Jelas pak Udin panjang lebar.


***

__ADS_1


Memang benar, perutku merasa lebih enakan setelah muntah darah. Namun, ketika malam menjelang tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutku. Entah apa itu aku tidak tau.


"Apa di dalam perutku masih ada belatung ?" Gumamku lirih. Namun, segera kutepiskan perkataanku tadi. Aku tidak mau berpikiran negatif. "Aku pasti sembuh." Batinku berkata.


Ku ambil air wudhu saat adzan Maghrib berkumandang. Lalu, tidak lupa ku ajak Fitri untuk sholat berjamaah.


Selepas sholat aku duduk bersama Fitri di depan televisi. "Ibu, sudah baikan ?" Tanya Fitri yang menatapku khawatir.


"Sudah lebih baik. Benar kata pak Udin. Ibu sepertinya terkena kiriman."


"Haduh ibu, jangan ngomong yang aneh-aneh. Ini sudah malam." Jawab Fitri yang masih meragukan ucapan pak Udin.


"Bisa aja pak Udin yang buat ibu begitu, kan." Sela Fitri. "Coba aja tadi siang ibu tidak minum air punya pak Udin. Ibu nggak akan muntah darah begitu." Sambungnya.


"Iya, sih. Tapi, setelah itu badan ibu merasa enteng, nggak mual lagi, Fit."


"Beneran ibu nggak mual-mual lagi ? perut ibu nggak sakit lagi ?" Tanya Fitri lagi yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala pasti.

__ADS_1


"Ibu malah punya rencana minta dikasih air do'a itu lagi."


Sejak kejadian muntah darah tadi siang, kejadian aneh mulai ku rasakan. Bukan hanya barang-barang yang jatuh sendiri seperti sebelumnya. Namun, kali ini aku mendengar suara aneh, walau terdengar sangat lirih. Aku tau itu suara kuntilanak.


Tepat pukul 03.00 dini hari, aku terbangun dari tidurku. Karena tidak bisa tidur lagi, aku putuskan untuk sholat malam. Saat melangkahkan kaki ke luar kamar, aku melihat sosok putih dengan rambut panjang terurai.


"AAAAHHHHKKK !!!" sontak aku pun teriak dan kembali masuk ke dalam kamar. Tidak lupa aku menguncinya dan beringsut naik ke tempat tidur. Suara tawa kuntilanak itu terdengar lagi.


Lalu, ku lafalkan doa-doa yang ku bisa hingga tak terdengar lagi suara tawa mbak kunti. "Ya Allah... lindungilah hamba dan keluarga hamba." Ucapku lirih.


Benar yang dikatakan orang, rumahku memang angker. Selama ini aku tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri makhluk-makhluk itu. Baru kali ini aku melihatnya terang-terangan.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2