
Pagi harinya, bu Mira terbangun sambil melihat sekeliling kamarnya yang sudah terang benderang. Dia sedikit terkejut karena jam telah menunjukkan pukul 6.30, dengan kata lain dia melewatkan sholat subuh.
"Astaghfirullah... sudah jam segini." Gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur.
Setelah mencuci wajahnya, bu Mira melangkahkan kakinya menuju kamar Fitri yang ada di lantai atas. Dia teringat kejadian semalam dimana ada kuntilanak yang berdiri ditengah-tengah anak tangga.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, bu Mira membaca doa sebisanya dan menaiki anak tangga. "Fitri... bangun nak. Udah siang !!" Panggil bu Mira sambil sesekali mengetuk pintu.
"Iya, bu. Fitri udah bangun. Ini lagi dandan !" Jawab Fitri tanpa membuka pintu.
"Ya, sudah. Ibu mau ke depan dulu beli sarapan." bu Mira pun meninggalkan rumah sambil tergesa-gesa.
Sesampainya di warung bu Romlah, dengan segera bu Mira memesan dua nasi bungkus beserta lauknya. Kebetulan warung bu Romlah sudah agak sepi pembeli. Hanya ada dua orang yang masih mengantri.
"Eh, bu Mira... tumben bu Mira beli sarapan. Kesiangan ya bu ?" Tanya bu Romlah basa-basi.
"Iya, bu. Tadi malam sempat bangun terus ketiduran lagi."
"Dengar-dengar, pak Udin jadi tukang di rumah bu Mira ya ?" Tanya bu Erna yang tengah mengantri.
__ADS_1
"Iya, saya lagi rehab rumah bu. Ada yang bocor sama ada yang sudah lapuk."
"Oh... gitu. Kok cuma pak Udin sendirian bu ? Kenapa nggak ada temennya ?" Sambung bu Romlah.
"Iya, bagaimana ya, nggak ada yang bisa bantuin. Itu aja pak Udin bisanya cuma hari minggu."
"Ya iyalah bu ibu, nggak ada yang mau jadi tukang di rumah bu Mira. Kan banyak hantunya." Celetuk bu Indah asal ceplos.
"Hush... kalau ngomong dijaga !" Tegur bu Romlah.
"Lah, emang bener kok, bu. Aku pernah liat dengan mata kepala sendiri. Ada pocong di belakang rumah bu Mira." Tegas bu Indah.
Bu Mira hanya tersenyum pahit mendengar celotehan ibu-ibu itu. Memang bu Mira sudah sering mendengar semua itu. Tapi dianggap sebagai angin lalu. Karena dirinya sendiri tidak pernah melihatnya.
Baru tadi malam bu Mira melihat penampakan itu, namun bukan pocong seperti yang diceritakan bu Indah tapi kuntilanak. Selama mereka tidak menggangu dirinya dan keluarga, bu Mira betah-betah saja menempati rumahnya.
Sedari kecil memang bu Mira hanya diganggu lewat kesehatannya saja. Tidak sampai diperlihatkan wujud makhluk-makhluk itu. Seperti sakit perut, tidak bisa makan, tidak bisa tidur, atau kadang sampai muntah darah seperti tempo hari.
Namun, sejak mengenal dan kedatangan pak Udin di rumahnya, barulah bu Mira merasakan keanehan dirumahnya. Bahkan sampai melihat penampakan.
__ADS_1
Siapa yang tidak takut melihat penampakan. Hampir semua orang pasti takut. Begitu juga bu Mira yang baru pertama kali melihat penampakan itu.
Sepulang dari membeli sarapan. Bu Mira dikagetkan oleh teriakan dari dalam rumah. "AAAAAHHHHKKKK !!!!!" Jeritan itu terdengar sangat keras sampai keluar rumah.
"Ya Allah... Fitri !! Fitri !!" Panggil bu Mira sambil berlari ke dalam rumah.
"Ada apa, bu ? Kok teriak-teriak ?" Jawab Fitri heran, melihat ibunya tiba-tiba masuk sambil histeris memanggil namanya. Padahal Fitri sedang memakai sepatunya di depan tv.
"Loh, tadi kamu teriak kenceng banget, Fit. Ibu kira kamu kenapa-kenapa."
"Hah ?!" Fitri hanya bengong mendengar penuturan ibunya. "Kapan aku teriak, bu ?"
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1