(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 12~


__ADS_3

Sepulang dari berobat, bu Mira terlihat agak pucat. Walau begitu, bu Mira nampak lega karena sudah tau akar permasalahan yang dihadapi.


"Pak Udin, tolong bantu saya menyiram air ini ya, pak. Saya masih lemas."


"Insyaallah, bu. Nanti saya bantu yang dibelakang."


"Iya, makasih ya pak. Semoga nanti acara pernikahan Bimo berjalan lancar."


"Lalu, bagaimana dengan semua lelembut yang ada disini, bu ?" Tanya Fitri.


"Saya nggak bisa mengusir mereka, bu. Maaf." Jawab pak Udin. "Kalau begitu saya ke belakang dulu, bu." Sambungnya.


"Ya, mau bagaimana lagi. Kita belum menemukan orang yang lebih pintar." Jawab bu Mira. "Yang penting ibu sekarang merasa lebih baik juga sudah bersyukur."


"Sebenarnya ada dendam apa diantara ibu dan keluarga paman ?" Tanya Fitri selepas kepergian pak Udin ke belakang rumah untuk memercikkan air doa.


"Masalah warisan." Jawab bu Mira singkat. "Biasalah, kalau orang tamak pasti apapun akan dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan."


Sebenarnya sakit bu Mira adalah sakit turun temurun. Dimana dulu sakit ini ditujukan dan diderita oleh kakek buyut bu Mira dan turun ke anak cucunya. Sakit ini adalah sakit non medis atau kiriman dari musuhnya yang tidak lain adalah keluarganya sendiri.


Dulu mereka tega mengirim santet dan lelembut untuk mengganggu kakek buyut bu Mira hingga meninggal dunia. Sampai sekarang kiriman itu masih bersemayam dan kini jatuh ke bu Mira.

__ADS_1


Fitri pun sedikit ketakutan, jika suatu saat nanti kakak ataupun dirinya akan menjadi sasaran berikutnya.


"Fitri jadi takut, bu. Kalau ibu nanti.... amit-amit..." Ucap Fitri sambil mengetuk meja beberapa kali. "Terus Fitri yang jadi sasaran berikutnya gimana, bu ?" Tanya Fitri sambil menangis.


"Haaah... ibu juga khawatir sama kalian semua. Ibu nggak mau kalian merasakan apa yang ibu rasakan. Cukup sampai di Ibu saja."


"Hihihihi......hihihihi...."


Terdengar suara kuntilanak yang menggema di ruang keluarga. Tidak hanya itu, ada beberapa benda yang jatuh ke lantai dan suara langkah kaki yang tengah berlarian.


"Astaghfirullahaladzim..." Jawab Fitri dan bu Mira bersamaan.


"Bu..." Fitri merintih ketakutan sambil merangkul lengan bu Mira.


"IYA BU !!!" Jawab pak Udin sambil teriak karena masih di belakang rumah. "Ada apa, bu ?" Jawab pak Udin setelah masuk kembali ke ruang keluarga.


"Tadi ada suara kuntilanak, pak." Jawab Fitri.


"Oh, iya tadi di luar juga ada suara itu." Ucap pak Udin enteng. "Tadi habis saya siram pake air doa. Mungkin dia kepanasan." sambungnya lagi.


"Terus gimana ? Apa bisa diusir aja ?" Tanya bu Mira.

__ADS_1


"Maaf bu, sepertinya mereka tidak mau pergi dari sini. Tapi, tadi saya sempat bicara sama mereka. Ya, mudah-mudahan tidak mengganggu pas acara pernikahan mas Bimo."


"Ya, mau bagaimana lagi kalau mereka sudah betah tinggal disini." bu Mira pasrah dengan keadaan.


"Ini sisa air doanya. Nanti ditambah sama air lagi bu, biar nggak habis." Ucap pak Udin.


"Iya, pak. Makasih sudah bantu saya." Pak Udin pun berpamitan pulang karena hari sudah mau masuk waktu magrib.


***


Acara pernikahan Bimo dan Winda pun digelar sederhana dengan mengundang para tetangga. Walau sedikit khawatir, bu Mira selalu berdoa semoga acaranya berjalan dengan lancar. Beruntung tidak ada gangguan atau semacamnya.


Namun, sehari sebelum acara pernikahan dimulai ada satu kejadian aneh. Bu Romlah yang tengah memasak bersama ibu-ibu yang lain untuk acara selamatan terkejut bukan main.


"Ya Allah... bau banget ini..." Betapa terkejutnya bu Romlah melihat banyak belatung di atas nasi yang baru saja dia masak.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2