
"Nggak tau, kok berat banget, ya ?" Tanpa mereka sadari motor matic bu Mira di duduki oleh sosok tinggi besar berwarna hitam. Sorot matanya berwarna merah menyala dan mempunyai gigi taring yang panjang dan tajam.
"AAAAAKKKKHHH ... SETANNNN !!!" teriak seorang anak laki-laki yang sedang lewat depan rumah bu Mira. Tanpa banyak kata, anak laki-laki itu langsung lari terbirit-birit sambil menyingkap sarung yang dikenakan.
"Dia kenapa, mas ? Kok teriak-teriak ?" Tanya Winda heran.
"Setan dia bilang ?" Batin Bimo sambil melihat ke sisi kanan dan kirinya. "Hmm.. sayang. Kita nggak usah pergi jalan-jalan, ya. Besok aja gimana ? Udah mau magrib juga." Jelas Bimo sambil turun dari motor.
"Yah... kenapa mas ? Masih jam 5 ini." Winda pun berdecak. " Ya udah deh, mas." Winda pun menurut walau agak ngambek. Motor matic pun dibiarkan di depan rumah.
***
Selama tiga hari berturut-turut, Winda merengek meminta balik ke Jakarta pada Bimo. Dia merasa tidak betah karena selalu diganggu beberapa lelembut.
Dan hari ini memang jadwalnya mereka kembali ke Jakarta untuk bekerja.
"Kami pamit dulu, ya bu." Winda menyalami tangan bu Mira takzim.
"Hati-hati, di jalan ya. Maaf ibu nggak bisa antar sampai stasiun. Ini ibu titip oleh-oleh buat keluarga di Jakarta."
"Waduh... makasih ya bu."
"Bimo berangkat ya, bu... Fitri...Jaga ibu di rumah, ya. Mas berangkat dulu."
"Iya, mas hati-hati di jalan." Sahut Fitri.
__ADS_1
Selepas keberangkatan Bimo dan Winda, bu Mira pun kembali ke dalam kamar. Sementara Fitri menonton TV di ruang tengah.
Tidak lama bu Mira keluar dengan membawa sesuatu. "Fitri." Panggil bu Mira.
"Kenapa bu ?"
"Ini ibu ada beberapa perhiasan. Nanti kamu jual ya. Buat persiapan nanti Mas Bimo nikah."
"Kenapa di jual, bu ?"
"Ya buat jaga-jaga, aja. Siapa tahu mas Bimo butuh dana lebih."
"Iya udah, ibu simpan aja. Nanti kalau udah deket baru di jual."
"Ibu juga mau benerin pagar keliling dibelakang. Kayaknya agak miring takut roboh."
"Ya, ibu baru lihat-lihat kemarin sama mas Bimo. Dilihat-lihat kok temboknya miring. Jadi ya ibu baru mau benerin."
"Terserah ibu aja lah." Jawab Fitri sambil kembali menonton TV.
***
Kebiasaan orang kampung kalau mau mengadakan hajatan pasti mempercantik rumah. Rumah yang sudah cantik pun ingin lebih dipercantik.
Begitu juga dengan bu Mira janda kaya yang akan menikahkan putranya Bimo. Dia pun memanggil tukang untuk merenovasi rumahnya yang sudah mewah itu agar lebih mewah lagi. Diantaranya ada pak Udin.
__ADS_1
Segala persiapan mulai dikerjakan bu Mira.
"Pak Udin, tolong nanti dibelakang dibuat taman aja kayaknya bagus. Daripada terlihat monoton begitu. Tanaman liar di sudut-sudut rumah juga tolong ditebas aja biar terlihat rapi, ya pak." Jelas bu Mira.
Bagian belakang rumah bu Mira memang kurang terawat, banyak tanaman liar yang tumbuh subur menambah kesan angker dan kumuh. Bu Mira ingin ada taman di belakang supaya bisa menikmati suasana santai.
Hajatan digelar nanti juga pasti akan banyak orang yang membantu memasak dibelakang rumah. Istilahnya sinoman dan bisa diartikan membantu tuan rumah yang mengadakan hajatan. Ada yang memasak, menyiapkan minuman, jajanan, dll.
Pak Udin dan pak Iwan pun mulai membereskan rumput liar disekitar agar lebih leluasa dalam bekerja. Dengan menggunakan cangkul dan sabit mereka membersihkan tanaman itu dengan cekatan.
Namun, tiba-tiba pak Iwan terjatuh dan pingsan setelah membabat habis rumput liar itu.
"Astaghfirullah... pak Iwan !" Jerit pak Udin.
.
.
.
BERSAMBUNG
Maaf semuanya, karena kesibukan di dunia nyata author lama update nya.
Ada pengalaman nggak enak juga saat menulis cerita ini.
__ADS_1
Semoga kalian selalu setia menunggu ya.
🙏🙏🙏🙏