(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 9~


__ADS_3

POV PAK UDIN


Hari ini bu Mira memintaku kembali bekerja di rumahnya. Kebetulan aku sedang tidak bekerja di proyek karena ada masalah antara bos dan mandor. Aku pun menerima pekerjaan itu karena sedang menganggur dan butuh uang untuk sekolah anak-anak ku.


Sebetulnya aku tidak takut dengan beberapa makhluk halus di rumah bu Mira. Namun, selagi mereka tidak macam-macam, aku juga tidak akan macam-macam dengan mereka.


Kulihat rumah bu Mira yang mewah itu sambil membaca doa-doa. Aku langkahkan kakiku masuk ke dalam rumah besar itu. Dari luar aura rumah bu Mira terlihat sangat hitam. Hawa rumahnya pun sangat tidak nyaman untuk di huni.


Ku lihat sudah ada beberapa orang yang akan membantu bekerja di sana. Ada pak Iwan dan pak Karyo.


Kami pun mulai bekerja membersihkan tanaman liar di belakang rumah. Bu Mira ingin membuat taman minimalis.


"Bismillahirrahmanirrahim." Gumamku sambil membabat tanaman liar di sekitar pagar belakang rumah.


Tak berapa lama, pak Iwan tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri. "Astaghfirullah... pak Iwan !" Teriakku tertahan.


"Ada apa pak ?" Tanya pak Karyo yang tengah membawa semen. Pun kemudian dia letakkan semen itu dan menghampiri kami.


"Ng-nggak tau, tiba-tiba pingsan." Jawabku sekenanya.

__ADS_1


"Ya Allah... bu Mira !! bu..." teriak pak Karyo sambil masuk ke dalam rumah memanggil bu Mira, lalu tak lama kembali.


"Pak Iwan kenapa, pak Udin ?" Tanya pak Karyo sambil membantu pak Udin menggotong tubuh pak Iwan.


"Nggak tau, pak." Kataku menutupi hal sebenarnya. Ya, aku tau pak Iwan kesambet lelembut saat membabat tanaman merambat itu. Entah makhluk apa, aku kurang jelas melihatnya. Hanya sekelebat bayangan hitam yang sempat merasuki pak Iwan.


Bu Mira pun keluar karena mendengar keributan yang kami buat. "Ada apa ini ? Pak Iwan kenapa ?" Tanya bu Mira yang terlihat syok.


"Kayaknya kesambet, bu." Jawabku akhirnya jujur.


"Tolong pak Iwan ya, pak." Pinta bu Mira padaku dan hanya bisa ku jawab dengan anggukan kepala.


"Saya minta air putihnya ya, bu." Tak lama aku pun membawa air putih dan segera aku bacakan doa-doa. Setelah selesai aku pun memercikkan air pada wajah pak Iwan beberapa kali.


"Alhamdulillah..." Ucapku lirih. Ku lihat tatapan mata pak Iwan kembali normal lagi. Namun, justru bu Mira tiba-tiba merasakan sakit yang sangat perih pada perutnya.


"Ya Allah... sebenarnya ada apa di rumah bu Mira. Kenapa banyak keanehan-keanehan yang muncul." Batinku mulai tak nyaman.


"Fitri... Fitri...!!" Panggil bu Mira sambil merintih kesakitan.

__ADS_1


Kami bertiga pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa melihat bu Mira yang kesakitan. Bu Mira sampai lupa kalau Fitri sudah berangkat ke sekolah.


"Gimana ini pak Udin ?" Tanya pak Karyo kebingungan.


"Tolong panggilkan tetangga pak. Bu Romlah atau siapa di depan." Usulku yang langsung disetujui pak Karyo. Dia pun bergegas keluar rumah mencari bantuan.


Sementara pak Iwan masih lemas, juga hanya bisa diam membisu. Aku pun kembali membawa air putih dan ku bacakan doa-doa. Setelah selesai ku berikan air itu pada bu Mira.


Tepat saat pak Karyo kembali bersama bu Romlah dan bu Indah. Bu Mira telah menghabiskan air doa tadi.


"Bagaimana bu Mira... apa perlu kami bawa periksa ke dokter ?" Tanya bu Romlah.


"Nggak usah, bu. Terima kasih. Alhamdulillah... Saya sudah baikkan." Jawab bu Mira. "Terimakasih ya pak Udin." Lanjutnya.


Semua orang merasa kebingungan dan heran. Bagaimana bisa bu Mira yang tadi kesakitan bisa sembuh dengan cepat.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2