
Bu Romlah yang baru saja selesai menanak nasi terkejut melihat begitu banyak belatung di atas nasi yang masih mengepul. Takut, jijik, dan juga ngeri dirasakan bu Romlah.
Bu Indah yang sedang memasak rendang pun turut merasakan mual yang hebat setelah melihat belatung itu. "Bu, dibuang saja nasinya !" Ucap bu Indah seraya menutupi hidungnya dengan kerudung.
"Tapi gimana buangnya ?" Bu Romlah kebingungan.
"Minta tolong bapak-bapak di luar saja, bu." Akhirnya bu Romlah pun meminta tolong Deden yang tengah memasang tenda di depan rumah.
Bu Mira nampak kebingungan dan bertanya tanya, ada apa di belakang. Dia pun segera menghampiri bu Romlah dan yang lainnya. "Ada apa ini ?" Tanya bu Mira. "Itu apa ?!" Sambungnya terkejut melihat nasi yang dipenuhi belatung tengah dibuang ke dalam kantong plastik besar.
"Bu, maaf. Kalau bisa kita buat sesajen saja, bu. Biar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." Usul Deden.
"Sajen ?"
"Iya, bu. Biasanya setiap menggelar hajat, tuan rumah membuat sesajen, apalagi rumah ibu kan..." Ucapan Deden berhenti ketika bu Romlah mencubit pinggangnya.
"Iya sudah, bu Romlah nanti tolong dibuatkan sajen seperti yang disampaikan Deden, ya." Bu Mira yang paham situasi rumahnya yang belum bersih sepenuhnya langsung menyuruh bu Romlah untuk membuat sajen yang dimaksud.
"I-iya, bu Mira. Tenang saja." Bu Mira pun menghela napas panjang dan masuk kembali ke dalam rumah untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Sejak diberi sajen di setiap sudut rumah, acara berjalan dengan lancar hingga selesai.
__ADS_1
"Bu, aku besok mau langsung berangkat ke Jakarta ya." Ucap Bimo.
"Ko, buru-buru sekali ?"
"Iya, aku kan cuma ambil cuti 3 hari. Tidak enak kalau kelamaan ambil cutinya."
"Ya sudah kalau gitu, ibu siapkan oleh-olehnya dulu."
"Iya, bu. Jangan banyak-banyak susah bawanya." bu Mira hanya menjawab dengan anggukan.
...
Rumah bu Mira masih sama dengan suasana angker dan keanehan lainnya. Bagi Bu Mira yang sudah terbiasa mau tak mau tetap menempati rumahnya. Karena dijual dengan harga murah pun tidak ada yang mau membelinya.
Setiap merasakan sakit diperutnya bu Mira selalu meminta pak Udin untuk mengobatinya. Begitu terus hingga sekarang. Bahkan bu Mira sudah menjalani berbagai macam pengobatan supranatural namun belum ada kesembuhan.
Dan ketika bu Mira merenovasi rumah, ada saja hal yang mengganggu para tukang. Entah itu suara-suara aneh maupun penampakan kuntilanak dan teman-temannya.
"Pak Udin, apa tidak ada cara lain ? Saya ingin sembuh, pak." Ucap bu Mira yang sedang bertamu ke rumah pak Udin bersama Fitri.
"Sebenarnya saya punya kenalan ustadz yang bisa merukiah. Kalau bu Mira mau, nanti saya kenalkan sama beliau." Jawab pak Udin.
__ADS_1
"Apapun akan saya lakukan untuk kesembuhan saya, pak. Tolong saya, pak. saya sudah tidak kuat."
"Yang sabar, bu Mira. Semoga usaha kali ini berhasil." Sahut bu Linda sambil menyajikan minuman teh hangat.
"Aamiin... Maaf kalau saya sering merepotkan. Ini ada sedikit rejeki. Tolong diterima." Jawab bu Mira sambil menyerahkan bingkisan sembako ke bu Linda.
"Ya Allah... terima kasih bu, kami jadi tidak enak." Sahut bu Linda.
"Iya, bu Mira nggak perlu repot-repot begini." Sambung pak Udin.
"Tidak apa-apa, pak Udin. Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membantu dan menolong ibu. Kalau tidak ada pak Udin, ibu pasti sudah keluar masuk rumah sakit." Jawab Fitri panjang lebar.
"Baiklah, terima kasih sekali lagi." Ucap pak Udin.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1