(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA

(True Story) RUMAH ANGKER BU MIRA
EPS 7~


__ADS_3

Keanehan demi keanehan mulai terjadi dan dirasakan oleh Winda. Jam dinding yang terpajang di dinding tiba-tiba jatuh hingga pecah. Sontak Winda menjerit sekencang-kencangnya.


"Kamu kenapa, win ?" Tanya Bimo yang langsung masuk ke dalam kamar.


"Mas, itu jam dindingnya jatuh sendiri." Sambil menunjuk ke arah jam dinding yang terjatuh, Winda berlari menghampiri Bimo.


"Oh, ya sudah. Nanti mas yang bereskan."


"Aku nggak mau tidur sendirian mas, aku takut." Winda pun bergelayut ketakutan memegangi lengan kekar Bimo.


"Ya sudah, nanti kamu tidur sama Fitri di lantai atas aja. Nggak apa-apa, kan ?"


Winda hanya menjawab dengan menganggukkan kepala. Dia pun memilih keluar kamar dan menonton TV bersama bu Mira.


Mereka pun mulai merencanakan apa saja yang dibutuhkan untuk pesta pernikahan nanti.


"Saya sih maunya pesta sederhana saja, bu. Tapi keluarga saya minta diadakan pesta yang meriah." Ungkap Winda jujur.


"Itu sih nggak masalah, nak Winda. Ibu sih terserah kalian saja. Kalian sama-sama anak pertama. Jadi wajar kalau orang tua nak Winda ingin hajatan yang meriah." Jawab bu Mira


"Terus disini mau diadakan pesta juga apa tidak, bu ? Biar kami bisa mempersiapkan semuanya." Tanya Winda.


"Disini cukup mengadakan syukuran saja, ya kan bu." Jawab Bimo tegas dan dibalas anggukan kepala bu Mira.

__ADS_1


Setelah membincangkan masalah pernikahan, Bimo mengantar Winda ke kamar Fitri. Tanpa diduga Winda merasakan rambutnya seperti dijambak oleh seseorang. Padahal hanya ada mereka berdua saat itu.


"Aaauu... sakit !!" Ucap Winda tiba-tiba.


"Sakit kenapa ?" Tanya Bimo.


"Tadi rambutku ada yang jambak, mas." Sambil menatap ke belakang Winda mengelus kepalanya.


"Kamu ngantuk kali." Kata Bimo berkilah.


"Beneran mas, sakit banget ini." Masih dengan posisi mengelus kepalanya Winda celingak-celinguk ke bawah tangga namun tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Astaghfirullahaladzim..." Lirih Bimo setelah melihat sosok kuntilanak yang berdiri di belakang Winda.


"Udah yuk, buruan. Kita ke bawah aja dulu." Bimo pun langsung menarik tangan Winda. Sambil menundukkan kepala Bimo menuruni tangga.


Kuntilanak itu masih berdiri di sisi tangga sambil menatap tajam Winda dan Bimo. Suara nyaring kunti itu pun menggema di seluruh rumah. Namun, hanya Bimo yang mendengar suara itu.


Sepertinya mereka tidak suka dengan kedatangan Bimo dan Winda. Entah kenapa, sampai sekarang Bimo selalu diganggunya. Padahal dia adalah anak pemilik rumah.


Setiap ada laki-laki atau penghuni baru di rumah bu Mira, pasti tidak akan betah tinggal lama. Mereka akan selalu mengganggu sampai laki-laki itu pergi, entah bercerai atau meninggal dunia. Makanya bu Mira menjadi seorang janda.


Dulu sebelum mengenal pak Udin, ada dua orang tukang yang bekerja di rumah bu Mira. Namun, mereka hanya bertahan selama seminggu. Lalu berganti lagi dengan tukang yang lainnya. Pun sama, mereka tidak bisa bertahan bekerja lama di sana.

__ADS_1


Begitu juga dulu, ada seorang ART yang bekerja membantu bu Mira. Namun, mereka juga selalu dihantui dan diganggu. Mereka pun akhirnya berhenti. Makanya sekarang bu Mira tidak mempekerjakan ART.


Bu Mira hanya sesekali memanggil pembantu untuk membersihkan rumah dan itu pun langsung pulang jika pekerjaan selesai.


"Mas Bimo... mau kemana sih ?" Tanya Winda.


"Kita jalan-jalan keliling kampung, yuk." Ajak Bimo mengalihkan perhatian.


"Wah, boleh tuh mas. Mumpung masih sore, aku mau beli camilan juga." Bimo pun tersenyum mendengar Winda yang antusias ingin berkeliling kampung.


Motor matic milik bu Mira pun dikeluarkan dari garasi. Namun, lagi-lagi kejadian aneh terjadi. Motor itu tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Motornya kenapa, mas ?" Tanya Winda.


"Nggak tau, kok berat banget, ya ?" Tanpa mereka sadari motor matic bu Mira di duduki oleh sosok tinggi besar berwarna hitam. Sorot matanya berwarna merah menyala dan mempunyai gigi taring yang panjang dan tajam.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2