1 Love Story

1 Love Story
10


__ADS_3

Seperti hari biasanya, Vicka meletakkan kepalanya di atas bangku ketika jam belajar mengajar sedang berlangsung.


Di sela itu, tiba-tiba saja sang guru menyatakan sebuah pengumuman, seperti berikut, " Tolong semua materi dari bab 1 sampai bab 7 sekali lagi di pelajari semuanya di rumah. Beberapa soal di semester satu nanti akan muncul dari kumpulan soal-soal dari setiap bab. Kalau kalian memperhatikan, kalian pasti tahu soal-soal mana saja yang saya maksud." Sedikit dengan nada yang judes beliau akhiri pengumuman tersebut.


Rifda, teman sebangku Vicka menyenggol sikunya dan bertanya, "Vik, tahu nggak soal mana yang dimaksud?"


Vicka menggeleng, "Enggak lah, kenapa nanya? Tumben. Biasanya kamu juga nggak peduli, kayak yang lainnya."


Rifda dengan tersedu menjawab, "Papah dan Mamah aku bilang, kalau nilai aku semester ini jelek, aku bakal di masukkin ke pondok pesantren, Vik. Aku kan nggak mau kalau hidup aku di kekang dan nggak bisa bebas memilih jalan hidup aku kayak gitu."


"Kan nggak masalah kalau masuk Ponpes?"


"Kamu kan tau sendiri, pondok pesantren itu tempatnya disiplin, dan juga ketat peraturannya. Aku mana tahan kalau harus tinggal di tempat seperti itu."


"Iya deh iya." Ucap Vicka menyerah.


"Btw Vik.." panggil Rifda terputus, menunggu reaksi kawannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan.


"Iya, kenapa lagi?"


"Kamu kan tinggal di samping rumahnya ketua OSIS nih sekarang, tolongin aku dong, minta diadain belajar kelompok sama dia. Kan dia pinter, bisa bantuin kita kan kalau ada yang nggak kita pahami."


Kepala Vicka langsung bangkit dari meja, dengan terkaget-kaget ia bertanya, "Kok kamu tahu Jehian rumahnya yang sekarang di samping aku?"


Rifda menatap temannya tidak percaya. "Yaelah Vik, udah berapa lama coba semenjak postingan akun gosip sekolah kita itu? Semenjak saat itu, orang-orang pada merhatiin kalian. Mana kalian sering pulang bareng juga kan. Akhirnya, ada sumber yang ngasih tahu kalau kalian itu sekarang tetanggaan. Bukan cuma aku, seluruh sekolah juga udah pada tahu kok sekarang."


"Bohong kan?" Tanya Vicka masih tidak percaya.

__ADS_1


Rifda mengangkat tangannya dan membentuk tanda V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, "Serius kok."


"Terus kalau semuanya tahu, kenapa nggak ada yang bilang apa-apa? Atau gosipin apa gitu sampai aku denger?"


"Emangnya kamu suka jadi bahan gosip?"


Vicka menggeleng, "Enggak sih.."


Rifda mengeluarkan napas, "Yah, orang-orang pada mikirnya sih kalian itu udah kayak pasangan. Jadi nggak terlalu dipeduliin lagi sih kalian mau ngapain aja."


"Tapi mereka kan tahu aku nolak Jehian pas dia nembak aku empat bulan yang lalu."


Rifda mengangguk setuju, tapi menambahkan, "Tapi semenjak saat itu justru kalian itu semakin dekat kan? Padahal sebelumnya nggak pernah sama sekali ngobrol."


Vicka tidak bisa membalas teman sebangkunya itu, dan kembali membenamkan kepalanya di atas bangku.


Sudah empat bulan berlalu semenjak Jehian pertama kalinya menembak Vicka. Sudah empat bulan juga mereka menjadi tetangga dan mulai dekat satu sama lain. Vicka tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu dengan cepat, padahal terasa seperti baru bulan lalu ketika ia dan Jehian menjadi tetangga.


Vicka membopong tas punggungnya sambil berjalan menuju gerbang, berdesakan dengan siswa-siswi lainnya.


Sebuah mobil hitam tanpa pelat nomor terparkir tak jauh dari sekolah Vicka. Ketika Vicka muncul dari balik gerbang, dan area sekolah mulai terlihat sepi. Mobil itu menyalakan mesinnya.


Vicka berdiri di tepi jalan menunggu mobil jemputan ayahnya, ketika ia berjalan sedikit menjauh dari tepian untuk memeriksa apakah ayahnya belum sampai, ia dengan tiba-tiba mendengar suara mesin mobil yang mendekat dengan kecepatan penuh dari belakangnya. Vicka segera menengok, dan benar saja mobil itu melaju ke arahnya. Dengan instingnya Vicka melompat menjauh dari tempatnya berdiri, namun tentu saja kecepatan mobil itu mendahuluinya.


Badannya menabrak bagian depan pojok kiri mobil, membuatnya terhempas sejauh 10 meter. Membuatnya menabrak tiang lampu jalan dengan keras.


Vicka mengangkat tubuhnya dengan kekuatan yang hampir tidak ada, ia melihat mobil yang baru saja menabraknya segera melaju pergi dengan kecepatan yang sama seperti tadi.

__ADS_1


Ia melihat orang-orang menghentikan kendaraan mereka dan mulai berlari ke arahnya. Kebisingan mulai memenuhi kepalanya yang terasa berat. Dengan sekuat tenaga Vicka berusaha tetap sadar. Ia merasakan cairan hangat mengalir lewat dahinya dan turun melalui pipinya.


Saat ia melirik ke arah gerbang sekolah untuk terakhir kalinya, ia melihat sosok Jehian, yang meskipun terlihat buram namun Vicka yakin itu adalah dia. Vicka yakin ia melihat ekspresi wajahnya berubah menjadi putih pucat sebelum akhirnya Vicka kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Melihat sosok Vicka yang tak sadarkan diri dan berlumuran darah membuat Jehian menjerit histeris.


"Vickaa!!!" Teriaknya.


Jehian segera berlari meninggalkan motornya di gerbang, menuju ke kerumuman yang sekarang melingkari Vicka.


Jehian melihat mobil milik Pak Pratama, ayah Vicka berhenti di dekat halte bus.


Pak Pratama keluar dari mobilnya, masih tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi, memanggil Jehian.


"Jehian, itu kerumunan ada apa ya?"


Jehian yang sedang panik, kebingungan apakah ia harus menjawab pertanyaan itu atau segera berlari ke arah di mana Vicka sedang tergeletak.


Dengan gagap ia menjawab, "Vi- Vicka.."


Pak Pratama ikut kebingungan mendengar nama anaknya di sebut. "Vicka? Kenapa Vicka?"


Jehian yang kehabisan kata-kata hanya menunjuk ke arah kerumunan, dan lanjut berlari ke sana.


Meskipun butuh beberapa detik untuk pak Pratama mencerna maksud Jehian tadi, namun ia segera berlari menyusul Jehian, mengetahui sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada putrinya.


Dan benar saja, ketika berhasil menerobos kerumunan. Pak Pratama menemukan putrinya terbaring di tanah penuh dengan darah. Jehian terduduk di sampingnya, mencoba mengangkat tubuh Vicka dari tanah.

__ADS_1


Popak Pratama langsung berlari ke samping mereka dan berteriak kepada siapapun yang mendengarkan, "Mas, tolong bantu angkat ke mobil saya!"


Segera setelah tubuh Vicka dimasukan ke dalam mobil, pak Pratama menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru menuju ke rumah sakit terdekat, beserta dengan Jehian yang duduk di jok belakang yang bersikeras untuk tetap berada di samping Vicka.


__ADS_2