1 Love Story

1 Love Story
13


__ADS_3

Jehian duduk membisu selama berada di dalam angkutan umum, Vicka yang mengikutinya pulang pun ikut terdiam namun menatap Jehian lekat-lekat. Pria itu mendadak merasakan keringat dingin di balik kerah bajunya. ‘Bagaimana kalau Vicka membenciku sekarang?’ batinnya dalam hati.


Pria itu memutuskan untuk menghindari kontak mata dengan arwah Vicka selama perjalanan pulang.


Setelah Jehian membayar biaya angkutan umum, ia berjalan dengan kaku ke arah kompleks perumahan, dengan Vicka yang masih membuntutinya meskipun rumah Vicka sudah mereka lewati. Lagipula rumah itu memang sedang kosong sekarang, mengingat Ayah dan Ibu Vicka sedang berada di rumah sakit menunggu tubuh asli Vicka yang masih terbaring tak sadar di sana.


Jehian membuka pintu rumahnya perlahan-lahan, namun sebelum sempat menawarkan, arwah Vicka sudah masuk melewatinya. Jehian kembali dihadapkan perasaan bersalah. Ini semua disebabkan karena dia memiliki perasaan pada Vicka sehingga sepupunya bertindak di luar batas dan mengakibatkan Vicka mengalami tabrak lari.


Mendengar langkah kaki putranya memasuki ruang tamu, Bu Laila, Ibu Jehian segera berhambur keluar dari dapur.


“Jehian sayang, kamu sudah pulang nak? Bagaimana dengan keadaan Vicka? Mamah tadi kaget banget pas kamu bilang kalau Vicka kena tabrak lari di telefon.”


Jehian tidak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya itu dan memilih tersenyum getir. Bu Laila menyadari sikap anaknya itu dan segera memeluknya.


“Sudahlah sayang, Mamah yakin Vicka pasti enggak kenapa-kenapa. Vicka perempuan yang kuat.” Ucap Bu Laila mencoba menenangkan hati putranya tersebut.

__ADS_1


“Ini semua salah Jehian, Ma..” balas Jehian penuh dengan nada penyesalan.


“Ini semua bukan salah kamu kok sayang, kan nggak ada yang tahu kapan dan apa yang akan terjadi pada seorang manusia. Ini semua takdir Tuhan.” Balas Bu Laila sambil menyisir lembut rambut Jehian dengan nada yang menenangkan.


Jehian tidak membalas, tapi dalam hati ia berteriak. ‘Tentu saja ini semua salah Jehian. Kalau saja Jehian lebih berhati-hati dan tidak menarik perhatian umum saat menyatakan cinta pada Vicka, Bella tidak mungkin melakukan ini semua.’


Dengan menarik kaki-kakinya yang terasa berat, Jehian berjalan menyusuri belasan anak tangga ke lantai dua di mana kamarnya berada. Saat pintu kamarnya terbuka, ia menemukan Vicka sudah berada di dalam dan duduk di atas kasurnya. Namun sebelum Jehian berhasil membuka mulutnya Vicka sudah mulai berbicara, “Vicka dengar apa yang Jehian bahas sama tante Laila, Vicka juga lihat rekaman CCTV yang Jehian putar di HP. Jadi pertanyaan Vicka cuma satu, kenapa Jehian berpikir kalau kecelakaan Vicka itu salah Jehian? Bukan Jehian kan yang nabrak Vicka?”


Jehian berjalan masuk sambil melemparkan tas punggungnya ke atas meja belajar dan segera berjalan menghampiri Vicka, atau arwahnya Vicka.


Vicka mengangguk setuju, “ Iya Vicka tahu, lalu siapa Bella yang kamu sebutkan tadi namanya sebelum naik angkot?”


Jehian menelan ludah dan mulai menjelaskan tentang siapa dan kenapa Bella melakukan hal itu.


“Bella, orang itu adalah sepupu perempuanku. Dia dan aku seumuran, jadi kami sering bermain bersama ketika masih kecil dulu..” Jehian berhenti sejenak dan melirik ke arah Vicka dengan cemas, “Hanya saja dia.. mempunyai kepribadian yang sedikit berlebihan.”

__ADS_1


“Berlebihan?” Tanya Vicka dengan bingung.


Jehian mengangguk sebelum melanjutkan, “Bella mempunyai sifat yang suka terobsesi secara berlebihan pada sesuatu yang disukainya, entah itu makanan, benda, atau apapun. Dalam kasus ini, obsesinya terletak padaku...”


Mendengar hal ini membuat Vicka mengerutkan keningnya. “Apa maksudnya? Dia terobsesi sama kamu?”


“Yup, tepat seperti dengan bayangan terobsesi yang terlintas di kepalamu. Pada suatu waktu saat kami berdua masih anak-anak, Bella sering sekali memelukku. Itu hal yang wajar, mungkin itu yang kamu pikirkan sekarang, Vicka. Tapi masalahnya berada di luar dari itu, saat ada anak perempuan lain yang ingin bermain bersama denganku di kotak pasir, Bella ada di sana menyaksikan dengan wajah cemberut dan muka masamnya. Lalu dia berjalan mendekat, dan ketika kami pikir tidak ada yang akan terjadi selain pertengkaran ringan, Bella bertindak di luar dugaan. Dia memukul wajah anak perempuan itu, lalu menjambak rambutnya dengan keras hingga anak itu menangis histeris. Aku ingat dengan jelas darah yang mengalir dari lubang hidung anak itu, dan bagaimana para orang dewasa dengan bergegas memisahkan mereka dengan wajah tidak percaya bahwa anak kecil bisa berbuat sejauh itu. Ketika keramaian mulai membubarkan diri, Bella berbalik ke arahku dan dia tertawa puas. Dia membuatku ketakutan, jadi ketika dia berjalan mendekat aku malah berjalan mundur darinya. Tapi sepertinya itu tidak menghentikannya dari ingin memelukku lagi. Dia mendapatkanku, memelukku, dan berbisik ‘Aw, tenanglah Jehian. Kau tidak memerlukan siapapun kecuali aku. Mulai dari sekarang hanya akan ada kau dan aku.’ Kata-kata itu menggema di kepalaku...”


“Selama hari-hari berikutnya aku menjadi anak yang pendiam, menurut saja ke manapun dia membawaku. Membiarkannya menyiksa anak perempuan lain yang mencoba mendekat padaku atau mencoba menjadi temanku, membiarkannya terus memelukku dan mencium pipiku. Mama melihat perubahanku dan menyadari ada sesuatu yang salah, lalu beliau memutuskan untuk berbicara dengan tanteku. Secara perlahan mereka berhasil menguak tentang apa yang terjadi, mendapat kesaksian dari keluarga para korban kekerasannya. Mereka berdua lalu berbicara pada Papa dan ayah Bella. Semua orang setuju bahwa Bella harus dijauhkan dariku, untuk kebaikan kami berdua. Bella tidak bisa melakukan apapun ketika tante membawanya pergi ke Amrik. Selama bertahun-tahun aku sudah bebas dari cengkaramannya, dan ku pikir dia pasti sudah berubah dan berhenti terobsesi padaku karena dia bahkan tidak berusaha mengirimiku pesan atau mencari tahu kontakku. Tapi ternyata itu semua salah, lihat apa yang sudah dia lakukan padamu...”


Jehian berpaling ke arah Vicka dengan tatapan bersalah, “ Maafkan aku, Vicka. Itu semua salahku.”


Vicka menggeleng perlahan. “Sudah Vicka bilangkan, ini semua bukan salah Jehian. Memang, apa yang dilakukan sepupu Jehian itu sangat di luar batas, tapi Jehian tidak melakukan apapun.”


“Justru karena aku tidak melakukan apapun, aku membiarkan belasan anak perempuan tersakiti olehnya. Dan kali ini dia menyakitimu, Vicka. Tapi kali ini Jehian nggak akan tinggal diam lagi. Jehian akan lakukan apapun untuk melindungi kamu.” Balas Jehian dengan mantap.

__ADS_1


“Tapi pertama-tama, kita harus bertemu dan berbicara dengan Bella terlebih dulu..” gumam Jehian muram.


__ADS_2