
Sudah sejak dini hari Bu Karina menyibukkan dirinya di dapur. Ibu Vicka tidak pernah absen dalam hal menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya dan putri tersayangnya itu.
Hari ini beliau memasak ayam dengan bumbu marinasi yang digoreng di minyak dengan teknik deep fry. Beliau mempelajari resep ini setelah melihat acara memasak makanan Jepang pada hari Minggu pagi di sebuah televisi swasta. Makanan ini disebut dengan Karaage.
Resepnya sangatlah simple, ia hanya perlu mengganti mirin dan sake, yang merupakan bahan berbasis alcohol, dengan menggunakan air mineral biasa.
Lalu sisa bahan lainnya adalah bawang putih, jahe, kecap asin, kecap manis, saos tiram, gula, lada, penyedap, dan garam.
Setelah dimarinasi selama 30 menit, lalu daging ayam yang sudah dipotong-potong tersebut akan dibaluri dengan tepung serbaguna, dan di masak di minyak yang dalam dengan api rendah.
Bu Karina mulai menata kotak makan dan mengisinya dengan nasi yang masih hangat, lalu dengan baking paper sebagai alas, diletakkannya Karaage tersebut di atasnya. Tak lupa dengan satu sachet saos sambal, telur dadar, dan sayuran lain seperti timun.
Setelah bekal makanan siap, beliau mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya tersebut. Beberapa sendok oatmeal dengan susu cair, lalu potongan buah-buahan seperti pisang, kiwi dan buah pir untuk menambah rasa. Beserta dengan satu gelas susu cokelat, sudah tersedia di atas meja makan.
Mereka semua terbiasa tidak makan berat pada pagi hari karena akan membuat perut mereka serasa mengganjal dan mengganggu aktivitas mereka nantinya.
Tepat pada pukul 06:30 pagi, Karina turun dari kamarnya sudah mengenakan seragam yang lengkap. Disusul dengan suaminya yang selesai memanasi mobil dari arah pintu depan. Mereka menikmati sarapan pagi buatan Bu Karina dengan percakapan kecil di sana-sini.
"Oh iya, nduk." Panggil Bu Karina sebelum memasuki mobil.
Bu Karina berlari kembali ke dalam rumah, beberapa saat setelahnya beliau kembali dengan satu kotak makan lain. "Tolong nanti di kasih ke nak Jehian, ya."
"Kenapa bikin buat Jehian juga sih, Bu?" Tanya Vicka penasaran.
"Ya nggak apa-apa to, sekali-kali berbagi sama tetangga. Siapa tau nanti jadi mantu hehe.." ucap ibunya dengan nada menggoda.
"Iihh, Ibuuu!!" Jawab Vicka malas.
Namun Vicka tidak memprotes dengan mengembalikan bekal makan siang tersebut, ia malah membawanya masuk ke dalam mobil, dan mobil pun mulai melaju.
•••
__ADS_1
Saat itu adalah jam makan siang, dan Jehian terlihat sangat kebingungan dengan mengorek-orek isi tas dan sakunya.
"Kenapa sih? Dari tadi ngulek-ulek isi tas mulu?" Tanya teman sebangkunya.
Jehian terduduk lemas, "Dompet aku sepertinya ketinggalan di rumah deh, Tang. Perasaan tadi udah aku siapin di samping tas."
"Oh dompet toh." Jawab Lintang, teman nya itu sudah mengenal Jehian sejak masih SMP. "Mau pinjem dulu? Bayarnya kapan-kapan juga gapapa kok. Daripada perutmu kosong, malah sakit ntar."
Jehian menoleh, merasa tertolong, "Makasih ya Tang. Emang sahabat paling lengkap deh. Pinter, ganteng, baik hati lagi."
"Halah bulls.. udah, terima aja nggak usah puji-puji. Jijik ah."
Jehian tertawa geli mendengar respon temannya itu.
Jehian dan Lintang berjalan keluar dari ruang kelas mereka, tepat pada saat Vicka menghampiri dengan dua kotak makannya.
"Ahem.. pacarnya nyari lagi tuh." Goda Lintang. Jehian langsung menyikutnya keras, dan memberi tatapan peringatan kepada temannya itu.
Lalu Jehian berbalik menghadap Vicka.
Vicka terlihat terlalu malu untuk berbicara, jadi dia hanya menyuguhkan satu kotak makan itu ke arah Jehian.
Jehian kebingungan, "Ini.. buat Jehian?"
Vicka mengangguk. Membuat sebuah senyuman lainnya kembali terlukiskan di bibir Jehian.
Lintang yang mengerti situasi itu pun langsung mengundurkan diri, "Yaudah, aku ke kantin duluan ya, Ian."
Jehian mengangguk, lalu kembali menghadap Vicka.
Namun Vicka berbalik memunggunginya setelah kotak makan itu diterima oleh Jehian. "Yaudah, Vicka balik dulu."
__ADS_1
"Eh tunggu dulu!" Seru Jehian menghentikan, bergerak cepat dengan meraih salah satu tangan Vicka. "Mau.. makan bareng?" Tawarnya malu-malu.
Vicka menengok dari pundaknya dan melihat pipi merah Jehian, dan menerima tawaran tersebut.
Mereka kembali berjalan ke tepi kolam di belakang perpustakaan dengan kedua bekal makan itu.
Duduk di bangku yang terletak tak jauh dari kolam, mereka mulai membuka kotak makan itu dan menikmati isinya.
"Ini Vicka yang masak?" Tanya Jehian dengan mulut yang penuh.
Vicka menggeleng dengan malu ia menjawab, "B-bukan.. itu buatan Ibu. Vicka.. nggak bisa masak."
"O-oh gitu.." Jehian sedikit terkejut mendengar jawabannya.
Melihat reaksi Jehian, Vicka langsung merespon, membela diri, "K-kalau cuma masak Vicka pasti juga bisa kok, kalau mau belajar. Lagian selain masak, Vicka juga rajin bersih-bersih, nyuci, dan lain-lain."
Setelah sadar akan apa yang dikatakannya, wajah Vicka memerah. 'Kenapa kayak lagi promosi buat jadi istri idaman sih?!' batinnya dalam hati.
Jehian tertawa kecil melihat Vicka yang bersemu-semu di sebelahnya.
"Iya, Vicka pasti bisa masak kok nanti." Jawabnya dengan lugu.
Vicka menengok, menatap Jehian.
Jehian mengembalikan tatapan itu kepada Vicka, membuat Vicka berbalik memunggunginya.
Jehian merasa sedikit frustasi. Ia tak tahu harus berbuat apa saat mereka berduaan seperti ini. Kalau saja Vicka adalah pacarnya, pasti ia sudah mendekap gadis itu, dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut.
Jam makan siang berakhir, Jehian mengembalikan kotak makan tersebut ke Vicka dan juga berterimakasih, "Tolong bilangin ke Bu Karina, makasih buat bekalnya, ya. Kebetulan hari ini dompet Jehian ketinggalan di rumah, jadi nggak bisa jajan di kantin."
Vicka mengangguk. "Yaudah, Vicka balik dulu.. sampai nanti." Ucapnya sebelum berlari kembali ke arah kelasnya.
__ADS_1
Jehian mulai berpikir lagi, kapan ya dia haru menembak Vicka lagi? Namun apakah Vicka sudah berubah pikiran semenjak saat itu?
Jehian belum yakin, dan tidak ingin membuat Vicka semakin menjauh. Dia harus lebih dekat dengan Vicka terlebih dahulu sebelum kembali menyatakan perasaanya pada Vicka.