1 Love Story

1 Love Story
6


__ADS_3

Pada keesokan harinya, Jehian berjalan dengan langkah yang mantap menuju ke suatu ruangan di sekolah mereka. Ia sangat awas dengan puluhan mata siswa-siswi yang mengikutinya sejak motornya memasuki gerbang sekolah.


Ternyata benar perkataan Vicka, hanya karena sebuah foto di akun gosip, mereka berdua jadi terlibat dengan rumor besar.


Matanya lurus menatap ruangan yang sekarang telah terlihat olehnya. Lalu ia membuka pintu ruangan tersebut dan disambut oleh penampakan 2 orang siswi perempuan yang duduk di belakang satu meja. Mereka berdua duduk sangat dekat, dan saling berhadapan.


"Ini ulah kalian kan?" Tanya Jehian tegas kepada 2 murid perempuan itu.


Salah satu dari mereka tersenyum, "Oh ayolah Ketua, jangan memasang ekspresinya seperti itu kepada anggota OSISmu sendiri."


"Iya benar, kau tampak menakutkan. Vicka akan makin menjauhimu jika dia melihat ekspresimu yang sekarang ini." Imbuh yang lain.


Jehian tetap menjaga ekspresinya datar, sehingga membuat kedua perempuan itu menyerah. "Baiklah, baiklah." Ucap perempuan pertama.


"Itu memang perbuatan kami. Habisnya, kami tidak bisa tinggal diam saja kan melihat ketua tersayang kami akhirnya bisa berduaan dengan gadis yang dia sukai?" Perempuan kedua menambahkan.


"Iya tuh, betul. Momen seperti itu kan harus diabadikan, dan dibagi dengan semua orang. Lagi pula, bukannya itu menguntungkan kamu, Ketua?" Imbuh perempuan pertama tak mau kalah.


Jehian membuang muka, berjalan ke balik meja tempat biasanya ia duduk, meja yang bertuliskan 'Ketua OSIS' di atasnya.


"Nggak usah berbuat yang tidak perlu. Aku bisa membuat Vicka menjadi pacarku tanpa bantuan aneh seperti itu. Lagi pula, perbuatan kalian hanya menyakiti Vicka." Ia memutar tubuhnya menghadap meja tempat kedua perempuan tadi duduk.


"Dan juga, tidak bisa kah kalian berdua memberi contoh yang baik untuk murid lain? Kalian itu anggota OSIS di sekolah ini. Jangan membuat malu nama OSIS dengan tindakan yang tidak bermartabat seperti menyebarkan rumor ke seluruh sekolah." Ucap Jehian tegas, menceramahi kedua anggota OSISnya yang sudah ia kenal selama satu tahun lebih ini.


Kedua perempuan itu adalah Nia dan Mia, si kembar dari kelas 11 IPA 1, teman sekelas Jehian, yang sudah mengikuti kegiatan OSIS sejak mereka masih kelas 10, persis seperti dengan Jehian.


Semenjak mereka masih kelas 10, mereka diam-diam membuka akun gosip untuk mengeluarkan murid bermasalah dari sekolah ini dengan foto atau video yang membuktikan murid tersebut melakukan pelanggaran peraturan sekolah ataupun peraturan masyarakat. Hanya anggota OSIS yang mengetahui hal ini, dan mereka membiarkan mereka berdua melakukan hal sesukanya asalkan terdapat bukti konkret atas tuduhan yang mereka lontarkan dan bukannya kebohongan semata.


Kedua perempuan itu memasang ekspresi menyerah, mereka tidak bisa melawan perkataan Jehian, mereka berdua tahu beberapa menakutkannya saat Jehian sedang marah dan tidak ingin memancingnya lebih lanjut.


"Lagian kenapa hari itu kamu bisa boncengan bareng sama Vicka sih? Bukannya rumah kalian jauh banget. Nggak mungkin dong cuma kebetulan ketemu di jalan." Tanya Nia penasaran.


Jehian memicingkan sebelah matanya, "Kalau aku jelasin, pasti bakal kalian tulis di akun gosip itu lagi kan?"


Mia dan Nia kompak menggelengkan kepala mereka dari kiri ke kanan. "Enggak kok, suwer."


Jehian menghela napas, "Keluarga aku baru pindah ke perumahan lain. Dan di perumahan itu juga dimana Vicka dan keluarganya tinggal."


"Segitunya banget kamu ngestalker Vicka..." Ucap Mia sedikit merinding mendengar penjelasan Jehian.

__ADS_1


Jehian mengacak-acak rambutnya, "Ah udah lah. Males ngomong sama kalian. Buruan balik ke kelas, bentar lagi masuk." Jehian segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke pintu dengan cepat.


•••


Hari itu pada jam keempat, murid IPS 3 seharusnya sedang belajar mata pelajaran Sosiologi, namun seperti biasa, para guru akan pergi setelah jam pertama mata pelajaran mereka selesai, dan IPS 3 pun memiliki jam kosong paling banyak dibandingkan kelas lain.


Vicka yang masih terlihat panik karena akun gosip itu pun menyelinap keluar dari kelasnya. Meskipun kemarin Jehian berkata bahwa dia akan mengurusi masalah itu, namun ia sudah tak tahan lagi, dia harus berbicara dengan Jehian.


Kelas 11 IPA 1 terletak di ujung yang berlawanan dengan IPS 3, maka mau tidak mau Vicka harus berjalan melewati 4 kelas lainnya, yakni IPS 2, IPS 1, IPA 3, IPA 2, dan akhirnya IPA 1, kelas Jehian.


Dikarenakan kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di kelas lainnya, Vicka hanya bisa mengintip dari balik korden biru tua yang menjadi tempatnya bersembunyi. Kelas IPA rata-rata memiliki air conditioner yang membuat udara di dalamnya tetap sejuk meskipun keadaan di luar sedang panas.


Ia mengintip mencari-cari keberadaan Jehian, namun karena ia tidak mengenal Jehian dengan baik, maka meskipun itu kepala bagian belakangnya, Vicka tidak bisa menemukannya.


Tiba-tiba saja jendela tempat Vicka bersembunyi di ketuk-ketuk dari dalam. Vicka pun melompat terkejut. Sontak perhatian para murid di kelas IPA 1 pun beralih mengarah pada Vicka.


Pria yang mengetuk-ngetuk jendela tadi mengangkat jendela itu dan bertanya, "Nyariin cowoknya ya? Ciee~. Jehian! Dicariin cewekmu nih."


Seisi kelas pun langsung bersiul-siul bersautan bahkan sang guru yang sedang mengajar ikut tersenyum, bukannya memarahi muridnya yang membuat kegaduhan.


Vicka dari balik jendela dapat melihat Jehian berpaling memandang ke arahnya dengan perasaan tidak nyaman. Ia pun berdiri dan meminta izin sang guru untuk keluar kelas sebentar.


Vicka merasa sedikit bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya. Seharusnya dia tidak berdiri di sini dan memperparah rumor yang telah tersebar. Ketika Jehian sudah dekat, Vicka hendak meminta maaf kepadanya, namun Jehian meraih tangan Vicka dan menariknya untuk berjalan mengikuti Jehian, menjauh dari kelas IPA 1.


Mereka sampai di tepi kolam kecil yang berada di belakang perpustakaan.


Jehian berbalik, "Kamu kenapa datang ke kelas aku? Ada masalah lain yang ngeganggu kamu?"


Vicka menggeleng, "Enggak ada masalah lain sih.. aku cuma masih takut soal akun gosip itu. Dan juga maaf, sepertinya aku malah memperburuk keadaan dengan datang ke kelas kamu. Aku nggak bermaksud.."


Tangan Jehian bergerak mengelus pundak Vicka dengan lembut, "Gapapa kok, tenang aja. Soal akun gosip itu aku udah pastiin mereka bakal hapus foto kita, jadi kamu nggak usah khawatir lagi."


Vicka mengangguk, "Sekali lagi maaf ya, udah bikin kekacauan di kelas kamu." Vicka mengatakannya dengan nada menyesal.


Jehian kembali tersenyum, entah mengapa Vicka memang merindukan senyuman itu dari Jehian.


"Yaudah, yuk balik. Kelasnya belum selesai kan?"


"Ah soal itu.. kelas aku lagi jam kosong.."

__ADS_1


Jehian terlihat cemas, "Sering banget kah jam kosongnya?"


"Iya, gurunya males ngajar di kelas gagal kayak punya kita. Lagi pula murid lainnya nggak peduli juga."


Jehian tambah khawatir dengan nasib akademik Vicka, haruskah ia mengajaknya belajar kelompok? Tapi Jehian sendiri tidak terlalu familiar dengan mata pelajaran anak IPS, jadi ia merasa sangat bingung. Mungkin itu sebabnya anak IPS 3 disebut kelas gagal, selain mereka yang kurang motivasi dalam belajar, para guru juga malas mengajari mereka sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup ketika ujian tiba.


Jehian hanya bisa tersenyum pahit, ia akan mencoba mencari cara lain untuk membantu Vicka dalam hal belajar.


•••


Vicka melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan menatap ponselnya, sebuah pesan dari ayahnya tempampang di layar, yang bertuliskan, 'Maaf ya sayang, hari ini ayah lembur, nggak bisa jemput Vicka. Vicka naik taksi aja ya, nanti uang ongkosnya minta sama ibu. Ayah udah bilang kok sama ibu.'


Namun, taksi seperti pada jam-jam pulang sekolah atau pulang kantor pasti susah di dapat.


Haruskan Vicka naik angkutan umum? Ia juga belum pernah naik angkutan umum. Sedangkan ojek, ia harus jalan ke pangkalannya terlebih dahulu.


Saat itu bertepatan ketika Jehian lewat dengan motornya dan membunyikan klakson motornya secara singkat.


Sebelum Jehian bergerak menjauh, Vicka pun berteriak, "Jehiann!!"


Yang mana pria itu langsung berhenti mendadak, hampir menabrak siswi lain yang sedang menyebrang jalan.


Jehian menengok ke belakang, dan memutar balik motornya ke tempat Vicka berdiri.


"Ada apa, Vicka? Bahaya tau tadi tiba-tiba manggil kayak gitu. Kalau aku nabrak orang gimana coba?" Jehian mulai mengomel, namun tetap dengan nada suara yang rendah dan lembut.


"Iya maaf. Anu, b-bisa numpang nggak pulangnya?" Tanya Vicka terbata-bata.


Tentu saja pertanyaan Vicka membuat Jehian kaget, namun juga senang. Ia memiliki kesempatan kedua untuk berboncengan dengan Vicka lagi, dan dia tidak akan melewatkannya.


"Boleh kok. Ayuk naik." Ajaknya seraya menyerahkan helm lain kepada Vicka.


Saat Vicka berhasil naik, Jehian berkata, "Padahal foto di akun gosipnya udah di hapus. Sekarang kamu malah minta bonceng di depan semua murid lainnya, kayak mengkonfirmasi rumor itu dong."


Mata Vicka terbelalak dan hendak meloncat turun dari motor, namun segera Jehian hentikan, "Bercanda-bercanda. Udah, nggak usah peduliin apa kata orang lain. Emang kita sekarang tetanggaan kan, jadi ya nggak aneh kalau pulang-pergi ke sekolahnya bareng."


Vicka sempat ragu, tapi akan lebih cepat jika ia pulang dengan Jehian daripada berjalan menuju pangkalan ojek yang belum tentu masih ada yang tersisa untuk mengantarnya pulang.


Ia memukul lembut lengan Jehian dengan tinjunya, Jehian tersenyum.

__ADS_1


Maka dengan itu, melajulah motor Jehian dengan Vicka sekali lagi duduk di jok belakangnya.


__ADS_2