1 Love Story

1 Love Story
8


__ADS_3

Lapangan penuh dengan para murid yang berseragam olahraga. Setelah melakukan peregangan badan yang baik dan benar, para murid berkelompok dan bola-bola melambung di berbagai sisi lapangan.


Meskipun kelas 11 IPS 3 dikenal sebagai kelas yang paling malas belajar, namun saat jam pelajaran olahraga lah mereka adalah kelas yang paling bersemangat di antara kelas lainnya.


Vicka duduk bersama tiga orang teman sekelasnya, sedangkan tiga orang lainnya berdiri. Mereka sedang membahas strategi agar bisa menang dari tim lain.


Pertandingan voli akan mereka lakukan di jam olahraga kali ini, enam lawan enam. Hanya pertandingan untuk hiburan saja. Tanpa penentuan posisi resmi seperti setter, atau blocker. Hanya permainan biasa dimana semua pemain tetap berotasi dan melakukan apa yang harus dilakukan dalam sebuah permainan.


Setelah strategi ditentukan, mereka menuju ke lapangan dimana net dipasang dengan ketinggian 175cm.


Voli memang olahraga yang menjadikan tinggi badan sebagai faktor penting utama, namun sebenarnya voli bisa dimainkan oleh siapapun dengan tinggi badan yang bervariasi. Termasuk oleh Vicka.


Vicka berdiri di lapangan, berada diposisi nomor lima. Dia cukup bagus sebagai pemain, dapat melakukan passing dan serving dengan sangat baik, namun kemampuan tossingnya masih jauh dari kata bagus. Dengan tinggi badannya juga dia tidak bisa melakukan blocking dengan cukup baik karena Vicka tidak bisa melompat dengan tinggi.


Bola melambung dari serve tim lawan, jatuh pada tim Vicka di posisi nomor 1. Bola melambung melewati net ke daerah lawan, dan dengan mudah bola tersebut kembali ke seberang net. Kali ini bola mengarah ke tempat Vicka, Vicka sedikit berjongkok dan mempersiapkan kedua tangannya untuk melakukan passing. Bola diterimanya dengan baik, melambung menyentuh bagian atas net dan jatuh di daerah lawan, lalu bola menyentuh tanah. Satu poin untuk tim Vicka.


Pertandingan berlangsung dengan cepat pada babak pertama. Tim Vicka memenangkan babak pertama dengan selisih 5 poin.


Kedua tim bertukar area lapangan dan bersiap untuk melakukan pertandingan babak kedua.


Vicka memukul service bola melewati atas kepalanya, jatuh ke pemain bagian belakang tim lawan, namun bola tak dapat dikembalikan melewati net.


Tim Vicka bersorak senang untuk poin pertama mereka di babak kedua.


Saat Vicka melakukan service yang kedua, Jehian terlihat keluar dari kelasnya untuk pergi ke toilet. Ketika melihat Vicka sedang bermain, ia berhenti sejenak, berpikir untuk memberi semangat Vicka.


Vicka melakukan passing ke teman satu timnya, bola melewati net dengan baik.


Jehian berteriak dengan lantang, "Semangat Vicka!"


Membuat Vicka terkejut dan memalingkan wajahnya di tengah-tengah pertandingan. Sebelum ia melihat Jehian, bola yang kembali dari tim lawan mengenai pipinya dengan cukup keras. Membuat Vicka terjatuh di tanah dengan menangkup pipinya yang memerah memar.

__ADS_1


Semua murid di lapangan ikut terkejut dan segera berlari mengelilingi Vicka, menanyakan kondisinya. Tak luput dengan Jehian, ia mengiris barisan orang itu dan duduk berjongkok di samping Vicka. "V-vicka? Kamu nggak papa?"


Vicka mengangkat kepalanya, menunjukkan darah segar mengalir dari lubang hidungnya.


"Mimisan!!" Seru teman sekelas Vicka.


Jehian langsung bergerak, menyelipkan tangannya di bawah ketiak dan lutut Vicka, lalu berdiri membopongnya menuju ke UKS. "Minggir!" Teriaknya. Para murid segera memberi jalan pada keduanya.


Vicka didudukkan di atas ranjang yang terdapat di dalam UKS. Sementara seorang guru penjaga UKS menyumbat hidung Vicka dengan kapas dan mengolesi luka memar di pipi Vicka, Jehian berjalan mondar-mandir dengan perasaan tidak tenang. Ia khawatir telah melakukan sesuatu yang sangat buruk terhadap Vicka. Bagaimana kalau Vicka gagar otak gara-gara dia?


Beberapa puluh menit kemudian, setelah sang guru selesai menangani Vicka dan memastikan tidak ada sesuatu yang serius menimpanya, guru itu pergi ke ruang guru untuk melaporkan kejadian hari itu.


Tinggallah Jehian dan Vicka di dalam ruang UKS, berduaan.


Jehian segera menarik sebuah kursi untuk duduk di depan Vicka. Mukanya terlihat pucat pasi, penuh dengan rasa bersalah.


"M-maafin Jehian ya, Vicka.. Ini semua salah Jehian. Jehian nggak sepatutnya manggil kamu padahal Jehian tahu kamu lagi di tengah-tengah pertandingan. Jehian nggak pantas buat.."


Plak!!


"Sakit?" Tanya Vicka tenang.


Jehian sambil memegang pipinya mengangguk pelan.


"Yaudah. Dengan gini kita udah seri."


"Tapi Vicka-.." sebelum sempat memprotes, Vicka memotong ucapan Jehian. "Nggak usah lebay deh. Vicka nggak apa-apa kok. Lagian kalau Vicka sampai terluka itu gara-gara kecerobohan Vicka sendiri. Jadi jangan salahin diri kamu sendiri."


Jehian memandangnya dengan mata yang mulai berair. Lalu ia menarik Vicka ke dalam pelukannya.


"Jehian janji, Jehian nggak akan pernah ngebiarin kamu terluka lagi, bahkan satu centi pun, nggak akan Jehian biarin itu terjadi."

__ADS_1


Vicka memukul-mukul kecil, "Apaan sih? Lepasin, Jehian! Gerah tau." tapi ia sendiri tidak mencoba untuk mendorong tubuhnya menjauh dari pelukan itu.


Selama beberapa hari kedepan, Jehian terlihat mondar-mandir di sekitar Vicka. Bukan hanya di sekolah, bahkan ketika di rumah pun, Jehian terlihat menempel padanya.


Ketika Vicka pulang dengan luka di pipinya hari itu, Jehian berlutut meminta maaf kepada orang tua Vicka. Mereka berdua tidak menyalahkan Jehian akan kejadian tersebut tentunya. Namun ketika Jehian bersikeras untuk menjadi asisten pribadi Vicka selama satu minggu, mereka tidak bisa menolaknya.


Jehian mengetuk pintu kamar Vicka, saat Vicka memberinya izin untuk masuk, ia membawa satu piring yang berisi nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya.


Kamar Vicka adalah satu-satunya kamar perempuan yang pernah Jehian masuki selama hidupnya. Namun setelah beberapa hari keluar masuk kamar ini, Jehian mulai merasa familiar dan terbiasa dengannya.


Jehian duduk di pinggir kasur sambil menyodorkan piring tersebut ke Vicka. "Nih makan, nasi goreng itu paling enak dimakan pas masih hangat."


Vicka menerima piring tersebut dan membuang napas panjang, "Sampai kapan kamu mau nempel Vicka kayak gini?"


"Tinggal dua hari lagi kok. Tapi Jehian nggak keberatan sama sekali kalau mau di perpanjang selamanya." Jawabnya dengan nada menggoda.


"Idih, gila apa."


Vicka mulai memakan sesuap nasi goreng buatan Jehian tersebut. Rasanya memang sangat lezat, namun lebih enak buatan ibu Vicka tentunya.


Jehian tersenyum melihat Vicka menikmati makanan buatannya. Lalu dia mengingat sesuatu. "Vicka," panggilnya.


Vicka menoleh, "Iya?"


"Besok temenin aku ke toko buku yuk. Aku lupa, ada novel yang disuruh Pak Guru baca dan harus di review minggu depan."


"Kenapa nggak baca online aja?" Tanya Vicka di sela-sela makannya.


"Kita itu harus mendukung usaha yang udah dihasilkan penulisnya dengan susah payah, yaitu dengan membeli karya aslinya. Bukan bajakan ataupun unduhan internet."


"Iya deh iya.. eh, tapi kenapa ngajak Vicka? Kan bisa pergi beli sendiri."

__ADS_1


Jehian tersenyum, "Sekalian kencan dong."


Vicka melemparinya dengan bantal, "Modus!"


__ADS_2