
Di ruang tunggu, Pak Pratama sedang berusaha menenangkan istrinya dari berjalan bolak-balik tanpa arah di depan ruang operasi dimana Vicka tengah berada.
“Sudahlah, Bu. Jangan mondar-mandir di lorong, nanti mengganggu orang yang mau lewat.” Ucap Pak Pratama, namun Bu Karina tidak menggubris ucapan suaminya tersebut dan terus berjalan di lorong.
Pak Pratama memandang Jehian yang kini wajahnya pucat pasi, beliau paham betapa Vicka, putri tunggalnya itu sangat berarti bagi pemuda itu.
Dua jam telah berlalu semenjak operasi di laksanakan, selama itu pula jantung kedua orang tua Vicka serasa sedang berada di dalam wahana roller-coaster. Setelah menunggu selama kurang lebih tiga puluh menit kemudian, segerombolan orang mulai keluar dari dalam kamar operasi mengenakan pakaian serba hijau serta masker dan penutup kepala yang mirip shower cap.
Bu Karina segera menyambar salah satu petugas medis tersebut. “Bagaimana Dok keadaan anak saya?” tanya beliau dengan tak sabar.
Dokter bedah tersebut melepas maskernya untuk menghilangkan engap yang telah ditahannya sedari tadi. “Ibu dan Bapak keluarga dari pasien?”
“Benar Dok.” Sahut Pak Pratama.
Jehian pun segera ikut berdiri dan mendengarkan percakapan ketiga orang di hadapannya itu, tak sabar ingin mendengar kondisi dari perempuan yang dicintainya tersebut. Namun sayang sang Dokter tidak menjelaskan secara detail, “Kami sudah berusaha semampu kami, dan kami pikir putri Ibu dan Bapak mendapatkan semacam mukjizat atau semacamnya karena mampu selamat dari tabrak lari seperti itu.”
Pak Pratama, Bu Karina, serta Jehian bernapas lega.
“Namun ada beberapa kerusakan yang tidak bisa dihindarkan.” Lanjut sang Dokter.
Bu Karina segera memasang wajah khawatir, “Kerusakan yang tidak bisa dihindarkan? Maksudnya bagaimana Dok?”
Dokter bedah tersebut melirik ke arah Jehian, “Apa pemuda ini juga keluarga dari pasien?”
Jehian segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Sang Dokter melanjutkan, “Kalau begitu, bisakah saya berbicara dengan Bapak dan Ibu di ruangan saya sebentar?”
Kedua orang tua Vicka mengangguk setuju dan segera mengikuti sang Dokter menuju ruang kerjanya. Namun Jehian menghentikan mereka dan bertanya,”Tunggu Dok, apa saya sudah bisa menengok Vicka?”
__ADS_1
Dokter itu tersenyum tipis, “Maaf ya Dek, pasien untuk saat ini tidak diperbolehkan untuk menerima kunjungan dari siapapun kecuali dari pihak keluarga, setidaknya sampai pasien di transfer ke kamar pasien.”
“Ah, gitu ya..” jawab Jehian sambil mengangguk lemah dan kembali terduduk di kursi panjang ruang tunggu.
Pak Pratama segera menghampirinya dan menghiburnya, “Vicka pasti baik-baik saja kok. Nak Jehian sebaiknya pulang dulu, nanti biar Om kasih tau perkembangan keadaan Vicka pas Om pulang buat mengemas baju ganti Vicka. Orang tua nak Jehian juga pasti khawatir karena dari tadi nak Jehian terus nunggu di rumah sakit tanpa kasih kabar ke mereka.”
Sekali lagi Jehian mengangguk lemah dan membiarkan pundaknya terjatuh lemas.
“Yaudah Om, Tante, Jehian pamit dulu ya.”
Bu Karina berjalan menghampirinya dan tersenyum kecil, “Makasih ya nak Jehian sudah mau menunggu hasil operasi Vicka bareng sama Om sama Tante.”
Jehian balas tersenyum kecil dan berbalik untuk pergi, kemudian sadar bahwa motornya kan dia tinggal di depan gerbang sekolah. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nomor dari kontaknya. Setelah berdering beberapa detik, “Halo?”sapa Jehian.
“Iya halo, kenapa Ian?” tanya seseorang yang Jehian telpon.
“Oh motornya Ian, ya? Tadi bapak taruh di parkiran sekolah sih, soalnya bapak juga hafal sama nomor platnya. Ngomong-ngomong nak Jehian sekarang di mana? Ini motornya mau diambil hari ini atau besok sekalian pulang sekolah?” jelas sang satpam.
“Wah, makasih banget ya Pak Supri. Jehian takut kalau motornya sampai dicolong sama orang. Motornya aku ambil besok sekalian aja Pak, Jehian sekarang lagi di rumah sakit habis nunggu operasi Vicka, Pak.”
“Ternyata beneran Vicka ya? Bapak punya perasaan buruk sejak jam istirahat tadi, dan ternyata malah terjadi kecelakaan.”
Jehian diam sejenak, “Maksud Bapak?”
“Sebenarnya ada satu mobil yang berhenti di dekat sekolah sejak jam istirahat, dan menurut cctv, mobil itu yang menabar lari Vicka.”
“Apa pak?!” seru Jehian dengan keras, membuat orang-orang di sekitarnya menoleh. Setelah sadar sedang diamati oleh orang-orang di sekitarnya, Jehian segera menurunkan volume suaranya dan berjalan menuju ke trotoar jalan.
__ADS_1
“Pak Supri bisa kirim videonya ke Jehian nggak,Pak?” lanjut Jehian.
“Bisa kok kalau di rekam, tapi jangan bilang siapa-siapa ya Ian, soalnya ini barang bukti yang mau di periksa polisi nanti.”
“Baik, Pak. Jehian tunggu ya.” Jawabnya lalu segera menutup telponnya.
Kecelakaan yang disengaja? Jehian tidak henti berpikir apa yang Vicka lakukan sehingga mendapatkan perlakuan seperti itu. Orang yang menabrak Vicka pasti sudah gila.
Tak lama kemudian Jehian mendapat pesan Whassap dari Pak Supri yang menyertakan video rekaman cctv. Selagi mengamati rekaman cctv tersebut dan mengulangnya beberapa kali, muka Jehian kembali berubah pucat pasi, namun segera berubah menjadi merah karena naik pitam.
Jehian mengenali siapa pemilik mobil tersebut.
Pemilik mobil tersebut adalah perempuan yang paling Jehian hindari sejak masih kecil. Bella Jaddid, sepupunya dari pihak ayahnya. Perempuan itu seusia Jehian, dan semenjak mereka masih kecil selalu terobsesi dengan Jehian, sampai bibinya, ibunda Bella pindah ke Amrik dan membawanya bersama beliau.
“Bella sudah pulang ke Indonesia?” tanya Jehian pada dirinya sendiri. “Kalau benar begini, ini benar-benar sebuah mimpi buruk yang harus segera disingkirkan.” Gumamnya sambil mencegat angkot yang lewat.
Sementara itu di ruangan dokter bedah, Pak Pratama dan Bu Karina, serta Vicka sedang mendengarkan penjelasan sang Dokter, “Putri Bapak dan Ibu mengalami patah leher, terdapat beberapa tulang belakangnya yang retak dan dislokasi namun sudah berhasil ditangani secara baik. Untuk saat ini pasien sedang mengalami koma, namun sudah melewati masa kritisnya, jadi bisa diharapkan pasien akan sadar dalam beberapa hari.”
“Koma?” tanya Bu Karina tak percaya.
Vicka yang tersadar bahwa saat ini jiwanya sedang keluar dari raganya hanya bisa terdiam. Lagi pula apapun yang ia katakan atau lakukan tidak akan disadari oleh kedua orang tuanya tersebut. Ia berjalan, atau lebih tepatnya melayang keluar dari rumah sakit karena merasa frustasi, dan menemukan Jehian yang sedang sibuk dengan ponselnya, lalu bergerak menghampiri karena penasaran.
Vicka sampai tepat pada saat Jehian menyebutkan nama sepupunya itu, lalu mengintip ke layar ponselnya yang masih menayangkan rekaman cctv di depan gerbang sekolahnya.
‘Jehian..’ ucapnya pelan, berharap memang tidak ada yang bisa mendengarnya saat ini. Namun di luar dugaannya, pria yang dipanggilnya ini menengok ke samping dan menatapnya tepat di mata.
“V-vicka?”
__ADS_1