1 Love Story

1 Love Story
2


__ADS_3

Jehian, berlutut di samping bangku Vicka. Sudah lima menit ia berada di posisi itu.


Murid-murid juga sudah mulai lelah meneriakkan yell-yell tadi. Sebagian mulai melanjutkan aktivitas sebelum Jehian yang masuk ke kelas mereka dengan kehebohannya. Sebagian lagi masih kepo dengan jawaban yang akan Vicka berikan.


Vicka menatap Jehian yang masih terduduk dengan satu lututnya menempel di lantai.


Dengan sangat heran Vicka mulai bertanya, "Kenapa Vicka?"


Tentu saja hal itu juga sama-sama menjadi pertanyaan teman sekelasnya.


Tak lama kemudian, pintu kelas itu, serta jendela-jendelanya dipenuhi dengan para siswa-siswi yang mulai berdesakkan ingin menyaksikan kejadian yang tak disangka itu.


Jehian Yudistira, terpilih menjadi ketua OSIS tahun ini, yang sudah menolak puluhan wanita yang menembaknya, entah lewat surat maupun pernyataan langsung. Mulai dari anak kelas 10 hingga kakak kelas, semuanya tanpa pikir panjang Jehian tolak semena-mena hanya untuk menyatakan cinta kepada Vicka murid kelas 11 IPS 3 yang dikenal sebagai kelas gagal?


Vicka dengan tinggi badan 154cm dan berat badan 48kg, rambut pendek sebahu yang sering dibiarkan terurai, dan yang juga flat chest, merupakan siswi yang paling akhir akan cowok lirik. Membuat pertanyaan yang baru saja Vicka lontarkan menjadi quiz tersulit bagi para murid.


Namun Jehian tersenyum mendengar pertanyaan Vicka, membuat hati Vicka sempat berdansa senang. Jehian dengan tinggi badan 178 dan berat badan 60kg, murid paling cerdas, serta kulit sawo matangnya, merupakan cowok idaman para siswi, bahkan siswi dari sekolah lain juga menjadi penggemar beratnya. Senyuman Jehian membuat hati para siswi ikut berdansa riang dan meleleh karena panasnya.


Jehian menjawab, "Karena Vicka adalah Vicka."


Jawaban yang sangat tidak membantu Vicka untuk menemukan alasan mengapa Jehian bisa suka kepadanya. Karena itulah Vicka balik membalas, "Vicka enggak mau."


Kehebohan kembali meluap di kelas itu, kali ini disertai dengan siswa-siswi yang berdiri di luar kelas IPS 3.


Jehian berdiri dari posisinya. Tidak ada tanda-tanda kekecewaan di wajahnya. Malahan Jehian tersenyum kembali.


"Oke, kali ini Jehian mundur dulu. Tapi Jehian nggak akan berhenti sampai Vicka bilang 'iya'."


•••


Vicka terlentang di atas tempat tidurnya setelah melemparkan tasnya ke lantai.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki menaiki tangga terdengar. Suara ibu Vicka muncul dari balik pintu yang terbuka. "Nduk, sudah pulang? Ayuk ganti baju terus makan dulu. Pakai baju yang bagus dan sopan ya." pinta ibunya.

__ADS_1


Vicka mengangkat kepalanya sambil bertanya, "Kenapa gitu, Bu?"


Ibunya terlihat gembira hari ini. "Rumah kosong di samping kita hari ini mau ditinggali lagi loh. Udah tiga tahun kita nggak punya tetangga baru."


'Oh, rumah kosong itu. Pantesan ada truk-truk pengangkut barang.' batin Vicka.


Disamping rumah Vicka memang terdapat sebuah rumah yang cukup mewah yang sudah kosong selama tiga tahun dikarenakan keluarga sebelumnya pindah ke kota lain. Vicka beserta keluarganya tinggal di daerah perumahan di ibu kota. Daerah perumahan itu sangat asri dengan banyak pohon ditanam disekitarnya, membuat suhu di sana tidak terlalu panas ketika siang hari.


Sekali lagi ibunya meminta Vicka untuk segera berganti baju lalu kembali turun melalui tangga menuju lantai 1.


Setelah mengecek jam dari hp miliknya, Vicka beranjak dari tempat tidurnya menuju ke lemari. Satu basic sweater oversize berwarna ungu dan celana jeans pendek ia keluarkan dari dalam lemari. Lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk ganti dan mengikuti ibunya turun ke lantai satu.


Di sana ibunya sudah mulai mengemasi satu rantang yang diisi dengan nasi, ayam goreng bumbu kuning, sambal, serta sayuran untuk lalapan. Ibu Vicka berasal dari Jawa Tengah, dan bertemu dengan ayahnya ketika ia sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Karena itu Vicka sedikit-sedikit bisa paham dengan Bahasa Jawa.


Ibunya mengangkat kepalanya ketika Vicka tiba, dan berkomentar, "Kok pakai celana pendek to? Kan sudah ibu bilang, pakai pakaian yang sopan."


"Ini juga udah sopan kok Bu." Sahut Vicka yang membuat ibunya menggelengkan kepala.


Vicka mengangguk, "Iya Bu.." lalu berjalan ke arah kulkas dan melakukan apa yang ibunya perintahkan.


Setengah jam kemudian mereka berdua mendengar sebuah mobil terparkir di halaman rumah kosong itu.


Ibunya sudah siap sejak sepuluh menit yang lalu, beliau mengenakan baju kebaya polos berwarna oranye dan rok batik berwarna cokelat.


Kadang Vicka berpikir kalau ibunya sering berlebihan dalam hal menyambut tamu atau pergi ke acara-acara formal. Namun itulah ibu Vicka, dan ia sangat sayang kepada ibunya.


Mereka berdua berjalan keluar dari rumahnya dengan rantang dan teko yang berisi sirup coco pandan di tangannya, berjalan menghampiri mobil yang baru saja terparkir itu.


Dua sosok melangkah keluar dari mobil, segera di sambut oleh ibunya dengan senyum ramah. "Halo, Selamat datang di perumahan X. Saya Karina, Ibu RT perumahan ini, saya dari rumah yang ada di samping sana. Dan ini anak saya, Vicka."


"Halo, Om, Tante." Sapa Vicka ramah.


Kedua sosok itu tersenyum senang dengan sambutan yang didapatnya, "Aduh terimakasih sudah mau repot-repot menyambut kami. Saya Laila, dan ini suami saya Yudi, sama, eh.. adik mana pah?" Tanyanya pada suaminya.

__ADS_1


"Oh iya, adik masih di mobil. Dik, keluar dulu, kita kenalan sama tetangga baru kita." Ucap sang ayah.


Tak lama kemudian pintu belakang mobil terbuka, dengan sesosok pria muncul dari baliknya.


Vicka terpatung kaku melihat sosok itu.


Siapa sangka, pria itu adalah Jehian Yudistira.


Dunia benar-benar kecil, atau memang terlalu sempit hidup di Jakarta.


"Halo, Vicka." Sapanya dengan senyum yang sama seperti di sekolah tadi.


Kedua orang tuanya serta Ibu Vicka terkejut mengetahui bahwa Jehian dan Vicka ternyata sudah saling kenal.


"Loh, kalian saling kenal?" Tanya Bu Laila.


Jehian mengangguk, "Iya ma, kita satu sekolah."


"Oh begitu." Jawabannya membuat kedua orang tuanya mengangguk-angguk.


Ibu Vicka kembali terlihat senang mendengarnya, "Wah, kebetulan sekali ini! Kalian jadi bisa belajar bareng dong nantinya."


Ide gagasan dari ibu Vicka membuat Vicka menoleh dengan tatapan suram, ingin segera mengakhiri pertemuan ini.


Jehian tersenyum, lalu menambahkan dengan, "Iya Tante, baru aja tadi siang Jehian nembak Vicka."


Dor.


Vicka kembali diserang dengan perasaan ingin kabur kembali ke kamarnya.


Kenapa Jehian mengatakan hal memalukan itu di depan ibunya?


Kedua orang tua Jehian menatap Vicka dengan mulut terbuka lebar, begitu pula Bu Karina, ibunda Vicka.

__ADS_1


__ADS_2