1 Love Story

1 Love Story
4


__ADS_3

Motor Jehian mulai melaju menjauhi kawasan perumahan. Vicka dengan tidak tenang duduk di jok motor belakang Jehian. Jari-jarinya ia tali satu sama lain karena ia tak mau menyentuh tubuh Jehian sama sekali.


Jehian mengendarai motornya dengan kecepatan pelan, berbeda dari biasanya, karena hari ini dia punya satu tujuan lain, yaitu untuk lebih dekat dengan Vicka.


"Loh, kok lewat sini sih? Harusnya tadi di pertigaan belok kiri biar lebih cepet! Kalau lurus gini kan muter-muter nantinya." Kata Vicka sebal.


"Oh, gitu ya. Maaf ya, aku nggak tau soalnya." Jawab Jehian, yang sebenarnya merupakan sebuah kebohongan. Jehian memang belum terbiasa dengan jalanan tempat tinggal barunya, tapi dia mengenal beberapa tempat di sini karena pernah dilaluinya, ketika sedang membuntuti Vicka tahun lalu saat mereka masih kelas 10 semester 1.


Jadi jika ditanya apakah Jehian dan keluarganya pindah di samping rumah Vicka secara kebetulan atau dengan unsur kesengajaan, jawabannya adalah dua-duanya.


Dan itulah yang Vicka putuskan untuk ditanyakan kepada Jehian. "Kamu sengaja ya pindah di samping rumahku?"


Vicka tidak dapat melihat wajah Jehian secara langsung ataupun melalui kaca spion, dikarenakan Jehian bertubuh lebih tinggi darinya. Jadi ketika Jehian menjawab, "Enggak kok, cuma kebetulan." meskipun dengan nada datar, tapi ia sebenarnya tersenyum kecil, dan Vicka tak bisa melihatnya.


Keluarga Jehian terpaksa pindah dikarenakan ayah Jehian baru saja membuka bisnis restoran tak jauh dari letak perumahan itu.


Ayahnya berfikir akan lebih baik jika mereka pindah ke tempat yang lebih dekat dengan restorannya, akan lebih memudahkan ayahnya dalam hal memanagemen dan mengontrol restoran mereka.


Dan Jehian lah yang menyarankan untuk pindah ke perumahan yang sekarang mereka tempati.


Tapi tentu saja Jehian tidak akan menyebutkan hal itu pada Vicka, atau dia akan benar-benar di cap sebagai stalker. Meskipun 80% nya dia memang seorang stalker.


Mereka kembali dipertemukan dengan lampu merah. Hari memang masih pagi, namun jalanan sudah dipenuhi dengan kendaraan dari roda dua, sampai bus, dan angkutan umum.

__ADS_1


"Jehian.." panggil Vicka pelan. Meskipun dengan keramaian sebanyak ini Jehian masih bisa mendengarnya dan menjawab, "Iya?"


"Kemarin, pas Vicka nanya kenapa Jehian suka sama Vicka, kenapa Jehian jawabnya gitu?"


30 detik lagi sebelum lampu berubah menjadi kuning.


"Perasaan kemarin kamu nggak tanya gitu deh. Kamu nanyanya, 'Kenapa Vicka?', gitu kok".


"Iya kan intinya kenapa?!" Ucap Vicka tak sabar. 'Kenapa orang ini punya memori yang sangat detail?' batin Vicka dalam hati.


Jehian tertawa kecil mendengar suara Vicka yang berubah menjadi sebal, apalagi dari spion motornya, ia bisa melihat dengan jelas kalau Vicka sedang memasang wajah cemberut. Ia terlihat sangat lucu.


Lampu berubah menjadi hijau, Jehian kembali melajukan motornya sambil berusaha menjawab pertanyaan Vicka.


"Idih, sok tau." Sela Vicka. Namun Jehian tetap melanjutkan, "Kamu ingat nggak, tahun ajaran baru waktu kita masuk ke SMA?"


Vicka mencoba mengingat-ingat tapi dia segera menyerah dan menjawab, "Enggak, kenapa emangnya?"


"Hari itu adalah hari pertama MOS, dan aku telat. Aku udah ketakutan setengah mati buat masuk lewat gerbang, karena kakak kelas yang jaga di sana kelihatan killer semua. Aku inget kamu udah di dalam area sekolah saat bel masuk bunyi, tapi kamu nengok ke belakang, mata kita bertemu satu sama lain, dan tiba-tiba kamu berbalik dan membuat kehebohan dengan pura-pura pingsan. Semua kakak kelas yang di gerbang langsung lari karena panik, dan itu ngebuat aku punya kesempatan buat nyelinap masuk tanpa kena marah."


"Dan setelah kamu tau aku berhasil masuk, kamu bangun dan bersikap seolah nggak terjadi apa-apa dan ngebuat mereka semua bingung. Bisa dibilang sejak hari itulah, aku jadi suka sama kamu." Imbuh Jehian.


Ah, Vicka baru ingat, ia memang pernah melakukan hal itu tapi ia tidak tahu saat itu kalau pria yang ditolongnya itu adalah Jehian. Dan perbuatannya itu sekarang membuatnya masuk dalam keadaan yang sangat rumit.

__ADS_1


Motor yang mereka kendarai hanya tinggal 300 meter dari gerbang dan Vicka menarik baju belakang seragam putih abu-abu Jehian dengan kencang sehingga Jehian pun menghentikan laju motornya.


"Kenapa?" Tanya Jehian bingung.


Vicka melepaskan helm yang dipakainya dan menyerahkannya kembali pada Jehian. "Vicka turun di sini."


Jehian kembali bertanya, "Iya, kenapa gitu?"


"Kalau orang lain lihat, mereka pasti bakal ngiranya aku pacaran sama kamu. And I'm sorry to say, but I don't want to start a rumor, thanks."


Jehian terkejut dengan jawaban Vicka yang menggunakan Bahasa Inggris, "Eh, kamu ternyata bisa ngomong pake Bahasa Inggris ya? Sepertinya kamu bisa pindah dari IPS 3 kalau ujian semester 2 nanti bener-bener usaha jawab soalnya."


Oops.. batin Vicka.


Vicka memang selama ini benci dengan belajar, namun sedari kecil ia suka menonton film yang narasi aslinya menggunakan Bahasa Inggris, dan secara natural ia mulai memahami apa yang pemeran dalam film katakan meskipun tanpa menggunakan subtitle.


Tapi hanya itu saja mata pelajaran yang Vicka bisa kuasai, dan sebenarnya juga, nilai Bahasa Inggrisnya juga termasuk tinggi setiap ujian, hanya saja nilai mata pelajaran yang lainnya lah yang membuat Vicka tetap bertahan di IPS 3 selama ini.


"E-enggak tuh. Udah ah, Vicka mau jalan aja ke sekolahnya. Hush, sana jauh-jauh." Tangannya melambai-lambai seperti sedang mengusir seekor binatang yang ia tidak sukai.


"Yakin mau jalan aja?" Teriak Jehian tidak peduli, membuat Vicka berbalik dengan tatapan tajam dan ekspresi marah. Jari telunjuk dan jari tengah Vicka di arahkan ke kedua matanya lalu ke arah Jehian, lalu ia kembali berbalik dan kali ini berlari menuju gerbang sekolah.


Jehian kembali tertawa dibuatnya.

__ADS_1


Ia memperhatikan bagaimana Vicka berlari semakin jauh dari motornya, sedikit merasa gusar dengan perasaan bahwa Vicka mungkin juga akan menjauh dari kehidupannya. Namun ia segera menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


__ADS_2