
Mobil Pak Pratama melaju di jalanan ibukota dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bagaimana tidak, ketika nyawa anaknya yang menjadi taruhan.
Jehian yang berada di kursi belakang, sambil memeluk erat Vicka, sedang berjuang mengatasi rasa ngeri yang menjalar di tubuhnya. Jika Vicka tiada, apa yang akan Jehian lakukan dengan hidupnya?
Untunglah pada saat itu tidak ada kemacetan yang membuat mobil Pak Pratama terhenti.
Gedung rumah sakit sudah terlihat. Pak Pratama mengelap keringat yang turun dari dahinya dengan kemeja biru yang dikenakannya saat ini.
Mobil berbelok dan berhenti di depan UGD. Para perawat dengan tanggap segera berlari membawa ranjang? dan secara hati-hati memindahkan Vicka ke atasnya.
Salah satu perawat bertanya, "Bisa tolong di jelaskan apa yang terjadi, Pak?"
Pak Pratama yang tidak menyaksikan kejadian tersebut pun bingung dan dengan terbata-bata menjawab, "Eng.. A-anak saya.. mobil..Eng.. J-jehian, tolong kamu saja yang menjelaskan ya. Om enggak tahu harus ngomong apa karena om nggak lihat sendiri kejadiannya."
__ADS_1
Jehian mengangguk dan segera menjawab pertanyaan perawat itu, "Waktu itu ada mobil dengan kecepatan penuh, nyerempet Vicka..enggak, itu bukan nyerempet lagi, mobil itu sempat menabrak kaki Vicka, dan setelah ditabrak dia terlempar beberapa meter, dan tubuhnya menabrak tiang listrik. Setelah itu, dia enggak sadarkan diri dan darah mengalir ke trotoar dan jalanan."
Sang perawat pun mengangguk, "Baiklah. Serahkan sisanya pada kami. Bapak dan Mas silahkan tunggu di luar, dan bantu doakan keselamatan anak Bapak." Balas sang perawat ketika mereka tiba di sebuah ruang operasi. Perawat itu menutup pintu dan membiarkan Pak Pratama dan Jehian mondar-mandir di lorong rumah sakit.
Pak Pratama pun mengingat bahwa dia harus menyampaikan berita buruk ini kepada istrinya. Beliau pun mengambil handphone yang ada di saku celananya dan segera memencet tombol panggil.
*
Saat itu Bu Karina sedang asyik santai di depan TV sambil memotong tempe yang akan di gorengnya nanti sore. Handphone yang ada di meja kecil sebelah sofa tempat beliau duduk bergetar dan berbunyi. Tangan Bu Karina meraih handphonenya tersebut setelah melihat bahwa si pemanggil adalah suaminya.
"Bu.." jawab Pak Pratama dari balik telfon. "Anak kita Bu.."
Mendengar suara sang suami yang bergetar, Bu Karina dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang salah. "Vicka kenapa, Pak? Perasaan Ibuk jadi nggak enak. Buruan jawab Pak, Vicka kenapa?"
__ADS_1
"Vicka kecelakaan Bu, di depan sekolah."
Sebagai respon Bu Karina langsung berdiri hingga menjatuhkan talenan, tempe, dan pisau yang tadinya ada dipangkuannya.
Keringat dingin mulai menjalar di leher Bu Karina. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dengan tergagap Bu Karina bertanya, "L-lalu bagaimana..keadaan Vicka sekarang, Pak?"
"Bapak masih belum tahu, Bu. Vicka masih di ruang operasi di RS Bakti Jaya."
"Ya-yasudah, Pak. I-ibu nyusul ke sana sekarang, ya."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."
Setelah menutup telfon, Bu Karina bergegas untuk mengambil dompet serta tasnya lalu mencari taksi dan berangkat menuju Rumah Sakit yang disebutkan Pak Pratama tadi.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke rumah sakit Bakti Jaya, Bu Karina tidak berhenti-hentinya untuk berdoa agar anaknya selamat dan berhasil melalui operasinya tanpa kendala apapun.