
Hari mulai semakin siang, Vicka terlihat sedang sibuk bergerak ke sana-sini. Hari itu Minggu pagi, dan kebiasaan yang di lakukan setiap Minggu adalah kegiatan bersih-bersih.
Vicka bangun lebih awal hari ini. Ia memulai kegiatannya dengan menarik selimut dan sarung bantal-guling dari tempat tidurnya, menyeretnya ke kamar mandi, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Setelah itu ia berjalan keluar dan mengambil sapu dan kemoceng, meletakkannya di dalam kamar lalu ia tinggal untuk sarapan pagi.
Vicka melanjutkannya dengan kembali ke lantai atas dan mulai menepuk-nepuk kemoceng di atas meja, lemari, dan jendela. Selepas itu ia ambillah sapu yang tergeletak di samping pintu dan mulai membersihkan seisi kamarnya dari debu dan kotoran. Namun Vicka menjadi patung selama beberapa detik, ia melupakan cucian yang masih ditinggalnya di dalam mesin cuci dan segera berlari untuk menjemur mereka.
Kembali ke dalam rumah dengan keringat menempel di seluruh badan.
Bu Karina, ibu Vicka terlihat turun dari lantai atas dengan membawa sapu dan kemoceng yang Vicka tinggal di kamar tadi.
"Loh, kok diambil sih Bu? Vicka kan belum selesai bersih-bersihnya." Tanya Vicka, berjalan menuju anak tangga paling bawah.
Ibunya segera menjawab, "Udah ibu lanjutin. Kamu itu loh nduk, nyapu kok nggak di terusin. Nanti dapet jodoh yang brewokkan loh." Omel Bu Karina.
Vicka cemberut dan menggelengkan kepalanya tak setuju, "Emang kenapa kalau brewokan, brewokan juga punya daya tarik tersendiri loh.. Zayn Malik contohnya. Atau member 1D yang lainnya. Ayah juga brewokan, berarti ibu dulu nggak bersih juga ya nyapunya?" Tanyanya dengan nada mengejek.
Ibunya terkejut dengan ejekan putrinya, lalu menepukkan ringan kemoceng di atas kepala anaknya. "Enak aja, ibu itu cewek paling rajin dan bersih kalau urusan sapu menyapu."
"Iih ibu, kemocengnya kotor lah habis buat ngebersihin debu tadi. Kok di sapuin ke kepala Vicka, kan kotor jadinya kepala Vicka." Protes Vicka dan mundur menjauh dari tangga.
"Emangnya kamu udah mandi?" Ejek ibunya ganti.
Pipi Vicka menjadi merah saat menjawab, "B-belum sih.."
"Udah sana mandi. Anak gadis jam segini kok belum mandi." Omel Bu Karina lagi. Vicka mengangguk, "Iya deh.." lalu berjalan menaiki anak tangga dan berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.
Saat itulah Vicka tiba-tiba mendengar getaran ponselnya yang ia taru di meja tak berhenti-berhenti.
Vicka berjalan mengambil hpnya dan mendapatkan ratusan notifikasi dari social media instagramnya. Ketika ia mengeklik salah satu notifikasi itu, ia diarahkan ke sebuah postingan yang menandainya. Sebuah foto dengan ratusan like dan comment. Dan foto itu adalah foto Vicka dan Jehian yang sedang berboncengan naik motor beberapa hari yang lalu.
Pengunggah foto tersebut adalah akun gosip sekolah mereka. Setiap siswa atau siswi yang masuk ke postingan akun gosip tersebut, pasti akan mendapatkan masalah.
Wajah Vicka berubah pucat pasi.
Ia segera berlari keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
Bu Karina melihat putrinya berlari melewatinya dengan terburu-buru dan bertanya, "Mau kemana nduk?"
"Jehiannn!!" Seru putrinya yang masih berlari, menghampiri pintu depan.
Bu Karina langsung menghentikannya, "Eh! Mandi dulu! Nggak sopan ke rumah orang bau asem kayak gitu."
__ADS_1
"Tapi Bu, ini itu DA-RU-RAT." Protes Vicka.
Bu Karina menggeleng tegas, "Ayuk, MAN-DI DU-LU."
Vicka pun menyeret kakinya kembali ke lantai atas, menuruti kemauan ibunya. Atau itu yang Vicka ingin ibunya pikir.
Ia mengintip turun dari tangga, ketika Bu Karina berbalik badan, ia segera bergerak dengan cepat menuju pintu belakang tanpa membuat suara.
Ia berlari ke arah pintu depan rumah tetangga barunya itu dan berteriak,"Jehian!!" Sambil memencet tombol lonceng. "Jehian!!!"
Tak lama kemudian Jehian turun dari lantai atas dan membukakan pintu tersebut.
Ia melihat Vicka terlihat berserakan, dengan bajunya yang basah dan penuh keringat.
"I-ya?" Jawabnya sedikit terdengar sukar.
Vicka dengan cepat membalas, "Darurat! Ini darurat!"
Jehian terlihat kebingungan dan berfikir, lalu kembali menatap Vicka, "Oh, keran air di rumah kamu mati?"
Vicka menggeleng, "Enggak kok, baik-baik aja kerannya. Kenapa tanya keran?"
"Oh gitu, kirain mau numpang mandi karena kamu basah kuyup karena keringetan."
"Iihhhh, enggak tau!" Nada suara Vicka mulai meninggi. "Dasar mesum."
Namun Vicka segera mengganti topik pembicaraan itu, "Serius ah, darurat ini."
"Iya darurat apa Vicka? Kalau kamu nggak jelasin kan aku nggak paham."
"Iya habis, kamu malah bawa-bawa keran."
Jehian menghembuskan napas panjang, "Iya deh maaf. Yaudah, jelasin gih, apanya yang darurat?"
Vicka segera memasang hpnya di depan wajah Jehian, menunjukkan postingan yang memperlihatkan mereka berdua berboncengan di atas motor.
Jehian memundurkan kepalanya, ponsel itu berada terlalu dekat dari matanya, jadi dia tak bisa melihat dengan jelas.
Lalu ia mengangguk, "Iya, itu foto kita. Kenapa emangnya?"
Vicka ternganga tak percaya, Jehian setidak peduli itu kah tentang menjadi gosip satu sekolah?
"Ini itu akun gosip! Setiap orang yang fotonya, atau videonya dibagikan di akun ini, bakal jadi bahan gosip satu sekolah! Masa kamu nggak paham sih?"
__ADS_1
Jehian terlihat biasa saja, "Aku nggak punya Instagram, jadi aku nggak tau resiko seperti yang kamu sebut tadi."
Vicka kembali dibuat terkejut. "Kamu nggak punya akun Instagram?"
Jehian menggelengkan kepalanya.
"Kenapa gitu?"
Mata Jehian bergerak ke samping saat bertanya, "Emangnya penting ya social media itu?"
Jehian sejak masih SMP memang tidak tertarik dengan social media yang mengakar dengan cepat di masyarakat.
"Kalau WA? Nggak punya juga?" Tanya Vicka.
Jehian juga menggelengkan kepalanya sekali lagi sebagai jawaban.
Vicka sama sekali tak percaya. Hidup di zaman kapan kah Jehian ini sampai tidak memiliki social media apapun sama sekali. Zaman batu?
"Terus kalau ada temen yang mau kasih tau tugas atau apa gitu, lewat apa?" Tanya Vicka penasaran.
"Lewat SMS, atau telfon biasa." Jawab Jehian enteng.
"Ngenes banget nasib temen kamu. Lagian ini bukan zaman batu lagi lah, masa nggak punya social media apapun?"
Jehian memasang muka datar, lalu kembali menghembuskan napas panjang. "Udah? Itu doang?" Sekarang nada bicaranya terdengar judes dan membuat Vicka merasa sedikit takut. Dia terdengar seperti ketos killer yang ada di drama-drama Jepang. Vicka pernah membaca manga, dimana ketos tersebut suka menyingkirkan para murid nakal di sekolahnya dengan cara apapun tanpa diketahui para murid lain ataupun para guru. Dan Vicka berharap, Jehian tidak akan berubah menjadi seorang ketos seperti itu.
Ia terlihat hampir mau menangis saat mengatakan, "M-maaf.. habisnya Vicka panik gara-gara akun gosip itu.."
Ekspresi wajah Jehian mulai melembut dan matanya kembali sayu melihat Vicka bertingkah seperti itu. Ia suka saat Vicka menunjukkan berbagai macam ekspresi di depannya yang tak pernah ia tunjukkan saat di sekolah kecuali ekspresi dinginnya.
Tangannya secara tak sadar bergerak ke atas kepala Vicka dan mengusapnya lembut. "Udah, nggak usah khawatir. Nanti aku urus."
Mata Vicka bergerak mencari mata Jehian yang lebih tinggi darinya. Ketika mata mereka bertemu, jantung Vicka berdetak dengan cepat. Wajah Jehian hanya beberapa centi dari mukanya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Mencetak peta di dalam otak mereka tentang paras wajah masing-masing. Ketika jarak di antara mereka semakin berkurang dan mata Vicka bergerak menatap bibir Jehian, suara Bu Laila, ibu Jehian terdengar dari dalam rumah, "Itu tadi suaranya Vicka ya, dik?"
Mereka berdua melompat menjauh dari tempat mereka berdiri, kecanggungan di udara menari-nari.
Vicka dengan terbata-bata memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutnya, "A-aku pulang dulu." Dan lari sekencang-kencangnya kembali ke rumah miliknya.
Bu Laila muncul dari balik bahu Jehian dan bertanya, "Kenapa Vicka? Kok kelihatannya panik gitu pulangnya?"
Jehian menghindari tatapan ibunya saat menjawab, "Eng, Jehian juga nggak tau, Ma. Mungkin kelupaan sesuatu, jadinya buru-buru pulang."
__ADS_1
"Oh gitu." Jawab ibunya singkat dan berjalan kembali ke dalam rumah.
Jehian menangkup mulutnya dengan telapak tangan, dan membatin, 'Hampir saja kelewatan. Dasar bodoh.'