
Meskipun Vicka sudah puluhan kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia tak perlu berdandan dan berpakaian rapi hanya untuk menemani Jehian pergi membeli sebuah buku, namun candaan Jehian tentang ini sebagai sebuah kencan membuatnya mau tidak mau merasa bahwa dia harus berusaha sedikit untuk tidak terlihat memalukan.
Dia mengeluarkan seluruh isi lemarinya demi memilih baju yang pas untuk dikenakannya di hari ini.
Sweatshirt dan sweatpants? Terlihat terlalu santai.
Jeans dan jacket? Terlihat terlalu berusaha, dan dia tidak mau Jehian menganggapnya begitu.
Setelah hampir tiga puluh menit memilah baju dan celana dari tumpukan di kasurnya, pilihan akhir Vicka adalah celana kulot tali berwarna hitam, dan blouse crinkle berwarna chestnut.
Setelah pilihan selesai ditentukan, dia pergi untuk mempersiapkan dirinya. Mulai dari mandi, menata rambutnya, lalu baru memakai make-up yang tipis, dan lipstik berwarna nude sebagai polesan terakhir di bibirnya.
Saat Vicka selesai memasang jam tangan di tangan kirinya, suara mesin motor Jehian yang dinyalakan terdengar dari kamarnya. Ia mengintip dari jendela saat motor itu berhenti di depan rumahnya kemudian Jehian berjalan turun dari motor. Lalu terdengarlah ketukan di pintu depan.
Vicka mengambil tote bag miliknya lalu berjalan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Bu Karina telah membukakan pintu untuk Jehian, mereka berdua berbincang sebentar sebelum akhirnya Vicka sampai di dekat tempat mereka berdiri.
Vicka menatap Jehian dari atas sampai bawah. Hari ini dia mengenakan celana jeans hitam, kemeja flanel hijau tanpa dikancingkan dan kaos hitam polos di bagian dalamnya. Biasanya Jehian hanya mengenakan celana pendek dan kaos seadanya ketika berkunjung ke rumah Vicka selama beberapa hari terakhir ini. Sepertinya untuk hari ini Jehian juga berusaha me-level up cara berpakaiannya.
Ketika Vicka kembali menatap mata Jehian, dia juga bisa melihat Jehian melakukan hal yang sama seperti apa yang dia baru saja lakukan.
Mereka berdua terdiam melihat sosok masing-masing, sementara Bu Karina tersenyum-senyum melihat cara mereka memandang satu sama lain.
Bu Karina hampir 99% yakin bahwa Vicka dan Jehian akan berakhir bersama sebagai sepasang kekasih. Hanya saja hati putri tersayangnya itu cukup susah untuk ditaklukkan. Beliau berharap Jehian segera menemukan sebuah cara untuk membuka hati Vicka yang sekeras batu itu.
Sedikit yang beliau tahu, Jehian sudah berhasil dalam hal itu meskipun belum terlalu kentara hasilnya.
"Udah siap?" Tanya Jehian memecahkan keheningan mereka.
Vicka hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu berputar menatap ibunya dan mengucapkan salam pamit, "Vicka pergi dulu ya Bu."
"Iya, Nduk. Hati-hati di jalan. Pulangnya jangan kemaleman, besok masuk sekolah."
"Kayak mau nginep dimana gitu apa.." bisik Vicka pelan pada dirinya sendiri namun masih bisa terdengar oleh ibunya dan Jehian. Membuat ibunya terkekeh, namun membuat wajah Jehian berubah menjadi merah dengan imajinasi kecil yang berputar di kepalanya.
Jehian segera menyingkirkan pikiran itu dan berjalan kembali ke motornya.
Setelah Vicka duduk di jok belakang motornya dengan helm yang terpasang dengan aman, Jehian menyalakan kembali mesin motornya dan mereka pun berjalan keluar dari perumahan.
__ADS_1
Udara siang itu cukup menyengat kulit, baik Vicka maupun Jehian bersyukur mereka mengenakan baju lengan panjang yang setidaknya melindungi mereka sedikit dari panasnya matahari.
Segera setelah mereka memasuki pintu mall, udara dingin datang menyembuhkan kulit mereka yang terbakar.
Jehian mengusap dahinya yang masih berkeringat dengan tangannya, "Ayuk." Sambil ia mengajak Vicka untuk berjalan mengikutinya. Mereka berjalan melewati toko buku yang seharusnya menjadi tempat tujuan mereka.
"Nggak jadi ke toko buku?" Tanya Vicka sambil menarik kemeja flanel Jehian.
"Iya bentar, haus banget nih. Lapar juga. Kita makan siang dulu yuk. Ke toko bukunya pas kita pulang aja."
'Jadi ini memang berubah menjadi sebuah kencan.' batin Vicka. Ia bersyukur sudah memilih baju yang cocok untuk acara ini.
Vicka mendadak berhenti. 'Kenapa jadi kayak aku seolah setuju sama semua ide kencan ini?' ia kembali membatin. Meskipun Jehian tidak melakukan apapun, tapi ia merasa bahwa Jehian telah menariknya ke suatu pusaran yang membuatnya selalu bergerak sesuai dengan keinginan Jehian.
Seperti hari ini contohnya.
Ia bisa saja menolak dan tidak datang, namun di sini lah dia berada sekarang. Berpakaian rapi dan makan siang di sebuah restoran bersama dengan Jehian. Seperti kencan yang sesungguhnya. Hanya saja bedanya mereka bukan sepasang kekasih hari ini.
Dua piring Mango Sticky Rice disajikan di depan mereka, satu gelas Iced Cappuccino di samping tangan Vicka dan satu lagi segelas Black Iced Americano di seberang meja di mana Jehian duduk.
Mereka baru saja menyelesaikan satu piring steak sebelum menyantap Mango Sticky Rice ini.
"Mau beli buku novel genre apa nanti?" Tanya Vicka di suapan pertama makanannya.
Jehian mengambil handphonenya dan menggeser layar untuk melihat memo yang sudah ia tulis di file catatan.
"Sebenarnya bebas sih, cuma disuruh mereview dan merangkum isi cerita dari novel aja. Vicka bantuin ya nanti pilihnya." Pinta Jehian.
Vicka mengangkat satu alisnya, "Yakin tuh mau Vicka yang pilihin?"
Jehian mengangguk mantap. Vicka pun menyerah dan mengiyakan permintaan Jehian itu.
Mereka berdua berjalan keluar dari restoran tempat mereka makan siang. Vicka merasa bahwa ada seseorang yang menatapnya sedari tadi, jadi dia menengok ke belakang untuk memastikan. Namun tak seorang pun memandang ke arahnya seperti firasatnya tadi.
'Cuma perasaah Vicka aja kah?' tanya Vicka dalam batin.
Setelah memasuki toko buku tujuan mereka, Vicka dan Jehian berjalan berpencar di bagian rak buku novel.
__ADS_1
"Mau yang tebal atau tipis?" Tanya Vicka ingin memastikan sebelum memilih novel untuk Jehian.
Jehian menoleh dengan satu novel di tangannya, "Kalau bisa yang sedengan aja, biar cepet bacanya. Soalnya deadline tugasnya kan tinggal beberapa hari lagi."
Vicka mengangguk mendengar jawaban dari Jehian dan kembali fokus mencari novel yang tepat. Dari tumpukan novel di rak itu, mata Vicka tertuju pada satu novel yang berjudul 'Hujan' dari penulis dengan inisial T.L . Ia menyukai cover dari buku tersebut, judulnya juga berhasil menarik perhatiannya karena hujan adalah musim kesukaan Vicka.
Jehian yang sedari tadi memerhatikan Vicka pun juga ikut menatap novel itu, "T.L ,ya? Dari yang ku dengar, karya beliau emang bagus-bagus. Mau beli yang itu?"
Vicka menoleh, "Aku baru pernah baca dua karya beliau sih, 'Pulang' dan 'Pergi'. Dari sinopsis 'Hujan' ini, sepertinya bukunya sangat menarik banget." Tangan Vicka meraih novel itu dan menyerahkannya pada Jehian. "Kalau kamu mau sih."
Tangan Jehian mengambil buku novel dari tangan Vicka dan ikut membaca sinopsis yang tertulis di bagian belakang buku.
"Menarik kok. Yaudah, yuk ke kasir." Jehian berputar untuk berjalan ke kasir, namun ketika Jehian melihat dari pundaknya, Vicka masih memandangi cetakan novel 'Hujan' lainnya yang berada di rak.
Jehian berhenti dan menepuk pundak Vicka, "Nanti kalau aku udah selesaiin tugasnya, kamu boleh pinjem novelnya kok. Dari pada beli sendiri, kan mending uangnya di tabung."
"Eh? Beneran gapapa?"
Jehian mengangguk, "Iya, nggak usah khawatir. Aku nggak sebegitunya posesif sama buku atau novel koleksi aku kok."
Vicka pun ikut mengangguk, senyum kecil terlintas di bibirnya selama beberapa saat namun tidak sempat Jehian lihat, karena mereka berdua sudah berjalan menuju kasir sekarang.
"Beli martabak manis yuk, buat orang tua kamu." Ajak Jehian ketika di jalan pulang.
Dengan nada terkejut Vicka membalas, "Eh, nggak usah repot-repot kali."
"Enggak repot kok. Yuk beli bentar." Ucapnya sambil menepikan motornya ke trotoar.
Mereka turun dari motor dan berjalan ke toko martabak di pinggir jalan raya. Ketika sedang mengantri, Vicka menengok bangunan sekelilingnya. Tak jauh dari toko martabak ini, ia melihat sebuah hotel kecil, sepasang kekasih turun di parkiran hotel tersebut dan sambil bergandengan tangan berjalan memasuki lobi.
Sepasang kekasih.. membuat pipi Vicka berubah menjadi merah ketika membayangkan apa yang kemungkinan terjadi di dalam sana.
"Mau ke sana?" Tanya Jehian yang membuat Vicka langsung menoleh dan matanya terbelalak ketika mendengar pertanyaan itu.
Jehian yang sadar dengan perbuatannya kepada Vicka ikut terbenam merah dan dengan gagap menjelaskan bahwa dia cuma bercanda.
Tidak mungkin mereka memasuki hotel berduaan. Apalagi mereka bukan apa-apa dan usia mereka yang masih remaja.
__ADS_1