
Sekembalinya Vicka dan ibunya dari kunjungan singkat ke tetangga barunya itu, ibu Vicka tidak berhenti bertanya, "Apa benar nduk, nak Jehian nembak kamu?"
Dengan enggan Vicka mengangguk, demi mengakhiri rentetan pertanyaan dari ibunya.
"Iya, Bu. Tapi Vicka tolak."
Ibu Vicka membalikkan badannya dengan cepat, "Lha kenapa to nduk? Apa nak Jehian kurang cakep? Kurang tinggi?"
Vicka berjalan ke meja dapur masih diikuti oleh ibunya yang penasaran.
"Bukan begitu, Bu. Vicka cuma merasa nggak pantes aja. Jehian itu murid paling pinter dan populer di sekolah, anak IPA 1 lagi, sedangkan Vicka, murid dari kelas gagal, IPS 3."
Ibunya mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Beliau segera duduk disamping putrinya itu, "Apa kamu yakin nduk kalau kamu nggak pantas buat nak Jehian? Atau cuma kamunya aja yang males buat memantaskan diri?"
Vicka terkejut dengan pertanyaan ibunya. Apa benar Vicka cuma malas untuk memantaskan diri?
Ibunya kembali berbicara, "Dulu itu ya, bapak kamu itu orang paling pinter seangkatannya juga. Sedangkan ibu cuma mahasiswi biasa-biasa saja. Tapi karena ibu sudah kesengsem sama bapak kamu, ibu mulai merubah penampilan ibu, sama belajar makin giat lagi supaya di notice sama bapak kamu. Dan alhasil, bapak kamu nembak ibu di acara wisuda. Lihat kan sekarang, bapak sama ibu sudah menikah, dan sudah ada kamu sama mas Vicky juga, putri kesayangan bapak sama ibu."
Selesainya ibu Vicka bercerita, beliau memeluk putrinya itu sambil menambahkan, "Jadi jangan berhenti cuma karena kamu merasa tidak pantas buat seseorang."
Vicka kembali naik ke kamarnya setelah makan malam selesai. Ia menutup pintu kamarnya dengan hati-hati dan sambil memikirkan ulang ucapan ibunya tadi.
Tapi apakah Vicka bahkan suka kepada Jehian sehingga ia harus memikirkan hal itu?
Ia duduk di tepi kasurnya, sambil masih berpikir ragu. Namun ketika ia menoleh ke arah luar jendelanya, terpampanglah sosok Jehian yang sedang mengusap-usap handuk di rambutnya yang basah. Jehian belum menyadari keberadaan Vicka. Dengan tenangnya ia berjalan mondar-mandir di kamarnya tanpa kaos dan buku di satu tangan.
__ADS_1
'Bahkan saat selesai mandi Jehian pun rajin belajar?' tanya Vicka di dalam batinnya.
Bagaimana bisa letak kamar Jehian tepat bersebrangan dengan kamar Vicka? Sebuah kebetulan atau takdir?
Vicka masih tanpa sadar memandangi Jehian dari balik jendelanya, malahan sekarang ia berjalan mendekat ke arah jendelanya.
Itu pertama kalinya Vicka menyaksikan tubuh seorang pria, selain kakaknya, tanpa kaos menutupi bagian atasnya. Vicka ternganga, ternyata Jehian memiliki proporsi tubuh yang sangat bagus. Ia menelan ludahnya untuk ketiga kalinya.
Namun sepertinya pertunjukkan itu sudah berakhir ketika Jehian berbalik dan menyadari bahwa Vicka dari kamarnya sedang memperhatikan tubuh setengah telanjang Jehian. Jehian tersenyum, membuat Vicka langsung menarik korden jendelanya hingga tertutup rapat.
Vicka berdoa agar pemandangan itu tidak terbawa ke alam mimpi.
Sebuah motor berhenti di halaman depan rumah Vicka. Ketika kaca helmnya diangkat, terpampang wajah Jehian dengan senyum paginya.
"Pagi, Vicka." Sapanya.
Ayah Vicka memandang ibu Vicka dan membuat pertanyaan 'Ini cowoknya?' dengan tanpa suara agar Vicka tidak mendengarnya, ibu Vicka mengangguk.
"Pagi Om, pagi Tante." Tak lupa Jehian juga menyapa kedua orang tua Vicka.
"Oh, iya, pagi nak Jehian. Mau berangkat sekarang ya?" Tanya ibu Vicka.
Jehian mengangguk, "Iya nih Tante, soalnya masih belum hafal sama jalanan daerah sini. Takutnya nanti malah telat ke sekolahnya."
"Oh gitu.."
__ADS_1
"Apa Vicka mau bareng sama Jehian aja berangkatnya?" Tawar Jehian kepada ibu Vicka.
"Hah?" Adalah respon Vicka dengan matanya terbuka lebar.
Beda dengan Vicka yang tampah terkejut, ibu Vicka justru terlihat bahagia, sambil kedip-kedip memberikan sinyal pada ayahnya.
"Oohh.. boleh nak Jehian, kebetulan mobil Om lagi agak rewel hari ini." Jawab ayah Vicka.
Vicka langsung menoleh, "Ih, enggak. Mobil ayah nggak apa-apa tuh."
Ibu Vicka langsung menarik putrinya berdiri dan berjalan ke arah Jehian dan motornya. "Udah, kamu berangkat sama nak Jehian aja hari ini. Lumayan kan, bisa sambil nunjukin arah ke sekolahnya sama nak Jehian biar nggak telat."
"Tapi Bu.." Vicka mencoba protes tapi sudah disuguhi dengan helm oleh Jehian. Dengan terpaksa ia mengambil helm tersebut dari tangan Jehian lalu berbalik ke arah ibunya, "Yaudah, cuma satu kali ini aja."
Ibu Vicka tersenyum lebar.
"Vicka berangkat dulu ya Bu,Yah."
Ayahnya melambai dari tempat duduknya di beranda, dan Vicka pun memasang helm itu di kepalanya.
Ketika ia naik ke motor, Vicka mengatakan dengan nada judes, "Awas ya, jangan pura-pura ngerem dijalan biar dipeluk sama Vicka!"
Jehian hanya tertawa mendengarnya tanpa balik mengatakan apapun.
"Mari Om, Tante." Ucapnya sambil menyalakan kembali mesin motornya.
__ADS_1
"Iya, hati-hati di jalan."