12 PAHLAWAN ZODIAK

12 PAHLAWAN ZODIAK
BAB IV RAJA SRIGALA


__ADS_3

Cerita Sebelumnya


                Nujumi menemukan keberadaan Abraham Gellier di Kota Mount City, dengan memamfaatkan kesempatan, ia menyerang Abraham dengan sebentuk senjata bintang. Namun salah sasaran, Anne


Gracia melindungi Abraham. Senjata itu mengenai Anne Gracia, ia pinsan.


                Tiba- tiba cahaya zodiac Capricorn turun kebumi. Dan terpatri di pergelangan tangan Anne. Anne


ditakdirkan menjadi pemilik Zodiak sebentuk domba itu. Dan disaat yang mendesak,


Capricorn   turut memantu Anne dan teman- temannya mengejar pencuri dari sebuah restoran. Will berhasil bergulat dengan pencuri itu, menangkapnya. Betapa terkejutnya Will. Pencuri itu adalah seseorang yang


begitu dikenalnya. Siapakah dia ?


                                                                    ***


 “Hup dapat…” teriak Will.


“ Brukkk “ Will di belakang terjatuh dari domba Caricorn, ia bergulingan di jalan bersama


pencuri itu.


Ketika keduanya terduduk di rerumputan. Will terkejut melihat wajah pencuri itu.


“Tomm”


“Kau Tom Garsen …” Tanya Will yang mengenal wajah sahabatnya. ‘Mengapa tom ada di Mount


City’ pikirnya.


“Ya Aku Tom. Kau  kah Will ? “


“Ya …”


                                                                    ***


Cahaya Zodiak Capricorn telah meredup, menyusut dan hilang kembali. Cayaha itu masuk dan


terpatri kembali menjadi sebentuk gambar domba di pergelangan tangan Anne.


Hanya mereka yang melihat kejadian itu di lorong bangunan- bangunan besar di


kota tua Mount City.


“Ohh ! Capricorn …”  samar- samar mereka


mendengar suara keterkejutan dari sebuah ruangan di atas lorong. Tom, yang


telah menjadi akrab dengan Will berjalan menuju sumber suara. Diikuti oleh


Nujumi, Abraham, dan Anne.


Mereka melewati tangga menuju ruangan dengan pintu terbuka. Di dalamnya terdapat


perempuan tua yang tengan sakit.


“Masuklah Nak …” sapa nenek itu dari atas kursi rodanya.


“Terimakasih Nek …” jawab Will pelan. Diikuti teman- temannya.


“Dari mana nenek tahu tentang Capricorn ?” Tanya Anne.


“Sebuah legenda tentang kota ini. Dua belas cahaya zodiac akan turun dari langit menuju


mereka yang ditakdirkan menjadi pemiliknya. Dan kau adalah salah satunya,


berkelanalah menemukan sebelas cahaya zodiak yang lain “


“Untuk apa ?” Tanya Nujumi.


“Untuk menghan curkan kekuatan jahat yang akan menguasai dunia dengan kejahatannya”


“Nenek sebagian kecil orang yang tahu legenda cahaya zodiac itu.” Jelas nenek itu.


“Lalu apa yang harus kami lakukan lagi “ Tanya Will kembali.


“Wah ini akan menjadi petualangan …” seru Tom.


“Temukan anakku Mark Odison di hutan suaka, di sebuah menara, ia menjaga hutan disana.”


“…” kelimanya terdiam. Will serasa pernah mendengar nama itu. Nama Mark Odison tapi ia tak ingat


di mana.


“Ini sebuah peta yang aku titipkan kepada kalian untuk diberikan kepada Mark, anakku. Dan


ingat jangan kalian buka atau telusuri, sebab perjalanan di peta ini sangat


berbahaya. Dan Mark yang lebih tahu dan bisa.”


“Seberapa bahaya Nek ?”


“Bisa menghilangkan nyawa, bahkan satu zodiac Capricorn saja belum tentu mampu melawan monster dan


kekuatan jahat.”


“Tentu juga sulit perjalanan kami untuk memberikan peta itu pada Mark. “ Komentar Nujumi.


“Aku memberikan kalian uang dan sekantung mutiara sebagai imbalan “ kata Nenek itu.


Mendengar kata uang dan sekantung mutiara, mata Abraham langsung berbinar, yang


berarti ia dapat melunasi hutangnya pada Nujumi. Will dan Tom juga sepakat


menerima tawaran Nenek itu.


“Namaku Alma Odison” Sambung Nenek itu. Sebelum yang lain bertanya.


“Baiklah Nek Alma. Kami menerimanya, tapi Anne dan Nujumi tinggallah disini, jaga Nek Alma.


Sampai kami kembali setelah bertemu Mr.Mark.” Pinta Will yang disetujui yang


lainnya. Karena Nenek Alma juga tengan sakit di atas kursi rodanya.


Berangkatlah Will, Tom dan Abraham menuju Hutan Suaka untuk mencari Mark Odison.


                                                            ***


Ditengah perjalanan Shara Setty bersama Kentaro ke Bukit Tapal , mereka bertemu dengan


seorang gadis yang menangis di tepi jalan. Kentaro menepikan sepedanya.


“Siapa namamu?” Tanya Shara Setty simpati sebagai seorang perempuan.


“Namaku Vandora” jawabnya.


“Vandora saja ?”


“Cukup Vandora saja, aku tidak punya nama belakang lagi…hiks hiks..” Vandora menangis lagi.


“Sudah..sudah …jangan menangis lagi” Shara memeluk Vandora.


“Aku tidak akan menyebut atau mengingat mereka lagi …” lanjut Vandora melepaskan


pelukannya dan sudah berhenti menangis. Ia menyeka air matanya.

__ADS_1


“Siapa ceritakanlah pada kami “ pinta Kentaro.


“Ibuku meninggal sejak aku berusia setahun. Kemudian taka lam Ayahku menikah lagi


dengan perempuan lain. Ia wanita jahat. Hanya sebentar ia berpura- pura


menyayangi aku. Ia bersama anaknya kerapkali menyakiti hatiku dan tubuhku


ketika ayahku tidak ada. Bahkan ayahku kini tidak lagi memperdulikanku ….”


Cerita Vandora.


“Lalu …aku tegar tahun tahun berlalu. Hanya duka yang ada bagiku di rumahku. Setiap malam


tahun baru aku sendiri di kamar sembari memandang bintang, dan berharap bintang


itu akan menemaniku. Sementara Ayah, ibu tiriku beserta anaknya pergi entah


kemana berliburan “


“Lalu …?”Tanya Shara


“Lalu sampai kemarin. Adik tiriku memfitnahku. Namun sia- sia aku membela diri. Tidak


seorang pun yang mempercayaiku. Aku tidak tahan lagi. Dan aku pergi dari rumah.


Aku pergi dari rumah diiringi gelak tawa ibu dan adik tiriku. Sementara ayahku


cuek saya, yang seharusnya menahan kepergianku …”


“Vandora. Sekarang kau ikutlah bersama kami, berpetualang “ ajak Shara sembari memegang


tangan Vandora, meneguhkan hatinya. Kemudian Vandora berkata” Baiklah, bawa aku


sampai perualangan kalian berakhir “ jawab Vandora setuju.


“Kau mau ikut bersama kami ke rumah kakakku Miss Teria” ajak Kentaro.


“Baiklah , jelas aku mau” jawab Vandora dengan mata berbinar, rambut hitamnya tergerai


panjang. gadis empat belas tahun itu sudah bahagia.


“Tapi kita bergantian jalan kaki sampai ke bukit yang itu ?” Tunjuk Kentaro karena


sepedanya hanya satu.


“Kent …?” Shara heran. Karena seharusnya anak lelakulah yang berjalan kaki. Shara dan


Vandora di atas sepeda di tuntun Kentaro.


“Ok ..baiklah…ha ha ha. Aku akan menuntun kalian dengan berjalan kaki “ jawab Kent.


“He he  .”Mereka semua tertawa dalam perjalanannnya ke Bukit Tapal.


                Shara mendayung sepeda pelan dengan tampilan masih mengenakan jeans panjang, dan kaos


berlengan pendek, bokan karena tomboy. Tapi karena baru saja menyamar menjadi


shaga., menyamar dari kejaran Bilt dan Pilt. Dengan pakaiannya itu Shara juga


leluasa bergerak cepat dan berlari di petualangannya, untuk rambutnya, Shara


juga mengingat rambut pendeknya sebahu dengan kain tipis berwarna kuning.


Sementara Vandora di belakangnya memakai daster terusan panjang. Rok panjangnya


itu berkibar di tiup angin menuju gunung. Tubuh langsingnya dilindungi topi


lebar dari terik hari itu. Disamping mereka agak di belakang Kentaro berjalan


kejaran Bilt dan Pilt tadi. Celana panjang Kent bersaku banyak juga membuatnya


sesekali mengutip buah buah liar di sepanjang perjalanan, dimasukkannya ke saku


itu. Tapi tanpa mereka sadari Bilt dan Pilt terus dan mesih mengikuti jejak


mereka nun jauh di belakang.


“Sepertinya mereka berhenti sejenak di sekitar jalan ini” ucap Pilt pada Bilt. Di tepian


tenpat Shara dan Kent bertemu Vandora.


“Aku juga berpikir begitu, karena ada bekas rerumputan yang baru saja diinjak bersama


disini, rumput- rumput patah” Jabab Bilt.


“Kemana mereka pergi…mungkin telah bersama orang orang yang baru lagi “


“Mungkin saja. Menurutku mereka pergi ke desa perkebunan di perbukitan sana “ Tunjuk Bilt


menunjuk Bukit Tapal yang tampak dari kejauhan.


“Jadi kita tetap mengikuti jejaknya kea rah perbukitan itu, atau hanya dengan melihat


bayang mereka dari kejauhan ?” Tanya Pilt kembali.


“Ya kita harus pergi. Masa depan kita sudah tertawan oleh Ayah dan Ibu Shara. Kita harus menemukan


Anak itu dan membawanya pulang.”


                                                        ***


Abraham Gellier, Will John dan Tom Garsen telah mamasuki Hutan Suaka dipandu oleh


seorang remaja seusia mereka, remaja itu seorang lelaki bernama Mailend.


Sebagai pemandu Mailend selalu berjalan di depannya. Mailend menenteng senapan


laras panjang khas seorang penjaga hutan. Namun ditengah perjalanan dengan


lancing Mailend membuka surat yang dititipkan oleh Bu Alma pada Will dan teman-


temannya. Dan itu semua membuat mereka terkejut karena surat itu berisi sebuah


anak kunci. Mailend juga terkejut penuh arti. Walau sebelumnya Mailend hanya


meminta izin untuk memeriksa barang bawaan mereka dan tujuan mereka memasuki


Hutan Suaka.


Mailend mengatakan bahwa tidak lama lagi mereka akan sampai ke tempat keberadaan Mark


Odison, Pagoda Bintang. Besok pagi mereka akan melanjutkan perjalanan dan malam


ini, mereka akan mendirikan tenda  di daerah berumput di tepi aliran sungai. Mailend membantu mendirikan tenda.


Abraham membuat api. Will dan Tom membakar ikan yang mereka tombak dengan


ranting di aliran sungai. Jadilah mereka mereka semua makan lahap pada malam


itu. Tapi paginya Will bangun lebih dahulu dan betapa terkejutnya dia tidak


lagi menemukan Mailend.


“Kurang ajar ..Ia telah menghianati kita !” Will marah.

__ADS_1


“Tidak apa , Will…anak itu meninggalkan senapannya disini. Barangkali ia terburu- buru


melarikan diri …”kata Tom.


“Tapi kita butuh peta itu dan kita tidak tahu maksud kunci yang ada pada Mailend.” Jelas


Will.


“Paling tidak senapan ini dapat berguna bagi kita untuk melanjutkan perjalanan “ Abraham


menenangkan kedua temannya.


“Dan lagi pula dia juga belum menerima pembayaran atas panduannya pada perjalanan kita …”


Tambah Abraham senyum penuh arti.


“Ham . Peta itu penting !. Sekarang kita harus bagaimana ?” Tanya Will meminta pendapat


teman- temannya.


“Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan menemukan Mark Odison. Lagi pula keberadaannya


sudah dekat. Setuju ?” Kata Abraham pada Tom dan Will.


Oleh karena itu pergilah Abraham, Will dan Tom melanjutkan perjalanannya menuju Menara


Bintang. Setelah berjalan beberapa Mil jauhnya, tampaklah sebuah menara di atas


bukit. Dengan mudah mereka menemukannya.


Sesampainya di bawah menara, mereka hanya menemukan kepulan asap kayu bakar tanpa ada orang di


sekitarnya. “Permisi !!” Teriak Tom.


“Ohmmm…Krak ..krak….” Will menginjak ranting- ranting kayu di sekitar menara.


“Tidak ada orang “ kesimpulan Will.


“Ada Orang ?” Teriak Tom lagi.


Ketiganya terus mencoba memasuki pintu menara, dan mencoba membukanya.


“Siapa kalian ?!” Suara laki- laki tegas dan berat dari arah belakang mereka. Laki- laki itu


tampak kuat dan berwibawa.


“ Tida… kk , Om…” Tom tergugup, begitu juga Abraham.


“Kami tidak bermaksud apa –apa, ..”


“Lalu ? untuk apa senapan itu” Tanya lelaki itu menatap Tom yang menenteng senapan.


“Senapan kami hanya untuk berjaga “ jawab Will.


“Kami ada urusan pada seseorang bernama Mark, apakah kau itu ?” Tanya Will.


“Saya Mark. Apa keperluan kalian ?”


“Kami membawa pesan dari seseorang bernama Nenek Alma Odison, Ibumu. Beliau memberikan sebuah


peta yang didalamnya terdapat sebuah kunci. “ Jelas Will.


“Aku sudah menduga”


“Tapi maaf, peta dan kuncinya telah hilang. Seseorang telah mencurinya dari kami dalam


perjalanan kesini” Jelas Abraham yang sepertinya takut dimarahi.


“Tidak perlu. Aku sudah mendapatkan pedang yang ada pada peta itu” Jawab Mark Odison yang


membuat ketiga sahabat itu terkejut.


“Sebenarnya peta itu menuju sebuah pedang turun-temurun milik keluarga Odison, keluargaku”


“Jadi benar sudah kaudapatkan pedang itu ?”Tanya Will penasaran.


“Sudah kudapatkan pedang itu.” Jawab Mark.


“Sekarang ada bersamamu ?” Tanya Will kembali. Ia begitu ingin tahu.


“Tidak. Sebenarnya aku sudah memilikinya… oh tapi …” Mark tidak melanjutkan penjelasannya mengenai


keberadaan pedang itu.


“Mengapa kau mengetahui tentang pedang itu? Ceritakan pada kami “ pinta Abraham.


“Sebab aku tahu cerita sebuah legenda tentang makhluk berbahaya bernama Raja  Serigala. Raja Serigala terkunci di sebuah peti di sebalik air terjun. Air Terjun Serigala. Pedang itu adalah satu-


satunya pembuhun Raja Serigala. Kakekkulah yang mengalahkan Raja Serigala dan


menguncinya di sebuah peti dibalik air terjun. Ini Pedang Serigala “ Mark


mengeluarkan pedang kecil dari pinggangnya. Ia menyerahkannya pada Will. Dan


pedang itu bercahaya di tangan Will.


“Sudah kuduga ….” Kata Mark di dalam hatinya. Matanya berbinar bahagia.


“Mengapa kakekmu tidak membunuh Raja Serigala sejak dahulu ?” Tanya Will.


“Ada orang yang tepat dan waktu yang tepat untuk melenyapkannya “ jawab Mark lagi.


“Siapa Namamu Nak ? “ Tanya Mark pada Will, senbari mengambil pedangnya kembali.


“Will John. Aku dibesarkan hanya oleh seorang nenek bernama Olivia John “


Jawaban Will membuat Mark Odison sebegitu terkejut.


“Baiklah. Tentang hilangnya peta oleh seseorang bernama Mailend aku tidak sebegitu


mengkhawatirkannya. Aku hanya Khawatir bahwa ia akan mengambil kunci. Dan kunci


itu adalah kunci peti Raja Serigala. “ Jelas Mark Odison Khawatir.


Sudah lama mereka bercerita dan mulailah terjalin keakraban antara Will, Tom, dan Abraham


dengan Mark Odison. Pesan Nenek Alma Odison telah mereka sampaikan. Esok mereka


boleh kembali ke Mount City menemui Nujumi, dan Anne Gracia kembali.


Malam telah datang. Esok pagi ketika hari telah terang ketiga sahabat itu akan melanjutkan


perjalanan. Kini mereka harus bermalam di Menara Bintang. Ketiganya telah tidur


di Kursi, dan ada yang di lantai. Sedang Mark tidur di ayunan gantung yang


dibuat di luar menara. Ketika mereka telah tidur. Terdengar lolongan panjang


Serigala dari kejauhan. Mark terbangun dan perlahan mendekati Will John.


“Anakku..kini engkau telah datang dengan sendirinya kepadaku…” gumamnya lirih. Namun tak ada


seorang pun yang mendengarnya.


                                                                        ***

__ADS_1


__ADS_2